Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Beraksi Saat Malam Hari


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Tak ada yang bisa dilakukan Naura selain menunggu Abhi pulang ke rumah. Saat ini dia tengah kesal dengan dirinya sendiri, karena tidak bisa berbuat banyak untuk membantu suaminya keluar dari masalah.


Malam yang dingin pun menjadi saksi betapa dia kesepian malam ini. Berulangkali ia menilik ponsel berharap Abhi mengirimkan pesan untuknya. Tapi, berulangkali pula ia harus menelan kekecewaan. Karena tidak ada pesan apapun dari Abhi.


Kemarin, di jam yang sama, ia masih bisa becanda dengan suaminya. Pergi jalan-jalan bersama Shaqueena, tapi hari ini dia tengah harap-harap cemas menanti kedatangan suaminya yang belum ada kepastian sama sekali.


Naura tahu, di depan pintu kayu ulin di luar sana, ada banyak wartawan yang hendak bertanya padanya tentang Abhi. Jadi, papanya melarang untuk keluar rumah. Apalagi untuk datang ke gedung kantor KPK.


Sudah tak terhitung lagi berapa kali Naura menekan nama suaminya di layar ponsel. Tapi yang dia dengar justru suara operator wanita yang justru membuat telinganya panas. “Pulang, kan, Bhi? Kamu nggak akan bohong, kan?” gumam Naura setelah sekian lama gagal menghubungi nomor suaminya. Ia kemudian mengetikan pesan untuk Abhi.


📤 Aku menunggu pesan darimu. Jam berapapun kamu membaca pesan ini tolong segera hubungi aku.


Pesan singkat itu Naura kirim hampir setiap satu jam sekali, berharap setelah ponsel Abhi aktiv, pria itu akan langsung menghubunginya.


Tapi sampai jarum pendek berada di angka 11 tidak ada apapun yang masuk ke ponselnya, selain pesan singkat dari Alea yang menanyakan kabar dirinya. Naura bahkan tidak semangat untuk mengetikan pesan balasan pada orang lain yang menanyakan kondisinya.


“Na … apa kamu sudah terlelap?” suara pertanyaan dari depan pintu kamar membuat Naura segera mengusap air matanya. Ia tidak ingin mereka tahu jika saat ini dia tengah mengkhawatirkan suaminya. Naura lekas berjalan membukakan pintu untuk mamanya.


“Sudah tidur?” tanya Ella saat pintu itu terbuka lebar, suaranya lirih takut jika orang lain akan mendengar, karena hari sudah larut malam.


Naura menggeleng pelan, lalu mempersilakan Ella masuk ke kamar.


“Kamu harus istirahat, Na … ingat, kamu harus jaga calon anakmu!” nasihat Ella, saat mereka berdua berjalan beriringan memasuki kamar.


“Nana nunggu kabar dari Abhi, Ma!” ujarnya sambil mendaratkan pantatnya di tepi ranjang. “Setelah dia mengabari Nana, aku janji akan segera beristirahat.”


Ella diam sejenak, mengamati wajah putrinya, terlihat dengan jelas pipi Naura yang lembab. “Tapi mama salut sama Abhi dia mau jujur dari awal sama kamu!” puji Ella kini ikut menyusul duduk di samping Naura. “Kamu harus hargai itu? Jangan lagi menambah bebannya, dengan kata-kata seolah kamu tidak bisa jauh darinya. Itu justru akan membuatnya stress!” ujarnya menasehati.


“Kamu dukung dia, beri support apapun yang bisa membuat dia tidak terlalu memikirkan kondisimu! Tunjukan bahwa kamu di sini baik-baik saja! Kamu wanita kuat!” Ella terus berbicara, dan gadis kecilnya itu hanya menganggukan kepala, entah paham atau tidak.

__ADS_1


Ella seperti mengulang masa lalu, teringat saat dia mengalami hal yang sama dengan Naura. Ia bahkan lebih parah dari Naura, bingung mencari suaminya di mana, padahal saat itu Erik ditangkap hanya karena kasus penganiayaan. Bukan kasus berat seperti menantunya saat ini. Ia mengakui pengucapan memang lebih mudah dari praktek, tapi setidaknya dia juga sudah berpengalaman dan bisa memberikan saran yang baik untuk putrinya.


