
"Gimana, Na? Apa sudah menemukan yang cocok?" tanya Erik membuat semua beralih menatap ke arahnya.
...----------------...
"Idih ... Pa! Janji Papa kalau tahun ini, kan! Bukan bulan ini," jawab Naura setelah makanan di mulutnya berhasil masuk ke perut.
"Apa mau kakak kenalin ke teman kakak? Ada banyak loh, Samuel, Emil, pilih salah satunya." Kalun ikut menyahut pembahasan Erik.
"Ayah, haruskah yang pernah berhubungan dengan keluarga kita? Kaya nggak punya opsi lain saja!" Aluna ikut menimpali, menegur sang suami.
Naura sudah berancang-ancang untuk menjawab. Namun, getaran di ponselnya begitu mengganggu niatnya. Dia menunjuk ke arah layar dan meminta izin untuk mengangkat telepon. Setelah ia pergi dari meja makan, mereka mulai bisik-bisik.
"Hanif itu!" celetuk Riella, sambil tersenyum jahil.
"Bukan, itu dokter anak yang dulu pernah seminar denganmu di Bandung itu, Ay! Siapa namanya aku lupa. Soalnya aku pernah melihat mereka ketemuan." Kenzo menyatakan fakta yang pernah ia lihat saat di rumah sakit.
"Bukan, itu anak yang papa jodohin sama dia." Erik mengeluarkan apa yang kini mengusik hatinya. Ya, dia sudah sibuk mengirimkan nomor ponsel Naura pada kandidat calon menantu.
"Kalian ini pada ribut! Itu kan Doni sekertarisku!" Semua melotot menatap Kalun, sedangkan Kalun hanya meringis tanpa dosa.
"Bukan, itu anaknya Tante Anna dan Om Pandu." Ella ikut menimpali, semalam ia mengeluh pada Anna dan mereka sepakat untuk mendekatkan keduanya. Spekulasi demi spekulasi berlanjut sampai wanita dewasa itu kembali ke meja makan. Semua mata mengarah ke wajah Naura, memaksa gadis itu untuk menjelaskan.
"Hanif. Katanya Nora kangen." Naura menggedikan bahu tak tahu maksud terselubung dari Hanif. Semua orang yang mendengar pun semakin curiga dengan Hanif. berbeda dengan Riella yang berucap kata Yes karena tebakannya benar.
"Modus itu!" celetuk Kalun, lalu memasukan makanan ke mulutnya dengan kasar.
"Na, bukanya kamu bilang—
"Yes, i know. Tapi ini anak gadis sepantaran Gwen yang katanya rindu padaku," potong Naura saat Ella hendak bertanya.
"Kamu mau bikin Mama masuk rumah sakit lagi?!" Erik bersuara dengan nada sedikit emosi.
Semua orang kompak menghela napas kasar. Tak percaya dengan sikap Naura. Baru saja ia kembali duduk di tempat semula. Seorang Art berlari kecil mendekati meja makan.
__ADS_1
"Di depan ada pak Hanif dan anaknya, Non!" katanya di samping Naura.
"Gila! Bilang saja aku sudah berangkat!" perintah Naura dengan ketus.
"Tapi pak Hanif tahu kalau mobil Nona baru dipanasi."
"Biar papa yang menemuinya," ucap Erik, dia sudah berdiri hendak menemui pria yang kini berada di depan rumah.
"Nggak usah, biar Nana saja yang menemuinya, Pa." Naura sudah berdiri hendak menemui Hanif.
"Duduk!" Perintah Erik menunjuk kursinya. "Papa akan memberi pelajaran padanya!"
"Pa, jangan!" peringat Naura.
Erik menoleh ke wajah putrinya, tapi hanya kegamangan yang ia dapat. Ia tidak menemukan cinta dan kebencian di mata Naura.
"Setakut itu kamu. Papa semakin yakin kalau kam—
Erik meninggalkan meja makan, untuk menemui pria bernama Hanif. Sedangkan Ella, masuk ke kamar demi meredam keresahan yang tengah menyapanya.
