Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Menemukan Bukti


__ADS_3

...Selamat Membaca...


"Apa kamu yakin akan tidur, Sayang? Katanya kangen ... Aku nanti harus pergi lagi lho, nggak bisa lama-lama di sini!" ucap Abhi, saat menoleh ke arah wajah istrinya.


Naura kembali membuka mata, bibirnya mengerut, dia tidak terima dengan ini, sebab rindunya belum terobati, ia tidak rela jika Abhi harus pergi lagi, meninggalkannya. "Kau datang dan pergi sesuka hatimu! Nggak mikir apa, perpisahan itu sulit!" gerutunya menatap kesal ke arah sang suami.


"Lagian ngapain juga di sini, orang yang dirindukan justru mengabaikan aku. Kamu marah karena aku akan mencari rumah lain?" balas Abhi.


"Nggak marah, cuma nggak mau bahas saja." Naura menarik nafas dalam, "Kamu nggak paham sih ... sejak pergi dari rumah itu, bayangan tentang kita sudah bersarang di kepala. Masa iya nggak terealisasikan!"


Wajah Abhi berseri-seri, ia tidak mengira jika pilihannya akan berkesan di mata istrinya. "Kalau begitu mau mu ... baiklah. Kita akan tetap pindah ke rumah itu. Dengan syarat, tunggu sampai rumah itu benar-benar bersih, dan siap pakai." Abhi kemudian naik ke atas ranjang, merangkak untuk berada di samping istrinya. Ranjang itu bergoyang-goyang akibat ulah Abhi saat ini.


"Hati-hati, Abhi!" ucap Naura dengan nada keras, penuh peringatan. Sepertinya seseorang lupa mengunci roda ranjang tersebut, dan itu membuatnya takut karena ranjang bergerak sendiri. Apalagi lantainya licin dia khawatir sampai ranjang itu tergelincir dan mereka berdua akan terjatuh.


"Kenapa? Kalau kamu jatuh aku yang akan menangkap mu? Terus kalau aku yang jatuh—


"Ogah, aku sakit nggak mau nangkap kamu!" potong Naura.


Abhi tidak menjawab dengan ucapan, dia justru menekan tombol pengaturan ranjang dengan jempol kakinya. Membuat ranjang yang tadi berada di posisi terbaring, kini sudah berganti menjadi tegak di bagian punggungnya.


"Jangan tidur dulu!" minta Abhi, dengan jari jempol masih memainkan tombol pengaturan. Sepertinya itu hal menarik bagi Abhi, untuk bermain-main dengan istrinya, sebentar. "Ini masih siang, tidurnya nanti jam 2 saja!" paksa Abhi saat Naura kekeh memejamkan mata.


Naura masih berada dalam fase kritisnya demam berdarah, di mana suhu tubuhnya saat ini menurun. Dan resiko kebocoran pembuluh darah itu besar. Abhi tidak paham hal itu, ia pikir istrinya sudah sembuh karena sudah tidak demam.


"Tapi aku mengantuk! Kamu cerita saja aku akan mendengarkan." Naura masih enggan untuk membuka mata, dia tidak bisa menuruti ucapan Abhi untuk tetap terjaga.


"Ya, sudah bobok saja, nanti setelah tidur biar aku cerita tentang hasil kemarin!" ucap Abhi, seolah memancing mood Naura.


"Hasil apa?"


"Pengamatan ku, tentang kasus pak Bahtiar. Kamu memang nggak penasaran?"


"Emang kamu sudah menemukan buktinya?" tanya Naura kini matanya terbuka lebar, penasaran dengan apa yang diketahui oleh suaminya.


"Hampir, aku sudah meminta temanku untuk mengambil buktinya."

__ADS_1


"Berarti sudah dapat, yang dituduhkan pak Bahtiar benar?" tanya Naura lagi, wajahnya kini benar-benar jauh dari raut mengantuk.


Abhi tersenyum lebar melihat ketertarikan istrinya, menurutnya ini saat tepat untuk balas dendam, melimpahkan kerinduan yang sudah ditahan selama beberapa hari ini. "dari informasi yang aku dapatkan seperti itu! Tapi kita nggak mungkin kan, hanya lewat mulut, mereka pasti juga minta buktinya," jelas Abhi.


"Buktinya mana, sekarang?" Naura menengadahkan tangannya, ia penasaran.


"Belum dikirim sama temanku."


"Itu nggak bahaya, Bhi. Kenapa kasusnya bisa melebar ke daerah lain, sih? Jadi, untuk ini juga kamu meninggalkan aku lama-lama?"


Abhi menarik lembut hidung istrinya. "Lama apanya, cuma 3 hari!"


"Lama menurutku hampir 4 abad!"


"Lebay, ih! Kamu nggak jadi tidur. Mau aku suap nggak?!"


"Kamu nggak lihat piring sudah kosong? Makanan apa yang mau kamu berikan?"


"Ada deh, mau tahu nggak?"


"Apa?"


