Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Taman Komplek


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, usia kehamilan Ella kini sudah 33 minggu. Perutnya yang semakin membesar membuat Erik merasa kasihan dengannya. Tapi Ella sendiri masih terlihat aktiv, bahkan istrinya itu masih bisa memasakkan sarapan untuknya setiap pagi.


Pagi ini, Ella tengah bersiap untuk berjalan-jalan mengelilingi komplek rumahnya. Setelah itu, dia akan singgah dulu di taman, sambil menikmati bubur ayam ataupun cakue di sana. Entahlah hanya Ella yang mengerti kenapa seleranya tidak seperti istri CEO kaya di luar sana, seleranya masih sama seperti dia waktu kuliah, suka makan gado-gado, jus apel dan masih suka meminta Yohan untuk membelikan rujak cingur kesukaannya.


Erik yang akan menemani Ella berjalan kaki, segera mempersiapkan dirinya. Sebenarnya dia tidak begitu senang ketika menemani Ella jalan-jalan karena pasti sampai di lokasi, dia yang akan kerepotan untuk memijat kaki Ella yang mengeluh kecapekkan.


“Sudah siap?” tanya Ella yang melihat Erik berada di sampingnya.


“Ayo, keburu panas nanti!” ajak Erik sambil menarik pelan tangan Ella. Erik terus menggandeng tangan Ella, saat berjalan di pinggiran jalanan kompleknya.


Seperti ibu-ibu pada umumnya, istrinya itu akan berhenti sejenak lalu mengobrol kesana -kemari saat mendengar sapaan dari tetangganya. Ella memang jarang keluar rumah untuk bersosialisasi, dia hanya datang ketika ada acara arisan ataupun acara besar saja. Jadi, tidak heran jika saat dia keluar banyak pertanyaan yang tetangga sebelah itu lontarkan.


Erik yang berada di sampingnya mulai kesal, karena istrinya tidak segera mengakhiri obrolannya. Semua lelaki itu sama, di mana-mana selalu tidak mau jika menemani istrinya ngobrol ketika bertemu dengan temannya. Tapi ketika dia bertemu dengan teman atau sahabatnya, bisa jadi durasi obrolannya melebihi para wanita, apalagi jika ditemani kopi dan rokok bisa jadi dari matahari terbit sampai terbit lagi.


Ella segera berpamitan saat melihat raut wajah Erik yang mulai tak bersahabat. Tangan kanannya merangkul lengan Erik, matanya menatap wajah Erik dari arah samping, mereka berdua berjalan pelan menyusuri jalan komplek perumahan itu.


Semoga tidak bertemu emak-emak lagi. Ucap Erik dalam hati. Dia masih diam belum mengajak Ella untuk berbicara. Sedangkan Ella masih terlihat senyum-senyum sendiri sambil menikmati udara pagi yang belum tercemar polusi udara itu.


Mereka berdua sampai di taman komplek. Erik yang mengerti Ella lelah langsung mencarikan tempat duduk di dekat kolam ikan.


“Minum dulu gih!” perintah Erik sambil menyerahkan air mineral di depan Ella.


“Mau sarapan apa?” Ella tersenyum senang saat mendengar pertanyaan Erik, suaminya itu sangat pengertian, selalu tahu jika dirinya selalu lapar, setelah beraktivitas.


Erik meninggalkan Ella sendiri di kursi taman itu, dia memesan bubur ayam yang di pesan Ella. Sesekali melirik ke arah Ella yang tengah duduk di kursi taman, memastikan istrinya itu dalam keadaan baik-baik saja. Dia lalu kembali duduk di samping Ella dengan membawa semangkok bubur ayam lengkap dengan topping di atasnya.

__ADS_1


“Kok cuma satu?” tanya Ella saat Erik mulai mencampur bubur ditangannya.


“Semangkok berdua lebih romantis,” jawab Erik sekenanya.


“Mana bisa begitu! Mana kenyang aku? Semangkok untuk berempat?” cibir Ella sambil mengusap perutnya.


“Justru itu karena perutmu sudah kenyang jadi makannya sedikit saja,” canda Erik sambil menyuap bubur ke dalam mulutnya sendiri. Membuat Ella tak percaya dengan kelakuan Erik, dia lalu hendak berdiri memesan sendiri bubur untuknya.


