
Happy reading jangan lupa like dan vote ya...👍🙏
.
.
.
Sampai di kantor Damar, Ella bertanya pada resepsionis, untuk menanyakan posisi Damar, dia langsung berlari meninggalkan meja resepsionis setelah mengetahui keberadaan kakaknya.
Tiba di depan pintu ruang meeting dia mendorong kasar pintu masuk ruangan. Semua orang yang berada di dalam ruangan menatapnya yang tiba-tiba datang, saat rapat penting yang diadakan Damar.
Damar menatap Ella yang matanya sudah sembab, dia mendekat ke arah Ella. Adiknya itu langsung menghambur ke pelukkannya. Memeluk erat tubuh lelaki yang di rindukan selama ini, Ella menagis di pelukan Damar. Membuat Damar bertanya-tanya tentang kondisi Ella saat ini.
“Lanjutkan rapatnya, aku akan keluar sebentar,” pamitnya yang berbisik pada sekertarisnya.
“Ada apa? Apa kamu sudah mengingat Kakak?” Ella mengangguk saat sudah duduk di ruang pribadi Damar.
“Kalun, Kak. Dia diculik Bima,” ucap Ella sambil mengusap air mata yang sudah kembali keluar.
“Kok bisa. Tadi pagi Kakak berangkat masih ada di rumah?”
“Tolong Kak, bantu cari Kalun, aku baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, aku tidak ingin berpisah lagi,” pinta Ella pada Damar.
Damar segera meraih ponselnya, meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan Kalun dan Bima, dia sudah tau jika Bima menginginkan harta warisan yang sudah di berikan untuk Kalun saat dewasa nantinya. Dia kembali memeluk Ella mencoba menenangkan adiknya.
“Tenanglah Kakak akan mencoba membantumu,” ucap Damar mengusap rambut Ella.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa mereka semudah itu memalsukan kematianmu, apalagi itu di rumah sakit suamimu sendiri.” Ella mendudukkan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dia menceritakan semua kejadian yang dia alami sejak awal hingga ingatannya kembali pulih, Damar mengepalkan jemarinya, dia marah karena Axel membuat adiknya kecanduan dengan obat-obatan terlarang.
“Kamu istirahatlah! Biar Kakak yang mencari Kalun, kamu jaga Riella baik-baik di rumah!” perintah Damar yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan Ella.
“Tapi Kak ..., aku khawatir dengan Kalun, aku akan pergi bersamamu Kak, aku nggak mau terjadi sesuatu dengan mereka.” Damar membuang nafas kasarnya.
“Dari dulu kamu memang tidak berubah masih saja keras kepala,” ucap Damar sambil menatap wajah Ella.
Saat dia beranjak dari kursinya, terdengar suara dering ponsel dari dalam kantong celananya, dia segera mengangkat telepon dari anak buahnya.
“Katakan, apa yang kamu ketahui!” perintahnya saat sudah menempelkan ponsel di telinga.
__ADS_1
“Kami sudah menemukan mereka bos, dan Pak Erik, juga sudah berada di sini,” ucap lelaki di ujung telepon.
“Kalian semua bantu Erik dan jangan sampai ada yng terluka sebelum aku sampai di sana!” perintah Damar.
“Kirimkan alamatnya padaku! Sekarang juga aku akan pergi ke sana,” perintah Damar lalu mematikan ponselnya.
“Tunggulah di rumah, Kakak akan membawa anakmu pulang,” ucap Damar. Namun, Ella menggelengkan kepala, dia bersikeras untuk ikut dengan Damar, dia ingin melindungi anaknya dari lelaki licik itu.
“Ya, sudah. Ayo kita berangkat sekarang!” ajak Damar berjalan mendahului Ella.
Di sisi lain, Erik masih menatap bangunan tua di depannya, dia membayangkan Kalun yang tengah ketakutan saat berada di dalam sana. Dia datang seorang diri tanpa di temani Yohan.
Erikmembuka pintu pelan, supaya tidak terdengar oleh orang yang berada di dalam gudang, karena menurut informasi dari Yohan, di dalam gudang Bima bersama 8 anak buahnya, dia mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Saat dia masuk, dia melihat Kalun yang sudah diikat dengan tali di tangan dan kakinya, matanya terpejam ntah anak itu pinsan atau karena terlalu lelah menangis, karena Erik melihat mata anaknya sudah sembab.
Saat Erik berjalan mendekat ke arah Kalun terdengar suara tepukan tangan dari belakang tubuhnya. Dia berhenti dan membalikkan badan, menghadap ke arah orang yang sudah menculik anaknya. Mata Erik menatapnya tajam, terlihat sudah merah menahan rasa amarahnya.
Bima menghentikan tepukkan tangannya, membalas tatapan licik ke arah Erik.
