Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Semua Sudah Berlalu


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Mama sama papa sedang makan siang, jadi aku meminta perawat untuk mengantarku ke sini!” ucap Naura, berusaha menjawab kebingungan yang ditunjukan wajah suaminya.


“Bandel sekali kamu!” ucap Abhi, meski dalam hatinya tengah bahagia karena Naura kini dekat dengannya.


“Aku tidak bisa duduk menunggumu datang untukku! Jadi lebih baik aku yang datang,” ucap Naura, ia berpindah ke ranjang yang di tempati suaminya, dengan bantuan perawat yang tadi mengantarnya.


“Kamu bisa pergi!” ucap Abhi menatap wanita yang tadi mengantar Naura, setelah wanita itu berhasil meletakkan infus Naura.


Setelah kepergian perawat itu, Naura yang sedari tadi terus menatap Abhi, kini mulai menitikkan air matanya, memeluk erat tubuh Abhi yang hanya bisa tidur miring.


“Aku takut, Bhi ….” ujarnya di tengah isakkan.


“Sttt … semua sudah selesai, kamu tidak perlu takut! Ada aku!” Abhi mengusap kepala Naura yang saat ini tepat berada di depan dadanya. Tangannya berusaha meraba pipi Naura demi bisa menghapus air matanya.


“Aku takut kamu pergi setelah ini!” Naura mendongak menatap wajah Abhi dengan pipi yang sudah basah karena air mata, ia takut jika mengatakan jujur Abhi akan menjauhinya.


“Aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang!” kata Abhi, "aku kan sudah sering mengatakan ini padamu."


“Maafkan aku, Bhi ... tidak bisa menjaga diri! Kamu percaya padaku, kan? kalau mereka belum melakukan apapun!” Naura berusaha menjelaskan, tentang kejadian yang dia alami kemarin.


“Sttt ... jangan katakan apapun untuk sekarang ini! Aku percaya apa yang kamu katakan, Sayang. Dan minta maaf gara-gara masa laluku, membuat kamu seperti ini. Harusnya sudah sedari dulu aku menyelesaikan masalahku dengannya,” jelas Abhi.


“Kau yang terluka kenapa kamu yang meminta maaf, Aku mengkhawatirkan kondisimu saat ini,” ucap Naura.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku.”


“Kau tidak mengkhawatirkan aku, Bhi?” tanya Naura.


“Tidak begitu,” jawab Abhi, bertolak belakang dengan fakta yang kemarin sudah ia alami. Dia bahkan seperti orang gila saat mengemudikan mobilnya ke arah Bogor.


“Dasar!” Naura memberikan cubitan di pinggang suaminya, dengan tatapan yang terus menatap mata Abhi. Berbeda dari biasanya, tatapan kali ini ia merasa kasihan pada suaminya karena mendapatkan luka tembak di punggung.


“Semua akan baik-baik saja, kan, Bhi?” tanya Naura memastikan.


“Iya, aku akan menjagamu dengan baik setelah ini. Tapi kamu juga harus menurut dengan ucapan ku,” pesan Abhi, diselingi suara tawa lirih. Wanita itu hanya menatap datar wajah Abhi yang sedang tertawa. Lega karena bisa mendengar tawa suaminya lagi.


Tangan Naura yang terpasang infus mengusap dengan lembut pipi suaminya. “Bukan hanya aku yang harus kamu lindungi, Bhi!”


“Aku maunya cuma kamu,” balas Abhi., mendaratkan kecupan di kening Naura, lalu menatap lagi wajah istrinya.


“Kata papa aku hamil. Jadi kamu juga harus melindungi calon anak kita!” ucap Naura, suaranya pelan tapi dia mengatakan itu, tepat berada di depan wajah suaminya.

__ADS_1


Abhi masih terdiam saat mendengar ucapan istrinya, dalam hatinya terus bertanya-tanya benarkah secepat ini dia membuat istrinya hamil? Lantaran usia pernikahan mereka juga belum terlalu lama. Dia bahagia, tapi juga takut tidak bisa menjadi suami siaga.


“Kamu yakin, papa nggak salah menyampaikan berita ini, Sayang?” tanya Abhi.


“Kenapa? Kamu nggak meragukan aku, kan?”


“Ragu?! Jelas saja tidak, kita kan melakukannya bersama, ******* sama-sama jadi wajar saja, kalau ada benihku di perutmu. Yang aku tanyakan itu, papa nggak salah periksa kan? Atau kamu mau datang ke dokter lain?” jelas Abhi.


Tatapan Naura berubah kesal, “Kau tahu nggak nama belakang papa?”


“Ramones kan?” sahut Abhi, sedikit ragu.


“Ya, benar, dr. Erik Ramones Sp.OG kalau sama mama ditambahin pakai M. Spesialis Obstetri dan Ginekologi plus mesum.” Penjelasan Naura membuat Abhi sedikit terkejut, sekaligus tertawa dengan tambahan yang diberikan oleh mertuanya. Padahal setahunya,, Erik adalah seorang pengusaha bukan seorang dokter.


“Aku beneran nggak tahu kalau papa seorang dokter.” Abhi masih terlihat bingung.


“Papa pensiun dini sebelum aku dan Maura lahir.”


“Alasannya?” tanyanya lagi, yang masih penasaran.


“Mama sih cemburuan, jadi gak rela kalau papa pegang-pegang orang lain,” jelas Naura.


“Kalau kamu cemburuan nggak?” goda Abhi.


