
Erik menatap wajah Riella yang tertidur di pangkuannya karena terlalu lelah menagis, dia mengusap dahi anak gadisnya yang sudah terlihat basah karena keringat yang sejak tadi keluar.
“Maafkan Papa Sayang..., karena Papa nggak bisa mewujudkan keinginanmu,” ucap Erik lirih, hatinya juga perih mendengar anaknya yang selalu menginginkan seorang mama, tapi mau bagaimanapun juga dia tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain.
“Tidurkan Riella di kamarnya Rik, setelah itu kamu siap-siap bertemu dengan putri rekan Mama.” Jihan mendekat ke arah Erik, sambil membawakan kopi kesukaannya.
“Biar Erik bawa pulang saja Ma,” tolaknya, karena dia tidak ingin bertemu dengan anak teman Jihan, dia takut jika anak rekan Jihan akan jatuh cinta padanya. Dan itu ujung-ujungnya akan membuat sakit hati wanita pilihan Jihan.
“Rik!” bentak Jihan saat mendengar ucapan Erik.
“Mereka sudah dalam perjalanan, Mama berharap kamu tidak akan mengecewakan Mama,” peringat Jihan saat Erik hendak.
“Oma kenapa bentak-bentak Papa?” tanya Kalun yang baru saja tiba.
“Nggak, Oma cuma mau minta Papa buat menidurkan adik Riella saja.” Kalun cemberut saat mendengar ucapan Jihan.
“Kalun dengar Oma bilang ke Papa buat bertemu dengan seseorang, jangan paksa Papa Oma, Kalun juga nggak mau punya Ibu tiri!” ucap Kalun yang mendekat ke arah Jihan. Erik yang mendengarkan ucapan Kalun, segera meninggalkan mereka berdua, dia pergi ke kamar anaknya, menidurkan Riella di sana. Sejenak dia merebahkan tubuhnya di samping Riella, menatap lembut wajah Riella sambil mengusap pipi gembul milik Riella.
“Katakan pada Mama jika kamu bertemu dengannya dalam mimpi Sayang, Papa sangat merindukannya, suruh Mama untuk menemui Papa,” ucap Erik saat melihat wajah Riella yang tersenyum saat tidur, mungkin dalam mimpinya dia tengah merasakan kebahagiaan.
“Hiks...,hiks...,hiks...,” terdengar suara tangisan yang bisa Erik dengar dengan jelas. Erik mencari-cari arah sumber suara tangisan itu.
“Hiks..., hiks..., hiks...” terdengar lagi suara tangisan itu, Erik mengenali jika suara itu milik Ella, dia mempercepat langkahnya untuk mencari Ella, dia menoleh ke sana kemari, tapi tak menemukan wajah istrinya, dia hanya bisa mendengar suaranya.
“Hiks..., hiks..., Mas..., aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa di sampingmu.” Terdengar lagi suara Ella yang sangat jelas di pendengaran Erik.
“La, Sayang..., kamu di mana? Keluarlah!” Erik masih berusaha mencari keberadaan ella. Hingga dirinya menemukan ella yang tengah menangis di bawah pohon dengan wajah yang di tekuk ke arah lututnya.
“Kamu datang lagi ke menemuiku? Tapi kenapa kamu menangis?” Erik mendekat ke arah Ella dia ikut berjongkok di depan ella.
“Aku mencintaimu Mas, aku nggak mau seperti ini,” ucap ella yang masih menyembunyikan wajahnya.
“Lihat aku Sayang, Mas juga akan sedih jika kamu di sini menangis,” ucap Erik.
“A-aku, aku, aku harus pergi!” ucap ella yang tiba-tiba berdiri dan berjalan meninggalkan Erik.
“La..., Sayang ... Lala, tunggu Mas La! Jangan pergi lagi,” teriak Erik memanggil-manggil ella yang pergi meninggalkannya.
__ADS_1
“La..., La... Sayang..., Yang..., please berhentillah!” teriak Erik lagi yang tidak bisa di dengar oleh Ella.
“Papa...!” teriak Riella yang membangunkan Erik. Ketika melihat Erik mulai berkeringat dan memanggil-manggil nama Ella. Erik lalu terbangun dari mimpinya, dia mangacak rambutnya kasar, lalu menyandarkan kepalanya di ranjang, dia mengatur nafasnya supaya lebih tenang. Riella hanya menatap Erik sambil menyandarkan dagunya ke tangan.
“Papa mimpi Mama ya...?” tanya Riella yang kepo akut pada Erik. Erik yang sudah lebih tenang hanya mengacak rambut kasar Riella.
“Tadi Riella juga mimpi Mama.” Erik yang mendengar itu langsung mulai mendekat ke arah Riella.
“Mama bilang sebentar lagi akan menjemput kita, lalu Mama gelitikkin Lala, tapi Mama bilang dia harus pergi dulu, demi kita bisa berkumpul bersama,” ucap Riella sambil mengingat-ingat mimpinya.
“Iya kita pasti akan berkumpul lagi di sana,” sahut Erik sambil tersenyum.
“Kalau adik mimpi Mama lagi, bilang sama Mama kalau Papa kangen banget sama Mama, okeh...!” Riella mengangguk, mengerti pesan dari Erik dan akan selalu dia ingat.