“Kamu datang, adikku tersayang.” Bima melangkahkan kakinya mendekat ke arah Erik, menatap adiknya yang sangat disayangi oleh kedua orangtua angkatnya.
“Coba kamu tidak hadir, pasti kekayaan orangtuamu itu hanya untukku! Dan kamu tahu siapa yang menyebabkan kedua orangtua pergi? Hah! Jadi jangan harap kalian akan hidup tenang sebelum aku membalaskan dendamku.” Bima sudah merapatkan cengkraman tangannya sendiri, dia ingin segera membalaskan dendamnya selama ini.
“Itu pasti! Tapi tidak hanya itu, aku juga akan membunuh mereka,” jelas Bima.
“Langkahi dulu aku!” Erik sudah akan memukul wajah Bima, tapi ucapan Bima menghentikan niatnya.
“Urus saja anakmu, sebelum dia menjadi seperti istrimu!”
“Apa maksudmu?”
“Hahahah ..., kamu mau tau? Axel sudah memberikan obat yang sama dengan Ella di tubuh anakmu,” ucap Bima dengan tertawa senang.
“Baj*ngan kamu ya ...,” teriak Erik sambil memukul wajah Bima, membuat Bima tersungkur di atas lantai lembab gudang tua itu. Bima lalu bersiul memanggil anak buahnya, untuk menghadapi Erik.
Erik yang mendengar langkah orang yang berjalan ke arahnya langsung menoleh ke arah Bima, Dia menatap Bima dengan senyum liciknya.
“Beraninya keroyokan,” ucapnya saat menatap ke arah 8 orang yang sudah mengepung posisinya berdiri.
“Ayo maju!” teriak Erik yang sudah mengambil posisi untuk melawan mereka.
__ADS_1
“Tunggu dulu, aku ingin melihatnya mati di depanku secara perlahan, aku tidak ingin juga main keroyokan seperti ini, lawan dia satu lawan dua.” Erik tersenyum licik ke arah Bima, saat anak buah Bima sudah mulai memberikan pukulan pertamanya, Erik yang menyadari, bisa mematahkan pukulan lelaki besar di depannya.
Perkelahian terjadi di sana, Bima terus menatap ke arah Erik yang memiliki keahlian bagus dalam pertarungan, anak buah Bima satu persatu mulai tumbang, tersisa dua orang yang tengah melawan pukulan Erik.
Erik terluka di bagian lengannya karena terkena sayatan pisau anak buah Bima, darah segar sudah membasahi baju yang dia kenakan, dia lalu melirik ke arah Kalun yang mulai membuka mata, dia tidak ingin anaknya melihat adegan seperti saat ini, dia takut akan menjadi trauma tersendiri bagi Kalun.
“Papaaaaa ...!” Kalun berteriak saat Bima melayangkan balok kayu di tengkuk Erik, dia melihat Erik jatuh di lantai, dengan posisi telungkup, Erik memegang tengkuknya, mencoba membalikkan badan dan menendang kaki Bima.
“Masih bisa melawan!” teriak Bima yang sudah terjatuh di depan kaki Erik.
Erik mulai memegang kepalanya, karena merasa sakit akibat pukulan benda tumpul yang diberikan Bima. Dia berusaha membuka matanya, supaya kesadarannya tidak hilang.
“Pamaann ..., jangan sakiti Papa ..., Kalun minta jangan sakit Paaapaaa ..., hwaa....!” ucap Kalun yang berteriak kecil sambil menagis.
“Kau dengar anakmu?” tanya Bima yang sudah berdiri di samping Erik. Terlihat tubuh Erik sudah mulai melemah, dia tidak mampu lagi untuk melawan Bima.
“Diamlah keponakkan paman yang ganteng, Papamu akan baik-baik saja,” ucap Bima yang berjalan mendekat ke arah tempat duduk Kalun diikat.
“Paaapaa ..., Kalun takut Pa ..., Paman kenapa jahatin Paapaa?” ucap Kalun saat Bima berdiri di depannya.
“Siapa? Mau kamu, atau Papamu dulu yang akan pergi!” teriak Bima yang sudah memegang rahang wajah Kalun. Dia menghadapkan wajah Kalun ke arah wajahnya, tanpa mempedulikan rintihan kesakitan Kalun.
“Pamaannn ..., aku sayang Papaa jangan sakiti Papaa ...,” ucapnya yang tidak jelas karena tekanan di rahangnya.
“Kamu mau jadi superhero untuk Papamu?” tanya Bima dengan nada marah.
“Hwaaa ..., Papaa ... Papaa ....” Kalun menangis saat melihat Erik mulai memejamkan matanya, dia mencoba berontak dari cekalan tangan Bima yang menempel di pipinya.
.
.
.
TBC
Nafas dulu deh ya ...
Votenya banyakin biar cepet updatenya🤔🤔🤔👍🙏
__ADS_1