Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Dalang Penyekapan


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Kalian ingin berpesta! Apa aku meminta kalian untuk melakukan ini padanya?” cecar seorang wanita yang baru saja memasuki ruangan.


Edi mengumpat dalam hati, buru-buru ia meraih celana yang tadi ia buang asal. Bahkan benda miliknya hampir tergilas resliting saking paniknya mendengar teguran dari wanita itu.


“Kalian bodoh?! Bagaimana kalau dia sampai hamil anak kalian!” teriak wanita itu, memaki lagi dua pria yang ini sudah berdiri di depannya. Tatapan Farah kini bersirobok dengan bola mata Naura. Senyum kemenangan begitu lebar terbit dari bibirnya, saat melihat kondisi Naura saat ini.


“Jadi, ini ulah mu?!” Naura menyengir, “Tidak laki, tidak juga wanitanya, hanya bisa merusuh! Apa selingkuhan mu sudah kembali pada istrinya!” cibir Naura setelah menyadari Farah lah yang menjadi otak penyekapan ini.


Naura justru bisa bernapas lega, setelah mengetahui siapa dalang yang sudah membawanya ke sini. Mereka tidak ada hubungannya dengan kasus Abhi, ini murni karena mantan istri Hanif itu membenci dirinya. Wanita itu berpikir, Naura lah yang menjadi akar kandasnya pernikahan antara Farah dan Hanif.


“Apa Nora mengetahui, jika maminya sejahat ini?” Naura tertawa sinis ke arah Farah. “Bagaimana jika dia mengetahui ini!” ucapnya lirih, meski dia kehilangan banyak tenaga, tapi dia masih bisa mengeluarkan kata-katanya untuk Farah. Berusaha menyadarkannya..


Wanita itu tidak menanggapi, dia justru mencari keberadaan ponsel yang di ada dalam tas, lalu menghubungi nomor Abhi melalui panggilan Video.


Tidak butuh waktu lama, panggilan itu diterima oleh pria tampan di seberang telepon. “Kau mau melihat istrimu?” tanya wanita itu dengan tawa smirk. Tangan Farah bergerak menyentuh layar, mengalihkan pengaturan dari kamera depan ke kamera belakang. Farah sengaja, mengambil kondisi tubuh Naura yang kacau. “Kau tahu siapa yang sudah mencicipinya?!” kamera di tangan Farah sudah berpindah, mengarah pada dua pria yang saat ini berada di samping Naura.


“Mereka bermain cukup hebat, kau pasti menyesal karena sudah melewatkannya!” Farah terbahak, saat melihat wajah murka yang Abhi ditunjukan di layar ponselnya, scenario yang sudah mereka susun secara tidak sengaja membuat semua rencananya semakin sempurna.


“Jangan percaya dia, Bhi! Ku mohon, jangan percaya pada mereka!” ucap Naura dengan suara lemah.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Abhi, kemudian. Suaranya terdengar putus asa. Membuat wanita itu merasa di atas angin.

__ADS_1


“Aku tidak menginginkan apapun dari pengkhianat sepertimu!” Farah memberikan tatapan penuh amarah ke arah layar ponsel.


“Aku tidak pernah berkhianat!” sanggah Abhi, suaranya lantang.


“Apa yang tidak pernah?!” bentak Farah dengan mata yang sudah memerah, Naura bahkan bisa melihat wajah Farah yang tengah meledakan emosinya.


“Aku pikir kau membelaku dengan tulus. Kau bahkan rela mengkhianatiku, dengan menyerahkan hak asuh Nora pada Hanif! Demi apa—demi kamu bisa menarik perhatiannya! Aku bukan wanita bodoh, Abhi!” tuduh Farah, nafasnya terdengar pendek, karena emosi.


“Sekarang aku tidak menginginkan apapun darimu! Aku hanya mau memberikan sedikit pelajaran untukmu, aku kehilangan Nora, dan kamu akan kehilangan Naura. Bukankah itu adil, Pengacara Abhi!” lanjut Farah.


Kamera ponsel yang dipegang wanita itu tidak lagi mengarah ke arah Bogel dan Edi, melainkan ke arah wajahnya sendiri. “Kau ingin mengatakan sesuatu pada istrimu, Bhi, sebelum kalian berpisah untuk selamanya. Hahaha ... sepertinya akan ada drama menarik setelah ini!” ujar Wanita itu. Kemudian berjalan mendekati Naura. Farah sengaja mendekatkan wajahnya ke arah wajah Naura. Supaya kamera ponselnya bisa merekam wajah mereka berdua.


“Sorry, Sayang … sebentar lagi, aku akan datang untuk menolong mu!” ucap Abhi, dari nadanya terdengar jelas jika ia menyesali perbuatannya.


