
...Selamat Membaca...
Hallo mantan ....
Sapaan pertama dari Abhi pada seseorang di ujung telepon membuat Naura langsung menoleh ke arah pria tersebut. Ia langsung memakai sandal jepit dan menghampiri Abhi yang masih duduk bersandar di sofa.
"Nyalakan pengeras suaranya!" perintah Naura tanpa suara, ia penasaran apa yang ingin Olive bicarakan pada suaminya.
Tapi, Abhi hanya menggeleng, menolak keinginan sang istri. Naura pun berniat merebut ponsel Abhi dan segera mendengarkan obrolan mereka.
Abhi menikmati wajah kesal Naura, ia sengaja menggoda Naura hari ini. Sampai ia melihat wajah Naura cemberut, barulah ia memberikan ponsel tersebut.
"Ini, Sayang ... bicara saja!" Abhi menyodorkan ponselnya ke arah Naura. Dan istrinya itu segera menyambar ponselnya.
"Hallo," ucap Naura pertama kali. lalu melihat ke layar, tidak ada nama yang tertulis di sana, jadi ia berpikir Abhi sudah menghapus nomor Olive.
"Sayang, kamu pulang ya. Itu gaun pengantin mu sudah datang!" Naura melotot sempurna ke arah Abhi yang tengah tertawa sambil memejamkan mata. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya pria itu berani mengerjainya.
"Nana ...."
"Ugh .... Ok, Ma! Habis ini Nana pulang!" Setelah itu Naura menutup panggilan telepon dari Ella.
"Buka matamu!" Perintahnya, jemari Naura berulangkali menusuk dada Abhi. "Aku mau beri hukuman buat kamu!" cetusnya masih dengan gerakan yang sama.
"Nanti malam saja, kalau mau ngasih hukuman. Nggak enak kalau di kantor, sempit Sayang! Apalagi kantormu ini!" goda Abhi setengah menyandarkan punggungnya di tangan sofa.
Naura yang mengenakan rok pensil pun sedikit menarik ke atas, lalu duduk di paha Abhi, tidak membiarkan sang suami bergerak sedikit pun.
"Kamu nyebelin, Abhi!" teriaknya sambil memukul keras dada sang suami.
Abhi masih bisa tertawa saat melihat wajah emosi Naura. Sampai akhirnya, Naura mendaratkan gigitan yang begitu menyakitkan di lehernya, cukup lama dan dalam sampai ia menyerah dan meminta ampun.
"Jangan main gigit-gigit lagi deh, Na! Sakit tahu nggak! Gigi taring mu tajam, lihat nih!" Abhi menunjuk bekas gigitan Naura.
"Mau nambah sebelah kanan?" ancam Naura.
"Nggak ... sudah! Aku juga bisa balas gigit kamu, loh! Tapi aku terlalu cinta, jadi nggak tega! Dah, ya ... jangan ulangi lagi!" Kata Abhi mengusap luka gigitan yang ditimbulkan Naura. Sepertinya Naura menggigit lehernya terlalu dalam baru beberapa menit saja leher Abhi sudah tercetak bekas merah keunguan.
"Antar aku pulang!" perintah Naura, ia tidak mau pulang dengan taksi online, terlalu banyak buang waktu.
"Hmm ...." dengan masih terus mengusap lehernya Abhi beranjak dari sofa. Ia membantu Naura membereskan berkas-berkas yang tadi dikerjakan sang istri.
"Biar aku bawa!" Naura meminta tas nya yang dibawa Abhi.
"Jalan duluan! Biar aku yang bawa tas mu!"
"Ini berat Abhi!"
"Jangankan cuma tas, tubuhmu saja bisa kok aku gendong! Mau coba?" tawar Abhi, sudah hampir mengambil posisi jongkok.
"Ish ... nyebelin!"
"Dah, ayo jalan, kasihan yang sudah nunggu kita!"
Mau tidak mau, Naura mengalah, membiarkan Abhi melakukan apa yang ingin pria itu lakukan. Seperti pengantin baru pada umumnya, saat mereka berdua keluar ruangan, Abhi memeluk pinggang Naura dengan posesif, membiarkan mata istrinya hanya menatapnya seorang.
Hampir tiga puluh menit melakukan perjalanan, tibalah mereka di rumah Erik. Baru saja mereka turun dari mobil kehadiran mereka sudah disambut Gwen dan Leon yang berdiri di depan pintu utama.
__ADS_1
"Om baru, beliin kita es krim dong! Nanti aku aduin ayah kalau Om nggak mau beliin!" ancam Leon. Pria kecil itu terlihat nyebelin dengan peluh yang memenuhi wajah dan aroma keringat yang khas matahari.
"Dah sana!" Naura meminta Abhi untuk menuruti keinginan Leon.
"Kamu mau juga, Sayang?"
"Boleh! Green tea, ya."
"Ok, masuklah dulu!"
"Bye Gwen, Leon ... jagain om Abhi ya!"
"Siap, Ma!" sahut mereka berdua, kompak.
Setelah mobil Abhi kembali menghilang, Naura melanjutkan langkahnya memasuki rumah Erik. Dari arah meja makan ia bisa mendengar beberapa orang sedang berkumpul di sana.
Naura yang melihat Ella duduk di samping sang papa langsung memeluknya dari arah belakang.
