Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Istirahatlah Dulu!


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa like dan vote ya.. 🙏🤗


.


.


Ella segera turun dari mobil setelah Yohan menghentikan mobilnya di depan pintu rumah sakit milik Erik. Dia berteriak kepada petugas untuk membawakan brankar untuk Erik, darah dari kepala suaminya cukup banyak sampai mengotori baju yang Ella kenakan.


“Ibu ganti baju dulu saja di atas!” ucap Yohan yang melihat Ella mondar-mandir di depan pintu IGD. Ella tidak menghiraukan ucapan Yohan, dia terus menatap pintu ruangan di depannya. Sesekali melihat ponsel di tangannya, siapa tau Damar menelepon mengabarkan kondisi Kalun.


Ella berjalan mendekati pintu, saat melihat dokter keluar dari ruangan.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Ella yang panik saat melihat raut wajah rekan Erik yang terlihat cemas.


“Dia terlalu banyak mengeluarkan darah, darah Erik terlalu sulit untuk di cari saat ini, karena persediaan PMI juga kosong.” Ella langsung mendudukkan tubuhnya di kursi.


“Kalau bisa segera cari pendonor darah secepatnya!” perintah dokter yang menangani Erik.


Terlihat Ella membuang nafas dari mulutnya, dia bingung mau mencari pendonor di mana, karena mengingat darah suaminya yang memang sulit untuk di temukan.


“Apa hanya itu? Tidak ada hal yang serius lagi, kan?” tanya Ella menatap dokter di depannya.


“Untuk mengetahui hasil detailnya, kita lakukan CT scan setelah ini, siapa tahu ada luka besar di otaknya,” jelas dokter Samuel, selaku dokter yang menangani Erik.


“Lakukan yang terbaik untuknya, dan segera pindahkan ke ruang perawatan!” perintah Ella pada Samuel.


Dia lalu meminta Yohan untuk mencarikan darah yang cocok untuk suaminya, dia ingat darah yang cocok dengan Erik adalah Riza, tapi tidak mungkin juga dia membawa Riza ke Jakarta.


Ella segera berjalan mendampingi brankar suaminya yang hendak melakukan pemeriksaan. Dia dengan setia mengenggam tangan suaminya saat melewati lorong rumah sakit.


Cukup lama Ella menunggu Erik di luar ruangan, dia terus meremas kedua telapak tangannya demi meredam rasa cemas yang tengah dia rasakan. Dia melihat ke arah koridor saat mendengar suara kaki mendekatinya, terlihat Jihan tengah berlari kecil menuju kearah tempat duduknya.


“Apa yang terjadi dengan anakku?” tanyanya saat berhenti di depan Ella.


“Lala nggak tahu Ma, saat sampai di sana Mas Erik sudah pinsan dengan luka di kepalanya,” jelas Ella yang ragu untuk mengatakan kondisi Erik.


“Dia baik-baik saja kan La?” tanya Jihan memastikan kondisi Erik. Dia khawatir jika Erik akan kembali sekarat, seperti dulu saat Ella meninggalkannya. Ella hanya diam sambil memeluk Jihan.


“Kita doakan saja Ma, semoga Allah melindungi dan segera mengangkat penyakit Mas Erik,” jawab Ella sambil menatap Yusuf yang terlihat panik.

__ADS_1


Ella segera berdiri saat melihat dokter keluar dari ruagan. Dia menuntun Ella untuk masuk ke dalam ruangannya.


“Begini La ...,” ucap Samuel yang akan menjelaskan kondisi Erik, “Erik belum sadarkan diri juga, jika dalam 2x 24 jam dia belum juga bagun, mungkin dia akan mengalami hal yang sama seperti setelah kecelakaan dulu.”


“Maksudnya, dia akan tertidur selama berbulan-bulan, bisa jadi kerena trauma benturan di kepalanya,” jelas Samuel.


Ella terlihat bingung dan tidak paham dengan penjelasan Samuel.


“Memangnya Mas Erik pernah kecelakaan?” tanya Ella menatap lekat ke arah Samuel.


“Iya, dulu setelah kamu di makamkan dia mengalami kecelakaan, dan dia koma selama dua bulan lebih,” jawab Samuel menjelaskan pada Ella. Ella mengernyitkan dahinya karena baru mendengar jika suaminya pernah mengalami kecelakaan.


“Apa sudah mendapatkan pendonornya?” tanya Samuel memastikan.


“Belum, Yohan sedang mencari pendonor darah yang sama dengan golongan darah Mas Erik,” jelas Ella yang terlihat khawatir karena belum mendapatkan kabar dari Yohan.


“Semoga secepatnya segera menemukan,” ucap Samuel menatap wajah Ella yang panik.


Ella lalu keluar dari ruangan Samuel, menemani suaminya yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan, sampai di ruangan dia melihat Jihan tengah menangis di sisi brankar tempat Erik berbaring, di temani Yusuf yang tengah mengusap punggungnya.


“Ma, biarkan Mas Erik Lala yang menjaga, Mama pulang saja, takutnya Mama terlalu lelah,” ucap Ella saat sudah berada di samping Jihan, dia mengusap lengan Jihan mencoba menenangkan mertuanya.


