Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Pulang


__ADS_3

Hari ini, hari terakhir Erik dan Ella menjalani bulan madunya. Ella terlihat bahagia, akhirnya setelah menahan rindu 14 hari lamanya dia hari ini bisa bertemu lagi dengan kedua anaknya.


Berbeda dengan Erik yang sedari tadi menekuk wajahnya, dia masih ingin berlama-lama di Paris dengan Ella, mengingat jika nanti di rumah dia pasti akan merasa terganggu dengan anaknya ketika ingin bermesraan. Erik yang tengah duduk di sofa, tersentak saat Ella melingkarkan tangan di lehernya.


“Kamu melamun ya?” Ella bertanya sambil mencuri ciuman pipi Erik.


“Nggak! Apa yang aku pikirkan, kamu sudah di sini,” jawab Erik sambil mengusap rambut Ella dengan tangan kirinya. Ella tersenyum saat mendengar ucapan Erik.


“Kapan -kapan kita bisa ke sini lagi kok.”


“Benarkah?” sahut Erik senang saat mendengar ucapan istrinya.


“Iya, kita akan datang ke sini, membawa anak-anak,” jawab Ella berbisik di samping telinga Erik.


Erik langsung kecewa saat Ella menyebut kedua anaknya. Sudah pasti keriwuhan akan terjadi jika anaknya akan ikut.


“Kenapa sih, sepertinya kok sedih banget gitu Pap?” tanya Ella yang sudah berpindah di samping tempat duduk Erik. Erik tidak menjawab ucapan Ella, dia justru memeluk erat tubuh Ella.


“Kalau kita pulang, pasti waktu berduaan kita akan terganggu ya kan?” Ella sontak mencubit hidung suaminya, dia merasa gemas sendiri dengan kelakuan Erik yang super manja, dan tidak ingin jauh darinya itu.


“Pap mereka anak kita, wajar saja jika mereka menganggu kita, jangan khawatir mereka akan mengambil perhatianku, suamiku ini akan tetap jadi prioritasku,” jelas Ella sambil memeluk tubuh Erik dari samping.


“Aku pegang ucapanmu, kamu harus datang saat aku berteriak memanggilmu,” pesan Erik yang juga membalas pelukan Ella.


Mereka berdua lalu bersiap untuk pulang ke Jakarta, Erik sengaja membawa Ella menaiki pesawat komersil, sudah lama dia merindukan menaiki pesawat komersil dengan Ella, dan akhirnya hari ini bisa terwujud. Ntah kenapa Erik bisa berubah seperti itu, padahal dia bisa saja meminta Yohan untuk mengirimkan pesawatnya.


Erik terus menatap wajah yang tengah terlelap di kursi sampingnya. Dia merapikan anak rambut Ella, senyumnya terus terukir setiap menatap wanita yang sangat di cintainya itu.


“Bahkan kata I love you, tidak cukup untuk mewakili isi hatiku, jika ada kata lain di atas itu, aku akan mengucapkannya setiap hari,” lirihnya sambil mengusap pipi Ella.


Meski mereka menaiki pesawat komersil, Erik tetap memilih tiket bussines class. Jadi mereka tetap nyaman dan aman untuk sekedar tidur berpelukkan.

__ADS_1


Kurang lebih sudah 15 jam mereka berada di atas awan. Sungguh membosankan ternyata menaiki pesawat komersil, Erik yang merasa bosan sudah mondar-mandir tak jelas, ingin bercinta dengan istrinya juga tidak mungkin, apa kata orang nanti jika merasakan getaran dalam kabinnya. Dia hanya mampu berpelukkan sambil mencium gemas pipi istrinya.


Pesawat tiba di Jakarta, tepat pukul 8 pagi.


“Selamat datang Jakarta aku merindukan kemacetan di sini.” teriak Ella sambil berlari kecil mendahului Erik. Erik hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mencekal lengan Ella supaya menghentikan tingkahnya.


“Jangan berlari! Kita sudah bekerja keras, takutnya karena kamu tledor, kita harus kehilangan calon anak kita.” Ella menekuk wajahnya sambil menajamkan tatapannya ke arah Erik.


“Menghalu jangan terlalu tinggi, takutnya kamu kecewa,” jawab Ella sambil melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, yang kemungkinan Yohan sudah menunggunya di luar pintu keluar.


Erik mengikuti langkah Ella, melindungi istrinya dari tatapan mata lelaki liar. Dia merangkul pinggang Ella, dalam hatinya sungguh tidak rela, jika kecantikan istrinya itu dibaginya dengan lelaki yang mereka lewati, Erik memakaikan topinya ke kepala Ella. Ella yang mengerti hanya menurut dengan tingkah suaminya, yang over protektif itu.


