
“Selamat pagi,” sapa Naura pada wanita yang sedang sibuk memotong wortel.
“Pagi, Nona Naura.” Itu suara Susan, wanita cantik itu menjawab ramah sapaanya, membuatnya merasa sungkan karena dipanggil nona oleh pemilik rumah.
“Jangan nona, Ibu. Panggil Naura saja.” Naura menyahut, berjalan mendekati Susan kemudian mengulurkan tangannya, berniat mencium tangan Susan. Namun, wanita itu menolak, beralasan jika tangannya bau bawang.
Susan tersenyum. “Manis sekali kamu,” pujinya.
Naura menunduk malu, matanya berkeliaran mencoba mencari pekerjaan yang bisa ia lakukan. Tapi, sayang—Susan tidak mengizinkannya. Setiap ia hendak mengambil sayuran, Susan selalu menahanya. Wanita itu justru mengambil kursi dan meminta Naura untuk duduk di depannya. Memintanya untuk mengamati dia yang sedang memasak.
“Ibu Susan mengingatkan saya pada mama. Dia selalu menolak jika saya ingin membantunya. Dia bilang nanti masakannya nggak enak, dan justru akan menambah pekerjaan. Karena dapur pasti akan berantakan.” Naura bercerita sambil tersenyum geli, mengingat tingkahnya saat berada di dapur dengan Ella.
Susan yang mendengar pun, berusaha mengimbangi cerita Naura. “Kalau Oliv , dia selalu menolak, setiap kali Ibu minta bantuan padanya. Dia nggak mau masuk dapur! Makanya, sampai saat ini, gadis itu belum bisa masak. Entahlah, bagaimana nanti jika dia sudah bersuami. Ibu khawatir suaminya akan mengeluh karena ia tidak bisa memasak.”
“Nggak perlu khawatir, Bu. Sekarang zamannya online, tinggal beberapa klik makanan siap santap datang.” Naura bercerita penuh semangat, seolah tidak mempermasalahkan soal wanita yang tidak bisa memasak di zaman modern ini. “Ibu kapan tiba? Tadi pagi? Apa ibu tidak lelah, sepagi ini sudah masuk dapur.”
“Enggak lelah. Semalam ibu tiba pukul 11 malam, setelah hujan sedikit reda ibu langsung meminta pak Tedjo untuk membawa mobil. Ibu khawatir merepotkan kalian.”
Naura memperhatikan cara bicara Susan yang begitu lembut. Berusaha menemukan masalah yang tengah wanita itu hadapi. Tapi, nihil. Naura tidak menemukannya.
“Apa semalam kamu kedinginan? Ibu paham, di Jakarta itu panas sekali, lembab pula. Ibu saja nggak betah tinggal di sana. Bawaanya pengen pulang ke kota kelahiran. Di sini lebih nyaman, bisa menikmati udara segar setiap waktu, dan lagi—banyak hiburan, meski hanya memetik daun-daun teh di samping rumah.” Susan tertawa kecil, tatapanya ke arah jendela yang terbuka, memperlihatkan hamparan kebun teh miliknya.
Naura hanya menjawab dengan senyuman tipis. Tanganya segera menerima seduhan teh hijau yang diserahkan Susan.
__ADS_1
“Diminum, untuk menghangatkan tubuhmu!” Susan mengambil duduk di depan Naura, “Apa yang ingin kamu tanyakan? Ibu paham kamu punya maksud lain datang ke sini.”
Naura hampir tersedak nafasnya sendiri, ketika mendengar pertanyaan Susan. Ia bisa menebak jika Susan sudah mengetahui niatnya jauh-jauh datang ke Cianjur. Naura meredakan dulu nafasnya yang tersengal, lalu memberikan seulas senyum manisnya pada wanita tersebut. “Saya sudah bertanya pada pak Martin—beliau bilang, merasa bosan menjalani hubungan dengan Ibu.”
“Bukan hanya dia yang bosan. Tapi, aku juga.” Susan seolah tidak mau kalah dengan pria itu.
“Apa ada alasan yang kuat untuk mengakhiri hubungan Ibu dengan pak Martin?” tanya Naura.
“Seorang pria yang mencintai wanitanya, akan melakukan apapun permintaan orang yang ia cintai. Benar, bukan?” Susan mengambil nafas dalam. “Tapi, dia tidak. Seolah tidak peduli denganku, aku meminta ini, itu. Aku harus mencarinya sendiri, sekarang aku sudah tua aku ingin tenang. Terserah dia ingin melakukan apa,” ucap Susan seolah pasrah dengan keputusan Martin.
Naura mempertemukan kedua telapak tangannya lalu mengusapnya pelan, mengusir dingin yang masih terasa. “saya memang belum menikah, Bu.” Susan tampak terkejut, saat mendengar status Naura. “Tapi, apa tidak terlalu disayangkan, jika ini semua berakhir di meja pengadilan? Ibu sudah bertahan sangat lama. Hampir 35 tahun. Apa sebaiknya—
“Saya tidak mau.” Susan langsung memotong ucapan Naura. “Kamu belum merasakan ada di posisi saya!” Suara Susan terdengar membentak.
