
...Selamat Membaca...
“Kamu?” Naura menelengkan kepala ke kiri, menatap bingung ke arah pria yang saat ini berdiri di depannya. Dia mencoba mengingat, siapa tahu pria itu rekan dari suaminya. Tapi hasilnya nihil, ia belum pernah bertemu dengan pria yang saat ini berdiri tegak di depan rumahnya.
“Kamu siapa, ya?” ulangnya dengan nada keras, saat pria itu hanya menatap jengah ke arahnya. Merasa dalam situasi bahaya, Naura bergerak mundur saat pria itu memaksa masuk ke rumahnya.
Wajah Naura masih terlihat tenang. Ia tahu pria di depannya ini tidak akan membunuhnya sekarang. Lantaran tidak ada benda tajam yang dibawa pria itu. Namun, tak lama setelah pria itu berhasil masuk ke rumah Naura, dia bersiul beberapa kali untuk memanggil rekannya.
Naura bisa mendengar suara pintu mobil tertutup dengan keras, setelah itu terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju rumahnya. “Apa mau kalian!?” teriak Naura, wajahnya mendadak pucat saat melihat dua orang baru saja masuk ke rumahnya. Naura mulai ketakutan, sebab belum pernah melihat tiga pria yang saat ini berdiri di depannya. Tapi, dari penampilan mereka, pria-pria itu bukanlah orang baik-baik.
Ia lekas berlari mendekat ke arah kursi sofa, dia ingat di mana meletakan ponselnya tadi. Ia berniat menghubungi Abhi siapa tahu bisa segera berbalik arah dan menolongnya. Namun, baru saja pikiran itu ada di benaknya, preman itu langsung menendang meja tersebut. Meja itu terjungkal, ia sampai tidak tahu di mana ponselnya terjatuh.
“Brengsek kalian semua!” mata Naura menyala, dengan kilatan amarah yang terlihat jelas dari sorot matanya. “Apa mau kalian?!” Naura sampai lelah karena pertanyaan itu lagi-lagi tak mendapatkan jawaban.
“Bawa dia!” titah pria pertama, yang sepertinya … pria itulah pengendali dari segala tindakan anak buahnya.
“Kalian mau membawaku? Apa kalian tidak tahu siapa aku!?” tidak ingin mendengar ocehan Naura, salah satu pria yang baru saja tiba lekas mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya.
Naura yang menyadari hal itu lekas melarikan diri, ia berlari ke arah pintu utama, berniat meminta bantuan pada tetangga rumah. Tapi sayangnya pria yang pertama kali datang justru menahan tubuhnya, dan seseorang dari arah belakang langsung membungkam hidung serta mulutnya dengan sapu tangan.
Satu detik.
Tiga detik berlalu.
Sampai detik ke lima Naura sudah tidak sadarkan diri di pelukan pria yang pertama kali masuk ke rumah minimalisnya. Pria itu lekas membawa Naura keluar rumah, bertindak cepat sebelum ada orang yang menyadari penculikan tersebut.
__ADS_1
Home kavling yang ada di komplek rumah Naura memang belum sepenuhnya dihuni oleh pemiliknya. Jadi, di saat pagi seperti ini suasana terlihat sepi. Art di rumah Naura juga belum datang, mereka biasanya datang di atas pukul 9 pagi. Mobil hitam itu segera meninggalkan komplek perumahan. Membawa wanita yang saat ini menjadi korban sanderanya.
“Kita bawa ke mana?” tanya pria yang saat ini berada di balik stir kemudi. Pria itu terlihat masih muda, kulitnya khas orang melayu, rambutnya cepak, seperti orang abdi negara yang tengah menjalani pendidikan, teman-temannya biasa memanggilnya dengan sebutan Bogel.
“Ke kos mu saja!” pria yang saat ini memeluk Naura menjawab cepat, dia paling beruntung di sini, lantaran pria itu bisa sepuasnya memeluk tubuh wangi Naura. Pria berkulit sawo matang itu bernama asli Edi. Tubuhnya sedikit berisi dengan rambut sepanjang bahu, tapi diikat rapi.
“Kalian tidak ingat? Bos kita meminta membawanya ke mana?” pria dengan jabatan tertinggi di antara keduanya itu tampak emosi. Padahal rencana penculikan ini sudah disusun matang, dia bahkan hapal di luar kepala. Tapi anak buahnya itu seperti terserang amnesia dadakan.
