Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Melupakan Sesuatu


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Suara keributan yang mengalun bersaut-sautan dari bibir anak-anak, kini menjadi penghibur sendiri untuk Naura yang sedang menunggu suaminya pulang ke rumah. Meskipun, suaminya sudah mengatakan jika akan pulang terlambat. Tapi, rasa cemas tak bisa sirna begitu saja. Apalagi saat melihat berita di televisi tadi sore, ia semakin sulit untuk mengendalikan kecemasannya. Berulangkali Naura menarik napas dalam demi mengusir pikiran buruknya.


“Tidak biasanya Abhi pulang terlambat.” Pernyataan dari Erik membuat Naura menoleh ke arah pria yang saat ini duduk di sampingnya.


“Tapi, Abhi juga sudah izin pulang telat, saat tadi kita makan siang,” jelas Naura. Kini menyandarkan punggungnya di sofa. Beruntung saat ini ada Shaqueena yang mendatanginya mengajak berbicara tentang kartun kesukaan gadis mungil itu. Mengalihkan pembahasan mereka mengenai Abhi.


Pikiran Naura teralihkan saat mendengar ocehan yang dikeluarkan Shaqueena. Sampai akhirnya, terdengar suara mobil yang berhenti di depan pintu rumah milik Erik.


Naura yang sadar itu mobil suaminya, tersenyum lebar ke arah pria di sampingnya, sambil berucap, “Tuh, kan dia pulang! Mau pulang ke mana coba kalau nggak ke sini.” Naura berdiri dari posisi duduknya, mengikuti Shaqueena yang berlari kecil menghampiri Abhi.


Sedangkan pria yang saat ini baru selangkah menapakkan sepatunya ke dalam rumah langsung menangkap tubuh gadis kecil itu. Mencium pipi kanan dan kiri gadis tersebut. Mengucapkan kata rindu yang seolah sudah lama tak berjumpa.


“Om, ayo beli es krim,” ucap Shaqueena, merayu mengalungkan lengannya di leher Abhi.


Abhi hanya tersenyum ke arah Shaqueena. Lalu berkata, “ajak mama Nana, coba mau nggak!” niat hati berbisik di samping telinga Shaqueena, tapi ternyata Naura bisa mendengar suara itu dengan jelas.


Naura hanya mengangguk menyetujui ajakan suaminya. “Tapi … Queena izin dulu sama papa, takut dikira hilang!” ujarnya lembut, membuat gadis itu turun dari gendongan Abhi, berlari ke arah kamar di mana orangtuanya berada untuk meminta izin.


Sedangkan di dekat pintu utama, Naura berlagak seperti seorang wanita yang baru pertama kali berkencan. Hanya menatap Abhi, sambil menekuk kedua tangannya di depan dada. “Ngeselin,” gumamnya saat dua pasang bola mata itu saling bersinggungan. Tapi detik selanjutnya pria itu menarik pinggang Naura dan memeluknya dengan erat.


“Segitu kangennya, padahal aku telat cuma dua jam.” Abhi mencoba mencaritahu tentang perasaan Naura saat ini. Ada debaran jantung tak teratur yang bisa ia rasakan saat ini. Berharap Naura akan baik-baik saja setelah ini.


“Aku tidak khawatir kalau kamu pulang telat karena kamu sudah mengatakannya padaku! Tapi, kamu melupakan sesuatu yang seharusnya kamu lakukan!” wajah Naura mendongak, menatap suaminya. “Kamu lupa memeluk dan memberikan ….”


“Loh, loh, loh … ini kalau bukan pelukan apa namanya?” Abhi tertawa lirih, lalu mendaratkan bibirnya di kening Naura. Sebenarnya dia memang lupa, akan kebiasaan yang biasa ia lakukan saat habis pulang kerja, dan itu karena Shaqueena lebih dulu menyapanya.

__ADS_1


Saat bibir berisi itu hendak turun ke hidung dan berniat menyambar bibir merah Naura. Suara gadis kecil yang berteriak sambil berlari ke arahnya memaksa Abhi untuk mengubur niat itu dalam-dalam.


“Ayo, Om!” ajak Shaqueena yang tak sabaran, dia berlari lebih dulu keluar rumah menuju mobil putih milik Abhi. Dengan cekatan tangan Shaqueena membuka pintu mobil bagian belakang, disusul Abhi dan Naura yang duduk di bangku depan.


Mobil Abhi melaju pelan, ke arah kedai es krim yang tak jauh dari rumah Erik. Tidak ada alunan music saat perjalanan. Hanya terdengar suara merdu dari keponakan Naura.


