Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

Hari ini Naura sengaja meliburkan diri dari pekerjaannya. Menyerahkan pekerjaan yang menumpuk pada senior lawyer. Dia berdiam diri di apartemen, menikmati drama terbaru yang baru saja ia pinjam dari rental movie. Sampai ia tak menyadari, jika matahari sudah berubah menjadi warna orange. Dan sebentar lagi malam pun tiba.


Weekend kemarin ia menghabiskan waktunya bersama Alea, menginap di puncak satu hari satu malam, mencoba mengistirahatkan pikirannya dari kasus-kasus yang tengah ia tangani. Sekalian bercerita tentang Hanif, yang terus meminta padanya untuk meningkatkan hubungan mereka.


Setelah drama yang diputar selesai, Naura beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam ini, dia sengaja tidak menghadiri acara makan malam dengan keluarga Hanif. Terlalu malas untuk menanggapi permintaan pria tersebut.


Baru saja Naura selesai mandi, bunyi bel apartemennya terdengar nyaring. Ia berteriak, meminta tamunya untuk menunggunya sebentar. Kakinya segera berlari kecil ke arah pintu utama. Terkejut, saat mendapati seorang wanita berdiri di depan pintu apartemen.


“Maaf, ada perlu apa ya, Tan—te?” tanya Naura terbata, saat melihat wanita itu tampak cemas. Terlihat jelas, dari cara wanita itu memainkan jemarinya, sepertinya membutuhkan pertolongan.


Cukup lama wanita itu terdiam mengamati wajah Naura, sampai akhirnya memberanikan diri untuk meminta bantuan Naura. “Begini, Nak. Ibu punya cucu, tapi dia sedang tidur nyenyak. Dan ibu, harus pergi membeli susu, tapi tidak ada yang menjaganya. Apa ibu bisa minta bantuan padamu, tolong jaga dia sebentar saja?”


Naura tampak berpikir, ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan. Takut, jika ini adalah modus penipuan mode baru.


“Ibu janji cuma sebentar saja, Nak.” tambah wanita tua tersebut, dan tanpa pikir panjang lagi Naura mengangguk pelan, menyetujui permintaan wanita tersebut. Meski masih banyak perasaan tak nyaman di hatinya.


“Saya ambil hp dulu ya, Tant? Apartemen Tante sebelah mana? Nanti saya langsung masuk ke sana.” tanya Naura sebelum wanita itu pergi dari hadapannya.


“Nomor 110, Nak. Kalau begitu Ibu tinggal ya, pintu tidak dikunci kok!” pamitnya menjauh dari pintu apartemen Naura.


Gadis itu segera mengambil ponselnya, lalu mencebikkan bibir lantaran harus masuk ke apartemen itu lagi. Begitu pintu apartemen Abhi terbuka lebar, hidung Naura langsung disambut dengan aroma khas dari penghuni apartemen. Menyegarkan, gumamnya.


Langkah Naura semakin dalam, mencari di mana letak kamar anak kecil tersebut. Dengan langkah tanpa suara ia membuka satu persatu pintu kamar. Pintu kamar pertama terbuka, ia mendapati ruangan yang sepertinya sudah lama tak terpakai, hanya beberapa koleksi sepatu yang masih tersimpan di dalam kardus.


Merasa tidak ada gunanya, ia melanjutkan lagi langkahnya. Namun, saat pintu berikutnya terbuka.

__ADS_1


Terpana, tubuhnya sulit digerakkan. Saat mendapati kamar pemilik apartemen. Ia yang penasaran, mulai melangkah masuk, mengamati setiap desain kamar Abhi yang begitu simple, warna biru dan putih mendominasi dengan lantai parquet warna alami kayu.


Kamarnya tampak rapi, seprei warna abu menggodanya untuk merebahkan sejenak di sana. Tapi, ia menggeleng cepat, mengusir pikiran liar yang saat ini meracuninya. Tidak ada pajangan apapun di sana, hanya saja parfum Abhi semakin pekat di indra penciumannya. Merasa apa yang ia lakukan sudah berlebihan ia segera keluar dari kamar Abhi, takut kepergok.


Setelah melewati satu kamar kosong, akhirnya Naura bisa melihat gadis itu masih tertidur di atas ranjang. Naura kembali menutup pintu kamar, mengambil duduk di sofa depan tv. Matanya terus mengamati apa yang terpajang di sana. Tidak ada pajangan lain selain beberapa foto seorang wanita dan foto Abhi yang tengah menggendong anak kecil. Serta ibu-ibu dengan wajah sama yang tadi meminta bantuan padanya.


“Ow, jadi ini istrinya? Benar kata orang kalau jodoh itu mirip.” Naura tersenyum tipis, “Aku sama Hanif nggak mirip! Berarti kita nggak jodoh, dong ya!” Naura menepuk bibirnya sendiri setelah nama pria itu mendadak lolos dari bibirnya. Menyesal karena tiba-tiba memikirkan hal aneh tentang Hanif.


Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit Naura menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda siapapun yang hadir di apartemen Abhi. Ia bermain ponsel, bergerak kesana kemari, tapi belum juga ada yang datang. Semakin lama menunggu, rasa kantuk mulai datang dan embuatnya terlena. Seolah tengah di Nina bobokan oleh pendingin udara, matanya pun sulit untuk diajak kerjasama. Naura mencoba memejamkan mata. Tapi saat ia hendak meninggalkan kesadarannya, terdengar suara pintu terbuka. Matanya langsung terbuka lebar, cemas jika nanti yang datang pertama adalah Abhi.


“Aduh, maaf ya, Nak. Ibu kelamaan pasti ya? Tadi sekalian beli’in perlengkapan mandi buat anak saya. Saya khawatir dia tidak sempat berbelanja,” ucap Widya yang merasa sungkan. Karena membiarkan Naura terlalu lama menunggu Ara.


“Nggak papa, Tante. Cucunya juga belum bangun, kok.” Naura sudah berdiri hendak berpamitan. Namun, tangan Widya mencoba menahannya.


“Makan dulu, Nak. Kebetulan ibu bikin lontong sayur,” minta Widya pada Naura, ia menarik tangan gadis tersebut dan menggiringnya ke arah meja makan.


Naura hanya tersenyum, memperhatikan sikap lembut Widya yang mengingatkan pada sang mama. Lalu melihat ke arah meja, merasa kasihan karena pasti wanita itu seperti mamanya, kesepian saat anak-anaknya tidak ada di rumah. “Jadi, tante ini. Ibunya pak Abhi atau mertuanya pak Abhi?” tanya Naura sambil mendaratkan bokongnya di salah satu bangku.


Widya terkekeh geli, “Ibu ini, mamanya Abhi. Anak itu belum mau nikah." tangan Widya bergerak cepat mengisyaratkan menolak. "Ibu sendiri juga bingung, harus bagaimana lagi membujuk anak itu supaya mau nikah. Ibu khawatir juga, karena usia nya juga semakin tua. Keburu ibu pergi nanti belum sempat gendong anaknya.”


Naura hanya mampu membuka mulutnya, dan lupa cara menutupnya lagi saat mendengar cerita Widya. “Lalu wanita dan anak itu?” Naura berusaha mengorek tentang Abhi, karena rasa penasaran yang terus memintanya untuk mencaritahu.


Widya kembali tersenyum tipis, “itu adiknya Abhi dan keponakannya.”


Naura mengangguk, lalu tersenyum cerah seolah menemukan bahan untuk meledek Abhi.

__ADS_1


“Ayo makan, Ibu jadi cerita banyak, kan? Kamu sendiri bagaimana? tinggal dengan siapa di depan? Suami? Sudah punya anak berapa, Nak?” tanya Widya.


Naura reflek memegang kedua pipinya, menekan lembut pipi yang tampak berisi. “Apa saya terlihat setua itu ya, Tante?”


“Oh … nggak, siapa bilang? Kamu masih terlihat muda, kok!" Widya merasa bersalah atas ucapannya. "Maaf ya, kalau Tante buat kamu tidak nyaman. Kamu masih cantik, seger gini kok!” tangan Widya mengusap lembut punggung Naura.


“Nggak, nggak papa, kok. Naura di sini tinggal sendiri, Tante. Cuma kadang ada orang kiriman mama untuk membantu bersih-bersih.” Naura menjelaskan.


“Oh, gitu. Kenal Abhi dong, ya?”


Naura hanya mengangguk pelan, “beberapa hari yang lalu sempat berkenalan, Tante.” Dan anakmu sudah dengan lancang memamerkan dadanya yang peluk-able. batin Naura saat bayangan dada lebar itu terlintas tanpa permisi.


“Gitu?!” Widya tampak terkejut. “Syukurlah! Sering-sering main sama Abhi ya, siapa tahu jodoh,” ujarnya penuh semangat.


Ada yang menggelitik perutnya saat mendengar ucapan mamanya Abhi. Ingin tertawa tapi takut dibilang tidak sopan. Kita itu bagai tom and jery. Mana mungkin jodoh? batin Naura lagi.


“Abhi seperti itu, karena sakit hati. Sebenarnya dia baik, penyayang keluarga. Tapi semenjak mantan calon istrinya selingkuh dia—ya begitulah!” Widya menjelaskan panjang lebar. “Tante harap dia mau membuka hatinya lagi, nggak usah banyak-banyak, satu orang saja cukup,” ucap Widya disusul tawa renyah. Naura hanya mampu mendengarkan dan mengangguk paham.


Saat mereka tengah asyik ngobrol sana-sini, pintu apartemen terayun pelan. Disusul sosok pria berwajah dingin yang terlihat kelelahan berjalan memasuki apartemen.


“Assalamu’alaikum, Ma,” sapanya pertama kali, dia mendekat ke arah sumber suara yang terdengar dari ruang depan.


“Wa’alaikumsalam, Bhi.”


Mata Abhi memicing saat menyadari kehadiran Naura. Wajahnya yang lelah semakin malas untuk dilihat. “Kok ada dia, Ma?”

__ADS_1


...----------------...


...Jangan lupa like, komentar, vote, gift. Terima Kasih....


__ADS_2