
...Selamat Membaca...
Dengan rambut yang masih terasa lembab, Abhi menatap taman samping rumah dari balik jendela kaca. Memperhatikan rerumputan yang sedang berjuang untuk tumbuh. Musim hujan baru saja datang, setelah musim kemarau yang lumayan panjang, dan itu berimbas pada rumput di rumah mertuanya.
Hingga sepagi ini, pria itu terjaga. Ia tidak memejamkan matanya barang sedikit pun. Berharap setelah acara pesta selesai tubuhnya tidak drop karena kurang istirahat.
Sinar matahari yang mengintai lewat sela jendela tak mampu mengusik istrinya yang masih terlelap di bawah selimut. Ia membiarkan hal itu terjadi, lagian Naura pasti masih mengantuk karena begadang menunggunya. Se-percaya diri itulah Abhi.
Namun, saat mendengar suara panggilan dari mertuanya, ia tersadar jika hari ini adalah hari penting untuk mereka berdua. Abhi bergegas mendekat ke arah pintu, tidak membiarkan mertuanya menunggu terlalu lama.
Tiba di depan pintu ia sedikit terkejut saat melihat mama mertuanya sudah tampil cantik dengan dandanan sanggul modern. Hanya saja, mertuanya masih mengenakan pakaian biasa.
“Astaga, di mana Nana?!” Ella lebih syok saat melihat Abhi belum siap.
Abhi meringis ketika mendengar pertanyaan itu, tangan kanannya mengusap tengkuknya yang tak gatal. Ia kemudian menunjuk Naura dengan sedikit menolehkan kepalanya ke arah ranjang.
Ella yang melihat putrinya masih terlelap dengan posisi memeluk guling, hanya bisa menggelengkan kepala. Ia pikir putrinya itu sudah mandi dan bersiap untuk dimakeup. Tapi, ternyata di luar dugaan.
“Lekas bangunkan Nana! Di lantai bawah sudah ada orang yang menunggunya, Bhi!" perintah Ella. Ia sungkan jika harus membuat wanita di bawah sana menanti terlalu lama.
“Beri Abhi waktu, ehm …." Abhi tampak berpikir. "tiga puluh menit kita akan turun ke bawah."
“Kelamaan, Abhi! Pukul 9 nanti ... setidaknya kalian sudah berangkat ke hotel! Tahu sendiri kan, jalanan selalu macet. Tamu papa pasti juga nyariin kalian.”
“Ya, akan Abhi usahakan, Ma.”
Mendengar jawaban dari menantunya, Ella lekas meninggalkan kamar. Dia juga harus mengurus dua cucu perempuannya Leya dan Shaqueena yang meminta didandani sama dengan apa yang saat ini ia kenakan.
Di dalam kamar, Abhi tengah kebingungan memikirkan bagaimana cara membangunkan istrinya. Antara mencium atau menindih tubuh Naura. Dua pilihan itu ada di benaknya saat ini. Beberapa hari tidur dengan Naura membuatnya paham, istrinya itu tipe wanita yang sulit di bangunkan jika sudah tertidur nyenyak.
“Sayang, bangun … sudah ditunggu loh!” lirihnya sambil merangkak naik ke atas ranjang. Ia tidak tega kalau tiba-tiba membebani Naura dengan berat tubuhnya. Abhi memilih membangunkan Naura dengan cara halus. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Naura, kemudian satu tangannya ia pindahkan ke hidung Naura. Menarik pelan hidung panjang istrinya, merasa tidak ada respon, ia mencubit hidung panjang tersebut supaya istrinya itu kehabisan udara di paru-parunya.
Setelah merasakan pergerakan Naura, Abhi menghujani Naura dengan ciuman di wajahnya. Berakhir dengan menggesekkan hidungnya di pipi Naura. “Bangun. Bangun. Ayo kita bangun!” Abhi berdendang khas nada anak paud.
“Jangan ganggu aku!” seru Naura, seraya menggoyangkan tubuhnya, agar terlepas dari pelukan Abhi. Ia tidak mau pria itu memeluknya seperti ini. Rasa kesalnya pada Abhi belum pulih.
“Sayang … ini adalah hari kita. Insya Allah sekali seumur hidup! Nggak ada yang special, gitu, untuk aku?”
Menyadari ucapan Abhi, Naura lekas membuka matanya lebar. Tapi setelah irish matanya menangkap wajah Abhi yang begitu dekat, Naura lekas menekuk wajahnya, menampilkan wajah kesalnya, seolah memberitahu Abhi jika ia tengah marah. Dengan sedikit hentakan Naura menyingkirkan kaki Abhi dari atas kakinya, segera beranjak dari tempat tidur, meninggalkan Abhi yang tengah memperhatikannya.
