Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3


...Terima kasih yang sudah ngasih hadiah, koin, vote, dan jempol. Aku bonusin visual mereka 😍 biar halunya On....


❤️


Perjanjian kerjasama disepakati. Tekad Naura sudah bulat, menerima pekerjaan yang ditawarkan Martinus untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi, kali ini tujuannya justru bertolak belakang dari kliennya. Terserah Abhi, yang penting ia berusaha untuk mempertahankan hubungan Martinus dengan Susan.


Selesai membersihkan tubuhnya, Naura merebahkan diri di atas ranjang. Jadwal pergi ke skin care, gagal. Karena Martinus terlalu lama menahannya. Dan saat ia datang ke klinik, nomor antrian sudah diisi yang lain. Jadi, ia memutuskan untuk membatalkan saja, dari pada harus mendaftar dan mengantre ulang.


Naura menatap langit-langit ruang keluarga, udara malam yang masuk melalui pintu samping balkon membelainya malam ini. Di luar sana, lampu-lampu sudah menyala, menambah keindahan pemandangan kota. Diiringi sahut-sahutan klakson yang terus ditekan pengemudi kendaraan.


Pikiran Naura masih melayang, memikirkan alasan Martinus yang ingin menceraikan sang istri. "Benar-benar pikun!" ujarnya pelan. Tangannya meraih ponsel yang tadi ia letakan di meja.


Sejak Abhi mengangkat panggilan Erik, dia belum menghubungi orang tuanya. Ia berniat menelepon Erik, menanyakan hal penting apa yang akan mereka sampaikan. Sekalian menanyakan tentang sesuatu yang mengusik hatinya.


Nada tunggu berdengung beberapa kali. Pemilik ponsel sepertinya tengah asyik, sampai tidak mendengar dering ponselnya.


"Hallo, assalamu'alaikum, Ma." Naura menyapa lebih dulu.


"Wa'alaikumsalam, Na. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ella, "kemarin papa telepon, katanya—


"Aku baik-baik saja, Ma. Kemarin hp ku tertinggal di apartemen depan. Jadi, dia yang mengangkat panggilan papa." putus Naura, menjelaskan meski tak diminta.


"Aduh, Mama nggak papa, kok. Justru kami berharap kamu ada apa-apa dengan pria berjambang itu!" goda Ella.


"Ish, Ma!" Naura semakin malu mendengar godaan sang mama.


"Iya, iya ... lantas untuk apa kamu menelpon mama?" Ella mulai memberikan Naura kesempatan untuk mengatakan maksud dan tujuan ia menelepon.


"Boleh Nana, tanya hal privasi?!" tanya Naura, ragu. Ella belum menjawab, dia justru menunggu Naura melanjutkan ucapanya.


"Ma," panggil Naura, lagi.


"Hem, ada apa, Sayang?" sahut Ella lembut.

__ADS_1


"Bisa jawab jujur! Apa Mama pernah bosan dengan papa?"


Situasi seberang sana sepertinya tidak kondusif, Ella mulai menjerit kecil ketika Naura melontarkan pertanyaannya. Naura hanya mampu mendesah ringan, seraya menunggu jawaban dari sang mama.


"Buat apa kamu tanya itu? Nggak mungkin, mama bosan. Papa selalu memberinya kejutan pada mamamu. Iya kan, Sayang?" suara Erik terdengar protes. Tidak terima.


"Heh, enak saja! Mama bosan, Na. Kamu tahu kenapa?" sahut Ella sembari bertanya, "tiap malam tu selalu begini." Ella menarik nafas. Dan Naura mulai mendengarkan dengan seksama.


"Juwitaku yang cakap, meskipun tanpa dandanan kamu mungkin berisiko terbuka—entah kenapa setiap hendak tidur ucapan itu yang selalu mama dengar. Dan sayangnya mama tahu itu karya salah satu sastrawan Indonesia."


Erik yang mendengar pun ikut tergelak. Merasa tertangkap basah. "Nanti aku ganti deh, gombalinnya bukan dari syair Ws Rendra lagi. Ganti Mario Puguh saja!" Mendadak terdengar suara pukulan keras dari seberang telepon. Naura hanya mampu mendengar keributan kecil dari mama dan papanya.


"Ih, Ma, Pa! Coba dengarkan Nana dulu!" Sentak Naura kesal.


Sekejap hening, kedua lansia itu menghentikan tawanya. Mulai serius menanggapi Naura. "Katakan!" Perintah Erik.