Naura menjawab dengan decakan lirih. Lalu meminta Abhi untuk menurunkan sandaran ranjang, karena ia ingin tidur. Abhi dengan cekatan menekan tombol itu dengan jari kakinya. Membuat tubuh mereka berdua tidur berhadapan.


Tubuh besar Abhi membuat Naura sulit untuk bergerak, apalagi tangan pria itu mulai mencemari tubuhnya, masuk ke dalam piyama rumah sakit yang dia kenakan saat ini.


"Bhi ...," ucap Naura penuh nada peringatan.


"Nggak, nggak. Aku cuma ingin main-main saja, kenapa? Nggak boleh!" Abhi tersenyum menggoda ke arah wajah sang istri. "Kan sudah dibeli dari papamu! Jadi kamu milikku, BEBAS! FREE!"


"Aku sakit, Bhi!"


"Sini aku sembuhin!" Wajah Abhi perlahan mendekat, matanya menelusuri setiap lekuk wajah istrinya, mata itu perlahan turun ke hidung panjang Naura, kemudian ke inti terakhir, bibir pucat istrinya yang sedari tadi sudah mengacaukan pikirannya.


Mata Abhi terpejam saat wajahnya semakin dekat dengan wajah Naura. Hidung Abhi kini menyentuh ujung hidung istrinya, bertukar nafas, tidak peduli jika yang ia hirup karbondioksida yang dikeluarkan Naura. Dengan gerakan pelan tapi penuh kepastian, bibir itu mendarat sempurna di bibir istrinya, hatinya berkembang, penuh kelegaan, saat bisa kembali merasakan bibir manis itu. Mata Abhi terbuka, kini ia bisa melihat wajah Naura dari jarak sedekat ini. Sedangkan bibirnya tidak berhenti, bergerak lembut menikmati bibir istrinya hingga bunyi kecapan itu terdengar nyaring.

__ADS_1


Tapi, sesaat kemudian Abhi segera menjauhkan tubuhnya, ketika mendengar dering ponsel yang ada di dalam tas, memenuhi ruangan. "Aku angkat dulu, ya? Nanti kita lanjutkan lagi," pamit Abhi, menjauh dari ranjang yang ditempati istrinya saat ini.


Saat berada di dalam kamar mandi tadi, Abhi sengaja mengaktifkan ponselnya, dia sedang menunggu kabar dari seseorang yang dia utus untuk mengawal Jordan.


"Hallo, gimana?" tanya Abhi, langsung ke inti.


"Aku akan mengirim gambar ke Abang! Aku telepon dulu untuk memastikan jika ponsel itu Abang yang bawa." pria di seberang telepon berbicara dengan tegas.


"Oke lebih cepat lebih baik!"


"Tapi, Bang! Kau yakin aku aman, kan?"


"Jika mereka tidak mengetahui posisimu semalam berarti kamu aman!"


"Tidak. Mereka tidak mengetahui aku, penyamaran ku sempurna."


"Ya, sudah berati kamu aman," jelas Abhi. Lalu mematikan panggilannya setelah tidak ada hal lagi yang ingin disampaikan temannya. Ia penasaran dengan barang bukti yang didapatkan semalam, apa sesuai dengan perkiraannya selama ini.


Abhi membuka pesan tersebut. Mengamati bukti yang sudah ia dapatkan. "Bagus! Kalian pasti tidak akan bisa menghindar lagi dari tuduhan." gumamnya. Lalu menatap ke arah Naura yang sedang memperhatikan mimiknya. Ia kembali mendekat ke arah ranjang, menenangkan Naura yang tampak cemas.


"Aku sudah mendapatkannya, pasti polisi akan lekas memanggil mereka. Jadi tenanglah!"


"Kau tidak takut, Bhi! Kenapa mereka tidak digrebek langsung oleh polisi?"


"Istriku ... kamu nggak usah ikut mikirin ini! Dan aku cuma takut kalau kamu tiba-tiba berubah menjadi singa!" Abhi tertawa lebar sambil duduk kembali ke brankar. "Mau dilanjut lagi? Mumpung nggak ada pengganggu," lanjutnya.


"Nggak mau! Sebentar lagi dokter datang!" peringat Naura.


"Dokter?" kepala Abhi meneleng, menatap lekat mata istrinya, "Dokternya cewek atau cowok?"


"Kenapa? Mau kaya papa ... nggak boleh dipegang-pegang?" selidik Naura.


"Itukan salah satu sikap seorang pria menjaga istrinya, biar tidak disentuh pria lain! Bukti cinta aku juga ke kamu! Tidak ikhlas, pokoknya tidak rela, kalau kamu disentuh pria selain aku!" Abhi tersenyum bangga. Membuat istrinya bingung, apa yang ditertawakan Abhi.


"Kalau darurat kan boleh, Bhi! Nggak semuanya harus kamu, kan? Emang kamu bisa meriksa aku?"

__ADS_1


"Nggak bisa, aku cuma bisa menghamilimu saja nanti!" Abhi menyahut cepat, sampai Naura yang kesal mendengar ucapan suaminya, langsung melempar bantal ke arah tubuh Abhi.


...-------- BERSAMBUNG --------...


__ADS_2