“Sepertinya seru juga ya kalau punya anak gadis,” ujar Abhi, sambil melirik spion depan, melihat kepiawaian Shaqueena yang bernyanyi menggunakan bahasa asing.


“Apapun itu, yang penting sehat aku dan calon anak kita!”


Abhi mengangguk, “Iya itu yang paling penting. Semoga apa yang terbaik dari kita menurun ke calon anak kita.”


Obrolan itu terhenti saat Abhi mematikan mesin mobilnya di depan salah satu kedai es krim. Abhi yang takut Shaqueena terlepas dari pengawasan, memilih menggendong balita tersebut.


“Less sugar, vanilla toping strawberry ya, Mbak!” minta Naura pada pelayan. Sedangkan Abhi dan Shaqueena memesan rasa yang sama, coklat toping chocochpis.


“Om, kapan-kapan kalau Shaqueena ulang tahun ajak ke sini lagi, ya?” minta Shaqueena, saat mereka bertiga sudah duduk.


“Minggu depan, bareng sama Baim! Opa bilang mau bikin pesta besar untuk kita, dan Om Abhi harus datang! Nanti aku nggak mau jadi pengacara kalau Om nggak datang!” ujarnya tanpa beban.


“Nggak janji, deh! Om kan sibuk. Sama seperti papa Kenzo.” Abhi berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan pada Shaqueena.


Naura hanya diam mendengarkan obrolan dua orang yang seperti anak dan orangtua itu. Sampai ia merasa jika dirinya diabaikan oleh suaminya, beruntung pelayan segera mengantarkan pesanannya jadi ia bisa meluapkan kekesalannya dengan menikmati es krim.


Paham Naura sedari tadi diam, kini Abhi meraih telapak tangan istrinya. “Lagi sariawan ya, dari tadi kenapa diam?” bisik Abhi yang kini duduk di sampingnya. Dia baru punya waktu untuk mengajak bicara Naura, karena sedari tadi ada Shaqueena terus bertanya padanya.


“Nggak. Lagi males bicara saja. Seperti ada lem yang menyatukan kedua bibirku.” Naura memasukan sesendok es krim ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Abhi yang berada di sampingnya hanya merespon dengan mengusap rambut hitam Naura.


“Yang, ada yang ingin aku katakan sama kamu!” pandangan Abhi terus melirik ke arah Shaqueena. “ini mengenai kasus pak Bahtiar.”


Wajah Naura mulai serius menatap suaminya saat mendengar nama tersebut.


“Kenapa? Kamu nggak terlibat, kan?” selidik Naura yang merasa janggal dengan sikap Abhi.


“Apa menurutmu aku pengacara seperti itu?” tanya Abhi, dalam hatinya justru mengkhawatirkan Naura. Takut jika wanita itu tidak percaya padanya. “Aku tidak peduli dengan pendapat orang di luar sana tentang aku. Tapi, aku tidak mau kamu seperti mereka,” terangnya berusaha mengingatkan.


“Apa ini ada hubungannya dengan penculikanku kemarin?” tanya Naura.


Abhi memilih mengabaikan pertanyaan itu. Dengan cepat ia menyendokan es krim vanilla itu dan menyuapkan ke mulut istrinya. “Apapun masalahnya kita hadapi berdua.”


Naura mengangguk, setuju dengan pendapat suaminya. Ia meletakan sendoknya, selera makan es krim di tangannya pun melebur. Ia berganti memeluk tubuh Abhi dengan erat.


Abhi justru terkekeh saat melihat Shaqueena menutup matanya dengan kedua tangan mungilnya.


“Kata papa kalau lihat mama papa pelukan harus tutup mata.” Shaqueena berucap sambil masih menutup matanya dengan kedua tangan. Mendengar itu Naura lekas melepas pelukannya.


“Semua akan baik-baik saja. Kamu jangan terlalu stress memikirkan hal itu! Kamu harus jaga anak kita!” tangan Abhi mengusap perut Naura yang masih datar. Hanya sebentar Abhi melakukan itu, karena setelahnya, saat ia mendongak. Matanya melihat seorang pria yang berdiri tak jauh darinya.


Naura yang merasa aneh dengan cepat melepas pelukannya, mengikuti arah pandang Abhi yang tertuju ke arah satu pria yang mengenakan jaket bomber warna hitam.


“Aku temui dia dulu, ya! Kamu jaga Queena di sini!” bisik Abhi. Sambil beranjak dari meja yang mereka tempati.


“Bhi!” panggil Naura, berusaha menahan tangan Abhi.

__ADS_1


“Semua akan baik-baik saja!” lirih Abhi sambil melepas telapak tangan Naura yang tak ingin lepas darinya.


...-------- BERSAMBUNG --------...


__ADS_2