
Lanjut ya... Jangan lupa untuk like dan vote👍🙏
.
.
.
“Aku ingin pulang!” Teriak Erik sambil menurunkan kakinya turun dari ranjang brankar.
Dia terjatuh saat hendak melangkahkan kakinya, mungkin karena dia tidak bergerak dari brankarnya selama dua bulan.
“Pa ..., bawa Erik pulang Pa!” teriak Erik lagi yang mencoba kembali berdiri.
“Rik..., kamu masih lemah biarkan kamu di sini dulu untuk sementara,” jelas Yusuf yang hendak membantu Erik untuk berdiri.
“Nggak! Pokoknya aku ingin pulang Pa, aku mau cari taxi sendiri jika Papa tidak ingin mengantarku.” Erik lalu berjalan tertatih keluar ruangannya, dia masih mengenakan pakaian rumah sakit di tubuhnya. Bayangan saat dia menggendong Ella ketika mau melahirkan terlintas, saat dia melewati lorong menuju ruang bersalin. Rintihan Ella yang menahan rasa sakit, kembali tergiang di telinganya. Erik menutup telinganya berulang kali mengucapkan kata ‘maaf’ sambil menutup telinganya. Erik terjatuh di sana, dia tidak kuat lagi untuk melanjutkan langkah.
“Ren..., bawa aku pulang, tolong aku nggak bisa berada di sini,” ucapnya saat melihat Rendi mendekatinya. Rendi mengangguk dan mengantar Erik pulang ke rumahnya. Yusuf yang mengetahui kondisi Erik segera meminta tim medis untuk berjaga-jaga di rumah putranya.
Sampai di rumah Erik. Rendi mengantarkan Erik masuk ke dalam rumahnya, dia menghibur rekannya itu, menguatkan dengan kata-kata motivasi untuk Erik, supaya Erik tidak terlalu terpuruk. Namun, yang ada Erik tidak bisa menerima setiap ucapan Rendi, dia tidak bisa merespon ucapan Rendi.
“Bisakah kamu pergi saja!” ucap Erik dengan nada dingin, “Aku tidak butuh nasihatmu,” lanjutnya sambil menyadarkan kepalanya di kepala ranjang. Rendi yang mendengar ucapan Erik langsung beranjak pergi meninggalkan kamar Erik, percuma saya dia berceloteh di sana.
Erik mulai memejamkan matanya, merasakan hangatnya udara di dalam kamarnya, samar-samar dia mendengar suara Ella memanggil namanya.
“Mas... Mas... Apapun yang terjadi, hatiku hanya untukmu.” Erik langsung membuka matanya saat mendengar bisikan lirih suara itu.
“Sayang...” ucap Erik, sambil duduk dan menatap kesekeliling ruangannya.
Dia lalu memanggil pelayan di rumahnya. Meminta sopir untuk mengantarnya ke apartemen yang penuh kenangan dengan Ella.
Satu jam kemudian, dia sudah berada di dalam apartemennya, dia memasuki kamar utama apartemen. Bayangan saat mereka melakukan malam pertama terlintas di pikirannya. Erik merebahkan tubuhnya di sana, sambil mengingat semua kenangan manisnya dengan Ella. Hingga menjelang pagi matanya masih terbuka, dia menoleh ke arah pintu, saat mendengar suara pintunya terbuka.
“Kamu di sini, Sayang.” Erik menatap mamanya yang tengah menggendong bayi berbaju putih, di tangannya.
“Lihatlah, ini anak gadismu...,” ucap Jihan sambil memperlihatkan bayi mungil itu. Erik menatap wajah anaknya, tangannya terulur menyentuh pipi bayi mungil di depannya. Dia tersenyum saat mengusap rambut hitam dan ikal anaknya.
“Mama belum memberikan nama untuknya, karena Mama yakin jika kamu akan segera bangun,” ucap Jihan. Erik tersenyum sambil mengambil anaknya dari gendongan Jihan.
__ADS_1
“Anak Papa belum punya nama? Kasihan kamu Sayang.” Erik mencium pipi anaknya setelah mengatakan itu.
“Dia Riella Ma, Eriella Putri Ramones,” ucap Erik pada wanita di sampingnya.
“Nama yang cantik.” Jihan tersenyum ke arah Erik sambil mengusap punggung anaknya.
“Iya. Secantik Mamanya,” sahut Erik.
“Mama..., Mamm, Maamma.” Ucap Kalun saat memasuki kamar Erik. Erik mengalihkan pandangannya ke arah Kalun yang tengah belajar berjalan bersama baby sitternya. Erik hanya menatap lelaki kecil dan tampan yang tengah melangkah ke arahnya.
“Kalun..., hey... Jagoan Papa,” ucap Erik sambil mengangkat kalun dengan tangan kanannya.
“Paappaaa... Maaammmaaa ... annaahhh...” ucap Kalun yang belum jelas. Erik hanya bisa menitihkan air matanya, karena dia tahu arti perkataan anaknya itu.
“Ada Yohan di luar, katanya dia ingin berbicara penting padamu,” ucap Jihan yang tadi datang bersama Yohan.
“Biarkan saja Ma, aku tidak ingin membahas masalah pekerjaan saat ini,” ucap Erik sambil kembali menatap Riella. Jihan mengangguk karena paham dengan kondisi Erik.