“Siapa tahu, kita bisa menikmatinya lebih dulu! Lumayan, dari pada kita harus menyewa pelacurr, kalau ini, kita kab bisa dapat gratis!” pria yang memeluk Naura mengutarakan ide gilanya.
“Kita bisa menikmatinya, meski dia kita sekap di gudang! Yang pasti … saat bos kita sudah pergi dari jangkauan kita!” ucap sang bos besar dengan penuh percaya diri. Dia lalu menarik tubuh Naura yang tadi berada di pelukan Edi. Memindahkan tubuh Naura ke pelukannya. Tangan kananya sudah bergerak menelusuri setiap jengkal wajah Naura yang terlelap, bayangan menyetubuhi Naura pun semakin menggebu. Ia sudah tidak sabar untuk membawa Naura ke puncak kenikmatan.
Pria dengan sebutan khas Patrik itu mengumpat kasar saat bayangan tentang Naura dihancurkan oleh dering ponselnya. Ia meminta bantuan Edi untuk mengambilkan ponsel yang ada di saku celana bagian belakang. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, supaya Edi lebih mudah meraih ponsel di saku celana yang ia kenakan.
“Maaf, tiap dekat kamu bawaanya pengen kentuut!” ujarnya sambil menatap layar ponsel.
Sedangkan Edi, menggerutu tak jelas. “Bos berhenti makan bangkai, kentuutmu bau-nya persis bangkai!” Edi menjeda sebentar ucapannya, “Atau ini tanda, kalau Bos sebentar lagi akan menjadi bangkai!” Edi dan Bogel kompak terbahak, suaranya pun memenuhi mobil Jeep tersebut.
Patrik yang kesal mendengar tawa mereka, menendang tulang kering kaki Edi, sampai pria itu mengaduh karena Patrik begitu keras menendang kakinya.
“Sesama calon bangkai dilarang saling menghina!” Bogel yang berada di belakang stir kemudi ikut menyahut.
“Sttt … diam kalian!” peringat Patrik sebelum ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Memperingati, supaya tidak banyak bicara saat bos sedang menelepon.
“Kita sudah berada di jalan, Bos!” Patrik melapor saat seseorang bertanya di mana posisinya saat ini.
__ADS_1
“Bagus, bawa dia ke tempat yang sudah kita rencanakan. Jangan biarkan seorang pun mengetahui kelakuan kalian!”
Patrik dengan cepat menyetujui permintaan bosnya. Setelah panggilan itu terputus, ia lekas meminta Bogel supaya mempercepat laju mobilnya saat ini. Mobil itu pun melesat jauh, meninggalkan kota Jakarta.
Tubuh Naura mulai bergerak, sepertinya cara kerja obat bius itu sudah tidak berfungsi lagi. Ia memberontak, meminta diturunkan oleh pria yang saat ini memangku tubuhnya.
“Turunkan saja, Bos! Memang kamu tidak lelah dari tadi memeluknya?” Edi bertanya, sambil tersenyum jahil, saat melihat Naura terus memberontak. Ia sebenarnya iri, karena bosnya itu mengambil alih tugasnya.
“Diam! Kamu bisa diam, tidak!” Patrik berteriak, meneriaki Naura. Saat ia hampir kualahan menahan tubuh wanita itu. Ia meminta Edi untuk memegangi kaki Naura, saat ia merasa cukup lelah.
“Ambil tali di belakang!” titah Patrik dengan sedikit berteriak. Bagaimana pun ia tidak boleh menunjukan sisi lemahnya saat berada di depan Naura. Dia harus terlihat garang supaya korban takut dengannya.
Saat ini kaki dan tangan Naura sudah diikat dengan tali. Dua pria itu meminta Naura duduk di lantai mobil, merasakan betapa panasnya lantai mobil itu.
“Berapa uang yang diberikan bos kalian? Aku akan melipatkan yang kamu dapatkan … asal kalian melepaskan aku?” tawar Naura, mendongak menatap Edi, yang ia pikir adalah otak dari masalahnya saat ini.
“Kau mau tahu berapa?” pria itu justru bertanya, tatapannya tajam ke arah Naura. Tangannya kemudian terulur, mencengkram pipi Naura dengan kuat.
“Mereka membayar kita 300 juta!” sahut Bogel yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka bertiga.
“Aku akan membayar kalian 500 juta kalau kalian mau bekerja sama denganku!” ucap Naura.
...------- BERSAMBUNG --------...
Jangan lupa untuk vote dan gift ya, terima kasih. 🤗🤗
__ADS_1