Pintu kamar Riella terbuka, terlihat Jihan berjalan ke arah anak dan cucunya yang sedang bercerita di balik selimut.
“Rik, itu Ajeng sudah datang, coba temui, dia wanita karier, pintar lagi sudah sering mendapat penghargaan,” jelas Jihan menceritakan putri temannya.
“Apa dia masih gadis Ma?” tanya Erik.
“Pa..., gadis itu apa?” tanya Riella berbisik di telinga Erik. Erik hanya tersenyum lalu mencium pipi anaknya.
“Gadis itu kamu! Kamu anak gadis Papa!” jawab Erik yang semakin membuat Riella bingung.
Erik lalu beranjak dari ranjang anaknya, menyiapkan diri untuk bertemu dengan putri teman Jihan, dia hanya ingin menemui tidak berniat untuk memacari apalagi menikahi. Setelah siap Erik menitipkan Riella ke baby sitternya. Erik melihat wanita cantik berambut panjang dan hitam yang sedang duduk di ruang tamu, dia mengulurkan tangannya ke arah teman Jihan lalu bergantian ke arah calon kandidat istrinya.
“Erik.”
“Ajeng.” Erik tersenyum setelah mendapat jawaban dari wanita di depannya. Dia melirik ke tubuh wanita yang hendak menjadi kandidat calon istrinya, badanya semok, berisi, bibir tebal, hidung besar, mata sipit, cantik tapi tidak ada getaran di hatinya. Erik tersenyum ketika menelisik lagi wanita itu dari ujung rambut hingga kaki.
“Nak, Erik saja gantengnya seperti ini, pasti Ajeng bakalan cocok jika menikah dengannya,” ucap Laras teman Jihan.
“Apa boleh saya berbicara berdua dengan Ajeng tante?”
“Ya jelas boleh Nak Erik, silahkan mungkin kamu juga perlu waktu untuk lebih dekat lagi,” ucap Laras dengan semangat dan terlihat bahagia, Erik juga menanggapinya dengan senyuman manis ke arah teman Jihan yang terlihat glamour itu. Dia beranjak membawa Ajeng ke ruang kerja milik Yusuf, sampai di sana Erik mengunci pintu rapat, supaya tidak ada yang bisa menguping pembicaraannya.
“Apa yang kamu ketahui tentang aku?” tanya Erik sambil memgambil salah satu buku di rak kerja Yusuf. Ajeng diam sejenak lalu duduk di depan meja Erik. Erik hanya melirik ke arah wanita itu sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
__ADS_1
“Duda, 2 anak.”
“Hanya itu?” Ajeng mengangguk, sambil menatap wajah tampan Erik. Erik lalu menatap balik mata Ajeng dengan lekat, mengubah senyumnya menjadi ekspresi yang lebih serius.
“Sudah berapa bulan?”
Deg...
Ajeng mematung, wajahnya sudah tidak seramah tadi saat memasuki ruangan, bahkan sudah berubah menjadi pucat pasi, karena dia paham yang ditanyakan oleh lelaki di depannya ini.
“Nggak bisa jawab?” ucap Erik sambil memainkan alisnya, “Apa kamu lupa jika aku ini seorang dokter?” lanjut Erik mengubah ekspresi wajahnya yang lebih santai.
“Keluarlah! Dan katakan sejujurnya pada orangtuamu,” ucap Erik setelah keadaan hening beberapa saat. Ajeng yang mendengar suara Erik yang mulai akan marah, segera beranjak pergi dari ruangan. Dia berjalan sambil menangis ke arah mamanya, dan berkata jujur tentang kehamilan yang sudah dia tutup rapat-rapat.
Erik yang dari tadi mendengarkan penjelasan Ajeng hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena merasa kasihan juga, karena pacarnya tidak mau bertanggungjawab, dia lalu melirik ke arah mamanya. Meminta mamanya untuk mengikuti langkahnya yang berjalan ke arah kamar pribadinya.
“Sudah ya Ma, ini terakhir kalinya Mama mencoba menjodohkan Erik dengan wanita pilihan Mama,” ujar Erik.
“Nggak! Sebelum kamu punya istri lagi, Mama akan tetap menjodohkanmu,” jelas Jihan yang juga kekeh dengan pendapatnya.
“Ma, Erik sudah punya pilihan sendiri, jadi jangan bawa wanita lagi untuk Erik temui,” jelas Erik.
“Siapa? Almarhum istrimu itu? Sadar Rik, dia sudah pergi!” bentak Jihan yang emosi.
“Bukan!”
“Lalu, apa kamu akan mengambil wanita di pinggir jalan untuk mengaku jika itu pacarmu! Iya? Mama tidak bodoh Rik,” maki Jihan.
“Tidak seperti itu Ma, siapkan makan malam untuk besok, aku akan mengenalkannya kepada Mama dan Papa,” jelas Erik yang mulai risih dengan rengekkan Jihan yang ingin dia secepatnya menikah, entah Nadia mau atau tidak yang penting dia akan menariknya ke hadapan mamanya.
TBC
.
.
Pokoknya suka nggak suka saya minta likenya, ngetik capek juga loh...!😀😀👍🙏
__ADS_1