“Mau aku bantu mandi nggak, Sayang?” goda Abhi, ketika istrinya kembali melewati ranjang.
“Aku lagi nggak mau bicara sama kamu,” ucap Naura, saat kambali berjalan ke arah kamar mandi dengan handuk kimono di tangan. Pandanganya tak menoleh sedikit pun ke arah suaminya. Tiba di dalam kamar mandi, Naura segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
“Apa enaknya coba, pesta pernikahan tapi pengantinya saja lagi ngambek!” gumam Abhi, lalu berjalan ke arah lemari.
Pakaian Abhi memang tidak terlalu banyak yang ditinggal di rumah Erik. Karena setelah ini, ia berniat membawa Naura tinggal di rumah yang sudah disiapkan. Walaupun, masih harus menunggu lagi karena rumah yang ia bangun belum jadi seluruhnya. Dan untuk sementara, mereka akan tinggal di apartemen. Ia tidak mau satu atap dengan mertuanya.
Setelah mengganti baju dengan kemeja warna putih, Abhi menunggu Naura di sofa. Ia memainkan ponselnya, mencari informasi baru tentang dunia hukum.
Semalam, saat ia menghadiri acara reuni, ia sudah merencanakan sesuatu dengan rekannya. Dan mungkin itu adalah jalan terbaik supaya tidak bertemu dengan istrinya di meja hijau.
Pintu kamar mandi terayun pelan, kepala Naura menyembul dari arah dalam. Abhi hanya meliriknya sekilas, kemudian fokus lagi ke arah layar ponsel pintarnya.
“Bhi!" suara Naura terdengar tegas, setengah membentak.
“Apa, Sayang … mau aku bantuin bersihin tubuhmu?” goda Abhi dengan suara lembut. Tapi matanya masih fokus ke layar.
“Aku lupa ….”
“Hah!?” Abhi menoleh ke arah pintu kamar mandi, lagi. “Lupa apa?” selidiknya, kini sepasang matanya bisa melihat wajah cemas sang istri.
“Pembalutku habis. Harusnya semalam kita pergi! Nyari benda itu di minimarket depan komplek. Tapi kamu menjengkelkan, kamu pergi sampai malam,” gerutu Naura.
“Laaaluu?” tanya Abhi.
__ADS_1
“Kok lalu, sih? Ya, sana cepat! Carikan, sekarang sampai dapat!” seru Naura memerintah suaminya.
Tidak ingin membuat marah istrinya semakin akut, Abhi berlalu sambil mencebikan bibirnya. Ia hendak bertanya pada penghuni wanita yang ada di rumah mertuanya. Siapa tahu mereka masih punya stok.
“Aku kan, lagi hamil ya nggak punya, lah!” jawab Maura, saat Abhi bertanya padanya. Ia kemudian menatap Riella, yang ada di samping Maura. Nggak mungkin juga wanita itu punya pembalut, apalagi Riella nggak tinggal di sini.
“Coba tanya sama mama!” saran Maura.
“Hus! Jangan main-main!" Riella menepuk paha Maura. "Mama kan sudah nggak haid mana punya!” lanjutnya mengerti akan tatapan Abhi yang meminta penjelasan.
“Terus gimana ini?” tanya Abhi kebingungan.
“Tanya kak Luna!” usul Maura menunjuk ke arah kamar Kalun yang ada di lantai satu. Abhi dengan cepat berjalan ke arah kamar yang ditunjuk Maura. Ia mengetuk pintu di depannya. Sesaat kemudian, Kalun keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
“Ada apa?” tanya Kalun, sedikit heran.
“Kak Luna ada?”
“Ngapain kamu nyari istriku?” selidik Kalun menatap tak suka ke arah Abhi.
“Ada hal penting! Pokoknya di mana Luna?” desak Abhi.
“Jawab dulu!” seru Kalun, berucap sama ngototnya.
“Pembalut! Aku butuh pembalut,” jawab Abhi cepat, tangannya bergerak berulangkali mengisyatkan Kalun untuk mencarikan Aluna.
“Buat apa, lo cowok nggak usah macam-macam!” sahut Kalun.
“Astaga, ck," keluh Abhi sambil berdecak pelan. “bukan buat aku tapi buat Nana!” Abhi menggeram setelah itu, karena bicara dengan Kalun sama saja membuang waktunya. Ia khawatir Naura akan semakin marah.
“Kenapa tidak bilang dari tadi sih!” tegur Kalun sambil berjalan ke dalam kamar. Abhi yang menyadari hal itu hanya mendesah kesal, sambil menggeleng.
