Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Seleramu Memang Bagus


__ADS_3

*Merasa tidak nyaman Olivia beralih menyalami Naura. "Hati-hati ya, dia kalau tidur ngoroknya kenceng banget!" ucap Olivia, yang membuat mempelai wanita menatap ke arah suaminya. Ia yakin ada yang tidak beres di sini*.


... Selamat Membaca...


Naura memberikan senyuman tipis ke arah suaminya. Ia paham Abhi tidak akan bohong. Ia ingat dengan ucapan Abhi kalau dia adalah wanita pertama yang tidur dengan Abhi, bukan wanita yang ada di depannya saat ini.


Bisa saja, Abhi tertidur saat mengerjakan tugas atau apalah, yang bisa membuat Olivia mendengar dengkuran Abhi karena mereka dekat lumayan lama. Wajar saja kalau Olivia tahu banyak tentang Abhi, dan ia tidak akan marah pada suaminya. Olivia hanya bagian dari masa lalu yang tidak akan mungkin Abhi bawa untuk kehidupan kedepan. Seperti kata papanya, dia adalah barang lawas yang tidak perlu dibawa lagi ke geladak kapal.


Telapak Naura yang kosong menggenggam erat tangan suaminya.


“Istighfar, Mbak! Jangan terus memikirkan mantan! Abhi saja tidak pernah memikirkan kamu!” ucap Naura, senyumnya tidak lagi terpaksa, berkat jemari Abhi yang bermain di jemarinya, ia geli tapi ia tahan. “Sayang waktunya. Minta sama Allah, buat menghilangkan perasaan cinta Mbak ke Abhi! Hubungan kalian sudah selesai! Hatinya kini sudah terisi dengan namaku! Iya kan, Sayang.” Wajah Naura mendongak, menatap Abhi penuh cinta.


Abhi membalas dengan memberikan kecupan singkat di kening, “Iya, *dong*! Untuk apa mengingat masa lalu yang sudah mengkhianati kita? Apalagi sampai membuat orang yang kita sayangi pergi untuk selamanya.” Abhi menepati janjinya untuk tidak menatap sekali pun ke arah Olivia. Kedua netranya hanya tertuju pada wajah sang istri yang hari ini lebih cantik dari hari-hari biasanya.



“Kalau Olivia punya urat malu, harusnya dia sadar diri! Hubungan kita tidak akan bisa seperti dulu lagi! Bahkan, sekuat apapun kamu mengejarku … aku akan lebih keras lagi menjauh darimu. Yang aku ingin kamu tidak menggangu kebahagian kami!” ujarnya panjang lebar, memberi peringatan pada Olivia.



Naura yang berada di depan Olivia bisa melihat dengan jelas telapak tangan gadis itu mengepal erat, seolah tengah menahan amarah yang tidak bisa diledakkan di sini.



“Akan aku buat kalian menyesal karena sudah berkata seperti ini padaku!” ancam Olivia. “setelah ini, jangan harap karir kalian akan baik-baik saja! Kalian bisa menang saat ini, nikmatilah sebelum hari pembalasan itu tiba! Aku pastikan kamu akan akan menangis setiap malam!” Olivia tersenyum sinis, menatap bergantian ke arah wajah mereka berdua. Lalu melangkah meninggalkan pelaminan.



Naura bergidik ngeri saat mendengar ancaman Olivia. Ia menatap lekat ke arah punggung Olivia yang terbuka. Setelah bosan, ia kembali menatap Abhi.



“Kamu takut, Bhi?” tanya Naura.



“Takut apa? Ancamannya?” tanya Abhi, namun belum juga Naura menjawab, ia kembali berucap, “sama sekali tidak!” ia tersenyum *smrik*. “Karir kita itu yang menentukan bukan dia. Kalau naik-turun itu pasti akan terjadi, jadi kamu jangan panik, *okey*, Sayang?” Abhi mengalungkan lengannya di punggung Naura. “Di dunia ini yang aku takuti cuma dua. Kamu dan mama Widya. Aku takut kalau kamu marah, kaya kemarin. Ngeri, bingung soalnya mau dibujuk pakai apa!”