Ella menghembuskan nafas leganya, saat dia sudah berada di dalam mobil yang dipakai Yohan untuk menjemputnya.


“Seperti dapat undian kamu itu!”


“Biar saja, aku bahagia akhirnya aku tidak terpisahkan lagi dengan mereka,” jelas Ella, sambil mencium pipi Erik, membuat Erik terkekeh, saat melihat Yohan melihatnya dari spion kaca depan.


Erik terkekeh saat melihat wajah malu Ella. Dia lalu membawa Ella kepelukkannya.


“Nggak usah malu, Yohan juga sudah mengerti, dia sekarang juga sudah beristri, benar kan, Yo!” ucap Erik sambil memainkan matanya ke arah pantulan wajah Yohan.


Cukup lama Ella berada di dalam mobil, karena terjebak macet yang lumayan panjang. Ella terus melihat ke arah jam tangannya. Dia berpikir jika jam segini pasti anaknya sedang berada di sekolah.


Mobil sampai di rumah mewahnya, Ella langsung membuka pintu, meninggalkan Erik dan beberapa koper barang bawaannya.


“Assalamu’alaikum anak-anak,” salamnya ketika masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam Bu ... anak-anak baru di sekolah,” ucap pelayan yang menghampiri Ella dengan berlari kecil. Ella langsung cemberut menoleh ke arah Erik.


“Sabarlah! Sebentar lagi mereka akan pulang,” ucap Erik lalu membawa Ella ke kamar untuk beristirahat. Ella menurut dan menunggu kedua anaknya di dalam kamar. Dia menyiapkan oleh-oleh untuk kedua anaknya yang sudah dia beli ketika berada di Paris.

__ADS_1


“Kamu nggak capek?” tegur Erik saat Ella sibuk menyiapkan oleh-oleh untuk anaknya.


“Nggak.” Jawabnya tanpa melihat Erik yang terus menatapnya.


Ella merebahkan tubuhnya di sofa setelah selesai menyiapkan oleh-oleh untuk anaknya. Dia menyalakan tv di depannya, melihat serial drakor tebaru sambil menunggu kedua anaknya pulang. Erik yang sudah terlelap di kasur empuknya, tidak melihat Ella yang tengah menangis karena terbawa alur cerita yang ditonton Ella. Dia menangis sesenggukkan, sambil mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya dengan tisu.


“Maamaaa ....” terdengar suara kedua anaknya saat pintu kamar terbuka. Ella tersenyum senang, sambil membuka kedua tangannya untuk memeluk Riella dan Kalun.


“Mama kangen kalian berdua,” ucap Ella sambil memeluk kedua anaknya, dia menghirup aroma tubuh Riella dan Kalun yang sangat dia rindukan.


“Apa Mama habis menangis? Kenapa air mata Mama keluar?” tanya Kalun yang menatap mata Ella. Berbeda dengan Riella yang sudah menaiki punggung Erik yang tengah terlelap.


Ella menggelengkan kepalanya, sambil membersihkan air matanya yang sudah sedikit mengering.


“Apa Papa jahat dengan Mama, apa Papa menggigit Mama lagi seperti dulu?” tanya Kalun yang sudah menelisik leher Ella.


“Hahaha ... jagoan Mama ini, Mama baik-baik saja Kalun. Tidak ada yang berani menyakiti Mama, karena mereka takut dengan jagoan Mama satu ini,” jelas Ella sambil menarik pelan hidung mancung anaknya.


Ella lalu membawa Kalun ke ranjang di mana Erik berada, Riella memang lebih dekat dengan Erik, sedangkan Kalun lebih dekat dengan Ella.


Mereka saling bertukar cerita selama tidak bertemu, Erik dan Ella hanya jadi pendengar setia saja, mengingat Riella yang memang sangat cerewet. Riella dan Kalun terlihat bahagia ketika Ella menyerahkan oleh-oleh pada kedua anaknya.


“Pa, Ma katanya kalau pulang akan bawa dedek?”


Erik dan Ella hanya saling menatap ketika mendengar pertanyaan dari Riella. Mereka bingung mencari jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan anaknya.


“Emmm ... adiknya Riella sedang tumbuh di perut Mama.” Erik berucap sambil mengusap perut Ella.


TBC.


Benar hamil nggak ya? Selama ini insting Erik selalu benar. Saya butuh jawaban ya, buat membantu saya melanjutkan ceritanya.😀

__ADS_1


Jangan lupa untul like dan vote ya.👍🙏


__ADS_2