Sambil menatap jam di pergelangan tangannya, Abhi berulangkali mengintip ke arah dalam kamar. Berharap Kalun akan segera keluar. Abhi tersenyum tipis saat Kalun kembali dengan tote bag di tangan.
“Mau yang Wing atau Non Wing? Mau panjang berapa centi? Istriku baru di kamar sebelah, dia sedang dimakeup.” Mengira Abhi tak paham, Kalun berniat menjelaskan. Ia paham pengantin baru tidak akan paham dengan hal ini. Kalun lekas menjelaskan secara detail. “Wing itu bersayap, fungsi wing sendiri biar tidak bergeser. Kalau non wing itu nggak ada sayap di sisinya. Aku saranin yang pakai wing, biar tidak geser-geser!” jelas Kalun. Ia jadi teringat, saat berbelanja di supermarket bersama istrinya, dia sama seperti Abhi, masih awam.
“Ini ... bawa saja semuanya, biarkan Nana memilih sendiri!” Kalun menyerahkan tote bag ke tangan Abhi.
Buang-buang waktu. Kenapa nggak dari tadi seperti ini! batin Abhi memaki.
“Terima kasih, Kakak ipar.” Abhi kemudian berlari menaiki tangga, segera menyerahkan benda itu pada istrinya.
“Kamu pilih sendiri, Sayang!” Abhi menyerahkan tote bag itu pada istrinya yang masih berada di dalam kamar mandi.
“Lama sekali!”
“Di wawancara dulu tadi, maaf ya … jangan cemberut gitu nanti cantiknya luntur!” kata Abhi, lalu tersenyum lebar, “mau aku bantuin?” tawarnya.
Namun, Naura mendorong sedikit tubuh Abhi keluar kamar mandi, menutup dan kembali mengunci pintunya, membuat Abhi menggeleng, usahanya sia-sia. Ia kemudian berjalan ke arah sofa kembali berselancar ke dunia hukum lewat ponselnya.
Menunggu sekitar dua puluh menit, Naura keluar dari dalam kamar mandi. Abhi yang melihat segera mendekat. Ia ingin menjelaskan pada Naura tentang foto yang semalam dikirimkan olehnya. Ia tidak mau membuat Naura kesal lebih lama lagi.
“Sayang … lihat ke arahku sini!” minta Abhi saat Naura fokus ke arah kaca. Terlihat Naura tengah sibuk menepukan kapas yang sudah dibasahi dengan toner ke wajahnya.
Abhi mengubah posisinya, ketika Naura tidak menuruti perintahnya. Ia memakai lututnya sebagai tumpuan, mengamati Naura dari arah samping. Mencari posisi untuk berbicara serius dengan Naura. “Lihat ini!” ulangnya lagi, meletakan ponselnya di atas meja rias, ponsel itu masih menyala, menampilkan foto beberapa orang yang tengah berfoto di sana.
Kali ini Naura menurut, ia memperhatikan foto itu. Diam beberapa detik, melihat Abhi dari pantulan kaca. “Lalu, maksud kamu meng-edit foto itu, apa?” tanya Naura dengan tawa sinis di ujung kalimat. Ia melirik ke arah wajah Abhi. “Ingin buat aku marah? Dan selamat, kamu sudah berhasil membuat aku marah sekali denganmu,” lanjutnya, sedikit menyipitkan matanya.
Abhi menggigit bibir bawahnya, ia salah bermain-main dengan Naura yang tengah berubah menjadi macan betina. Ya, mungkin ini efek dari menstruasinya. “Nggak, Sayang ….”
“Terus? Untuk apa!?” desaknya meminta jawaban.
“Ngetes kamu,” suara Abhi lirih, nyaris tak bisa didengar oleh Naura.
“Ngetes?” tanya Naura memastikan jawaban Abhi, dan pria itu mengangguk. “Apa yang mau kamu tes?”
__ADS_1
“Sebesar apa kamu mencintaiku? Ternyata kamu memang begitu mencintai aku, ya ...." Abhi memperlihatkan barisan giginya yang putih, seolah sedang diambil gambar untuk iklan pasta gigi. Merasa Naura acuh ia kembali bersuara. "terbukti loh, semalam kamu ngigau. Pengen tahu nggak kamu bilang, apa?” ujarnya dengan nada menggoda.
“Emang aku ngomong apa!?"
“Rahasia!” jawab Abhi, dia ingin membuat Naura lebih penasaran lagi.
“Apa, Abhi?!” rengek Naura.
“Rahasia, janji dulu, nggak marah lagi! Kamu tahu kan, aku ada bukti otentik, kalau foto itu bukan hanya aku dan Olivia!” Abhi menunjuk ke arah ponselnya dengan dagu.
