
Ella menurut dengan ucapan penculik di depannya, karena dia ingin kedua anaknya selamat saat dia bertemu dengan Erik nanti. Dia berjalan mengikuti langkah penculik yang berjalan mendahuluinya, lengannya kini dicekal oleh dua lelaki yang dia tidak bisa melihat wajahnya. Lelaki di depannya itu membuka pintu ruangan, dia meminta Ella untuk masuk ke dalam ruangan, Penculik itu melepas tali yang ada di tangan Ella, membuat Ella merasa sedikit lega. Ella mengusap lengannya karena merasakan udara dingin mengenai kulit tubuhnya.
Pak Roni pasti sudah memberi tahu Mas Erik, jika aku tengah diculik, dan pasti sebentar lagi dia akan tiba. Ucap Ella dalam hati, mengingat dia selalu menyalakan gps yang ada di ponselnya.
Penculik itu meninggalkan dirinya di sana sendirian, tanpa tempat duduk, dan membiarkan Ella dengan mata yang masih tertutup. Setelah Ella mendengar suara pintu tertutup, dia merasa sedikit lega, karena para penculik itu tidak menyakitinya, tangannya segera melepas penutup mata yang menganggu pandangannya.
“Surprise ...!” teriak kompak semua orang yang berada di dalam ruangan, diiringi lagu selamat ulang tahun, dan lampu yang tadi mati segera dinyalakan oleh seseorang, Ella ternyata tengah berada di gedung mewah milik Damar.
Ella terlihat masih diam saja, belum mengeluarkan ekspresinya, dia mengabsen satu persatu orang yang berada di sana, hatinya kesal tapi dia merasa terharu, karena bisa berkumpul dengan sahabatnya, dan keluarga besarnya. Namun, rupanya Erik tidak hadir di sana untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
“Stop!” teriak Ella yang membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu diam.
“Kalian nggak lucu tau nggak! Ngerjain orang hamil besar, nggak takut apa jantungku tiba-tiba berhenti,” gerutu Ella pada semua orang di depannya. Ella lalu membalikkan badannya berniat meninggalkan ruangan yang sudah di desain sesuai seleranya itu. Namun, tatapannya bertemu dengan mata indah milik Erik, yang tengah membawa sebucket bunga. Erik tersenyum manis di sana, sambil berjalan mendekat ke arah Ella.
“Selamat ulang tahun Ibu dari anak-anakku, semoga semakin tambah sexy lagi, dan tambah pintar lagi menghadapi suamimu ini,” ucap Erik yang bisa didengar semua orang. Semua orang yang berada di sana ikut tertawa saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir Erik.
“Hanya orang dewasa yang paham maksud Erik!” cibir Damar menatap istrinya, yang bertanya maksud dari ucapan Erik.
“Selamat ulang tahun Mama ...” ucap Riella dan Kalun bersamaan. Ella lalu berjongkok supaya bisa mensejajari tinggi anaknya.
“Mama sudah jadi Mama terbaik buat Kalun, tidak ada lagi, yang bisa menggantikan Mama di hati Kalun,” ucap Kalun sambil memeluk leher Ella. Erik hanya menatap anak dan ibu yang tengah berpelukkan itu.
“Selamat ulang tahun Ma, semoga sehat selalu dan bisa mengeluarkan adik Riella dengan selamat,” ucap Riella yang sudah bergantian memeluk Ella.
“Terima kasih semuanya, tapi aku masih nggak terima ini semua, kalian nggak tahu betapa khawatirnya aku saat para lelaki itu membawaku pergi dari mobil,” ucap Ella sambil menatap mereka satu persatu.
“Ini semua ide suamimu La, pukul saja dia atau kalau perlu ni ya ... suruh puasa saja sebulan, pas itu! Habis itu, kan lahiran, dan di lanjut masa nifas, hahaha puasa panjang lagi dia ....” Erik yang mendengar usulan Damar hanya menatap tajam ke arah kakak iparnya itu.
“Gila semua kalian!” ucap Ella sambil berjalan meninggalkan ruangan.
“Sayang ... acaranya belum mulai, jangan pergi dulu,” ucap Erik yang mengikuti langkah Ella dari belakang.
Ella lalu menghentikan langkahnya, kerena merasakan perutnya yang sedikit kram, tubuhnya terhuyung kebelakang, dia tidak kuat menahan rasa sakit yang dia rasakan, beruntungnya Erik tepat berada di belakangnya.
__ADS_1
“Sayang ... hey ... La,” panggilnya sambil menepuk pipi Ella.
“Loe sih Rik, pakai acara pura-pura diculik!” ucap Damar yang sudah berada di belakang Erik, dia lalu membantu Erik mengangkat tubuh Ella.
