
Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.
.
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
.
2 minggu kemudian...
Malam ini Erik dan Ella tengah berada di dalam kamar mandi, mereka menggosok gigi bersama sebelum pergi untuk istirahat. Erik menggosok gigi sambil melirik ke arah istrinya yang sedang menggembungkan pipinya karena sedang berkumur. Pandangan mereka bertemu di pantulan cermin besar didepannya. Erik tersenyum ke arah Ella, senyum penuh arti yang seakan memberitahu bahwa ini jadwal hubungannya dengan Erik.
Setelah selesai menggosok gigi, Ella meminta Erik untuk pergi ke kamar terlebih dahulu. Karena Ella akan buang air kecil.
“Kenapa harus keluar? Aku bahkan sudah hapal bagaimana wujudnya!” ucap Erik yang sebenarnya enggan untuk meninggalkan istrinya.
“Sudah sana keluar dulu! semakin lama Mas keluar dari kamar mandi, semakin lama juga aku keluar dari sini!” Peringat Ella sambil mendorong Erik menuju pintu keluar.
“Tunggu dulu! Jangan di tutup,” ucap Erik sambil berlari ke arah lemari bajunya. Tak lama kemudian dia menyerahkan lingrie ke tangan Ella, lingrie yang belum pernah Ella pakai, dan malam ini Erik ingin Ella memakai lingrie itu.
“Mas menunggumu Sayang...” ucapnya lembut di samping telinga Ella. Membuat bulu kuduk Ella langsung berdiri tegak. Erik senang melihat ekspresi Ella yang menggemaskan itu, dia lalu kembali ke kamar, berjalan ke arah kasur king size nya, membayangkan istrinya mengenakan lingrie bermotif zebra pasti akan membuatnya semakin bergairah. Dia semakin tidak sabar menunggu istrinya itu keluar dari kamar mandi, dia ingin sekali merebahkan tubuhnya karena rasa kantuk sudah menyerangnya, tapi dia juga takut jika nanti dia ketiduran dan membatalkan jadwal hubungannya dengan Ella.
Sejak bulan madu dadakan kemarin Ella dan Erik memutuskan untuk program hamil, Erik memberikan Asam Folat dan Vitamin E terbaik untuk Ella, dia juga meminum obat untuk dirinya sendiri, bukan supaya tahan lama melainkan obat untuk memperbaiki kualitas spe*manya, dan mereka juga mengatur waktu hubungannya menjadi 2 hari 1 kali. Erik yang awalnya tidak terima akhirnya harus mengalah dengan Ella, kerena Ella mendiamkannya semalaman, tanpa berbicara sepatah katapun padanya. Dan malam ini adalah jadwal mereka berhubungan, Erik yang biasanya pulang lebih dari jam 7 malam, khusus hari ini dia datang pukul 5 sore, demi mendapatkan haknya.
Pintu kamar mandi terbuka, Erik tersenyum saat mendengar suara itu. Namun, pandangan matanya masih mengarah ke layar ponsel yang ada ditangannya.
“Apa sudah si...” ucap Erik menggantung saat melihat Ella masih mengenakan baju piyama yang dia kenakan tadi.
__ADS_1
“Kok nggak ganti baju yang Mas berikan?” Tanya Erik sambil berdiri dan mematikan lampu kamarnya. Ella masih terdiam belum mau menjawab ucapan suaminya. Erik lalu membawa Ella duduk di ranjang miliknya.
“Kenapa? Apa bajunya kekecilan?” Ella masih enggan menjawab pertanyaan suaminya itu. Dia yakin setelah ini suaminya akan mencari wanita lain untuk melahirkan anaknya, setelah mengatakan semua yang dia rasakan.
“Mas.. Ini tanggal berapa? Kenapa aku sudah datang bulan?” Erik langsung menghadap ke arah istrinya.
"Kok bisa?" Tanya Erik tanpa melihat ke arah Ella yang sudah cemberut.
“Harusnya 5 hari lagi Yang! Tapi entahlah mungkin karena hormon kamu yang tidak stabil, bisa jadi karena kamu terlalu stress saat ditinggal ayah kemarin,” ucap Erik dengan nada kecewanya. Ella yang mendengar itu semakin merasa bersalah pada Erik karena belum bisa mengandung anaknya.
“Maafkan aku Mas. Maafkan aku yang belum bisa mengandung anakmu, ini semua di luar kuasaku,” ucap Ella yang juga merasa sedih dengan keadaanya.
