
Happy reading jangan lupa untuk like dan vote ya.
.
.
.
.
Pagi hari di kamar penginapan Ella, terlihat Erik yang tengah membuat sarapan, dia tidak tega membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas di bawah selimut, akibat ulahnya yang benar-benar menghukumnya semalam.
Bibirnya terus terangkat ke atas, saat mengingat kejadian semalam, dia teringat kelakuan Ella yang berubah menjadi liar, seperti kucing liar yang meminta ikan asin.
“Kenapa kok senyum-senyum sendiri?” tanya Ella yang baru datang dari kamar, dia masih belum membersihkan tubuhnya, masih mengenakan daster sutranya, dengan rambut yang di ikat cepol ke atas, sambil mengalungkan kain pantai di lehernya yang semalam Erik belikan untuknya.
“Sudah bangun? Duduklah Mas akan menyiapkan sarapan untukmu!” Ella lalu duduk di meja makan, menurut dengan apa yang suaminya perintahkan.
“Hari ini kita pulang ke Jakarta ya Yang, aku kangen kamar kita,” ucap Erik yang sudah duduk di depan Ella. Dia melirik ke arah Ella, melihat reaksi Ella saat dia memintanya kembali ke Jakarta.
“Iya. Tapi temani aku ketemu Riza dulu ya, kita pamitan sama dia.” Erik yang mendengar itu langsung meletakkan roti yang tadi di buatnya.
“Kenapa sih harus menemui Riza, kamu kan tau bagaimana sifat Riza!” ujar Erik sambil menatap wajah Ella.
“Waktu sudah mengubahnya Mas, kenapa sih Mas sepertinya benci banget sama Riza?” tanya Ella menatap curiga ke arah Erik, “Atau jangan-jangan Mas ada main dengannya ya? Jadi Mas ketakutan kalau dia bakalan cerita banyak ke aku.”
“Enak saja, nggaklah Yang!”
“Iya juga nggak papa kok, aku juga bakalan nerima kamu dan masalalumu, termasuk yang berbuat mesum di ruang pribadimu dulu!” goda Ella yang masih menatap Erik. Sedangkan Erik yang mendengar itu tiba-tiba nafsu makannya menghilang, dia lalu meninggalkan Ella yang masih menikmati sarapannya itu.
“Ceh! Gitu saja marah!” lirih Ella, “Seperti cewek lagi PMS saja,” lanjut Ella sambil menatap roti suaminya yang belum Erik habiskan.
Saat Ella membereskan makanannya terlihat Erik berjalan keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi.
“Mas mau kemana?” tanya Ella yang tidak di jawab oleh Erik, dia diam sambil mengenakan sepatunya, lalu berjalan keluar penginapan.
“Baiklah kalau nggak mau jawab,” lirih Ella karena tidak mendapat jawaban dari Erik. Dia lalu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya. Dia berniat akan menemui Riza pagi ini, karena kemarin sudah terlanjur janji dengannya.
__ADS_1
Tanpa rasa bersalah atau khawatir pada Erik, Ella keluar dari penginapannya itu, dia tidak enak hati jika tidak menepati janjinya pada Riza.
15 menit perjalanan Ella sudah sampai di rumah sakit, tapi sayangnya kata perawat Riza sudah pulang 20 menit yang lalu, Ella yang sedikit kecewa mau tidak mau harus meninggalkan rumah sakit. Ella yang bingung mau kemana dia akhirnya berjalan kaki menyusuri jalanan yang lumayan ramai itu. Setelah lama berjalan dia menemukan tempat yang cocok untuknya. Segera dia meraih ponselnya lalu menelepon Erik.
“Mas kita ketemuan di depan kedai es cream kemarin ya,” ucap Ella saat mendengar suara Erik mengangkat ponselnya. Setelah mendapat jawaban suaminya Ella langsung menutup teleponnya.
Erik yang baru tiba tidak menyapa Ella, dia hanya duduk di samping istrinya dengan wajah yang masih di tekuk.
“Sudah dong marahnya. Mana katanya yang mau nemani berbelanja?” ucap Ella.
“Aku mau es cream Mas, kita ke sana yuk!” ajak Ella yang sudah berdiri dan menarik tangan suaminya.
Erik hanya menurut mencoba menguapkan semua emosinya.
Karena kedai es cream yang ramai, akhirnya Erik meminta Ella duduk terlebih dahulu, membiarkan Ella duduk di kursi sambil menanti pesananya. Ella yang tidak sabar pun hanya bisa mengetuk-ngetukan jarinya ke meja.
