Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Ruang Bersalin


__ADS_3

Lanjut ya... bonus nih, hari ini saya kasih 3 part, lagi semangat soalnya.😂😂😂😂😜😜😜


.


.


.


Erik berjalan pelan menuju ruang bersalin, dia ingin menguatkan hati dan mentalnya lebih dulu sebelum bertemu dengan istrinya, dia memang sering menangani ibu melahirkan, tapi entah kenapa hatinya tidak tega jika melihat istrinya akan merasakan hal yang menyakitkan itu.


Sampai di depan ruang bersalin terdengar teriakan seorang perawat, perawat itu berlari tergopoh-gopoh, karena tadi dia dari ruangan Erik, sepertinya mereka bersimpangan ketika berada di lift.


“Pak saya mau melaporkan kondisi Dokter Ella,” ucapnya sambil mengatur nafas. “Tekanan darah normal, denyut nadi janin juga bagus, sudah masuk pembukaan tiga,” lanjut perawat saat berada di depan Erik.


“Apa! Siapa yang berani cek VT/Vaginal Touche istriku?” perawat di depan Erik menunduk karena merasa bersalah, padahal dia hanya melakukan sesuai prosedur.


“Maaf Pak. Saya hanya melakukan sesuai apa yang menjadi tugas saya,” tukas perawat sambil menyerahkan laporan kesehatan Ella.


“Jangan ada yang berani mendekat, jika saya tidak memanggil kalian. Mengerti!” Perawat itu menunduk saat mendengar bentakan yang keluar dari bibir Erik.


“Kalau ada yang mau melahirkan, kalian beri ruangan lain!” ucap Erik sambil memegang handle pintu ruang bersalin.


Perawat itu hanya bisa menunduk, karena takut jika pimpinannya itu akan semakin marah padanya.


Saat Erik membuka pintu, dia terkejut saat mendengar Ella dan Hanin sedang cekikikkan. Tak lama terdengar lagu Despacito yang dia tau lagu itu bukan daru ponsel milik istrinya.


Erik hanya melihat dari belakang punggung istrinya. Menatap istrinya yang sudah berganti memakai baju pasien, tarian salsanya semakin lincah saat Hanin mengajaknya bergoyang. Erik hanya menahan senyum sambil menutup mulut, dengan satu tangan, bersyukur juga karena istrinya terlihat kuat, tidak seperti yang dia bayangkan selama ini.


Di tengah asyiknya bergoyang Erik langsung berteriak pura-pura marah dengan Hanin.


“Apa-apaan ini!” bentaknya yang membuat nyali Hanin menciut.


“Mas..., kamu sudah datang? Ayo sini lihat bagaimana goyanganku,” ucap Ella sambil menarik lengan Erik.


“Stop kamu harus menghemat tenaga, biar kuat mengejan, dan kamu Hanin siapa yang mengajarimu joged-joged seperti tadi?”

__ADS_1


“Itu kemarin saran dari Dokter Reyhan Dok waktu saya lahiran, tapi biasanya dilakukan dengan suami. Jadi tadi itu, sambil menunggu Dokter Erik, saya ngajarin Dokter Ella,” jelas Hanin panjang kali lebar. Erik hanya menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Hanin sambil mengenggam tangan Ella.


“Keluarlah! Peringatkan pada semua perawat untuk menjauh dari ruangan ini termasuk kamu!” perintah Erik sambil mendudukkan Ella di kursi. Hanin yang mendengar itu hanya menurut dan memberi tahu semua perawat yang berjaga siang saat ini.


“Mana yang sakit?” tanya Erik saat sudah berada di samping Ella.


“Nggak ada yang sakit, aku cuma pengen mandi, gerah soalnya,” pinta Ella sambil memeluk tubuh Erik dari samping.


“Ayo! Mas mandiin kamu.” Ella lalu melepasakan pelukkannya dan mengikuti langkah Erik yang berjalan menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Erik membuka ikatan tali baju rumah sakit yang di kenakan Ella, terlihat jelas tubuh Ella yang seperti badut, karena hanya perutnya yang terlihat membesar. Erik menyalakan air shower saat baju yang menempel di tubuh Ella sudah terlepas semua. Dia ikut berdiri di bawah guyuran air shower bersama istrinya, dia hanya menyisakan celana boxer yang masih menempel di tubuhnya.


“Sejak kapan kamu merasakan sakit?” tanya Erik sambil memeluk Ella dari belakang, meletakkan dagunya di pundak Ella.


“Sejak semalam saat aku meminta potong rambut.”


“Kenapa nggak ngomong sama Mas?”


