Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Ternyata Masih Sama


__ADS_3

Happy reading jangan lupa untuk like dan vote.


.


.


.


Satu minggu kemudian.


Bella terbangun saat mendapati panggilan dari dari Axel, dia melirik ke arah jam di dinding waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi, dia lalu menggeser tombol warna hijau di layar ponselnya.


“Hallo,” ucapnya dengan nada malas. Orang yang di seberang telepon masih diam belum menyahut sapaannya.


“Hallo,” ucapnya lagi.


“Bangunlah, kamu nggak siap-siap ke toko roti?” ucap lelaki di ujung telepon.


“Hari ini aku nggak ke toko, aku mau membuat cake di rumah pelanggannku, anaknya sedang berulangtahun hari ini, jadi sekalian mereka memintaku untuk mengajarinya membuat cake,” jawab Bella jujur.


“Siapa nama pelangganmu?”


“Siapa ya kemarin aku sedikit lupa, E ... Erik kalau nggak salah.” Terdengar suara senyum Axel dari ujung telepon.


“Kenapa? Apa kamu mengenalnya?”


“Iya aku mengenalnya, sampaikan salamku padanya,” jawab Axel yang masih menyisakan senyum jenakanya.


Tersenyumlah sekarang, sebelum dia nanti akan menghabisimu. Batin Bella yang mulai risih mendengar gelak tawa Axel.


“Aku akan menyampaikannya,” jawab Bella singkat, “Aku matikan dulu ya, aku ingin menyiapkan diri untuk memulai hari ini,” pamit Bella.


“Iya, hati-hati dan jangan lupa untuk meminum obatnya,” ucap Axel lalu mematikan teleponnya.


Bella membuang nafas lega saat lelaki yang dia benci itu menutup ponselnya, dia lalu menatap kotak yang sudah di bungkus kertas kado di atas meja nakasnya.


“Happy birthday suamiku, happy brithday Riella,” lirihnya sambil mengusap air matanya yang sudah terjatuh.


“Sudah lima tahun kita berpisah Mas ... Aku berharap hatimu masih untukku,” ucapnya sambil tersenyum beralih menatap foto Erik di ponselnya.


Bella lalu beranjak dari kasur untuk mempersiapkan diri pergi ke rumah Erik. Dia akan datang ke sana sesuai permintaan Riella, saat dua hari yang lalu datang menemuinya, Riella meminta Bella untuk mengajarinya membuat cake, dan Bella juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih dekat lagi dengan kedua anaknya.


Setengah jam kemudian Bella sudah siap dengan jeans panjang dan bluesnya, dia tampil lebih casual dan lebih muda dari biasanya, supaya pergerakannya membuat kue lebih nyaman.

__ADS_1


Sampai di rumah Erik, Bella diam sebentar menatap halaman rumahnya dari dalam mobil, dia teringat ketika dulu sering duduk di halaman saat senja, melihat Erik yang sedang bermain dengan Kalun.


“Ternyata masih sama,” lirihnya lalu segera membuka pintu mobil.


Dia segera turun dari mobil, dia tersentak saat merasakan tangan Erik melingkar di pinggangnya.


“Maaf lepaskan tangan Anda!” perintah Bella pada Erik.


“Aku akan menunjukkan di mana dapurnya, bukan akan membawamu ke kamar,” canda Erik yang mengeratkan pelukkannya. Bella hanya memejamkan mata menahan rasa rindu yang bercampur amarah oada lelaki di sampingnya.


“Lepas atau saya nggak jadi masuk!” peringat Bella.


“Mama ...” teriak Riella yang berlari menghampiri Bella dan Erik. Namun, saat jarak sudah dekat dia jatuh tersungkur, membuat Bella reflek langsung menggendong Riella yang tengah menangis kesakitan.


“Sakit Sayang ..., sini Mama obatin, ayo masuk yuk.” Erik hanya diam memperhatikan apa yang akan dilakukan Bella. Bella langsung menuju ke kotak P3K di ruang kerja Erik untuk mengobati luka di lutut Riella.


Bagaimana bisa dia tidak mengingatku, tapi ingat letak kotak P3k. Batin Erik yang memperhatikan kelakuan Bella. Dia masih sibuk memperhatikan Bella yang sedang meniup-niup luka di kaki Riella.


“Sudah nggak sakit lagi kan? Ayo Mama ajarin bikin cake yang enak untuk Riella, jangan menangis lagi ya, kan sudah diobatin sama Mama,” ucap Bella menenangkan Riella. Dia lalu menggendong Riella dan membawanya ke dapur. Dia mulai menyiapakan bahan-bahan untuk membuat cake ulang tahun untuk Riella tanpa memperhatikan Erik yang terus menatapnya. Bella tersenyum tipis saat melihat letak bumbu-bumbu dapur yang tidak berpindah dari tempatnya.


“Kakak Kalun di mana Riella?”


