Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Ending


__ADS_3

Lanjut ya... 😁😍 saya ingatkan dulu buat tekan tanda jempol ya...😜.


.


.


.


Erik segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dia mulai panik ketika mendengar rintihan yang keluar dari bibir Ella.


“Apa sudah tidak tahan? Bagaimana jika melahirkan di sini saja, aku akan menghentikan mobilnya di tepi jalan,” tawar Erik saat mendengar rintihan Ella yang semakin keras.


“Aaaaaaaa..., huh..., huh..., hah..., tidak! please cepatlah kumohon,” teriak Ella sambil meremas kuat lengan Erik.


“Sabar ya..., jangan merintih seperti itu biar Mas juga bisa fokus bawa mobil,” perintah Erik.


“Kenapa memakiku, aku sudah kesakitan karena kamu!” teriak Ella sambil memukul lengan Erik.


“Iya, maaf. Maafkan aku,” ucap Erik yang juga ikut panik.


“Aku sudah nggak kuat Mas, ini sakit, lebih sakit dari waktu mengeluarkan Kalun...,” teriak Ella karena benar-benar merasa kesakitan seolah akan ada yang keluar dari bagian intinya.


Erik hanya diam, dia tidak ingin membuat istrinya bertambah emosi karena ucapannya. Dia lebih fokus ke arah jalan, sambil merapalkan doa-doa agar diberikan keselamatan untuk istri dan Riella.


Tigapuluh menit kemudian, Erik sudah tiba di rumah sakit miliknya, dia segera mengangkat tubuh Ella, berlari menuju ruang bersalin, para perawat yang dilewatinya hanya bisa terbengong saat melihat kepanikan dokter kebanggaanya itu. Erik membatalkan niatnya untuk melakukan operasi cessar karena setelah diperiksa pembukaan Ella sudah lengkap dan siap untuk melahirkan, Erik segera memanggil bu Lasmi untuk membantu proses persalinan Ella yang kedua ini.


“Pa..., aku nggak kuat, aku sudah tidak ada tenaga, tolong selamatkan anak kita,” ucap Ella yang sudah mengenggam tangan Erik.


“Iya, kamu harus kuat, Mas akan menyelamatkan kalian, bukan cuma Riella yang akan Mas selamatkan tapi kamu juga Sayang, jadi please berjuanglah!” ucap Erik yang sedah mengenggam tangan Ella. Bu Lasmi yang baru masuk ke dalam ruangan segera menyiapkan perlengkapan untuk membantu Ella melahirkan.


Erik terus mengusap keringat yang sudah membanjiri wajah istrinya, tangannya kanannya terus menggenggam tangan Ella memberikan kekuatan untuk istrinya yang berjuang demi melahirkan anaknya.


“Pa..., please aku nggak kuat, tenagaku sudah habis, aku haus...,” ucap Ella yang sudah meletakkan kepalanya kembali setelah proses mengejan pertama gagal mengeluarkan anaknya. Erik yang mendengar permintaan Ella langsung mengambil minum yang ada di sampingnya, meletakkan pipet minum ke bibir Ella.


Setelah minum Ella mulai untuk mengejan kembali, karena rasa mulas itu datang kembali, dia berusaha sekuat tenaga mengeluarkan bayinya.


“Sedikit lagi Mbak...,” ucap bu Lasmi memberi instruksi pada Ella.

__ADS_1


“Please aku nggak kuat...,” ucap Ella yang sudah merasa di ujung tenaganya. Nafasnya mulai habis karena terlalu lama menahan saat di dalam mobil.


“Aaaarrrrggghhhh...,” teriak Ella disisa terakhir tenaganya, demi mengeluarkan anak perempuan yang sudah sembilan bulan berada di perutnya, saat itu pula kepala Riella bisa keluar dengan tubuh yang masih tertinggal di dalam.


“Pak ..., sepertinya bayinya terlilit tali pusar,” ucap bu Lasmi, yang mencoba menarik kepala Riella, dia akan melepaskan lilitan yang berada di leher bayi itu. Erik yang mendengar ucapan bu Lasmi segera mendekat, menggantikan posisi bu Lasmi, karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayinya, cukup lama dia melepaskan tali pusar itu dari leher anaknya. Bayi itupun terlahir sempurna dengan suara yang keras memenuhi ruangan itu. Erik segera membersihkan bayinya, memotong sendiri tali pusarnya, lalu memberikan kepada Ella yang sudah lemas tak bertenaga di brankar persalinan.


“Anak kita Sayang..., lihatlah dia cantik seperti dirimu,” ucap Erik sambil meletakkan anaknya di depan dada Ella. Ella hanya tersenyum sambil mencoba menatap wajah anaknya yang memang sangat mirip dengannya.


“Terimakasih atas perjuanganmu yang luar biasa,” ucap Erik sambil mengecup kening Ella. Ella masih menatap lembut wajah anaknya, mengatur nafasnya supaya lebih tenang.


Erik menatap lekat wajah anaknya yang tengah mencari punt*ng Asinya, dia dengan suara lirih mulai mengazaninya.


“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,” Erik tersenyum saat mengazani anaknya, perlahan senyum itu berubah menjadi isakkan karena terharu dia sekarang punya dua wanita cantik yang ada di sisinya.


“Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu allaa illaaha illallaah.” Erik beralih menatap Ella yang mulai memejamkan matanya.


“Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.”


“Hayya ‘alashshalaah. Hayya ‘alashshalaah.