“Ulah kamu juga! Siapa suruh main-main denganku!” Naura mencubit pipi Abhi. Sepertinya dia akan punya kebiasaan menyenangkan setelah ini.

__ADS_1



“Iya, juga sih. Coba aku nggak kirim foto reuni itu ke kamu. Pasti tidak akan ada drama tidur di sofa.”


Obrolan mereka terputus saat Erik meminta Abhi untuk diam. Karena sebentar lagi ada tamu penting yang akan naik ke pelaminan.


Siapa lagi kalau bukan John Waluyo yang datang bersama Mira sang istrinya yang cantik seperti copyan Lidya Kandou. Tampak mereka berjalan mendekat ke arah pelaminan. Pria tua itu memeluk Erik, berbincang sebentar. Kemudian menyalami mempelai pria.


“Ternyata kamu sebelas duabelas sama anakku. Pantas saja, anak ini menolak perjodohan kita!” John melirik ke arah Naura. “Kamu tahu, Nak. Naura dulu bilang apa sama istriku? Katanya dia sudah punya pacar. Seorang pengacara, tampannya seperti Chiko Jericho. Ternyata benar!” John terbahak sebentar sambil menepuk punggung Abhi. “Taapii, pacaran kalian terlalu lama, kaya kredit mobil saja 3 tahun.”


Ucapan John Waluyo membuat Abhi menoleh ke arah Naura, ia tersenyum tapi entah apa arti dari senyuman itu. Ada rasa bangga dalam diri Abhi.


Tiga tahun yang lalu dia memang baru menginjakkan kaki lagi ke Jakarta, dan ia ingat pertemuanya dengan Naura saat menangani kasus perceraian Ken. Berarti sudah sejak saat itu, Naura mulai berkhayal akan menjadikan dia, sebagai suaminya. Hatinya seolah menertawakan sikap judes istrinya selama ini. Karena diam-diam ada rasa cinta dari sikap itu. Tapi, semua pemikirannya itu ditangkis oleh ucapan Naura.


“*Idih*, Om bisa *aja*! Itu bukan pengacara yang ini.” Naura mengalungkan lengannya ke lengan Abhi.



“Owalah bukan, *to*?” John berucap dengan nada *medhok* khas Jawa. Ia lalu terkekeh saat menyadari kesalahannya, ia tahu ... setelah ini pasti akan terjadi keributan ala pengantin baru.



“Terima kasih sekali, Om ….” Abhi menoleh ke arah sang istri, meminta untuk memberitahu siapa nama dari calon mertuanya yang gagal itu.


“Om John.” Naura menyahut.


“Terima kasih, Om John. Doa terbaik juga untuk Om dan keluarga.” Abhi beralih menatap Mira sambil tersenyum ramah. Mereka berdua mengangguk, sambil berucap aamiin.


Sebelum meninggalkan pelaminan, John kembali menggoda Naura, “Berapa nomor rekeningmu, lumayan nanti buat tambahan beli mesin cuci!” goda John yang membuat Erik langsung menatap ke arahnya.


“Nanti aku beli sekalian dengan perusahaanmu!” sahut Erik yang membuat John terbahak. Erik tahu John pemilik perusahaan elektronik yang tersohor di Indonesia. Barang produksinya pun sudah tersebar hingga ke kota Nabire, Manukwari dan sekitarnya.


Setelah tamu penting dari Erik itu berlalu, Abhi melirik ke arah Naura. Lalu kembali menarik perhatiannya ke arah tamu yang hadir, mencoba mencari rekan-rekannya.


“Ada sesuatu yang ingin kamu katakan, Sayang?” tanya Abhi, tanpa menatap Naura.