Abhi tersenyum samar, “Kalau kamu cemburuan aku juga akan pensiun dini. Biar nggak berurusan sama gadis-gadis di sana." ujarnya tapi tak mendapat respon dari Naura. "berarti sebentar lagi aku akan punya anak, Kan?”


“Iya, anak. Anak kita.”


“Kau bahagia, Na?”


Naura mengangguk lalu kembali memeluk tubuh Abhi dengan erat. “Kasus pak Bahtiar bagaimana? besok kan jadwal sidang?”


“Tidak usah memikirkannya, Nathan bersedia menggantikan aku untuk sementara.” Abhi berusaha membalas pelukan Naura meski saat ini posisinya sulit. “Setelah kini, aku akan mempekerjakan penjaga supaya kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi.”


“Kamu seperti papa! Tadi papa juga bicara seperti itu padaku.”


“Wujud kasih sayang, kita terima saja, selama itu tidak membuat kita kesulitan,” bujuk Abhi.


“Tidur sini!” Abhi kemudian menepuk bantal di sampingnya, meminta Naura lebih naik, supaya ia bisa berhadapan langsung dengan wajah Naura. Abhi yang terluka di punggung mau tidak mau hanya bisa tertidur miring menghadap Naura.


“Na,” panggilnya dengan suara tegas.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Kamu tidak perlu menutupi kakimu seperti itu! Aku tidak akan menolak mu, meski aku tahu kakimu tidak baik-baik saja!” ujar Abhi. Sedari awal Naura masuk ke kamarnya, ia menyadari jika Naura sengaja menutupi kakinya dengan selimut yang dia bawa dari kamar sebelah.


“Abhi ….”


“Hei … bagaimana kalau aku yang terluka di wajah atau bagian yang terlihat, apa kamu akan pergi?” tanya Abhi, berusaha menjelaskan pada istrinya.


“Ya, nggak!”


“Aku juga begitu, aku juga tidak akan pergi meninggalkanmu, Sayang …” ucap Abhi, nadanya lembut, demi meyakinkan Naura.


“Aku tidak tahu lagi, jika kamu kemarin tidak ada di sana, pasti wajahku sudah rusak terkena air keras itu!”


Mendengar hal itu, Abhi justru teringat dengan Olivia yang juga terkena air keras di wajahnya. “Semua sudah berlalu, Sayang!”


Pelukan di Naura semakin erat, pelukan ucapan terima kasih dan rasa cintanya untuk suaminya. Abhi yang merasakan pun sampai merasakan sasak dalam dirinya. Ia mendongakan wajah Naura untuk menghadap ke arahnya, “Kau sudah membuatku sesak napas!” ujarnya tak lekang menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat.


Tangan Abhi dengan perlahan mendekatkan wajah Naura ke arahnya, membuat kedua hidung yang berbeda tipe itu bersentuhan lebih dulu dari bibinya. Bibir Abhi tersenyum lebar saat mata Naura tampak sendu.


“Kau ingin aku mencium mu? Kenapa menurut sekali?Seolah menginginkan lebih dari ini!” tanya Abhi dengan suara lirih.


“Haruskah aku yang mencium mu lebih dulu?” tanya Naura.


Abhi tidak mau itu terjadi, jadi ia memilih memberikan ciuman pada istrinya dari pada menerima ciuman dari Naura. Mereka berdua meluapkan perasaan lega, setelah kejadian kemarin yang begitu menguras tenaga dan emosi.


“Aku bakalan cemburu nih, kalau nanti anak kita lebih banyak mendapat perhatianmu!” ujar Abhi saat bibirnya terbebas dari bibir istrinya. Naura tidak menjawab ucapan Abhi, wanita itu justru semakin liar menciumi bibir suaminya. Hingga ciuman mereka terpaksa berhenti karena terdengar pintu kamar terbuka kasar, keduanya saling menjauhkan bibirnya, berusaha menyembunyikan apa yang baru saja mereka lakukan. Meski orang yang baru datang itu paham dari bibir keduanya yang tampak basah.


“Papa ngapain di sini?” tanya Naura.


“Kau tanya papa—ngapain?” Erik memicing ke arah Abhi. “Kau tidak tahu betapa paniknya papa saat mengetahui kamu tidak ada di dalam kamar!”


“Iya maaf, habisnya kalau Naura minta izin pasti papa nggak izinin Naura bertemu Abhi.”


Erik kemudian berjalan ke arah ranjang yang ditempati mereka berdua. Ia bertanya tentang kondisi Abhi saat ini.


“Aku sudah baik-baik saja, Pa. tinggal pemulihan,” jelas Abhi.


“Untuk sementara kalian tinggal dulu di rumah, papa khawatir mereka masih akan membahayakan kalian,” minta Erik.


Abhi Naura hanya saling pandang, berbicara melalui tatapan mata. Tapi akhirnya Abhi menyetujui permintaan Erik. Berbeda dengan Naura yang sebenarnya menolak karena takut Abhi akan tidak nyaman saat tinggal bersama kedua orang tuanya.


“Aku berharap ini yang terakhir mereka melakukan hal ini!” Erik menatap Naura yang masih memeluk pinggang suaminya. “Ayo, kamu juga harus kembali ke kamar! Biarkan suami istirahat lebih dulu!” ajaknya memaksa Naura untuk keluar kamar. Tapi, wanita menolak dia tidak mau kembali ke kamar karena masih ingin bersama dengan suaminya.


...-------- BERSAMBUNG --------...

__ADS_1


...Yang mau ngasih gift dipersilakan,😉...


__ADS_2