
...Selamat Membaca...
Setelah selesai shalat, Abhi buru-buru pamit pulang. Ia menolak tawaran Erik yang memintanya makan siang bersama. Dengan alasan, mamanya sudah memasak. Jika ia makan di rumah Erik kasihan mamanya pasti akan kecewa, karena masakannya tidak ada yang makan.
Tiba di apartemen, wajah Abhi terlihat pucat, selain efek lelah, itu juga karena wawancara dadakan yang cukup memicu adrenalin-nya. Empat tahun yang lalu, ia tidak sekaku itu saat menemui orang tua Olive. Dia berharap semoga ini hanya faktor usia saja.
"Kamu kenapa, Bhi?" Widya yang melihat Abhi berjalan gontai lekas mendekat ke arahnya. "Kamu sakit, wajah kamu pucat, loh?" tangan Widya mendarat di kening Abhi memeriksa suhu tubuh putranya.
"Nggak, Ma. Aku hanya kelelahan," jawab Abhi, menghempaskan tubuhnya di sofa, mengangkat kakinya lalu meletakan di tangan sofa. Matanya terpejam seolah tengah memikirkan masalah berat, padahal hanya mencoba mengingatnya.
"Mama buatin minuman dulu." Widya yang paham bergegas ke arah dapur.
"Ara ke mana, Ma?" tanya Abhi saat tidak mendengar suara keponakannya.
"Pergi, Ara rewel minta jalan-jalan. Mumpung masih di Jakarta." Widya menjawab singkat sambil sibuk membuatkan minuman untuk anaknya. "O, ya besok lusa mama dan adikmu akan pulang. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan telat makan. Coba kamu sudah nikah, pasti mama enggak akan sekhawatir ini," omelnya sambil kembali ke arah Abhi.
"Kenapa Mama nggak tinggal di sini saja, sih?"
"Abhi ... mama sudah terlalu sering membahas ini. Mama nggak mau meninggalkan gitu saja supermarket peninggalan papamu." itulah alasan Widya tetap tinggal di Pematangsiantar, banyak kenangan dengan suaminya yang tidak bisa ia lupakan.
"Ma, coba duduk, dech!" Abhi menepuk kursi kosong di sampingnya, saat Widya hendak mengerjakan sesuatu di dapur. "Ada hal penting yang ingin Abhi sampaikan."
"Kenapa? Soal calon istri? Apa kamu sudah menemukannya?" Widya bertanya, suaranya terdengar antusias.
"Bukan, Ma. Abhi bingung, padahal kita baru saja berpisah. Tapi, bagaimana mungkin—Abhi sama sekali tidak mengingat wajahnya. Sulit, Ma, meski hanya sedikit senyumnya saja."
"Buka fotonya, dong! Lagian siapa sih yang sudah berhasil menaklukan mu? Bukan Olivia, kan? Kalau dia yang kamu pilih, mama melarang keras hubunganmu dengannya!" Peringat Widya.
"Bukanlah, Ma."
"Terus siapa?"
"Kapan-kapan Abhi kenalin."
__ADS_1
Widya mengangguk, "segera ya," ucapnya mengusap rambut Abhi. "Kamu sudah tidak muda lagi, kalau ada yang cocok segera tunaikan niat baikmu."
"Abhi masih ingin memantapkan hati lagi, Ma." kata Abhi, dia tidak ingin terlalu buru-buru dalam melabuhkan hatinya.
Widya mengangguk, "O ya, Bhi. Itu tetangga depan ke mana, ya? Sudah dua hari ini ibu pencet tombol pintu, nggak dibuka-buka. Apa sudah pindah, tapi kok jahat sekali tidak mau berpamitan sama ibu."
Abhi hanya tersenyum tipis. Mencoba mengingat wajah Naura tapi nihil. Gurat senyumnya pun tak mampu ia ingat. Seolah terkena amnesia global. Padahal kalau boleh jujur, ia sedang merindukan gadis itu. Terutama suaranya yang selalu mengajaknya berdebat.
"Abhi ke kamar dulu, mau bersih-bersih," pamitnya pada sang mama. Widya pun mengangguk, dan berpesan segera turun untuk makan siang bersama.
Setiba di kamar, Abhi meminta Nathan untuk mencaritahu nomor ponsel Naura. Tanpa menunggu lama, Abhi sudah mendapatkan nomor ponsel Naura. Tapi, saat ia mencoba menelepon gadis tersebut, panggilan itu tak kunjung tersambung.
"Than, kamu pasti salah, deh, ngasih nomornya." maki Abhi saat i kembali menelepon Nathan.
"Bener, kok."