Panggilan itu terputus secara sepihak, Farah langsung menekan tombol merah dari layar ponselnya, saat mendengar suara high hells berjalan mendekat ke arah ruangan yang mereka tempati.


Wanita yang baru saja tiba itu tersenyum cerah ke arah Naura. “Kalian tidak memberinya tempat duduk!” ujarnya saat melihat tubuh Naura yang terbaring di lantai. Lalu berpindah menatap kesal ke arah dua pria yang saat ini sudah berdiri untuk menyambutnya.


“Apa kau gila Oliv! Kau juga terlibat dengan mereka, untuk apa?” selidik Naura.


“Jelas saja aku ingin melenyapkan mu! Tidak ada cara lain, selain menyingkirkan mu dari kehidupan Abhi!” jawab Olivia dengan nada kasar. Ia lalu mendekati Naura, menarik kasar tangan Naura supaya terduduk.


“Kalian berdua sama-sama binatang!” umpat Naura. Mendengar umpatan Naura membuat Olivia mengeluarkan taring tak kasat mata. Emosi menguasai hatinya saat ini. Dia lalu menampar pipi Naura dengan keras.

__ADS_1


“Kau gila, Olive! Pantas saja Abhi meninggalkanmu!” Naura mendongak menatap Olivia dengan tatapan menantang.


“Aku yang meninggalkan Abhi! Ingat itu! Tapi sekarang aku menginginkannya menjadi milikku! Dan aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalanku! Termasuk kamu!” Olivia mengancam Naura, dengan jari telunjuk mendorong kening Naura.


Edi yang tadi keluar untuk mengambil kursi, kini kembali masuk, dan meletakan kursi kayu itu di depan Olivia. Kemudia meminta Naura untuk duduk di sana. Dengan sedikit menyesal, Edi kembali mengikat kaki Naura dengan kaki kursi, sedangkan tangan dan tubuh Naura diikat menyatu dengan sandaran kursi.


Sedangkan Olivia dan mantan istri Hanif hanya menatap cara kerja Edi yang cukup lamban. “Apa kamu mengatakan pada Abhi jika aku terlibat?” tanya Olivia pada Farah.


“Aku memang menelepon Abhi, tapi tidak membicarakan masalah kalian!” jawab Farah, yang berada di samping Olivia. Ia kemudian mendekat ke arah Naura yang kini sudah terikat di kursi. “Biarkan mereka menikmati tubuhnya dulu, setelah itu kita kurung dia di sini, sampai dia benar-benar mati!”


“Aku lebih suka melihatnya disiksa dari pada dia langsung mati!” Olivia kembali mendekati Naura, dia mencengkram pipi Naura dengan erat, “Apa Abhi akan tetap memilihmu jika wajah ini rusak?!” ucap Olivia. Tangannya mulai mencari sesuatu dari dalam tasnya. Ada dua benda yang Olivia ambil dari dalam tasnya, satu air keras dan satu lagi adalah ponselnya. Ia menyerahkan ponselnya pada Bogel meminta pria itu untuk merekam aksinya. Namun, juga memberi peringatan pada Bogel supaya tidak memperlihatkan wajahnya.


“Kita akan uji coba dulu, bagaimana kalau aku menyiramkan ini ke kakimu lebih dulu!” ujarnya lalu membuka penutup botol tersebut. “Kau siap?” tanya Olive pada pria yang memegang ponsel. Setelah melihat Bogel menganggukan kepala, Olivia bersiap menyiramkan cairan asam sulfat itu punggung kaki Naura.


Naura tidak mengeluarkan jeritan, saat cairan itu menyiram kakinya, awalnya hanya dingin yang ia rasakan, tapi perlahan berubah menjadi rasa gatal dan panas. Air matanya kini mulai deras membasahi pipinya. Rasa takut, khawatir, dan harapan seseorang akan datang menolongnya bercampur menjadi satu, saat air keras itu terus mengalir menyiram kaki kanannya saat ini.


“Aku yakin dia akan mengetahui perbuatan kalian! Abhi tidak akan menikahimu sekalipun aku mati! Ingat ucapan ku!” sarkasnya. Yang langsung dihadiahi tamparan keras oleh Olivia. Naura sengaja menahan suara rintihannya meski ia merasakan sakit yang begitu hebat pada pipinya.


“Aku muak dengan wajah polos mu ini, harusnya malam itu aku langsung melenyapkan mu! Supaya kamu tidak menghalangi keinginanku untuk mendapatkan Abhi!” ujar Olivia penuh emosi. Lalu membuang botol air keras itu ke sembarang arah.


“Awasi dia, aku tidak akan membiarkan dia bebas sebelum Abhi memutuskan untuk kembali padaku!”


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2