Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Terserah


__ADS_3

Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.


Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍


.


.


Keesokan harinya ...


Ella terbangun ketika jam menunjukkan pukul 6 pagi. Cahaya matahari sudah mulai menyinari kamar yang bernuansa classic itu, dia meraba sisi kanan tempat suaminya tidur, tapi suaminya sudah tidak berada di tempatnya.


“Mas ...,” panggilnya yang masih berada di bawah selimut. Tapi Erik tidak menyahut ataupun mendekat kearahnya.


“Mas ... Mas di mana?” panggilnya lagi sambil memakai baju kimononya, lalu berjalan ke luar mencari Erik.


Mata Ella melihat ke arah ruangan yang sudah bersih dan wangi, bahkan sampah di dapur sudah hilang tidak berbekas, debu di minibar juga sudah tidak menempel lagi, dia lalu duduk di sofa ketika tidak mendapati suaminya. Ella memikirkan di mana keberadaam suaminya tersebut.


Pintu apartemen terbuka, terlihat Erik baru saja tiba dengan wajah yang sedikit pucat, Erik lalu berjalan mendekat ke arah istrinya yang tengah duduk di sofa, dia langsung dibanjiri Ella dengan banyak pertanyaan, Erik mencoba sabar ketika mendengar semua pertanyaan itu, dia mengerti bahwa hormon ibu hamil itu sangat berpengaruh dengan emosi istrinya, dia menjawab istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Mas tadi habis buang sampah, kenapa, Kamu pengen sesuatu?” jelas Erik saat melihat tatapan mata Ella.


“Aku cuma mau makan nasi goreng saja kok, aku buat sendiri saja! aku tadi hanya kaget saja saat melihatmu tidak disampingku,” ucap Ella yang sudah berdiri tapi tangan Erik memegang tangannya.


“Duduk sini saja. Biar Mas yang buatkan!” perintah Erik sambil berdiri lalu berjalan ke arah dapur, untuk membuatkan nasi goreng istrinya.


Ella tidak ingin duduk diam di sofa, dia lebih memilih menunggu suaminya memasak dan duduk di minibar depan dapur. Ella tersenyum tipis ketika melihat airmata suaminya yang keluar, ketika mengupas bawang merah.

__ADS_1


“Sini biar aku saja yang memasak? Aku bisa Mas!” ucap Ella sambil berjalan menuju ke arah Erik.


“Duduk!” perintah Erik dengan nada keras. Membuat Ella mengurungkan niatnya untuk melangkah lagi.


Erik yang telah selesai menghaluskan bumbu, segera menyalakan kompornya, perutnya seperti akan mengeluarkan sesuatu ketika mencium aroma bumbu yang sudah berada di penggorengan, dia lalu mematikan kompor dan berlari ke arah wastefel di dekatnya.


Huekkk... Huekk...


Terdengar suara Erik mengeluarkan cairan yang tidak terlalu banyak. Ella yang melihat itu langsung mendekat ke arah suaminya, mencoba menanyakan kondisi suaminya.


“Mas kecapekan kan? dibilangin suruh istirahat saja, biar aku yang bikin sendiri,” gerutu Ella sambil mengusap tengkuk suaminya.


“Sudah sana duduk, biar aku yang melanjutkan!” perintah Ella yang ingin memapah suaminya duduk di meja makan.


“Mas nggak papa, Mas hanya nggak kuat saat menumis bumbu tadi, jadinya Mas mual, kamu duduklah biar Mas yang lanjutkan, atau mau Mas cium nih,” ucap Erik yang sudah mendekatkan bibirnya di depan bibir Ella. Namun, tanpa rasa jijik Ella langsung mencium bibir suaminya. Mendekatkan tengkuk suaminya agar ciuman itu semakin dalam.


“Hentikan! Atau aku tidak akan bisa kuat untuk menahannya,” ucap Erik saat ciumannya terlepas dari istrinya. Ella hanya tersenyum menggoda ke arah Erik membuat Erik mengeluarkan andalan terakhirnya.


“Enak saja cuti 1 tahun, nanti nggak bisa beli susu hamil dong,” ucap Ella sambil melepaskan pelukan suaminya, Erik hanya tersenyum tipis, sambil melihat ke arah istrinya yang berjalan meninggalkan dirinya menuju kamar.