“Sudah berulangkali, aku meminta Mas buat megang perutku, tapi yang ada apa? Jawabanmu selalu menjurus ke mesum!” jawab Ella mengingatkan. Mereka berdua masih berada di bawah guyuran air, sesekali Ella menarik nafas karena merasakan kontraksi yang tiba-tiba datang itu.


“Udahan yuk mandinya,” ajak Erik yang khawatir dengan kondisi Ella.


“Nanti dulu, aku masih ingin seperti ini,” jawab Ella sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


“Ahhh..., shhhhhaaakitt,” desah Ella sambil memejamkan matanya. Erik lalu membalikkan tubuh istrinya supaya menghadap ke arahnya.


“Sini letakkan tanganmu di sini.” Ella lalu meletakkan tanggannya di pundak Erik menekan erat pundak suaminya.


“Ini nggak mau dicek lagi Mas udah pembukaan berapa?” tanya Ella di tengah-tengah rasa sakitnya.


“Ayo kalau mau cek kita kembali ke ranjang!” ajak Erik sambil mengenakan handuk di tubuh Ella.


“Mau Mas gendhong.” Ella menggeleng karena dia masih bisa untuk berjalan.


Erik lalu menyuruh Ella untuk tidur di ranjang bersalin, dan Erik bersiap untuk melakukan VT di jalan lahir anaknya.

__ADS_1


“Belum nambah masih tetap 3 Yang, sabar ya...! Apa mau nyerah saja?” ucap Erik setelah menarik kembali jarinya.


“Mau 100x kamu menawari, aku tetap akan melahirkan normal!” teriak Ella dengan sedikit geram pada suaminya itu.


“Iya... Maaf. Mas akan selalu mendukung keputusanmu,” ucap Erik sambil melepas sarung tangannya.


“Mas aku pengen jus apel.” Erik yang mendengar itu segera menelepon perawat yang berjaga di depan, tapi sayangnya telepon itu tidak ada yang mengangkat, karena tadi sudah diusir olehnya.


“Kemana sih mereka!” ucapnya lirih, lalu beralih ke nomor yang tertuju ke arah kantin. Dia segera memesan minuman untuk istrinya dan penjaga akan segera mengantarnya.


Erik kembali menghampiri Ella, mengusap punggung istrinya itu. Sambil tersenyum ke arah Ella, agar Ella terbebas dari kepanikkan.


“Mas begini juga setiap ada yang melahirkan?” tanya Ella saat tidak merasakan kontraksi.


“Nggak. Mas hanya memantau saja, jika nanti ada yang darurat baru Mas yang turun tangan,” jelas Erik pada Ella. Sejenak mereka berdua tidak bersuara hingga terdengar suara ketokan pintu dari arah luar. Erik berjalan dan segera membuka pintu, lalu mengambil 2 cup jus apel yang baru saja di antar petugas.


“Mau minum?”


“Nanti, Mas taruh meja dulu saja,” ucap Ella sambil menunjuk meja di sampingnya.


Saat Erik meletakkan cup jus di atas meja, terdengar suara keras rintihan dari bibir Ella. Erik segera berlari dan mendekat ke arah istrinya.


“Sakit lagi ya?” Ella hanya mengangguk karena sudah tidak sempat berucap.


“Ayolah boy jangan buat Mamamu tersiksa!” ucap Erik sambil mengusap perut Ella. Ella lalu turun dari ranjang seperti orang yang sedang kebingungan, karena menahan rasa sakit saat kontraksi datang. Erik hanya bisa mengusap pinggang Ella agar bisa sedikit meredakan nyeri yang Ella rasakan, sambil memejamkan mata karena tidak ingin melihat wajah kesakitan istrinya.


“Aaaaahhhh..., shakiithhh banget Mas! Sumpah ini sakit!” teriak Ella sambil menghentakkan kakinya. Erik hanya bingung melihat tingkah istrinya, dia bingung tidak bisa berbuat apa-apa.


“Coba kalau bisa. Mas gantikan Yang, biar kamu nggak kesakitan seperti ini,” ucapnya sambil mengusap pinggang Ella. Setelah sedikit mereda Ella kembali duduk di ranjang.


“Nggak mau dicek lagi udah nambah lagi apa belum pembukaannya, soalnya sakitnya tambah parah!” perintah Ella pada Dokter pribadi sekaligus suaminya itu.


Erik hanya terdiam menatap istrinya, dalam hatinya berdoa supaya Allah memberi kekuatan untuk dirinya dan Ella.


TBC...

__ADS_1


Lanjut besok ya...


__ADS_2