“Kan niatku cuma pengen memberikan kejutan, lagian Lala kan nggak punya riwayat penyakit jantung,” ucapnya yang sudah membawa Ella di kursi sofa di ruangan yang ditunjuk Damar.
Semua orang yang berada di sana, bergantian panik memikirkan kondisi Ella. Termasuk kedua anaknya yang tengah menangis karena khawatir dengan mamanya.
Erik menerima pemberian minyak angin dari Sashi, dia lalu mengoleskan minyak angin itu di pelipis Ella.
Rasain! Gantian ya, siapa suruh ngerjain orang hamil, panik kan, bahkan aku lebih panik dari pada kalian ketika aku berada di mobil tadi. Ucap Ella yang sangat rapi memainkan sandiwaranya. Hatinya menghangat saat menerima usapan kecil di pipinya, tangan kecil itu berusaha membangunkannya.
“Ma ... bangun Ma! Kalun takut,” ucapnya sambil menatap mata Ella. Siapa tau mata mamanya itu akan terbuka ketika dia berucap seperti itu.
Ella yang mengetahui itu adalah Kalun, segera membuka matanya sedikit lalu mengedipkan matanya, memintanya agar tidak khawatir. Kalun menutup mulutnya saat mengetahui Ella yang pura-pura pinsan, tapi dia merasa senang karena mamanya ternyata baik-baik saja.
“Pa ... Mama sepertinya akan pergi jauh,” ucap Kalun yang membantu Ella melakukan sandiwaranya.
“Sayang ... bangun Sayang. Maafkan aku, aku nggak akan begitu lagi,” ucap Erik sambil membawa Ella ke dalam pelukkannya.
“Sayang please bangunlah!” ucap Erik mengulangi permintaannya.
Dasar dokter bodoh! cibir Ella dalam hati yang masih berada di pangkuan Erik.
Ella merasa senang dalam hatinya, meski belum puas membalaskan dendamnya, tapi setidaknya dia bisa membuat Erik khawatir.
“Panggilkan dokter, bodoh kalian!” maki Erik pada semua orang yang berdiri di sana.
Ella yang wajahnya berada tepat di leher Erik, berusaha menggigitnya, membuat Erik menyadari atas kebodohannya. Gantian Ella yang terkekeh dengan posisi yang masih berada dalam pelukkan Erik.
Erik memegang lengan Ella sambil menatap penuh selidik ke arah Ella yang tengah tertawa senang.
“Kenapa?” tanya Ella yang masih terkekeh.
__ADS_1
“Kenapa kamu lakuin ini?”
“Tanya saja dengan dirimu sendiri,” ucap Ella yang berusaha melepaskan lengan Erik.
“Dasar pasutri sableng!” cibir Damar saat mengetahui sandiwara Ella. Semua orang yang berada di sana hanya menggelengkan kepalanya. Lalu meninggalkan Ella dan Erik di ruangan tersebut.
Erik menghela nafas lega, setelah mengetahui jika Ella hanya bercanda dengannya. Dia lalu memeluk Ella yang masih berada di pangkuannya.
“Hampir saja aku menyusulmu, jika kamu pergi meninggalkanku lagi,” ucap Erik sambil meletakkan kepalanya di dada Ella.
“Iya kita akan sama-sama mati, jika aku benar mati karena jantungan,” ucap Ella yang memeluk kepala Erik.
“Kamu suka dengan kejutanku?”
“Sama sekali tidak!” ucap Ella berteriak. Erik terkekeh saat mendengar ucapan Ella.
“Acara belum di mulai, ayo kita keluar!” ajaknya sambil berusaha mengubah posisi Ella.
“Mas duluan sana! Aku belum mandi,” ucap Ella.
“Tidak! Kamu ratunya hari ini, jadi menurutlah!”
“Nggak, berikan aku waktu 15 menit saja untuk membersihkan tubuhku,” pinta Ella sambil mendorong tubuh Erik keluar dari ruangan. Erik menurut dengan ucapan Ella, dia membiarkan istrinya itu merias diri, demi tampil cantik di depan para tamunya.
Saat akan berjalan ke tempat acara dia bertemu dengan sahabat Ella, Sashi dan Ana. Mereka bertanya tentang keberadaan Ella pada Erik.
“Jangan diganggu dia baru akan berdandan untukku!” peringat Erik pada kedua wanita yang berjalan melewatinya.
“Tenang saja! Aku akan mendadaninya,” jawab Sashi yang sedikit berteriak karena Erik sudah berada jauh darinya.
Mereka lalu masuk ke dalam kamar Ella, menunggu Ella yang tengah mandi.
~
__ADS_1