Ella memang tidak pernah menggunakan uang yang Erik berikan, dengan alasan uang itu akan dia pakai untuk anaknya nanti, Erik tidak tau jika Ella selalu menggunakan uangnya sendiri ketika pergi belanja ataupun memasak, meskipun uang itu berasal dari uang gaji yang Erik berikan ketika berkerja di rumah sakitnya, tapi itu juga jumlahnya tidak ditambahi, sama dengan gaji dokter yang melakukan praktik di sana. Tidak tau kenapa Ella bisa berpikiran hidup sehemat itu, padahal keluarganya dulu juga sangat memanjakkannya. Bahkan, setiap apa yang diminta langsung bisa dia dapatkan, tapi setelah hidup dengan Erik semuanya berubah, Ella lebih mandiri, selama hidup dengan Erik dia belum pernah meminta hal yang lebih besar dari lipstick dan bedak.


Setelah selesai bersiap, Ella dan Erik segera berangkat ke rumah sakit, Ella segera berjalan ke ruang praktiknya saat jam sudah menunjukkan pukul 9, ini adalah waktu paling telat saat dia masuk, karena dia biasanya masuk sebelum jam praktik dimulai.


“Nggak usah lari Yang, pelan-pelan jalannya, atau kamu mau Mas pecat,” ucap Erik saat melihat Ella yang berjalan cepat ke arah ruang praktiknya. Ella yang teringat dengan babynya langsung berhenti dan tersenyum ke arah suaminya.


“Hampir saja lupa, jika di sini ada anakmu,” ucapnya sambil berjalan pelan.

__ADS_1


Erik segera meninggalkan ruangan Ella, setelah memastikan Ella duduk dengan benar, wejangan-wejangan khusus sudah Erik lontarkan tadi panjang lebar, sampai Hanin yang mendengarnya tidak bisa menahan tawanya.


Sikap Erik yang seperti itu, membuat Ella risih dan bahagia juga sebenarnya, tapi ya! tidak harus setiap 15 menit meneleponnya, seperti saat ini, Ella sudah 3x mengangkat telepon dari Erik, demi mengabarkan kondisinya. Namun, saat panggilan keempat Ella tidak menjawab panggilan itu, dia justru mematikan ponselnya, karena merasa tidak enak dengan pasien yang sedang dia tangani, hingga tidak ada lagi dering suara dari ponselnya, tapi saat pergantian pasien, Erik tiba-tiba masuk dengan wajah panik.


“Kenapa ponselmu mati?” tanya Erik yang membuat Hanin tersenyum tipis di balik punggungnya, menertawakan bosnya yang salah mengambil langkah.


“Itu baterainya habis Mas, kamu sih telepon terus, jadinya ya cepat habis baterainya,” ujar Ella yang sedikit berbohong.


“Sudah sana! Masih ada pasien anak yang menungguku,” lanjutnya meminta Erik agar keluar dari ruangannya.


“Mas mau di sini!” ucap Erik tegas, sambil duduk di depan kursi kerja Ella. Ella yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas panjang.


“Terserah!”


“Lanjutkan, Nin!” perintah Ella agar Hanin memanggil pasien selanjutnya.


Hanin yang mendengar itu langsung memanggil pasien anak yang akan diperiksa Ella. Pasien bayi berusia 5 bulan yang datang untuk vaksin, selesai menyuntik vaksin, bayi itu menangis keras, hingga membuat Ella tidak tega lalu menggendong dan menenangkan bayi itu, tanpa melihat raut wajah Erik yang sudah berubah, Erik yang melihat Ella tidak menyerahkan bayi itu, segera mendekat dan berbisik di telinga istrinya.


“Letakkan atau kamu saya pecat!” ucap Erik dengan nada tegas, seperti atasan pada bawahannya. Ella yang mendengar itu segera menyerahkan bayinya pada orangtuanya.


Karena merasa sungkan, takut jika orangtua bayi itu akan melihat kemarahan Erik, beruntungnya pasien itu adalah pasien terakhir Ella, jadi setelah ini dia bisa membuat perhitungan pada suaminya agar tidak terlalu over protektiv padanya.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih ya atas dukungan votenya.


Jangan lupa like dan koment, saran juga boleh agar saya lebih baik lagi👍🙏


__ADS_2