Sedangkan Erik masih mengantri untuk memesan es cream, Setelah memesan Erik berjalan ke arah tempat duduk istrinya, duduk di samping Ella.
“Kamu dari mana?” tanya Erik.
“Jalan-jalan saja, sebenarnya dari kemarin aku pengen masuk ke sana,” ucap Ella menunjuk toko babyshop yang berada di seberang kedai es cream.
“Mas nggak marah lagi kan denganku, jangan marah-marah nanti cepat tua! Tuh lihat sudah muncul ubannya,” ucap Ella menunjuk satu helai rambut Erik yang sudah memutih.
“Mana ada uban di rambutku, ada-ada saja kamu!” ucap Erik yang tidak percaya dengan perkataan Ella. Ella yang mendengar itu langsung berdiri dan mencabut rambut putih yang sudah tumbuh di rambut suaminya.
Ella lalu menyerahkan rambut putih itu ke tangan Erik sambil tersenyum manis ke arah suaminya.
“Bagaimana, masih mengelak? Papa Erik?” Erik yang melihat itu hanya bisa mengamati dengan serius rambut putih yang ada di tangannya. Lalu menyimpan ke dalam dompet. Membuat Ella menggelengkan kepalanya.
“Buat pengingat kalau Mas sudah tua!” ucapnya lalu memberikan es cream pesanan Ella yang baru saja di antarkan pelayan. Ella tertawa keras saat mendengar ucapan Erik.
Seketika hening saat Ella menghentikan suara tawanya, hanya terdengar gesekkan gelas dan sendok yang Ella ciptakan.
“Yang, harus berapa kali Mas bilang, kalah kamu adalah yang pertama dan akan jadi yang terakhir untuk Mas!” Ella melirik Erik yang tengah menatapnya.
“Iya aku percaya, aku hanya becanda kok, dan yang dulu aku lihat itu mungkin karena Mas dalam pengaruh obat saja, jadi bisa nglakuin itu ke Riza,” ucap Ella yang mengingatkan Erik tentang kejadian yang hampir 6 tahun itu.
__ADS_1
“Bisakah kamu melupakan kejadian itu, mungkin itu adalah kebodohan Mas yang paling besar selama Mas hidup,” ucap Erik.
“Tidak akan mudah Mas, tapi aku akan mencobanya.” Erik hanya mengangguk saat mendengar ucapan Ella.
“Hari ini kita pulang!” ucap Ella tiba-tiba. Erik mengganguk saat Ella menyetujui keinginanya tadi pagi.
“Kita naik pesawat komersil saja, tadi pagi Yohan baru saja pulang ke Jakarta, kasihan dia terlalu sibuk,” jelas Erik mengingat kesibukan assistannya itu. Dia lalu menyuapkan es cream ke mulut istrinya.
“Sampai Jakarta mau ngapain Mas?” tanya Ella.
“Ke ruang praktik. Mas akan periksa kehamilanmu dulu, sepertinya kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya.”
“Lalu?” tanya Ella.
“Kita buat acara syukuran di rumah sakit, sekalian Mas pamit!”
“Pamit? Bukannya Mas masih tetap di sana!”
“Iya, ke sana kalau antar jemput kamu saja,” ucap Erik sambil mengusap bibir Ella dengan tisu.
“Boleh Mas bersihkan dengan bibir?” Ella yang mendengar itu langsung memukul punggung Erik.
“Mesum ih ...”
Erik yang melihat Ella sudah menyelesaikan makan es creamnya, segera membawa Ella pulang dan berkemas ke Jakarta mengingat pesawat akan take off pukul 4 sore. Dia bersyukur karena Ella tidak bertemu Riza lagi, dia takut Riza akan menghancurkan kembali hubungannya dengan Ella.
*****
Saat ini mereka tengah berada di ruang tunggu bandara, menunggu panggilan untuk naik ke kabin pesawat, Erik tidak akan pernah melupakan kejadian saat berada di Bali, tempat di mana bulan madunya yang gagal, tempat dia menjadi pahlawan untuk Ella, tempat pertama kali pertengkaran terjadi antara dia dan Ella, dan sebagai penutupnya dia harus masuk ke dalam sel tahanan selama 2 bulan lebih. Semoga ke depannya dia lebih bisa berhati-hati lagi.
“Good bye Bali, terimakasih atas pelajaran yang tempat ini berikan.” lirih saat pesawat sudah take off sambil memeluk istrinya. Ella yang mendengar itu hanya bisa menatap wajah Erik.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih yang suka Erik dan Ella jangan lupa untuk like.