Namun, Yohan yang tidak sabar mengetuk kamar pribadi milik Erik. Dia lalu masuk dan mendekat ke arah Erik.
“Pergilah aku tidak ingin membahas pekerjaan untuk saat ini!” usir Erik sambil menatap ke arah Yohan. Yohan terdiam dia bingung ingin menyampaikan pesan dari istrinya atau tidak.
“I-ini bukan soal pekerjaan Pak, ini soal pesan ibu Ella,” ucap Yohan sambil tersenyum menatap Erik.
“Tepatnya dia yang meminta saya datang ke rumah saat itu Pak, saat Bapak sedang pergi ke rumah sakit,” jelas Yohan lalu beralih menatap Jihan.
“Maaf Nyonya apa saya bisa bicara dengan Bapak Erik secara pribadi?” ucap Yohan dengan hormat pada Jihan. Jihan lalu mengambil Riella dari tangan Erik, dan mengajak baby sitter itu untuk keluar dari kamar.
“Ada apa?” tanya Erik menatap ke arah Yohan. Yohan memastikan jika Jihan sudah benar-benar meninggalkannya, kemudian dia menutup pintu ruangan itu.
“Bu Ella menitipkan ini pada saya,” jelas Yohan menyerahkan amplop coklat ke tangan Erik.
“Ibu bercerita, jika beberapa hari sebelum dia operasi hatinya sangat gelisah, dan dia menulis surat untuk Bapak, dia berpesan pada saya jika Bapak harus berhati-hati dengan Bima dan Axel, karena mereka berniat menghacurkan Bapak,” jelas Yohan panjang lebar.
“Bima?” tanya Erik yang kaget, karena dia tidak akan mungkin menghancurkan adiknya sendiri.
“Ibu juga bercerita pernah melihat mereka bertemu di restoran di Jakarta,” lanjutnya.
“Dan setelah saya selidiki, ternyata Bima adalah anak angkat dari keluarga Ramones,” jelas Yohan lagi yang baru diketahui Erik.
__ADS_1
“Jadi dia bukan Kakak kandungku? Maksudmu begitu? Ini mustahil Yo!” tanya Erik yang tidak percaya ucapan Yohan.
“Tapi itulah kebenarannya Pak, jika Anda kurang yakin sebaiknya Bapak bertanya pada Nyonya besar.” Erik menatap tajam ke arah Yohan. Dia diam dan merenungkan ucapan Yohan.
“Mulai saat ini aku akan mengurus kantor, jadi kamu yang akan mengurus rumah sakit!” perintah Erik yang membuat Yohan bingung. Yohan hanya terdiam, karena dia tidak akan mampu mengurus rumah sakit yang Erik pimpin saat ini.
“Apa Bapak sudah benar-benar pulih?” tanya Yohan.
“Seperti yang kamu lihat, satu minggu lagi kamu harus mulai mengurusku,” ucap Erik melirik ke arah Yohan, “Masih ingatkan tugasmu, jangan kamu bilang kau sudah lupa?” lanjut Erik mengingatkan tugas Yohan.
“Saya masih ingat Pak,” sahut Yohan.
“Pergilah jika sudah tidak ada hal yang ingin kamu katakan,” ucap Erik sambil mencoba berdiri dari duduknya. Dia ingin sekali menanyakan kepada Jihan tentang kebenaran Bima. Dia lalu berjalan ke arah ruang tv duduk di samping Jihan.
“Ma...” panggil Erik sambil menatap Jihan.
“Apa, kamu butuh apa? biar Mama yang ambilkan?” tanya Jihan yang khawatir dengan nada panggilan Erik.
“Ceritakan tentang Bima,” ucap Erik menatap Jihan, memastikan perubahan ekspresi Jihan.
“Ada apa dengan Kakakmu?” tanya Jihan yang tidak ingin mengatakan jujur pada Erik.
“Apa benar dia hanya anak angkat?” tanya Erik langsung ke intinya. Jihan langsung melotot ke arah Erik.
“Dari mana kamu tahu?”
“Jadi benar dia anak angkat Mama dan Papa?” tanya Erik memastikan jawabannya.
“Tidak seharusnya kamu tahu, kamu hanya perlu memganggapnya sebagai kakak kandungmu,” jelas Jihan.
“Iya memang seharusnya Erik seperti itu Ma, tapi jika dia berani melukaiku apa Mama juga masih menganggapnya sebagai anak kandung?” Jihan kembali menatap Erik, merasa aneh dengan ucapan anaknya.
“Kenapa seperti itu Nak, dia juga sudah Mama anggap sebagai anak kandung Mama, jadi jangan membuat hubungan kalian berantakkan,” ucap Jihan mengusap lengan Erik, seolah meyakinkan jika itu tidak akan terjadi.
“Baiklah, demi Mama aku akan menerimanya, tapi jika dia melukai anggota keluargaku, aku tidak akan mengampuninya, Ma!” ucap Erik mengingatkan Jihan.
Jihan kaget saat Erik mengucapkan itu karena, setahunya hubungan kedua anaknya itu sangat baik, jika tengah berada di depannya, bahkan dari dulu mereka terlihat sangat akur.
.
__ADS_1
.
TBC