
... Selamat Membaca...
Naura yang mendengar penuturan Erik langsung mengalihkan tatapannya ke arah pria tersebut. Dia ragu dengan ucapan Erik, mana mungkin dia bisa hamil secepat ini. Usia pernikahannya baru tiga bulan. Bahkan, Maura dan Alby saja perlu menunggu waktu satu tahun supaya bisa mendapatkan kehamilan. Banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya, tapi Naura terlalu sungkan untuk membahas itu dengan Erik.
“Terus aku bolehnya makan apa?” tanya Naura, dengan wajah kesal karena permintaanya ditolak oleh Erik.
“Makanan sehat. Pokoknya mulai sekarang kamu harus memikirkan kondisi anakmu juga!” ujarnya dengan tatapan serius tepat ke arah bola mata putrinya.
Sedangkan Naura terdiam cukup lama, sampai terdengar seseorang mengetuk pintu dan mengantarkan sarapan untuknya. Wajah Naura langsung berubah, senyum cerah terbit dari bibirnya saat petugas rumah sakit, meletakan kotak makan ke meja yang ada di samping ranjang. Dia seolah lupa jika selama ini tidak menyukai makanan rumah sakit.
Naura yang sudah kelaparan, langsung meraih kotak makan tersebut, ia memakannya dengan lahap, tidak peduli dengan tatapan pria di sampingnya.
"Pelan-pelan, papa tidak akan meminta makananmu!" peringatnya.
“Ngidamnya mulai tak normal!” sambungnya dengan lirih, menjaga supaya Naura tidak mendengar cibirannya.
“Boleh nambah lagi nggak, Pa!” minta Naura saat makanan di tangannya sudah habis, ia menyerahkan kotak makan yang sudah kosong itu pada Erik, sebagai bukti.
“Kamu nggak takut gendut?” Erik sengaja menggoda Naura. Karena saat masih perawan dulu, gadis itu selalu menjaga pola makannya.
“Takut sih, tapi perutku masih lapar. Mungkin aku beneran hamil.” Naura meringis sambil mengusap perutnya.
Erik paham, sikap manjanya Naura itu nurun dari istrinya. Jadi tanpa rasa malu ia meminta pada petugas logistik untuk memberikan makanan lagi untuk Naura.
Dia kembali duduk di samping ranjang, setelah menyerahkan kotak makan itu pada Naura. Mengamati betapa lahapnya gadis kecil itu memakan menu di tanganya. Ya, selamanya Erik menganggap putrinya itu masih kecil, masih membutuhkan uluran tangan darinya.
“Kamu kemarin tidak terluka di kepala kan, Na?” tanya Erik, yang tiba-tiba teringat ucapan dokter umum yang kemarin menangani putrinya.
Naura terdiam, memikirkan kejadian kemarin yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya. “Tidak!” jawabnya singkat.
“Syukurlah,” balas Erik sambil tersenyum kecut.
“Eh, tapi tunggu dulu deh, Pa! Kepala ku sempat terbentur ke lantai saat pria itu membalikan tubuhku!” Naura kemudian meletakkan kotak makan tersebut ke atas meja. Selera makannya tiba-tiba melebur saat teringat bibir pria yang kemarin menjelajahi tubuhnya.
__ADS_1
Erik yang melihat perubahan sikap putrinya pun mulai khawatir, dia bisa membaca gelagat Naura yang sedang tidak baik-baik saja. “Kamu kenapa? Kamu tidak di apa-apain sama mereka, kan?” selidiknya berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Naura tidak ingin menanggapi pertanyaan Erik. Dia justru mengurung tubuhnya di bawah selimut. Mengeluarkan isak tangisnya di sana.
“Nana … cerita sama Papa, biar kamu tidak stress! Ingatkan orang hamil tidak boleh terlalu stress!” peringat Erik, berusaha merayu Naura. “atau kamu bisa cerita nanti sama mama! Mama sebentar lagi datang!”
Tangis Naura semakin pecah, Erik yang berada di sampingnya hanya bisa mengusap rambut putrinya, berusaha menenangkan.
Di pikiran Naura, Abhi pasti percaya dengan apa yang sudah diucapkan Farah kemarin, saat dia hampir dinikmati para pria gilaa itu. “Abhi pasti kecewa padaku, Pa? Pasti dia mengira kalau aku suda—
“Kamu tahu pelakunya?” potong Erik. Dia tidak kuat mendengar Naura menceritakan kejadian yang ia alami itu sekarang.
“Tahu, Pa. Aku pikir cuma mantan istri dari Hanif yang ingin mencelakai ku. Tapi ternyata ada Olivia yang ikut bekerja sama dengannya.”
“Papa akan mengurus semuanya. Sekarang kamu tenang, pikirkan kandunganmu supaya baik-baik saja! Papa akan meminta Kalun untuk memutus kerja sama dengan pak Martinus.”
Naura mengangguk, meski dalam hatinya masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Abhi supaya pria itu mau percaya padanya. Naura kembali terlelap, sesaat setelah Erik memberinya obat yang sudah diresepkan dokter.