“Mama yakin kalian bisa melewati ini semua! Pak Bahtiar juga tidak akan tinggal diam tentang kasus yang dialami Abhi saat ini, beliau tahu kalau Abhi pengacara jujur.” jelas Ella.


Naura mengangguk, setengah paham karena kini dalam pikirannya hanya bersarang nama Abhi.


“Tidur, ya!” Ella mengusap punggung Naura, menutupi kaki putriny dengan selimut tipis kesukaannya. Setelah memastikan Naura benar-benar tidur ia kemudian meninggalkan kamar.


Saat Ella menapaki anak tangga, ia dibuat terkejut saat melihat Erik berdiri di undakan anak terakhir tangga rumah.


“Ngapain kamu?” selidik Erik, menatap sinis setiap langkah kaki istrinya.


“Lihat Nana, emang mau ngapain lagi!” jawab Ella.


“Sudah aku bilang, kamu jangan ikut memikirkannya!” protes Erik, mengikuti langkah Ella yang berjalan ke arah kamar. Tiba di dalam kamar tanganya lekas menutup rapat pintu tersebut supaya cucu-cucunya yang masih menginap di sana tidak mendengar pertikaian mereka berdua.


“Bagaimana tidak memikirkan, Mas? Aku pernah di posisi Nana! Tingkat stress seseorang itu berbeda! Dan aku tidak ingin Nana stress seperti aku dulu!”


“Apa yang akan kamu lakukan?” desak Ella yang ingin tahu langkah Erik selanjutnya.


“Kamu tidurlah!” ulangnya.


“Enggak, aku nggak akan bisa tidur sebelum kamu mengatakannya padaku!” kembali Ella memerintah suaminya.


“Ck, sudah sana tidur!” paksa Erik mendorong pelan tubuh istrinya untuk duduk ke ranjang. “bobok yang manis! Kamu tahu sendiri Abhi tidak ingin aku membantunya. Jadi suamimu ini juga harus bermain cantik, supaya tidak ketahuan. Okey, omanya Leya!”


“Awas ya, kalau kamu tidak segera membebaskan Abhi! Aku lebih baik tinggal di rumah Maura. Ninggalin kamu sendirian di sini!” ancam Ella.


“Ya, sana! Nanti kalau aku mati sendirian di sini biar kamu nyesel!” goda Erik membuat Ella melemparkan selimut tebal ke arah wajahnya.


“Kamu pria nyebelin!” cibir Ella.

__ADS_1


“Emang kamu nggak!”


“Sudah tidurlah! Aku harus menemui temanku!” perintah Erik.


“Aku ikut!”


“Tidak bisa, dia duda nanti kalau pria itu naksir kamu bagaimana?”


“Tapi ini sudah malam!”


“Bukannya beraksi paling baik itu saat malam hari.” Senyum jahil terbit dari bibir Erik. "Termasuk aksi kita dulu saat—


Ella menutup mulut Erik sampai pria itu tak dapat melanjutkan bicaranya. Ia paham tingkat kemesuman Erik belum punah.


“Tidurlah! Biar aku juga segera menyelesaikan urusan mereka!”


“Pergilah dulu aku tidak apa-apa!” usir Ella, mendorong Erik menjauh dari ranjang.


“Aku yang tidak apa-apa! Aku takut kamu begadang! nanti kamu sakit gara-gara mikirin aku!”


“Dasar, dah tua juga paling pinter merayu!”


“Merayu yang halal itu tidak dilarang!”


Erik kemudian merebahkan tubuhnya di samping Ella, tingkahnya seperti seorang ayah yang menidurkan putrinya, setelah melihat istrinya terlelap barulah ia beranjak dari ranjang.


Erik mendaratkan kecupan singkat kening Ella, lalu pergi meninggalkan kamar. Tiba di luar kamar ia lekas menghubungi rekannya.


“Aku ke rumahmu sekarang!” Setelah mendapat persetujuan dari temannya Erik meminta sopir untuk mengantarnya pergi.


...-------- BERSAMBUNG --------...

__ADS_1


__ADS_2