Naura kembali fokus ke arah kaca, menyapukan kasar kapas putih itu ke wajahnya. Dia enggan menaggapi perkataan Abhi, lagi.
“Ayolah, Sayang!” Abhi merengek, sambil mengalungkan tanganya ke pinggang Naura. Posisinya yang lebih rendah membuatnya bisa menatap wajah Naura dari arah bawah. Ia lalu membenturkan kepalanya berulangkali ke paha Naura, khas anak kecil yang merengek minta mainan sambil berucap, “Ayolah, Sayang … jangan marah lagi. Kumohon, Abang janji nggak akan mengulangi lagi.” Abhi beralih mendusel—dusel perut, saat Naura tidak merespon.
“Geli, Abhi!” tegur Naura sambil menahan tawa, tapi pria itu enggan menjauhkan wajahnya dari perut Naura.
“Senyum dan jangan marah lagi, oke! Janji dulu!” Abhi menaikan jari kelingkingnya di depan wajah Naura. Bersiap akan mengulangi hal yang sama kalau Naura tidak menurutinya.
“Kamu kaya anak kecil kalau kaya gini,” kata Naura.
“Biar saja! Kan, nggak papa kalau sama istri sendiri!” Abhi tersenyum tipis, “nggak marah lagi ya?” dia memastikan jawaban Naura. “Aku janji tidak akan ninggalin kamu!”
“Kalau aku yang ninggalin kamu, boleh?” tawarnya.
“Jangan! Kamu separuh nyawaku! Semalam nggak memeluk kamu saja rasanya dingin dan hampa. Apalagi kamu pergi, aku nggak bisa banyangin kalau itu benar terjadi!"
Naura yang mendengar hanya mencebikan bibirnya. “Minggir, kita harus segera bersiap!”
“Sebentar … masih pengen seperti ini!” kata Abhi yang kembali meletakan kepalanya di paha Naura. Ia mengirup dalam aroma sabun istrinya yang masih tertinggal. “Apapun yang kamu dengar nanti, pastikan hanya ucapanku yang kamu percaya!”
“Jika kamu ragu, dengan kebenarannya. Kamu bisa tanyakan pada mama Widya. Hanya dia yang benar-benar tahu seperti apa suamimu ini!” imbuhnya berpesan.
“Apa maksudmu?”
“Nggak bermaksud apa-apa. Cuma berjaga saja, kalau ada susuatu yang terjadi dengan hubungan kita,” pesan Abhi.
“Kok, kesannya seperti ada rahasia besar yang akan terbongkar!” ucap Naura, menatap serius ke arah sang suami.
Abhi terbahak lalu beranjak dari posisinya, ia menyandarkan pantatnya di ujung meja rias, setengah berdiri menghadap Naura. “Ayo, aku sudah janji pada mama untuk segera turun!” ajak Abhi.
“Kamu tidak akan pergi jauh, kan, Bhi?” selidik Naura.
“Pergi dong, tapi bukan aku sendiri. Kita perginya berdua!” Abhi sedikit membungkuk mendekatkan bibirnya di samping telinga Naura. "Honeymoon." terdengar gelak tawa dari Abhi setelah itu.
“Ish ….” Naura mendesis pelan, sambil menatap kesal ke arah Abhi. Ia kemudian berjalan meninggalkan Abhi.
Tiba di kamar yang dipakai untuk makeup. Ia mendapat ledekan dari para wanita yang sudah tampil cantik dengan kebaya seragamnya.
“Siapa yang rencanain pesta ini, Ma?” tanya Naura.
“Kita semua, dong,” jawab Ella.
“Temanya apa sih kok pakai ijo-ijo bikin seger nih mata?” tanya Naura, ia memang tidak terlibat dalam perencanaan pesta pernikahannya. Para wanita itulah yang menyusun acara pernikahan ini.
“Lihat saja, nanti! Yang jelas tidak akan mengecewakanmu?” Maura ikut menjawab.
Naura lalu duduk di kursi, bersiap untuk dimakeup oleh MUA.
“Na, kita duluan ya. Kalau kita nungguin kamu bisa-bisa tamu di sana tidak ada yang menyambut," kata Ella.
“Lalu, aku sama siapa?”
“Sama Abhi, kalian satu mobil, nanti sama pak Ridwan!" jawab Ella. Mereka yang sudah terlihat cantik pun segera meninggalkan kamar tersebut, membiarkan Naura bersama MUA.
...----------------...
__ADS_1
Ampun kesupen nyukani, jempol, kado, kalian komentar ingkang becik. Matur suwun sanget🙏