Sedangkan Abhi, tepat pukul tujuh pagi, operasi yang dijalaninya sudah selesai. Perawat siap memindahkannya ke ruang perawatan. Nathan yang sudah selesai mengurus laporan di kantor polisi, kini datang menemani rekannya. Menunggu detik-detik Abhi membuka mata.
“Di mana istriku!” sentaknya saat Nathan tak lekas menjawab. Abhi masih terlihat cemas. Dia khawatir jika lampu yang kemarin menyorot ke arahnya adalah lampu mobil dari penculik itu.
“Naura ada di kamar sebelah. Istrimu baik-baik saja. Dia sedang tidur pulas,” jelas Nathan.
“Bagaimana dengan wanita-wanita itu?” tanya Abhi, yang masih belum puas dengan jawaban Nathan.
Pria itu mengeluarkan tawa kecil, “apa yang sudah kau lakukan pada mantanmu?” tanya Nathan, ia butuh jawaban atas apa yang sudah terjadi di ruangan tersebut.
“Aku bahkan tidak sudi menyentuhnya,” ketusnya.
“Lalu kenapa dengan wajahnya? Apa kamu sengaja? Kamu bisa terjerat hukuman loh, Bhi!” selidik Nathan.
“Salah dia sendiri! Aku tidak menyentuh botolnya, dia saja yang memegang botol itu tidak benar!” Abhi lalu menoleh ke arah jam di dinding, yang sudah menunjukan hampir pukul 10 pagi. “Antarkan aku ke kamar sebelah!”
__ADS_1
“Kau tidak boleh banyak bergerak dulu!” peringat Nathan.
Abhi berdecak kesal, “Aku hanya ingin melihat kondisi istriku, Than!”
“Istrimu baik-baik saja, hanya pergelangan kaki dan tangannya yang lecet kerena jeratan tali,” jelas Nathan, tapi tak jua membuat Abhi tenang.
“Semoga saja kamu tidak membohongiku.” Abhi lalu memejamkan matanya, tidak ingin lagi mendengarkan ocehan Nathan.
“Apa kamu tahu kenapa Olivia melakukan ini?” selidik Nathan.
Abhi kembali membuka mata, lalu menoleh ke arah Nathan yang duduk di sofa. “Apalagi? Tempo hari dia memang menghubungiku, dia memintaku untuk datang ke apartemennya. Tapi aku abaikan, karena aku tahu apa yang akan terjadi di sana,” jelas Abhi.
“Kau masih menyimpan pesannya?”
“Apa aku sudah gila! Bisa-bisa angsaku berubah menjadi singa buas!” senyum kecut terbit di bibir Abhi. Dia memang menghapus pesan dari Olivia, ia tidak mau Naura mendiamkannya karena salah paham.
“Berarti lo, nggak terbuka dong sama Naura? Bagaimana kalu dia tahu semuanya?” Nathan tersenyum tipis. “nanti aku ngadu ah, ke Naura.”
Meski Abhi hanya bisa tidur miring karena luka operasinya, ia masih memiliki kekuatan untuk melempar bantal ke arah Nathan yang saat ini duduk di sofa “Nggak usah macam-macam. Tidak ada apapun yang tertinggal di sini. Lagian buat apa juga aku menanggapi wanita itu? Sekali melakukan kesalahan, tanpa dia sadari sudah membuat kami terluka.”
“Kau juga terluka?”
“Jelas. Tapi—dulu. Duulu sekali sebelum aku menemukan penawarnya.” Bibir Abhi tersenyum kecut ke arah Nathan.
“Carikan aku penawarnya juga. Satu saja, yang seperti Naura. Keras kepala tapi ngegemesin!” minta Nathan.
“Kamu jangan berani memuji milikku! Aku nggak rela! Cari sana di klub, kamu kan sukanya model yang begituan, panas di luar, lembut di ranjang!”
Nathan beranjak dari sofa, urusannya tidak akan selesai jika ia terus berada satu ruangan dengan Abhi. “Aku keluar ya! Kau pasti akan menuntutnya kan? Aku akan mengurus semuanya, dulu,” pamit Nathan.
“Apa kamu tidak ingin membawa dia untukku?” tanya Abhi, ekor matanya melirik ke arah kamar sebelah.
“Nggak. Aku takut, ada pak Erik dan istrinya.” Nathan kemudian berlalu dari ruangan, setelah Abhi menyetujui dia untuk pergi.
__ADS_1
Abhi kesepian saat ini berada di ruangan luas dengan aroma khas rumah sakit. Ia memang sengaja tidak memberitahu mamanya. Terlalu takut jika wanita tua itu justru cemas memikirkan kondisinya saat ini. Ingin sekali ia bertukar kabar pada Naura melalui pesan singkat. Menanyakan kabar. Tapi, ia tidak tahu di mana keberadaan ponselnya. Ia hanya mampu menikmati kesepiannya kali ini. Berharap hari akan segera berganti.
Niat hati ingin memejamkan mata, supaya ia lekas pulih. Tapi saat mendengar suara perawat membuka pintu ia pun mengurungkan niatnya. Perawat datang ke kamarnya, dia tidak datang sendiri, ada wanita yang ia rindukan yang duduk di atas kursi roda. Ingin sekali dia melompat dan memeluknya erat, tapi itu tidak bisa ia lakukan, lantaran bahunya masih terasa nyeri.