"Kangen, Ma!" ucapnya tak henti memberikan kecupan di pipi Ella.
"Baru dua hari, Nana!"
Naura tersenyum. Lalu menatap hidangan di atas meja. Di sana ada potongan buah-buahan yang tengah di kelilingi oleh dua ibu hamil dan Aluna yang sedang mengikat rambut Shaqueena.
"Ma, Mama harus sehat terus ya, Nana sudah nikah nih! Sesuai keinginan Mama!"
Ella tidak menjawab dia hanya mengusap rambut panjang putrinya. Lalu meminta Naura duduk.
"Baim ikut mama, yuk! Kasihan mama Riella, dedek di perut nanti nangis?" Naura mendekat ke arah Riella yang tengah memangku Baim.
"Abhi mana, Na?" tanya Maura.
"Ditodong es krim sama anak-anak!"
"Abhi mainnya sopan ya? Nggak ada bercak di leher!" timpal Riella yang sengaja menggoda Naura.
"Iyalah! Sopan! Emang Bang Ken!"
"Sopan apanya, La! Coba intip dadanya pasti penuh itu!" Maura belum berhenti menggoda, ia masih ingat separah apa Naura dulu menggodanya.
Aluna yang mendengar pun ikut terbahak. Sedangkan Naura berusaha mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kak Riella kapan hpl?"
"Insya Allah bulan depan."
"Kamu, Ra?"
"Tiga bulan lagi! Kenapa?"
Naura menggeleng, merasa pembahasan sudah normal, Naura duduk di samping Ella, sambil menikmati rujak buah buatan sang ibu-ibu muda di depannya.
"Baim itu papa Ken datang!" Aluna yang melihat bayangan Kenzo langsung memberitahu Baim. Pria kecil itu langsung turun dari pangkuan Riella, ia berlari sambil merentangkan tangannya mendekati Kenzo.
"Bentar, Sayang! Papa bau obat, Baim tunggu di sana. Papa cuci tangan dulu!" peringat Kenzo, yang langsung berjalan ke arah lantai dua untuk membersihkan diri lebih dulu.
"Emang begitu ya, Kak si Baim?"
__ADS_1
"Iya, dia memang lebih dekat sama papanya! Kalau boleh nih, dia bakalan ikut tu ke rumah sakit!"
"Nanti pasti anakmu juga gitu, Abhi pergi bentar saja rewelnya ke kamu!" timpal Aluna. "Gwen aja sekarang yang masih manja sama Aa'!"
Naura terdiam, membayangkan Abhi kecil yang merengek ingin bersama suaminya.
"Ngelamunin apa!" Naura tersadar saat mendengar suara Abhi. Ia lalu meminta pria itu untuk duduk di sampingnya.
"Astaga, Abhi nya mainya sopan tapi ternyata Nana yang liar, lihat tu Lun! Leher Abhi!" pekik Riella, saat melihat bekas gigitan Naura yang sekarang justru semakin jelas.
Abhi terkekeh, "ini tadi digigit zombie, ngeri! Masih ngilu sampai sekarang!"
"Om, Om. Queena juga punya game zombie tsunami tapi gak bisa gigit kaya gitu. Game nya om, pasti lebih bagus ya bisa gigit betulan!" ujar Shaqueena.
"Iya, zombie nya om, lucu, bisa ngomong, ngambek, bisa apa saja!"
"Coba Queena lihat!"
Semua orang tertawa ketika melihat wajah bingung dari Abhi. Sedangkan Naura yang kesal kini meninggalkan meja makan, menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
"Nana, memang suka ngambek ya, Ma?" tanya Abhi pada Ella.
"Nggak juga, mungkin lagi PMS makanya lebih sensitif!"
Abhi yang mendengar penjelasan singkat dari Ella langsung berlari ke arah kamar Naura. Ia tidak mau terus-terusan membuat istrinya emosi.
Tiba di lantai dua, ia melihat Naura tengah menyisir rambutnya di depan cermin.
"Aku keterlaluan ya hari ini?" tanya Abhi.
"Aku pengen istirahat!"
"Kamu marah?"
"Kamu nggak dengar kalau aku bilang pengen istirahat, berarti aku lelah, pengen tidur!" Naura mengambil pakaian gantinya. Saat ia kembali Abhi justru sudah berhasil menguasai ranjangnya.
"Maafin, aku hari ini ... sini bobo sama aku!" Abhi menepuk dadanya, supaya Naura mau tidur si sana.
"Kamu nyebelin!"
"Ya, makanya aku minta maaf. Setelah ini kita serius."
"Serius apa? Apa sebelumnya kita cuma main-main!"
"Nggak! Aku serius cinta sama kamu. Semua perasaanku padamu tidak ada yang main-main! Sini bobo!" Abhi mengulangi menepuk dadanya. Naura pun menurut ia meletakan kepalanya di dada Abhi.
"Usia kamu berapa sih, Bhi?"
"Tiga puluh lima!"
"Sudah tua juga masih kaya anak kecil!"
"Kamu mau lihat Abhi yang serius? Tapi jangan kaget ya?"
Mendengar ucapan Abhi, Naura merasa sinyal bahaya mulai mengintainya. Ia segera menjauhkan diri dari Abhi, lalu menggulung tubuhnya dengan selimut tebal.
"Kamu bikin aku gak bisa berhenti untuk godain kamu deh, Na!"
__ADS_1