“Main game di kamar, dia sukanya main game Ma, kadang Papa juga suka main sama Kak Kalun,” jelas Riella sambil mengaduk-aduk telur di depannya.


“Siapa yang mengikat rambutmu?” tanya Bella saat memperhatikan ikatan rambut Riella yang sedikit berantakan.


“Papa, Mama tau nggak Papa setiap hari melihat vidio di cutube, buat bisa ngikat rambut Riella,” ucap Riella.


“Hahaha. Benarkah?” tanya Bella sambil terkekeh menatap Riella yang menjawab dengan anggukan, dia lalu mengecup singkat pipi Riella karena gemas dengan ucapan lucu anaknya.


Cukup lama mereka bercanda tawa, Erik yang sengaja mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala karena Riella membongkar semua rahasianya pada Bella.


“Papa sudah punya pacar?” tanya Bella yang iseng bertanya pada Riella.


“Sudah, katanya sebentar lagi mau nikah, nikah itu apa sih Ma?” Bella diam karena tidak bisa menjawab pertanyaan Riella, dia hanya tersenyum ke arah Riella yang juga sedang menatapnya.


“Tante Mama ...!” teriak Riella saat melihat Nadia yang baru saja tiba. Dia berlari meninggalkan Bella yang tengah diam menatap anaknya. Ada rasa cemburu di hati Bella saat Riella dekat dengan wanita lain.


“Papa mana Sayang?” tanya Nadia yang tidak melihat Erik di rumah.


“Kenapa? Apa kamu merindukan aku.” Erik datang langsung memeluk Nadia dari belakang.


“Lepaskan!” maki Nadia yang tidak nyaman dengan kelakuan Erik.

__ADS_1


“Diamlah, sebentar saja,” lirih Erik di samping telinga Nadia, sambil melirik ke arah Bella yang memainkan spatulanya dengan kasar.


“Gila kamu Rik!” teriak Nadia.


“Jangan marah-marah itu tidak baik untuk pertumbuhan anakmu,” ucap Erik sambil memindahkan tangannya ke perut Nadia.


“Tante Mama mau punya adik?” tanya Riella.


“Iya, Riella mau nggak punya adik?” tanya Erik yang melihat Riella berdiri di depan Nadia.


“Nggak! Nanti Papa sayangnya pindah ke adik bukan ke Riella lagi,” jawab Riella lalu segera meninggalkan Erik dan Nadia yang masih berpelukan di sana. Bella hanya menatap wajah Erik dengan marah, tapi dia berusaha menahan rasa itu karena tidak ingin membuat rencananya berantakan. Dia lalu menyusul Riella yang berlari ke arah kamar. Meninggalkan cakenya yang sebentar lagi akan siap.


“Adik kenapa nangis?” tanya Kalun yang melihat Riella masuk ke kamar dengan mata yang sudah basah.


“Lala nggak mau punya adik Kak!” jeda Riella, “Pasti nanti Papa nggak akan sayang lagi sama kita,” lanjut Riella di tengah tangisnya.


“Boleh Mama Bella masuk?” tanya Bella saat melihat Riella menangis dengan pintu kamar yang masih terbuka.


“Nggak seperti itu Riella,” ucap Bella sambil mendekat ke arah Riella.


“Nggak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya, Papa Riella akan tetap sayang sama Riella meski Papa punya adik lagi, percaya deh sama Mama Bella.” Kalun mulai mendekat ke arah Bella dan Riella dia duduk di samping Bella yang sedang menenangkan adiknya.


“Kalian lelahkan, ayo tidur siang! Biar nggak marah-marah terus, tidur siang itu sangat penting untuk masa pertumbuhan kalian,” ajak Bella.


“Mama mau nggak bacain cerita untuk Kalun?” Bella lalu mengambil buka cerita yang sudah di serahkan Kalun padanya.


“Dengan senang hati Mama akan bercerita untuk kalian,” ucap Bella lalu segera memposisikan dirinya senyaman mungkin. Dia mulai menceritakan kisah ‘Rapunzel’ pada anaknya, tapi cerita belum selesai kedua anaknya sudah terlelap. Dia tersenyum sambil menatap kedua anaknya.


“Maafkan Mama yang baru bisa menceritakan dongeng sekarang, Mama menyayangi Kalun dan Riella, sabar ya sayang, kita akan berkumpul bersama sebentar lagi,” ucapnya lirih namun masih bisa didengar oleh orang yang dari tadi berdiri di dekat ranjangnya. Erik langsung mengangkat tubuh Bella, dia mengendong Bella ke kamar yang bersebelahan dengan kamar anaknya, Bella mencoba berontak dari gendongan Erik, tapi yang ada Erik semakin tidak membiarkannya bergerak sedikit pun.


“Lepaskan lelaki tua!” teriak Bella yang tidak bisa bergerak lagi.


.


.


.


.


TBC.


* Apa yang terjadi ya , setelah ini?🤔

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like, komentar positif, saran dan kritik juga boleh.


__ADS_2