
Lanjut ya...👍
.
.
.
.
Dua bulan kemudian.
Usia kehamilan Ella sudah memasuki hari-hari melahirkan, Ella memutuskan untuk melakukan proses operasi cessar tepat di hari ulang tahun suaminya, selain sebagai hadiah, Erik juga bisa selalu mengingat hari ulang tahun anaknya.
Sudah satu minggu Ella mengalami insomnia, mungkin dia takut saat proses melahirkan nanti, bahkan Erik selalu memberikan obat penenang dosis rendah, agar bisa mengatasi kekhawatirannya. Kakinya terlihat bengkak saat kehamilannya memasuki usia 35 minggu kemarin, Erik sebagai suami siaga selalu memijit jari kaki istrinya yang terlihat seperti jempol semua itu. Perhatiannya pada Kalun juga mulai menurun karena Erik selalu menegur jika dia terlalu lama menggendong anak lelakinya itu.
Sore ini Ella tengah berada di taman halaman rumahnya, melihat Kalun yang sedang belajar berjalan dengan Erik. Mereka berdua menghampiri Ella yang tengah melamun menatap kosong ke arahnya.
“Mam... Mam... Mam ...,” ucap Kalun sambil menyentuh tangan Ella, Ella kaget dan tersenyum ke arah kedua lelakinya.
“Hai Sayang ..., sini ikut Mama,” ucap Ella sambil membuka tangannya ingin mengangkat anak lelakinya.
“Nggak usah biar sama aku saja, kasian anak kita yang di dalam,” ucap Erik sambil duduk di samping Ella.
“Mas sudah dapat nama untuk anak kita?” tanya Ella memastikan, karena sesuai perjanjian jika dia melahirkan anak cewek Erik yang akan memberikan nama untuk anaknya.
“Sudah dong!”
“Siapa?”
“Mau tau?” Ella mengangguk.
“Riella.” Ella tersenyum mendengar nama itu.
“Apa kamu suka?”
“Apapun yang kamu berikan aku sangat menyukainya,” jawab Ella.
“Termasuk memberikan anak yang cantik dan tampan untukmu?” ucap Erik berusaha menggoda Ella.
“Iya. Aku sangat menyukainya, bagaimana tidak diberi anugrah setampan Kalun dan diberi anugrah suami mesum sepertimu,” ucap Ella sambil mencubit pipi Erik, “Pah...” lanjutnya memanggil nama suaminya.
“Hmm... Apa?” tanya Erik menoleh ke arah Ella, tersenyum jahil ke arah istrinya.
__ADS_1
“Dua anak saja ya,” ucap Ella singkat.
“Kita serahkan pada Allah..., hehehe...” jawab Erik diakhiri kekehan.
“Mam... Mam... Mam... Mama,” terdengar suara Kalun ikut bersuara.
“Kamu sudah bisa memanggil Mama?” ucap Ella sambil mencium gemas anaknya, “Sekarang panggil Pa-pa...” ucap Ella mengajari anaknya.
“Mam... Mamma... Mamma” Ella terkekeh saat anaknya tidak mau menyebut kata ‘papa’.
“Mammma...” ucap Kalun sambil bertepuk tangan. Erik dengan gemas mencium perut anaknya membuat Kalun tertawa keras khas bayi.
Ella terlihat bahagia saat melihat kedua jagoannya itu tertawa bahagia, mereka berdua adalah pengobat letihnya di tengah lelahnya mengandung anak keduanya ini.
“Barangnya sudah siap semua Ma?” tanya Erik memastikan karena nanti malam mereka akan berangkat ke rumah sakit.
“Sudah sepertinya?! karena Bu Asih yang menyiapakan,” jawab Ella.
“O ya Pa..., selamat ulang tahun yang ke 41 ya, aku takut kelupaan jika harus mengucapkan besok saat proses operasi cessar,” ucap Ella.
“41 ya..! Tapi masih keren begini.” Ella tertawa saat mendengar ucapan suaminya.
“Maaf nggak bisa 41 ronde, gantinya baby girl saja,” ucap Ella yang membuat Erik teringat kejadian satu tahun yang lalu.
“Ayo masuk sudah senja!” ajak Erik yang sudah berdiri.
“Banyak nyamuk loh..., nggak kasian sama kulitmu, ayo nanti malam Mas mau kasih hadiah special buat kamu, kamu wajib tampil cantik malam ini,” ucap Erik merayu Ella sambil meraih tangan Ella untuk dibawa masuk ke dalam rumah.
Akhirnya Ella menurut dan mengikuti Erik dengan langkah berat karena membawa anak perempuannya. Ella masuk ke dalam kamarnya, mempersiapkan diri untuk dinner romantis dengan suaminya. Dia ingin tampil cantik malam ini, berdandan sendiri tanpa bantuan MUA. Jihan yang hendak membawa Kalun ke rumahnya juga sudah tiba. Erik juga sudah siap, dia menunggu Ella di ruang keluarga dengan tuxedo berwarna grey.
“Sepertinya akan mewah ya, dinnernya?” tanya Ella saat sudah sampai di ruang keluarga.
“Cuma kita berdua, tapi aku sudah menyiapkan ini berbulan-bulan,” ucap Erik sambil mengenggam tangan Ella. Ella menatap anaknya yang berada di gendongan Jihan.
