
Happy reading jangan lupa untuk like dan vote.👍🙏😊
.
.
.
Setelah kepergian Reyhan, Erik segera mengunci pintu ruangan itu, dia khawatir jika ada orang masuk lalu menganggu acara pertemuan dirinya dengan anaknya, dan khawatir juga jika ada yang melihat perut istrinya yang hanya boleh dilihat oleh dirinya itu. Erik lalu menyuruh Ella duduk untuk mengukur tensi darahnya.
“Normal,” ucap Erik lalu membawa Ella ke arah timbangan badan, “Berapa berat badanmu yang terakhir Yang?” lanjutnya.
“Lupa.” Erik hanya melirik ke arah istrinya, karena berat badannya kini sepertinya bertambah sekarang menjadi 54 kg.
“Hah! Perasaan waktu gadis nggak pernah menyentuh angka 5,” ucap Ella sambil turun dari timbangan berat badan lalu kembali duduk di kursi.
“Kemarilah! Apa kamu tidak penasaran bagaimana kondisi anak kita?” Ella lalu berjalan ke arah Erik yang sudah duduk di depan alat USG.
“Kok deg-degan ya Mas, nggak perlu transvagin*l kan?”Erik tertawa saat mendengar ucapan Ella.
“Kenapa memangnya, kamu takut?” tanya Erik yang sudah selesai menuliskan data diri di layar komputernya.
“Nggak sih. Cuma nggak mau saja, takut Mas teransang, kan otak Mas isinya mesum semua,” jawab Ella lalu merebahkan tubuhnya di ranjang pasien. Erik tertawa saat mendengar ucapan istrinya.
“Bisa saja sih teransang tapi masak iya mau nglakuin di sini,” lirih Erik di depan telinga Ella.
“Mau buka sendiri atau Mas yang buka. Kalau Mas yang buka, bisa-bisa Mas akan membuka semua bajumu.” Ella yang mendengar itu langsung buru-buru membuka kain yang menutupi perutnya.
Setelah melihat Ella sudah siap, Erik segera meletakkan alat USG di perut Ella. Mencari keberadaan calon anaknya, mengotak-atik layar yang ada didepannya, sambil sesekali tersenyum ke arah Ella, membuat Ella bingung karena Erik belum menyampaikan keadaan janinnya.
“Bagaimana Mas? Jelaskan semuanya padaku!” perintah Ella sambil memegang tangan Erik yang sedang masih asyik memainkan alat USG di perut Ella.
“Dengarkan detak jantungnya dulu!” perintah Erik pada istrinya. Lalu Erik mengeraskan suara sound, hingga terdengar suara detak jantung calon anaknya. Ella yang mendengar detak jantung bayinya merasa bahagia dan terharu, karena di dalam perutnya ada nyawa yang sudah berkembang sempurna.
__ADS_1
“Cukup! Sekarang lihat deh Yang gambar di layar itu,” ucap Erik sambil menunjuk layar LCD di depan Ella.
“Kehamilanmu tunggal, usianya 18 minggu 2 hari, tapi kalau dihitung masa haid terakhirmu baru 16 minggu, perkembangannya bagus, lingkar kepala, detak jantung semua normal, tulang belakang terbentuk sempurna, dan kamu lihat ini apa?” Ella hanya diam saat Erik menunjuk ke layar monitor.
“Ini skrotum anak kita, bisa di pastikan 99% anak kita ...”
“Cowok,” sahut Ella sambil tersenyum karena sesuai dengan keinginan mereka berdua, yang menginginkan anak pertama harus cowok.
“Pintarkan Mas buatnya sesuai keinginanmu, setelah ini gantian kita buat yang cewek deh, kamu ingat ucapan Mas, jika nanti kamu hamil lagi, anak kita pasti cewek,” jelas Erik sambil memuji dirinya sendiri.
“Satu saja belum keluar, sudah rencana bikin anak kedua, ayo lanjutkan penjelasannya!” ucap Ella yang masih penasaran.
“Ini yang harus jadi PR buat kamu Yang, berat badanya terlalu berlebihan, takutnya nanti kalau kebesaran kamu kesusahan buat ngeluarinnya, stop makan es cream dulu ya.” Ella mengangguk, menyetujui untuk menahan makanan kesukaannya itu.
“Lihat deh Yang, hitung jarinya yang mungil ini ... Jadi nggak sabar pengen ketemu Erik junior,” ucap Erik sambil menunjuk ke arah monitor.
“Tunggu 5 bulan lagi, nanti aku yang kasih nama ya, Mas cukup nyari nama belakangnya saja,” ucap Ella sambil memperhatikan lacar didepannya.
