
...Selamat Membaca...
Erik menolak permintaan Abhi saat mendengar pria itu ingin membawa keluarga besarnya datang ke rumah. Pria itu tidak menyetujui, jika acara dilangsungkan saat kaki Naura belum pulih. Ia ingin pesta yang sempurna untuk anak gadisnya.
Jadilah, acara khitbah itu dimundurkan menjadi hari sabtu, dan tujuh hari setelah itu, mereka berencana untuk melakukan prosesi akad nikah. Erik tidak ingin terlalu lama menahannya. Bukan karena apa, tapi ia takut akan semakin banyak pengganggu yang mencoba merusak niat baik keduanya.
Tepatnya besok, pukul sepuluh pagi keluarga Abhi akan berkunjung ke rumah Erik. Abhi berkata akan membawa rombongan Damanik sebanyak 40 orang, karena ada eyang sama keponakan-keponakannya, yang menurut Abhi penting untuk dibawa ke acara lamaran. Dan Erik menyetujuinya, ia bahkan menginginkan lebih. Supaya banyak yang mendoakan untuk kebahagian mereka berdua.
Di rumah Erik, beberapa orang tengah sibuk mempersiapkan acara untuk besok pagi. Mulai dari menyusun acara, hingga membuat makan siang untuk beberapa orang yang sedang lembur memasang bunga di kursi calon pengantin. Sedangkan gadis yang akan dikhitbah justru tengah sibuk menelepon si pria di dalam kamarnya.
“Nana!” sentak Maura yang baru masuk ke kamar Naura. “coba dulu kebayamu!” sarkasnya sambil meletakan kebaya warna biru navy di atas ranjang.
“Besok saja, Ra! Males ah, nanggung nih, lagi sayang-sayangan!” jawabnya. Lalu menjulurkan lidah saat Maura melotot tajam.
Naura pun menurut, ia mematikan panggilan telepon dari Abhi, meski pria itu menolak keras, saat ia mematikannya. Ia lalu mencoba baju kebaya yang serasi dengan kemeja batik yang akan dipakai Abhi besok.
Tidak perlu lama-lama Naura mencoba kebaya yang diberikan Maura. Setelah itu ia meminum obat penenang sesuai saran Maura.
__ADS_1
“Dah tidur, nggak usah mikir macam-macam!” pesan Maura sebelum meninggalkan kamar Naura. Ia sengaja mengambil ponsel Naura, khawatir waktu istirahat Naura akan diganggu oleh Abhi.
...----------------...
Hari yang dinantikan Naura tiba. Ia bangun setelah matahari menyorot tepat di matanya. Ia tahu mamanya sengaja membuka gorden kamar, untuk membangunkannya. Ia beranjak dari tempat tidur, lalu berniat menemui Maura, untuk meminta ponselnya.
Saat Naura menuruni anak tangga, ia justru bertemu dengan Erik. Pria itu memakinya karena tak lekas mandi.
“Bentar saja, Pa!” sahut Naura.
“Mandi! ini sudah jam 7. Sebentar lagi rombongan keluarga Abhi akan datang!” teriak Erik, dia harus tegas pada putrinya hari ini.
“Maura sedang dirias! Tu ajudan mu datang!” Erik menunjuk dengan dagunya ke arah Alea. “Ale, mandiin soulmate mu ini! anggap saja ini moment baik terakhir kalian berdua sebagai pasangan.” setelah itu Erik meninggalkan Naura bersama Alea.
“Ayo, Na!” Ale menarik tangan Naura dan membawanya masuk ke kamar. Ia mendorong tubuh Naura masuk ke kamar mandi, supaya gadis itu lekas membersihkan diri. Tugas Alea hanya itu, diminta mama Ella untuk mengurus perawan terakhir kepunyaan Ramones.
Tiga puluh menit berlalu, Naura sudah keluar dari kamar mandi, ia kemudian digiring ke kamar yang biasa dipakai Kalun saat mereka menginap di sana. Di dalam kamar mewah tersebut sudah ada MUA yang menunggunya. Baju yang dicoba Naura semalam pun sudah digantung indah di dekat kaca. Sepatu ukuran 38 sudah siap digunakan. Naura tersenyum tipis, seolah waktu berjalan begitu cepat.
__ADS_1
MUA mulai merias wajah Naura, hingga 2 jam ke depan. Memaksimalkan waktu yang ada untuk membuat Naura lebih cantik dari biasanya.
...----------------...
Di sisi lain Abhi justru cemas. Sekarang ia tengah di rumah tantenya. Beberapa saudaranya sudah hadir bersiap mengikuti acara lamaran Abhi. Mereka semua sangat menantikan momen ini, karena takut kalau Abhi tidak mau menikah karena trauma ditinggal Olivia. Meski Abhi pernah mengalami itu, tapi akhirnya ada Naura yang berhasil mencuri hatinya.
Eyang dan pamannya, sempat mengira jika Abhi sudah menghamili wanita itu karena semuanya serba mendadak. Termasuk menjual tanah warisan dari almarhum papanya yang ada di Siantar demi menyiapkan rumah di Jakarta untuk Naura.
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, kurang lebih 8 mobil dan 1 mobil pick up yang ditugaskan membawa seserahan sudah melaju pelan menuju kediaman Erik. Mereka semua gembira, seolah hendak rekreasi ke pantai.
Sedangkan Abhi masih betah dirundung rasa cemas dan khawatir. Dia bahkan tidak bisa menanggapi saat saudara sepupunya memberikan candaan. Wajahnya tampak tegang. Widya yang berada di sampingnya pun ikut menenangkan dengan mengusap lembut punggung Abhi.
"Abhi, dari fotonya kemarin, eyang suka sama calonmu itu. Jadi, jangan tegang begitu, Nak. Segara beri Eyang cicit yang banyak, ya." Eyang Abhi yang duduk di bangku samping kemudi mulai bergurau. Tapi, tetap saja tak menolong Abhi. Dia justru menatap tajam ke arah Nathan yang berada di belakang kemudi.
Tiba di kediaman Erik, sebelum keluar mobil Abhi kembali menenangkan diri. Ketegangan yang ia rasakan melebihi saat dirinya melamar Olivia. Entahlah, mungkin karena mereka baru saja dekat beberapa hari. Jadi, ketegangan itu semakin terasa nyata.
Pukul 10 pagi rombongan keluarga Abhi berbaris rapi di halaman rumah Erik, mereka tengah bersiap untuk masuk. Saat ini Abhi diapit oleh Eyang dan mamanya. Wanita tua yang sudah menggunakan tongkat itu tidak mau berjauhan dari Abhi. Sebab katanya, beliau punya hadiah khusus untuk Abhi dan calon cucu mantunya.
__ADS_1
...----------------...
...Nggak minta muluk-muluk, harap yang sudah baca tinggalkan komentar, biar aku juga strong....