Abhi tiba-tiba menepuk keningnya. "Aku baru ingat, mobil dan tasnya masih tertinggal di tempat pak Martinus. Besok pagi lo datang ke sini, ya!" Setelah berpesan pada Nathan, Abhi mengakhiri panggilannya. Ia beranjak dari ranjang, menyingkap gorden jendela, menatap keramaian kota Jakarta
saat sore hari.
Di sisi lain. Setelah kepergian Abhi.
Erik mengajak Damar masuk ke dalam ruang kerjanya. Seperti ada masalah serius Damar buru-buru menarik Erik ke ruangan.
"Ada apa?" tanya Erik saat mereka sudah duduk berhadapan. Damar mengeluarkan kertas undangan bewarna Emas. Lalu menyodorkannya ke depan Erik.
"Aku dan Sashi mengharapkan kehadiran kalian." Erik mengerutkan keningnya, lalu membuka kertas undangan tersebut, tersenyum cerah. "Nggak nyangka ya, bisa sejauh ini 45 tahun, loh."
"Baca note nya nggak boleh ajak anak dan cucu." peringat Damar. "Kita pesta lansia," imbuhnya.
Erik tertawa geli, "kamu ada-ada aja sih bikin pesta kaya gini!" Memegang perutnya yang terguncang. "Aku bayangin dulu, pesta dansa, diisi pasangan beruban. Gimana kalau encoknya kambuh?" Nafas Erik tersengal, lalu terbatuk. "Fe-no-me-nal," cibirnya lagi menegaskan setiap penggalan kata.
"Awas ya jangan mengacaukan acaraku!" ancam Damar, dia hapal watak Erik.
__ADS_1
"Ok, siap. Kita akan jadi pasangan tercantik dan paling tampan di antara kalian. Lihat saja kita bakalan menyaingi Ratu Diana & Pangeran Charles." Tawa Erik masih tersisa membuat Damar mengerang beberapa kali.
"Kulo nyuwun ...." Suara gadis kecil terdengar, mengalihkan perhatian mereka. Leya berlari kecil mendekat ke arah Erik lalu duduk di pangkuannya.
"Hai Leya, tadi kamu bilang apa?" tanya Erik.
"Kulo nyuwun, Opa."
"Apa artinya?" Damar yang tidak artinya mencoba mencari tahu.
"Aku juga nggak ngerti." Erik menggedikan bahu. "Biasa, kalau habis mudik pasti ketularan besan."
"Coba cari di mesin pencarian," perintah Erik, kemudian meminta Leya untuk mengulang katanya.
"Kulo nyuwun, Opa-opa yang ganteng." Damar tersenyum cerah saat mendengar panggilan Leya.
Damar membaca layar ponselnya. "Oh, itu dia minta sesuatu," jelasnya pada Erik.
"Ih, bukan itu, Opa!" Leya tampak kesal, melotot ke arah Damar. "Kulo nyuwun itu, sama hal nya dengan Assalamu'alaikum ucapan salam. Gitu aja nggak tahu." Leya menjelaskan dengan nada marah.
"Astaga, Leya sayang. Itu bukan kulo nyuwun tapi kulo nuwun." Kalun yang baru saja masuk ikut menjelaskan.
"Oh, Leya salah ya, Yah!" Leya menutup bibir mungilnya, tapi bisa dilihat, gadis itu tengah menahan tawa.
"Emm ...." Kalun mengangguk lalu mengambil duduk di depan Erik ikut bergabung dengan kedua lansia tersebut.
"Leya ikut bunda dulu, dia di kamar mama Naura!" Perintah Kalun pada putrinya. Gadis itu langsung turun dari pangkuan Erik untuk menemui mama tantenya. Sudah satu Minggu mereka tidak bertemu, rasa rindu yang dirasakan Leya pun sudah menggebu.
"Papamu kejam, Kal. Dia meminta Abhi untuk jadi imam shalat. Padahal almarhum papa Danu dulu nggak gitu-gitu, amat." Adu Damar.
"Kalau dulu, kan gue emang nggak bener. Masa iya? Anak gue, aku serahin pada lelaki brengsek kaya gue. Ya enggaklah, setidaknya Naura bisa mendapat yang lebih baik dari papanya. Apalagi pengalaman dua menantuku sebelumnya. Jadi, wajar dong kalau gue sekarang mentingin agamanya. Nggak salah juga, kan?" Erik menjabarkan panjang lebar pada Damar.
"Tumben insyaf," celetuk Damar. Kalun yang ada di sana ikut tertawa lebar. Sampai akhirnya Leya kembali masuk ke ruang kerja.
__ADS_1
"Opa, ayah, tante mama badanya panas. Katanya sakit."
...Terima kasih sudah membaca cerita mereka. Jangan lupa like, vote, dan komentar....