“Mas pasti kecewakan denganku, Mas boleh kok mencari wanita lain yang lebih sempurna dari Lala,” lanjut Ella diiringi suara tangisan lirihnya.
“Ngomong apaan sih kamu Yang? Mas sedih bukan karena kamu belum hamil, tapi Mas sedih karena harus berpuasa lagi!” Ucap Erik dengan keras dan jelas.
“Sudah Mas bilang nggak perlu ada wanita lain atau rahim pengganti, hanya denganmu saja Mas sudah lebih dari cukup,” lanjut Erik sambil membawa Ella ke dalam pelukannya.
“Itu namanya belum rezeki, kalau sudah rezekinya mau minum atau nggak minum, jika Allah bilang jadi ya pasti jadi, nggak usah dipikirkan lagi, kita tidur saja yuk! Mas juga sudah lelah!” jelas Erik pada istrinya.
Ella yang merasa Erik kecewa dengannya, segera merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi Erik. Dia masih belum bisa memejamkan matanya memikirkan tentang dirinya yang tidak kunjung hamil. Hingga pukul 12 malam dia keluar dari kamar karena perutnya terasa lapar.
Dia mencari bahan makanan untuk dimasak, namun yang ada hanya spagetti dan saosnya, mau tidak mau dia akhirnya Ella memasak spagetti itu.
Tepat pukul 1 dini hari Ella memakan spagetti itu di sofa depan tv, sambil menyalakan tv yang kebetulan sedang menampilkan adegan dewasa.
“Ih... Bikin ilfil acaranya!” gerutunya sambil melempar remot tv ke arah sofa samping. Lalu melanjutkan acara makan spegettinya ditemani detak suara jam di dinding.
Sedangkan Erik masih tertidur nyenyak di atas ranjang tanpa mengetahui jika istrinya telah pergi dari ranjangnya.
.
__ADS_1
.
*****
Keesokan harinya...
Erik yang terbangun, langsung meraba samping ranjangnya, tapi tidak menemukan Ella, karena Ella tertidur di sofa depan tv.
“Yang...” Panggilnya yang sedikit berteriak. Namun, Ella yang masih tertidur tidak bisa mendengar panggilan Erik. Apalagi kamar apartemen itu kedap suara jadi Ella tidak akan mungkin bisa mendengarkannya.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari istrinya, Erik berjalan keluar kamar mendapati tv yang masih menyala menayangkan acara kartun dua bocah kembar yang tidak mempunyai rambut itu.
Dia semakin tercengang saat melihat piring yang masih terdapat sisa spagetti di atasnya.
“Yang... Bangun yang bikin sarapan,” panggil Erik sambil menggoyangkan lengan istrinya. Dia dengan iseng mengeraskan suara tayangan kartun itu, membuat Ella benar-benar terbangun karena merasa terganggu dengan suaranya.
Ella meregangkan tubuhnya yang terasa remuk, dia merasa ada yang tidak beres dengan tubunya, mungkin efek obat yang Erik berikan padanya.
“Kamu sakit Yang kok pucat begitu?” tanya Erik saat melihat wajah Ella.
“Nggak kok Mas, aku Cuma kurang tidur saja semalam aku nggak bisa tidur, jadi pukul 4 tadi baru bisa terlelap, mungkin karena itu aku pucat,” jelas Ella pada suaminya.
“Kamu di rumah saja kalau begitu! Nggak usah datang ke rumah sakit!” ucap Erik pada Ella.
“Nggak bisa dong, aku kan juga harus bertanggungjawab dengan pekerjaanku. Yah! Meski rumah sakit itu punya suamiku, tapi aku juga harus profesional dong,” ucap Ella sambil meberikan kecupan selamat pagi di pipi kiri Erik.
“Mas mandi dulu gih! Biar Ella buatkan sarapan,” perintah Ella pada Erik yang masih menyentuh bekas kecupan Ella.
Ella pun beranjak meninggalkan Erik yang masih berada di sofa tapi dia meringis menahan kram di perutnya. Kramnya tidak begitu parah hanya terasa tidak nyaman saja saat dipakai untuk beraktifitas. Dia menyembunyikan rasa sakitnya itu agar Erik tidak curiga dan khawatir padanya, sebisa mungkin dia berjalan normal seperti biasanya.
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca, semoga suka cerita kisah lika-liku Erik dan Ella. Saya berharap readers mau memberikan dukungan like dan votes untuk saya .🙏👍