
...Setelah itu, Nathan menunggu mobil yang membawa Martinus meninggalkan jalanan depan gedung KPK....
...Selamat Membaca...
Nathan yang penasaran, mengurungkan niatnya untuk mencari sarapan. Dia memilih membututi pria yang tadi diberi uang oleh Martinus. Siapa tahu dia bisa menemukan fakta lain tentang kasus yang menimpa sahabatnya.
Ia terkejut saat pria berbaju gelap itu masuk ke dalam rumah yang tidak jauh dari gedung KPK. “Apa-apaan ini?!” gumamnya dengan tangan memukul pagar tembok. Lalu menunggu di tempat yang tidak jauh dari rumah tersebut.
Lima belas menit menunggu, tidak ada pergerakan dari pria yang tadi masuk ke rumah. Merasa sudah bosan Nathan pun memainkan ponselnya. Ia terkejut saat seorang wanita mendekatinya.
“Nunggu siapa, Mas?” tanya wanita yang menggunakan daster lebar, ia duduk di samping Nathan, berusaha mencaritahu. Siapa tahu bisa menjadi bahan gosip setelah ini.
“Teman, Bu.” Nathan membalas cepat.
“Ow … temannya mas Jordan juga?” ibu itu mencoba menerka, apa yang ditunggu Nathan.
“Jordan?” Nathan justru menatap bingung ke arah ibu-ibu yang tadi bertanya padanya.
“Iya mas Jordan, wartawan itu!” ibu itu menunjuk ke arah rumah pria tersebut dengan dagunya.
Nathan sendiri, tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria tadi. Tidak mungkin juga Jordan yang dimaksud ibu itu adalah bandar narkoba yang sudah ditangkap polisi berbulan-bulan yang lalu.
Suara notifikasi ponsel menyadarkan Nathan pada pemikirannya. Ia segera merogoh kantung celana, untuk membaca informasi apa yang ia dapatkan kali ini. Nathan terkejut saat membaca informasi dari peramban di ponselnya. Di sana, terdapat foto Naura yang hendak masuk gedung KPK, mengabarkan jika Naura pernah dimintai Abhi sejumlah uang yang hampir sama yang diberikan Hakim Agung.
“Astaga!” Nathan berulangkali menggeleng, tidak percaya dengan kabar berita yang ia baca ini. Dan pasti berita itu bukan rahasia lagi, sudah menyebar ke orang-orang memiliki ponsel canggih. Tanpa peduli dengan pria yang saat ini masih berada di dalam rumah, Nathan kembali ke gedung KPK, ia ingin mendengar penjelasan dari Naura dengan berita yang sudah tertulis di sana.
Brak!
Nathan langsung melempar ponsel itu ke atas meja. Membuat dua orang yang sedang tertawa bahagia, menatap bingung ke arahnya. Tapi tidak! Nathan hanya menatap marah ke arah Naura.
“Kenapa?” tanya Naura, bingung dengan sikap Nathan yang berubah drastis.
“Apa yang sudah kamu rencanakan!” bentak Nathan, menuduh tanpa bukti. Abhi yang mendengar suara Nathan lekas beranjak, mendorong pria itu untuk menjauh.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?!” sentaknya meminta penjelasan.
“Diam!” mata Nathan masih menatap marah ke arah Naura, mendesak wanita itu untuk mengatakan apa yang sudah ia katakan pada wartawan.
"Ayo katakan! Apa yang sudah kamu katakan pada wartawan!" Nathan sudah hilang akal, dia terus mendesak Naura.
“Kau mau aku pukul!” peringat Abhi pada sahabatnya.
“Istrimu sendiri, Bhi yang membuat kasus mu semakin rumit!” jari telunjuk Nathan menunjuk ke arah kening Naura, matanya masih menatap sengit ke arah Naura.
“Aku kenapa dari tadi aku di sini!”
“Kau bisa baca, kan!” sentak Nathan kini beralih menunjuk ke arah ponselnya. Sedangkan Naura langsung mengambil ponsel Nathan, dan segera membaca sekilas, apa yang dibuka Nathan di sana, “Aku tidak mengatakan ini!” ujarnya setelah selesai membaca.
“Kenapa kamu tidak di rumah saja, sih? Kamu berkeliaran di luar, trus orang-orang akan mengambil kesempatan untuk ini! Kamu memang bodoh!”
“Tapi, aku tidak mengatakan apa yang ditulis di sini. Ini pasti ulah mereka yang sengaja membuat Abhi semakin sulit!” jelas Naura, berusaha menyangkal tuduhan Nathan.
“Stop!” Abhi mencegah Nathan yang hendak kembali memaki Naura. Lalu menoleh ke arah istrinya. “Kamu pulang dulu ya!” ujarnya dengan lembut.
Abhi terdiam cukup lama, lalu menatap istrinya, membenarkan anak rambut yang terlepas dari ikatan, membawanya ke belakang telinga. “Iya, aku percaya sama kamu … tapi, kamu pulang dulu ya!”