"Mereka sudah menikah, hampir 60 tahun. Tapi, pak Martinus ingin bercerai dengan sang istri, dan alasannya tidak masuk di akal, Pa, Ma. Hanya satu kata, yaitu BOSAN!" Naura membuang nafas kasar, saat teringat ucapan tegas Martin.


"Lalu?" Erik kembali bertanya. "Maksudnya, apa yang membuat pria itu bosan?" Erik memperjelas pertanyaannya.


"Katanya, istrinya sudah nggak perhatian lagi. Bahkan sekarang istrinya selalu mengenakan pakaian dengan warna yang tidak ia sukai."


"Terlihat sepele. Tapi ternyata rumit. Karena harus dengan dua pengacara yang menanganinya."


"Kenapa?" giliran Ella yang sedari diam mulai menanggapi.


"Entahlah, permintaanya begitu! Dan parahnya Abhi yang menjadi pathner ku!" ucap Naura, dengan telapak tangan yang terkepal erat.


"Begini deh, Sayang. Kamu temui istrinya dulu, selidiki apa yang membuatnya berubah. Kalau hanya bosan, pengadilan tidak mungkin mengabulkan juga, kan!"


"Hmmm ... Aku akan menemui istrinya besok."


"Ya, kalau bisa jangan sampai mereka bercerai. Kasihan anaknya." Ella kembali berpesan. Meski anak-anaknya sudah besar, tapi khawatir juga.


"Iya. Nana mikir juga begitu."

__ADS_1


"Apa pak Martinus sering keluar untuk jalan-jalan melihat dunia luar?" tanya Erik.


"Mungkin, iya!" tebak Naura.


"Hmm, minta dia untuk menundukan pandangan. Rumput tetangga memang lebih hijau. Tapi sebenarnya rasanya sama saja. Itu hanya godaan."


"Rasa apa, Pa?" tanya Naura penasaran.


"Makanya nikah biar nyambung!" ketus Erik.


"Kok, malah nyuruh Nana nikah? Apa hubungannya coba!?" Naura yang tersinggung mulai kesal.


"Dasar, jadi anak kok polos gini, sih. Papamu ini mantan dokter kandungan! Jadi, memalukan kalau kamu tidak paham!" maki Erik lagi, dia tidak tahu juga kenapa anaknya bisa tidak paham.


"Makin nggak ngerti, sumpah Nana nggak paham!"


"Tolong jelasin, Yang!"


"Papamu ini kalau jelasin sukanya pakai bahasa planet, jadi yang nggak ngerti makin pusing!"


"Jelaskan, Ma!" perintah Naura.


Ella mulai bingung, bagaimana mengatakan pada anak gadisnya. "Maksudnya rasa ... emmm rasa itu, maksudnya nikmatnya sama saja!" Naura sejenak memikirkan ucapan Ella, masih belum paham dengan penjelasan sang mama.


"Jangan mikir mesum, Na! Dah sana tidur," sahut Erik lalu mematikan panggilannya sebelum mendapat cacian dari sang putri.


Naura hanya menggeleng, masih menerka-nerka maksud mereka. Nikmatnya sama saja, rumput tetangga lebih hijau. gumamnya sambil menutup pintu balkon. Masuk ke kamar, bersiap untuk tidur, mempersiapkan tenaga untuk menghadapi penghuni depan.


Sedangkan di seberang telepon. Pria itu langsung bergerak cepat. Tangannya yang masih kokoh menyobek baju malam sang istri.


"Kau selalu mengerti apa yang aku sukai! Mulai warna, model rambut, dan rasanya. Kamu paham benar apa yang aku mau." Erik berucap dengan suara parau. Matanya penuh gairah, andai saja tadi tidak ada gangguan, pastilah ia hampir mencapai puncak. "Terima kasih, membuatku menjadi pria paling sempurna. Kau sudah melengkapi ku dengan apa yang kamu miliki." Kecupan kening terasa lebih lama dari biasanya. "Kau benar, bosan denganku, Yang!" tanya Erik, kemudian.


"Nggak. Kamu selalu penuh kejutan. Terima kasih sudah menjadikanku milikmu. Aku bahagia menjalani hidup bersamamu. Kamu menepati janji, kita tua dan memutih bersama."


Tanpa basa-basa lagi. Erik memulai kegiatan panasnya malam itu. SENSOR.

__ADS_1


...****************...


...Jangan lupa like 👍...


__ADS_2