“Mau ke mana? Buburnya sudah habis Sayang tinggal satu mangkok ini,” ucapnya sambil menahan tangan Ella yang hendak pergi.


“Mas ...” panggil Ella sambil meraba perutnya yang terasa sedikit kram. Erik hanya menoleh ke arah Ella.


“Kenapa?” tanya Erik lalu membawa Ella kembali untuk duduk. Dia ikut meraba perut Ella yang terasa keras.


“Aw ... Mas sedikit sakit perutku,” rintihnya sambil mencekram erat pundak Erik.


“Jemput aku di taman!” perintah Erik saat sambungan ponselnya terhubung. Dia langsung menutup ponselnya setelah mendapat jawaban dari sopirnya.


Dia lalu mendekat lagi ke arah Ella, mengusap pinggang istrinya supaya meredakan rasa sakit yang Ella rasakan.


“Masih sakit?” tanya Erik.


“Masih.” Ella memejamkan matanya sambil mencekram pinggiran kursi yang dia duduki.


“Bertahanlah, sebentar lagi Roni datang,” ucap Erik yang masih setia mengenggam tangan Ella.

__ADS_1


Cukup lama mereka menunggu pak Roni datang, telinga Erik mulai panas saat mendengar suara rintihan dari Ella.


“Maaf Pak, tadi saya habiskan sarapan saya dulu,” ucap Roni yang sudah berada di depan Erik.


Erik sudah memberikan tatapan tajam ke arah Roni hendak memaki sopinya itu. Namun, suara rintihan Ella segera menyadarkan dirinya. Erik segera membawa Ella menuju mobil yang dibawa Roni tadi. Dia meminta Roni untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit.


“Mas apakah aku akan melahirkan? Kenapa sakit sekali,” tanya Ella sambil menahan rasa sakitnya.


“Kita cek dulu setelah sampai rumah sakit nanti,” terang Erik sambil mengusap keringat Ella di dahinya.


Beruntung jalan sedikit lenggang pagi ini, sehingga mereka bisa cepat untuk tiba di rumah sakit. Erik segera meminta brankar pada petugas jaga, saat mobilnya sudah berhenti di depan pintu ruang UGD.


“Hubungi Reyhan untuk ke rumah sakit sekarang!” perintah Erik pada perawat yang mengikutinya. Erik lalu membawa brankar Ella ke ruang pemeriksaan, diiringi suara tangisan Ella yang kesakitan.


Erik segera memeriksa kondisi Ella memalui alat usg, dia mengembuskan nafas kasarnya setelah mengetahui keadaan kedua anaknya.


“Kenapa Mas? Mereka baik-baik saja, kan?” tanya Ella menatap wajah Erik sambil menahan rasa sakitnya.


“Aku akan mengeluarkan mereka sekarang juga.” Ella menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Erik.


“Ini belum waktunya Mas, bahkan berat badannya belum cukup untuk dilahirkan,” tolak Ella sambil memegang perutnya dengan kedua tangan.


“Sayang ... tenanglah dulu jangan panik! Sekarang ini terlalu bahaya buat kamu untuk menolak, itu sama saja menyerahkan nyawamu. Aku akan diskusi dulu dengan Rehyan,” ucap Erik berbicara sehalus mungkin dengan Ella.


Erik lalu keluar sebentar setelah menyerahkan Ella kepada perawat jaga, dia ingin membicarakan kondisi Ella pada Reyhan dan berniat untuk mengeluarkan bayi kembarnya sekarang juga, kerena Ella mengalami Abruptio Plasenta, di mana plasenta terpisah dari uterus, ini sering terjadi di kehamilan anak kembar, atau bisa jadi karna usia Ella yang sudah lebih dari 35 tahun, jalan satu-satunya Erik harus segera mengeluarkan bayi kembarnya sekarang juga demi menyelamatkan Ella. Meskipun setelah itu bayinya akan masuk ke inkubator, itu lebih baik, dari pada dia harus kehilangan istrinya lagi.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa like dan vote.😁


__ADS_2