Melihat wajah Abhi yang tampak stress Naura merasa kasihan, ia kemudian menyetujui permintaan Abhi, meninggalkan ruangan itu. “Maaf jika kedatanganku justru membuat masalah,” ujarnya. Setelah itu Naura keluar dari ruangan.
“Kenapa kamu tidak bisa bicara baik-baik padanya? kamu tahu dia sedang hamil? Cobalah lebih lembut, Than!” peringat Abhi menatap tak suka ke arah Nathan.
“Aku tidak bisa, Bhi! Aku heran, sebenarnya yang banyak musuh itu mereka atau kamu? Semenjak kamu menikahinya, kamu sering dirundung masalah!” cibir Nathan.
“Tutup mulutmu, Than!” teriak Abhi memaki sahabatnya ia tidak suka dengan tuduhan yang diucapkan Nathan. Ia merasa justru Naura sering dilanda masalah karena ulah-ulah wanita masa lalunya “Pulang sana, jangan menemui aku sebelum kamu memperbaiki emosi mu!”
“Jadi kamu memilih istrimu dari pada aku! baiklah … selesaikan kasus mu sendiri!” Nathan yang sedang dirundung emosi meninggalkan ruangan tersebut. Tidak peduli lagi dengan kasus yang menimpa Abhi saat ini.
Tidak biasanya Nathan seperti ini, pria itu biasanya bersikap lembut pada wanita, apalagi dia tahu kalau Naura adalah istri dari sahabatnya.
__ADS_1
Setelah kepergian mereka berdua, Abhi memilih masuk ke ruang tahanan lagi. Meninggalkan masalah yang baru saja terjadi.
Sedangkan di dalam perjalanan, Naura tak sepenuhnya fokus ke arah jalan. Ia terus mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya. Jika dia tahu kalau mendatangi Abhi justru membuat kondisinya rumit. Ia memilih berdiam diri di dalam rumah.
Naura menekan penuh emosi tombol klakson mobilnya, meminta penjaga untuk membukakan pintu rumah yang Abhi beli. Saat ini ia memilih pulang ke rumahnya yang sudah sekitar dua bulan tidak ia tempati.
“Loh, Mbak Naura pulang?” tanya assisten rumah tangga yang menjaga rumahnya.
Naura tidak menjawab. Dia berlari menuju ke lantai dua, ke arah kamar, supaya bisa meluapkan sesak dan tangisnya sepuasnya di dalam sana. Tiba di dalam kamar, ia meraih ponselnya, kembali membuka informasi yang mengatakan jika dia memberikan uang pada Abhi.
“Omong kosong!” gumamnya, sambil melemparkan ponsel tersebut. Tapi, belum juga ponsel itu berubah warna terdengar suara dering panggilan. Ada nama Hanif tersemat di sana. Tapi Naura memilih mengabaikan panggilan itu.
📥 Apa kita bisa bertemu?
Naura tidak membalas, dia hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Hanif. Rasa lelah yang memeluk tubuhnya saat ini, membuat Naura dengan cepat meninggalkan kesadarannya.
Semalam ia begadang cukup lama, meski suasana masih terbilang masih pagi, tapi rasa kantuk yang menyerangnya pun tak mampu ia tahan. Ia memejamkan mata, memilih mengabaikan pesan dari Hanif yang kembali masuk ke nomornya.
*****
Art yang bekerja di rumah Naura dan Abhi secepatnya memberi kabar pada Ella, jika Naura saat ini tengah mengurung diri di dalam kamar. Berulangkali ia mengetuk pintu kamar Naura, tapi wanita itu sama sekali tidak menyahut. Dan itu membuat ia bingung harus berbuat apa.
Hingga sebelum matahari sepenuhnya tenggelam di ujung barat, mobil Ella berhenti tepat di depan rumah Naura. Dia sengaja datang sendiri, karena masih merasa kesal dengan Erik yang tidak bisa berbuat banyak untuk membantu menangani kasus Abhi.
Art yang dipekerjakan Naura lekas menuntun Ella menuju lantai dua, di mana kamar Naura berada. Saat Ella mendorong pintu kamar, Ella terkejut saat melihat Naura sudah kembali berpakaian rapi.
“Loh … kamu nggak papa, Na?” selidik Ella menatap putrinya heran. “Kamu mau ke mana?” belum juga Naura menjawab Ella kembali melemparkan pertanyaan. Naura memang sudah tampil rapi dengan dress warna merah jambu dengan tinggi selutut. “Nana mau nyari sesuatu, Ma.”
“Sesuatu apa? Kamu jangan macam-macam, ingat kamu sedang hamil!” peringat Ella, kembali menarik tubuh Naura untuk masuk ke dalam kamar.
“Ma … Nana mau ke kedai jawa timuran, pengen rujak cingur.”
“Hah!” Ella membuka mulutnya, saat mendengar penjelasan Naura.
__ADS_1
...-------- BERSAMBUNG --------...