“Baiklah nanti yang kedua biar Mas yang kasih nama,” ucap Erik sambil mengambil alat USG lagi dan kembali meletakkan di atas perut Ella. Mereka terdiam cukup lama tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
“Kenapa! Normal kan?” tanya Ella yang khawatir.
“Iya, cuma kok masuk ke dalam saja. Padahal hidungku dan hidungmu bagus. Bisa jadi belum tumbuh sempurna. heh,” jelas Erik sambil mencari panca indra calon anaknya.
“Matanya belum sempurna! Tapi lihat deh Yang, itu mulutnya mau minta apa, coba? Kenapa bisa lucu begitu ya, atau mungkin dia mau bilang ‘aku mau ketemu Papa’ hahaha.” Ella yang mendengar itu langsung memukul pelan lengan suaminya.
“Jangan nglantur deh Mas, tiap hari juga ketemu. Tapi lucu ya, itu sedang apa ya anak kita?” tanya Ella yang penasaran sambil tersenyum bahagia.
“Itu baru mencicipi air ketuban hehehe ... Kita lihat lagi ya, coba kamu tidur menyamping, pasti nanti dia ikut ganti posisi,” ucap Erik meminta Ella menghadapnya.
Ella hanya menurut dengan suaminya karena dia juga penasaran dengan tingkah calon anaknya itu.
“Nah kan. Coba lihat Yang! itu tangannya sudah berpindah di atas, menutupi matanya,” jelas Erik yang masih memainkan alat USG nya.
__ADS_1
“Sepertinya anak kita sedang aktiv bergerak, mungkin dia baru main bola di dalam sana,” ucap Erik lagi. Ella yang mendengar itu hanya bisa diam sambil menahan tangisnya karena terharu saat mendengar ucapan suaminya yang terlihat bahagia.
“Sudah puas belum? Atau masih mau lihat anak kita lagi?” tanya Erik saat melihat mata Ella yang sudah mulai berkaca -kaca.
“Sudah cukup. Aku akan menangis jika Mas tidak menghentikan ucapanmu,” ucap Ella lalu mengambil tisu untuk membersihkan gel yang ada di perutnya, lalu dia berusaha duduk di tepi ranjang menghadap suaminya.
“Kenapa sedih? 5 bulan lagi kita akan bertemu dengannya. Jangan sedih lagi. Oke!” ucap Erik sambil tersenyum menatap istrinya.
“Aku hanya terharu saja, waktu pertama dulu kita belum sempat melihat wajahnya, sekarang aku sudah bisa menghitung jarinya, dan aku bahagia melihat Mas sendiri yang menjelaskannya padaku, bukan dokter lain,” ucap Ella sambil mengusap perutnya.
“Iya. Meskipun kemaren Mas nggak nemani kamu beruntungnya dia sehat sampai saat ini, dan perkembangannya juga bagus,” ucap Erik sambil mendekatkan kursinya ke arah Ella.
“Apa Mas bahagia?” tanya Ella.
“Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain berada di sampingmu,” jawab Erik sambil mencium bibir Ella, memulai permainan bibirnya dengan lembut di bibir istrinya, hingga merasa Ella yang tidak bisa bernafas Erik baru melepaskan ciumannya.
“Aku mencintaimu,” ucap Ella sambil menyentuh bibir suaminya. Erik yang mendapatkan sentuhan dibibirnya berusaha ingin menggigit jari istrinya, tapi beruntungnya Ella langsung menarik tangannya menjauh dari bibir Erik, dia lalu tersenyum ke arah Erik karena berhasil menggoda suaminya itu.
“Ayo kita keluar kita ambil vitamin setelah itu kita jalan-jalan,”ucap Erik yang tidak akan tahan jika harus berada di ruangan itu, dirinya sudah merasa kesulitan untuk menahannya, dan dia kasihan jika harus meminta Ella untuk kembali melayani nafsunya, karena semalam Ella sudah di buat kelelahan oleh dirinya.
“Ke mana?”
“Ke tempat yang wanita sukai,” ucap Erik sambil menarik tangan Ella lalu membawa Ella keluar dari bekas ruangannya itu.
Mereka berdua berjalan menuju apotek untuk mengambil vitamin yang Ella perlukan. Setelah sampai di sana Erik langsung meminta vitamin pada petugas, tanpa peduli banyaknya orang yang telah mengantri dan mengomel di sana.
Setelah mendapatkan vitamin untuk istrinya, Erik mengajak Ella untuk keluar rumah sakit miliknya, malam ini dia akan menemani Ella untuk berbelanja ke salah satu mall terkenal di Jakarta.
TBC...
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa vote dan like ya!