“Sayang, jangan berpikir Mama tidak mencintaimu, maaf ya karena sekecil ini kamu sudah akan dipanggil Kakak.” Ucap Ella, “Pa ..., bolehkah aku menggendong sebentar saja?” tanya Ella yang menoleh ke arah Erik, Erik mengangguk menyetujui. Dengan erat Ella membawa Kalun ke dalam pelukkannya, membisikkan kata-kata ‘maaf’ karena dia merasa kehilangan moment pertumbuhan Kalun.
“Sudah ayo! Besok juga ketemu lagi,” ajak Erik.
“Mam...mam...Mamma...” celoteh Kalun saat melihat Ella dan Erik pergi.
Ella yang mendengar itu dadanya terasa sesak, karena meninggalkan anaknya. Dia yang dipapah Erik menoleh ke arah Kalun sambil melambaikan tangannya, bayi itu juga merespon apa yang dilakukan Ella.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil, menuju ke tempat yang sudah disiapkan oleh Erik. Ella masih terdiam saat berada di dalam mobil, tidak mampu berucap karena masih merasakan kesedihan berpisah dengan anaknya.
__ADS_1
Tigapuluh menit kemudian mereka tiba di dermaga, yang terdapat kapal pesiar di depannya.
Erik berjalan pelan sambil mengenggam tangannya.
“Jangan bilang ini milikmu?” tanya Ella saat mulai melangkahkan kaki ke dalam kapal.
“Yohan yang beli bukan aku.”
“Syukurlah...,” ucap Ella yang mengikuti langkah Erik menuju lantai paling atas.
Di sana sudah tersedia meja makan yang berhias lilin elektrik, terasa sepi tidak ada orang sama sekali di sana. Erik menarik kursi untuk istrinya mempersilahkan istrinya untuk duduk dan menikmati santapan malam. Tepat pukul 8 mereka sudah menyelesaikan makan malamnya, tapi Erik masih ingin bersama Ella di kapal yang sebenarnya sudah menjadi miliknya itu.
“Mau dansa?” Ella tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
“Mana bisa dansa, perut saja sudah sebesar ini.” Erik berdiri dan menyalakan instrumen yang bisa terdengar di lantai yang Ella gunakan.
“Setidaknya berdirilah sebentar, kita bisa menikmati waktu romantis ini, sebelum kedua anak itu menganggu kita.” Ella yang mendengar itu segera meraih tangan suaminya, meminta suaminya untuk membantunya berdiri.
“Iya sepertinya kesusahan jika kita berdansa,” ucap Erik yang tidak bisa mendekat ke arah Ella karena perut Ella sudah menempel di perutnya, “Sini lepas saja sepatumu,” lanjut Erik sambil berjongkok.
“Begini lebih baik,” ucap Erik sambil memeluk Ella dari belakang.
“Sampai kapan kita akan di sini dan seperti ini?” tanya Ella yang sudah dipeluk Erik.
“Sampai pagi,” jawab Erik singkat. Dia masih menikmati aroma sampo yang ada di rambut Ella.
“Kamu jangan takut ya, saat masuk ke dalam ruang operasi, percaya pada Mas semua akan baik-baik saja,” ucap Erik supaya Ella lebih tenang karena setelah acara malam ini mereka akan pergi ke rumah sakit untuk persiapan besok pagi operasi cessar anak keduanya.
“Iya aku mulai lebih tenang kok, aku nggak takut, aku hanya takut tidak bisa membagi waktuku saja dengan Kalun,” ucap Ella sambil menyandarkan kepalanya di dada Erik.
“Kamu terbaik buatku dan buat anak kita,” ucap Erik.Dan Ella hanya terkekeh saat mendapat pujian itu.
“Kamu juga, terbaik mesumnya, terbaik kuatnya, tapi terimakasih untuk cintamu dan terimakasih sudah mendampingiku saat aku kesulitan membawa anakmu, hehehe...” ucap Ella sambil menatap ke arah laut.
“Itu sudah kewajibanku, sesuai janji pernikahan kita,” ucap Erik, “Aku mencintaimu,” lanjutnya sambil membalikkan tubuh Ella. Namun, tiba-tiba Ella terpekik saat Erik mengangkat tubuhnya dan menaruhnya di atas meja. Dia tidak ingin istrinya itu terlalu lama berdiri, hingga membuat kakinya semakin besar karena terlalu capek. Hidung mereka bersentuhan, matanya saling menatap sangat dekat, bahkan nafasnya saling mengenai wajah satu sama lain.
“Siapa yang akan memulai?” tanya Erik yang sudah meletakkan tangannya dileher belakang Ella. Tanpa aba-aba Ella langsung mencium bibir suaminya itu, mencium lembut bibir suaminya yang masih merah karena tidak pernah tersentuh rokok maupun alkohol. Ciuman itu berlanjut, karena mereka sama-sama menikmatinya, hingga Ella merasakan kram hebat di perutnya Erik baru melepaskan ciuman yang sudah berubah panas itu.
“Pah...,” kaget Ella saat melihat ada air yang mengalir dari dalam dirinya.
“Tenanglah kita akan segera ke rumah sakit, jangan panik semua akan baik-baik saja,” ucap Erik sambil menenangkan dan mengangkat tubuh Ella segera turun dan membawa Ella ke dalam mobil.
TBC...
__ADS_1
Komentar yang baik ya! 😘😘😘
Jangan lupa untuk like dan vote.