“Sudahlah, ayo kita pulang! Biar Lala yang menjaga Erik, kita sudah tidak lagi muda aku juga takut nanti tubuhmu drop,” ajak Yusuf yang membenarkan ucapan Ella. Jihan akhirnya menurut saat suaminya mengajaknya pulang.


Ella menatap suaminya yang tengah tertidur di ranjang, dia menekuk bibirnya saat mengetahui kondisi Erik lemah tak berdaya seperti ini.


“Mas ..., tidurnya jangan lama-lama ya, aku kesepian. Istrirahatlah dulu! Tapi kamu harus janji jangan lebih dari 2 hari, atau aku akan marah padamu,” ucap Ella yang sudah meletakkan tangan Erik di wajahnya. Selama hidup bersama Erik baru kali ini, dia melihat Erik terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


~


Di sisi lain Mila langsung terjatuh saat melepaskan tembakkannya ke arah Bima, dia menembak suaminya sendiri, karena dia tidak mampu menghentikan niat Bima, yang ingin menghancurkan keluarga Ramones, sudah berulangkali Mila meminta Bima untuk menghentikan kelakuannya, tapi Bima selalu lebih menurut dengan ucapan Axel, tidak mempedulikan keluarganya lagi.


Tembakkan Mila mengenai tangan Bima, membuat tembak yang tadi Bima todongkan ke Kalun terlepas dari tangannya. Kalun menangis keras saat mendengar suara tembakkan. Damar segera meraih tangan Kalun dan mengendongnya, Kalun memeluk erat leher Damar karena ketakutan.


“Kalun takut Pamaan ...,” ucapnya saat Damar membawa Kalun untuk turun ke bawah.


“Iya, tenanglah semua sudah baik-baik saja,” ucap Damar menenangkan keponakkannya.


“Tangkap dia!” perintah Haikal pada polisi di belakangnya. Polisi segera menangkap Bima yang tangah memegang lengan kanannya.

__ADS_1


“Maaf Pa ...,” ucap Mila saat Bima di bawa oleh polisi. Bima hanya menangis dan duduk mensejajarkan dirinya dengan Mila.


“Katakan pada anak-anak Papanya sudah pergi dan tidak akan kembali lagi,” ucap Bima yang mencoba menghapus air mata Mila.


“Nggak! Kita akan bersama lagi seperti dulu, aku akan menunggumu sampai kapanpun,” ucap Mila menatap wajah Bima.


“Nggak, aku terlalu jahat untuk menemani kalian, aku akan terima jika kamu akan meneruskan gugatan perceraian kita,” ucapnya lalu berjalan meninggalkan di mana Mila sedang duduk menangis di sana.


Mila hanya menatap kepergian Bima, ketika polisi membawanya pergi, dia sebenarnya sudah tahu sejak awal apa yang direncanakan Bima dan Axel, karena itu dia jarang berkunjung ke rumah mertuanya, dia juga takut tidak kuasa untuk tidak menceritakan semua kejahatan Bima kepada mertuanya.


Saat Mila mendengar Ella meninggal karena rekayasa Bima dan Axel, saat itulah dia berniat untuk bercerai dengan Bima, tapi Bima belum mau menandatangani surat perceraian itu, dan Mila masih bertahan hingga sekarang karena dia juga mencintai Bima.


Bima berjalan mengikuti langkah kaki di depannya, melewati Kalun yang tengah memeluk erat leher Damar, menatap Kalun yang ketakutan karena ulahnya. Dia ingin mendekat ke arah Kalun, tapi tatapan mata dari Damar mengisyaratkan agar dia segera menjauh dari pandangannya.


“Apakah Paman Bima sudah pergi Paman?” tanya Kalun yang di gendong membelakangi arah Bima.


“Sudah Sayang, ayo kita pulang pasti Mamamu sudah menunggumu,” ucap Damar membawa Kalun keluar dari gedung.


Dia menatap ke arah Haikal yang berdiri di samping pintu, dia berjalan mendekat ke arah lelaki yang sudah banyak membantu adiknya keluar dari cengkraman Axel.


“Aku nggak tau harus bagaimana caraku mengucapkan terima kasih padamu,” ucap Bima yang sudah berdiri di samping Haikal.


“Jangan sungkan begitu, aku hanya ingin menjalankan amanat Kenzie untuk ikut menjaga Ella, dan kebetulan saat itu aku melihatnya di sana,” ucap Haikal.


“Paman ..., ayo kita temui Papa! Papa tadi berdarah pasti kesakitan sekarang,” ucap Kalun yang masih memeluk erat leher Damar.


“Kapan-kapan datanglah ke rumah untuk makan malam bersama,” pesan Damar sambil tersenyum ke arah Haikal.


“Pasti, kau siapkan saja makanan yang banyak, aku akan membawa pasukanku ke rumahmu,” sahut Haikal yang juga membalas senyuman Damar.


Damar menatap ke arah Haikal, dia seperti melihat Kenzie di tubuh Haikal, mereka berdua sama baiknya, beruntung adiknya bisa menemukan keluarga baru yang sangat mencintainya.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2