“Yah, Ibu Susan benar. Tapi, selama ini saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka saling mengerti dan memahami. Saat satunya keras kepala, sang istri sejenak menurunkan ego-nya. Saat satunya mengomel sana-sini, suami hanya diam meski ia tahu istrinya yang salah.” Naura tampak takut saat mengatakan hal itu. Ia takut kalau Susan tidak mau mendengar ucapannya yang belum pernah mencicipi bagaimana rasanya hidup berrumahtangga. “ingat janji pernikahan? Itu bukan hanya janji dengan pasangan. Kita melibatkan Sang Pencipta di sini.” Naura menarik nafas dalam, sebelum kembali angkat bicara.
“Saya tidak ingin meninggalkan kota ini. Tapi, lihat, dia juga seperti itu memegang erat bisnisnya. LDR, mungkin itu yang membuat kita merasa bosan. Jangankan telepon, pesan singkat saja sebulan satu kali.” Susan akhirnya berani mengungkapkan apa yang menjadi bebannya selama ini.
“Kenapa ibu tidak mengatakan pada pak Martin? Kenapa ibu tidak mencoba memberikan perhatian pada beliau lebih dulu? Memulai dulu lebih baik, dari pada harus menunggu berapa lama mendapat kabar darinya.” Kini Naura tidak berani menatap wajah Susan. Dia khawatir dengan apa yang ia ucapkan tidak bisa diterima Susan dengan baik.
Cukup lama mereka hanya diam, Naura mencoba menghilangkan kecanggungan dengan menyeruput teh di tangannya.
“Saya akan mencoba menurunkan ego-ku.” Naura mendongak sambil tersenyum cerah, anggukan kepala ia tampilkan berulangkali. Menyetujui apa yang akan dilakukan Susan.
__ADS_1
“O, ya. Pak Abhi mana ya, Bu. Saya harus secepatnya kembali ke Jakarta, soalnya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.”
“Tadi dia bilang mau jalan-jalan ke kebun teh, katanya mau melihat-lihat suasana di sini. Kangen, gitu bilangnya.” Susan menjawab sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Oh, gitu. Sepertinya, Ibu dekat dengan pak Abhi ya?”
Susan terbahak, “dia calon mantu yang gagal. Jadi ya, lumayan dekat. Semoga saja mereka jodoh.”
Jantung Naura seolah berhenti mendadak. Menyadari jika wanita cantik semalam pastilah calon istri Abhi yang gagal pria itu persunting. Yang sudah membuat Abhi trauma, sekaligus betah dengan status perjakanya.
Naura beranjak dari tempat duduknya, ia pamit hendak mencari Abhi. Susan pun menginzinkan ia pergi, berpesan supaya berhati-hati karena jalanan pasti licin. Susan menunjuk ke mana arah Abhi pergi, memberitahu pasti Abhi ada di tempat favoritnya. Setelah itu, Naura mengucapkan terima kasih pada Susan. Ia segera pergi meninggalkan rumah Susan, dia tak sabar ingin memberitahu Abhi jika sudah berhasil meluluhkan hati Susan.
Naura berjalan pelan sambil menikmati udara pagi, melewati jalan sempit dan berumput, tampak jelas beberapa tetesan air masih menempel di daun-daun hijau tersebut. Beruntung ia tadi meminjam sandal jepit bu Zainab, jadi tidak terlalu merepotkan, apalagi dengan home dress yang ia kenakan saat ini, akan sangat menganggu gerakannya.
Gadis itu terus berjalan, berusaha menemukan Abhi dan membawanya pulang ke Jakarta. Matanya terus mencari sosok Abhi di segala penjuru. Tapi nihil, Abhi tidak ada di sekitar jalan yang ditunjukan Susan. Dia hanya menemukan beberapa orang yang menggendong keranjang tengah memanen pucuk daun teh. Naura kembali berjalan, menelusuri jalanan tersebut sampai suara percakapan dua orang itu terdengar jelas di telinganya.
“Aku memang masih mencintaimu.” Terlihat Abhi menatap dalam wanita di sampingnya, sama halnya dengan gadis itu, yang tengah tersenyum sambil membalas tatapan Abhi.
Naura yang menyadari kesalahannya mencoba menjauh, ia takut keberadaanya akan menganggu moment Romeo dan Juliet. Ia berlari kecil sebelum Abhi menyadari, jika dia sudah mendengar ungkapan cinta dari pria tersebut.
Namun sialnya, Naura tidak paham dengan kondisi jalanan di perkebunan tersebut. Kaki Naura terpeleset dan tubuhnya pun terjatuh ke semak-semak kebun teh. Ia berusaha bangun, sebelum Abhi menyadarinya. Tapi, rintihan kesakitan itu membuat beberapa pegawai berlarian mendekat ke arahnya. Mereka berusaha menolong Naura yang tengah merintih kesakitan.
"Auwh ... tunggu dulu, Pak! Ini sakit!" peringatnya saat seorang pegawai mencoba menarik tangannya.
__ADS_1
...----------------...
...Saya cuma mau ngasih info : Ada yang kenal dr. Pampam kan, ya? Sudah Up loh, Di aplikasi K B M App, yang berkenan silakan mampir dan jangan lupa untuk tekan subscribe. Terima kasih....