Ella menatap mobil yang terparkir di samping kamarnya. Yang dipastikan itu adalah mobil Hanif. Seorang pria matang yang beberapa bulan lalu resmi bercerai dengan sang istri. Dan baru Minggu kemarin pria itu berhasil memenangkan hak asuh atas putrinya.
Setelah beberapa menit berlalu, terdengar suara pintu terbuka lalu kembali tertutup kembali. Erik masuk ke kamar untuk menyapa istrinya yang masih berdiri di dekat jendela. Padahal mobil hitam tadi sudah pergi.
"Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Ella tanpa membalikan tubuh menghadap Erik. Ia tidak ingin berita gosip itu menjadi kenyataan.
"Aku hanya mengatakan, untuk tidak membawa Naura dalam kesulitan." Erik menjawab singkat.
Ella diam, masih mempertahankan posisinya. "Aku hanya takut Nana punya rasa sama Hanif. Jika benar begitu, berati berita itu benar adanya." kini justru dia yang ragu dengan perasaan Naura. Tapi, enggan untuk mengatakan jujur di depan mereka.
Erik melangkah lagi, mengikis jarah keduanya. Berbisik di samping telinga. "Apa kamu punya cara untuk menghentikan perasaan yang disebut cinta itu? Hanif sudah mengatakannya padaku!"
Ella membalikan tubuh, menatap wajah suaminya dengan seringai tipis. "Cara yang membuat Hanif terluka? Berhenti mencintai butuh banyak waktu, Mas. Tidak seperti saat jatuh cinta, mungkin bisa terjadi pada saat pandangan pertama."
__ADS_1
"Seperti kita?!"
"Huh, kamu saja, mungkin! Aku nggak!"
"Kamu menyangkal? Mau aku hukum?" Bibir Erik berkedut, disusul tawa kecil. "Sini peluk!" Erik membawa Ella ke dekapannya.
"Apa kita biarkan saja mereka dekat dan menjalin hubungan?"
"Itu berati kamu membenarkan berita yang beredar?" kata Ella sambil mendongak.
"Bukan, kita lihat sejauh mana Hanif akan berusaha. Toh, Naura juga cuek padanya. Jadi aku rasa, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Sayang!"
"Haruskah di usia Naura main-main? Ti—ga puluh sa—tu loh, di usia segitu aku udah nikah." kata Ella mengingat masa mudanya.
"Kamu juga harus paham, Sayang. Kita nggak bisa menuntut Nana untuk mencintai pria pilihan kita! Atau hasilnya akan buruk!"
Ella membuang nafas kasar, mengambil duduk di tepian ranjang, mencengkram erat pinggiran ranjang kayu berplitur. Ia bisa merasakan sentuhan lembut tangan Erik yang mengusap punggungnya.
"Naura akan menemukan cintanya. Dia tahu mana yang baik dan buruk untuk hidupnya." Erik menenangkan.
"Tahu begini aku nggak pernah mengizinkan Nana jadi pengacara. Karena kasus-kasus perceraian, dia enggan untuk menjalin komitmen. Dia hanya melihat dari sisi buruknya, tidak menyadari betapa perlunya pendamping di hidup! Kalau dia kita atur dari awal dia tidak pernah menemui kasus-kasus sialan itu!" Ella terus menggerutu meluapkan apa yang ada di hatinya. Dan Erik semakin menertawakan tingkah sang istri.
"Jangan terlalu stress, ingat kamu baru satu Minggu keluar dari tempat menyeramkan itu." Erik duduk di samping Ella.
"Kamu lupa, jika jodoh itu sudah ada yang mengatur? Sejauh apapun kita memisahkan mereka, jika Allah menuliskan Hanif untuk Nana, usaha kita tidak akan berhasil."
"Tapi apa Nana siap menerima konsekuensi-nya?" tanya Ella.
"Dia tumbuh kuat seperti mamanya." Erik mengecup singkat pipi Ella, "jangan khawatir dengan masa depannya. Dia wanita cerdas!"
Sedikit tenang, tapi masih ada yang mengusik hati Ella tentang siapa nanti jodoh putrinya. Berharap ada pria yang benar-benar jatuh hati pada wanita judes itu, lalu meminta padanya untuk menjalin komitmen bersama.
Jangan lupa like, komentar, dan tips 😂😂🙊
__ADS_1