“Tentang?”


“Tentang kita? Ternyata kamu gitu?” goda Abhi, wajahnya serius seolah tengah ngambek.


“Gitu bagaimana?” Naura sudah mulai mengeluarkan dua tanduk tak kasat mata. Karena pertanyaan Abhi yang ambigu.

__ADS_1


“Ya gitu, jatuh cinta padaku pada pandangan pertama,” ucap Abhi tanpa dosa.


“Ih, PEDE banget kamu, Bhi?” sangkalnya.


“Itu buktinya? Kalau bukan aku lalu siapa?” Abhi menuntut penjelasan.


“Dulu, cuma asal ngomong untuk menghindari perjodohan,” jelas Naura.


“Kenapa kamu nggak, mau?” selidik Abhi karena penasaran. Ia belum tahu cerita ini.


“Pampam bukan seleraku!” secepat kilat Naura menjawab pertanyaan Abhi. Suara nyanyian pengisi suara membuat obrolan mereka tak mampu di dengar orang.


“Wuahhh ….” Abhi seolah takjub saat Naura mengatakan hal itu. “Selera mu memang bagus!”


“Kok bisa!” Naura mendelik saat mendengar pujian dari Abhi, ada yang tidak nyambung antara ucapanya dan pujian dari Abhi.


“Kan ada buktinya pria tampan di samping kamu. Pria dengan tinggi 186 cm dan berat 79 kg, berjambang tipis, kumisan kalau tidak dicukur, dada berbulu, terus yang paling penting lagi rajin sholat meski tidak tepat waktu.” Abhi meringis saat mendapat cubitan kecil di pinggangnya.


Sedangkan bibir Naura menyengir mendengar ucapan Abhi, sepertinya pria di sampingnya itu mulai kelihatan belangnya. Iya, over kepedean itu termasuk belang! Karena kalau terpelihara dengan baik, berpengaruh pada irama jantungnya.


“Ya.” Naura mengalah, menjawab singkat sambil mengangguk. Lalu tatapannya bertemu dengan Pampam yang mendekat ke arah pelaminan.


“Terima kasih sudah datang,” ucap Naura seraya memeluk erat tubuh wanita yang menemani Pampam.


Sedangkan Abhi tengah menyapa Pampam, membicarakan hal penting yang entah apa Naura tidak bisa mendengar obrolan tersebut karena mereka berucap dengan berbisik.


“Si kecil tidak di ajak?” tanya Naura pada istri Pampam.


“Nggak. Badannya sedikit demam, habis vaksin tadi pagi.” Wanita yang memakai baju batik senada dengan suaminya itu menjawab dengan lirih.


“Kalau mau program anak, silakan datang ke rumah sakitku, Na. Tapi jangan lupa telepon dulu,” pesan Pampam saat menyalami tangan Naura. Pria itu kini sudah berhasil mendirikan rumah sakit sendiri, dan membuktikan pada John jika ia mampu.


“Siyap, diskon kan? Eh … tapi di rumah sakit kak Kenzo juga ada kok dokter kandungan. Bisa gratis pula.” Kata Naura.


“Apa kamu lupa siapa dokter kandungan terbaik di kota ini!” ujar Pampam bangga. “kakakmu saja datang padaku!”


“Pasti. Tidak akan lama lagi kita datang ke ruangan dokter Pampam. Tapi, bukan untuk program hamil. Kami berharapnya untuk cek kandungan!” Abhi yang berdiri di samping Naura ikut menyahut, membuat Naura mengerutkan keningnya. Karena ternyata Abhi berharap dirinya segera hamil.


...----------------...


Di sini sengaja nggak aku up part Naura dijodohkan dengan Pampam ya. Soalnya sudah up di sebelah. Jangan lupa untuk, like, vote, hadiah, dan tinggalkan komentar🤗

__ADS_1


__ADS_2