Hayya ‘alalfalaah. Hayya ‘alalfalaah.


“Sayang..., bangunlah...,” ucap Erik sambil menepuk pelan pipi Ella. Dia ingin menjawab panggilan itu, tapi dia tidak mampu, tubuhnya lemas seperti tidak berada dalam rohnya, dia mulai mendengar suara tangis suaminya, bahkan anaknya yang masih berada di depan dadanya ikut menangis.


“Riella maafkan Mama Sayang..., Mama tidak bisa menemanimu, Andai Mama boleh meminta pada Allah, Mama akan mendampingi kalian,” ucap Ella yang tidak bisa lagi di dengar oleh mereka.


“Please Sayang..., kumohon bangunlah...,” teriak Erik yang sudah menggoyang-goyangkan tubuh Ella. Bu Lasmi yang melihat itu langsung mengambil bayi yang baru saja terlahir itu ke dalam gendongannya.


“Bagaimana kamu bisa tersenyum saat berpisah denganku, kumohon kembalilah.”


“Sayang... please aku akan marah padamu, jika kamu meninggalkanku.”


“Maaf Sayang..., jangan seperti ini. Aku janji nggak akan membuatmu hamil lagi, tapi please buka matamu, beri aku satu kesempatan lagi, biarkan kita berkumpul bersama,” ucap Erik yang berusaha membangunkan Ella yang sudah turbujur kaku di sana.


“Ya Allah kumohon jangan Kau ambil istriku seperti ini, aku sangat mencintainya, tolong kembalikan dia padaku, kumohon...,” teriak Erik yang masih berdiri di samping Ella.


“Sayang please bangun..., ayo kita besarkan anak kita bersama, maafkan aku!” teriak Erik air matanya yang dari tadi keluar sudah menandakan bahwa dia begitu terpukul atas kepergian Ella yang tiba-tiba ini.

__ADS_1


“Pak Mbak Ella sudah tidak ada, dia sudah sudah berpulang ke rumah Allah,” ucap bu Lasmi.


“Nggak! dia hanya tertidur, tolong Sayang bangunlah! peluk Mas Sayang! jangan buat Mas seperti ini, Mas nggak bisa hidup tanpamu La,” teriak Erik yang sudah kesekian kalinya membangunkan Ella.


Jihan yang baru masuk ke dalam ruang bersalin, ikut syok saat melihat tubuh Ella yang sudah terbujur kaku di sana. Dia menyentuh lembut pipi menantu kesayangannya itu, sambil menangisi kepergian Ella.


“Kenapa kamu pergi Sayang, kenapa kamu tidak ingin melihat anakmu lebih dulu, bagaimana kamu bisa meninggalkan anak Mama yang manja itu.” Jihan melihat ke arah Erik yang terduduk di lantai, Dia lalu berjalan menghampiri anak lelakinya.


“Ini salahku Ma, Lala pergi gara-gara aku memaksanya untuk melahirkan anakku!” teriak Erik yang menyalahkan dirinya sendiri.


“Tolong katakan padanya untuk memaafkan aku, jangan seperti ini, aku tidak bisa jauh darinya,” lanjut Erik. Jihan yang mendengar itu langsung membawa Erik ke dalam pelukkannya.


“Biarkan dia pergi dengan tenang, ikhlas Nak..., ini jalan yang harus kalian tempuh, percayalah kalian akan bertemu di jannahnya nanti,” ucap Jihan sambil mengusap punggung Erik.


“Bagaimana aku bisa melewati hidupku Ma, katakan padaku!” ucap Erik yang menagis keras dipelukkan Jihan.


“Kita urus pemakaman istrimu, kamu harus kuat! Masih ada dua anakmu yang membutuhkanmu,” ucap Jihan mencoba menghibur Erik.


Sedangkan Yusuf yang dari tadi berdiri di belakang mereka, tidak henti-hentinya mengusap air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Kehilangan menantunya ketika melahirkan cucu untuknya adalah pukulan barat untuknya, dia lalu mendekat ke arah Ella.


“Kenapa kamu pergi secepat ini, La. Andai saja nyawaku bisa ditukar denganmu, aku akan bersedia menggantikannya, mereka masih membutuhkanmu,” lirih Yusuf sambil menutup wajah Ella dengan kain putih.


Dini hari itu tepat pukul 00.43 Wib bayi Ella berhasil lahir dengan selamat tapi pukul 00.57 Wib Ella menghembuskan nafas terakhirnya, dia bisa pergi dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Namun, meninggalkan kesedihan untuk orang yang mencintainya, terutama bagi Erik yang sangat mencintai dirinya.


.


.


Pesan Author :


Please ya, komentar yang bagus...! Saya pun menangis saat menulis Ending ini.


Sekali-kali baca yang sad ending, kan nggak papa😁!


Ella pergi dengan bahagia, dengan banyak kasih sayang yang dia dapatkan mencintai dokter Erik, cinta pertama dan juga yang menjadi cinta terakhirnya. Tinggal dokter Erik nih, nanti yang akan menunggu Ella atau mendapatkan cinta yang baru? Tunggu jawabannya di season 2 ya! Maaf bila Sad ending, tapi hargailah karya saya dengan komentar yang baik. Masih ada extra part setelah ini jangan unfavorit dulu ya.😘😍😍


Sekali lagi komentar yang baik👍😂😂

__ADS_1


Terimakasih,


Rehuella😢.


__ADS_2