Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Pernikahan Dipercepat


__ADS_3

Happy reading, lanjut ya ... jangan lupa untuk like dan vote👍😊


.


.


.


.


Flashback


Haikal segera meninggalkan Erik yang berada di makam yang dia ketahui bahwa itu makam Ella, dia harus segera berangkat ke Australia, karena anak buahnya sudah mendapatkan informasi tentang orang yang mirip dengan Ella.


Bodohnya dulu dia tidak melanjutkan tuntutannya atas meninggalnya Kenzie pada Axel, jadi lelaki biad*ap itu hanya sebentar saja masuk ke dalam penjara. Dia segera meninggalkan kota Jakarta pagi itu juga.


.


.


.


Sidney, Australia.


Haikal sudah menerima laporan dari orang kepercayaannya, dia datang sendiri meninggalkan Nindi dan Kenzo bersama kedua orang tuanya. Dia semakin marah saat mendengarkan bahwa Ella di beri obat untuk melupakan masa lalunya, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya menyelamatkan Ella dan membalaskan dendam atas kematian Kenzie.


“Kamu tahu Dokter Fera kan? segera konsultasi dengannya, dan bawa dia secepatnya menemuiku,” perintah Haikal saat anak buahnya itu tidak melanjutkan laporannya.


“Kapan mereka akan membawanya ke Jakarta?” tanya Haikal pada lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam di depannya.


“Dalam waktu dekat, kemarin saya sempat mendengar jika mereka akan membawanya sekitar satu minggu lagi,” jelasnya.


“Ganti semua obat yang diberikan Axel pada Ella, dan pastikan orang kita yang mengurus semuanya, jangan sampai orang gila itu memberikan obat apapun pada Ella,” lanjutnya.


“Baik Pak ...” lelaki bertubuh kekar itu pergi meninggalkan ruangan Haikal, karena ingin segera melaksanakan tugasnya.


“Ternyata seorang dokter sepertimu juga bisa melakukan kesalahan, bagaimana bisa kamu menganggap istrimu sudah mati, sedangkan dia berada di sini menjadi boneka orang lain,” ucap Haikal sambil meremas kertas yang baru saja dia terima.

__ADS_1


“Maafkan aku Ken, aku tidak bisa benar-benar menjaganya, mungkin dia tidak akan seperti ini jika kamu masih bersamanya,” ucapnya lirih sambil mengamati layar ponselnya.


Satu minggu kemudian,


Ella dan Haikal sudah kembali ke Jakarta dengan pesawat yang berbeda, Ella sekarang sudah tinggal di rumah yang sudah di sediakan oleh Axel, bahkan banyak pelayan yang sudah di utus untuk menjaga dirinya, Haikal yang saat itu baru tiba langsung memberitahu Nindi dan keluarganya, jika Ella masih hidup dan menjelaskan kondisi Ella yang sebenarnya pada mereka, dan sekarang Ella berada di kendalinya meski banyak orang suruhan Axel yang mengikutinya, sejak itu Haikal mencari dokter terbaik untuk Ella, dia ingin memulihkan kondisi Ella terlebih dahulu sebelum bertemu dengan suaminya, bahkan obat-obatan yang dibawakan Axel dia ganti dengan bentuk dan warna yang sama, dia juga mencari keberadaan bu Lasmi untuk membantunya mengurus Ella, awalnya bu Lasmi menolak, karena tidak ingin mengurus Ella, karena akan membuat masalah baru lagi untuknya, tapi Haikal sudah memberikan jaminan padanya, bahwa dia akan baik-baik saja.


Semakin hari, kondisi Ella semakin membaik, bahkan ingatannya sudah mulai pulih, tapi saat sakaunya kambuh, nyawanya seperti akan lepas dari tubuhnya, dia tersiksa karena setiap hari Ella mengalami penderitaan akibat obat yang di berikan Axel, diganti dengan dosis yang lebih rendah, dan hanya bu Lasmi yang ada saat dia tersiksa seperti itu.


Ingatannya sedikit demi sedikit mulai kembali, saat dia bertemu dengan Nindi. Nindi menceritakan tentang masa lalu mereka berdua, saat mereka berkuliah di Australia, sampai Ella melahirkan kedua anaknya.


Setelah hampir sebulan dia bisa mengingat suami, dan anaknya. Mungkin Allah memberikan ajaiban untuknya, dia bisa kembali mengingat siapa dirinya dan keluarganya, padahal obat yang dulu diberikan Axel tidak akan secepat itu menghilang.


Demi mengetahui apa yang akan dilakukan Axel selanjutnya, dia hanya bisa menuruti kemauan lelaki itu, dengan masih berpura-pura lupa. Dia hanya ingin melindungi orang yang dicintainya saat ini.


Flashback off


Erik melajukan mobilnya ke rumah Damar untuk menjemput kedua anaknya, dia ingin mengajak Riella dan Kalun kembali ke rumah Jihan. Saat tiba di rumah Damar, dia disambut teriakkan Riella yang berlari menghampirinya.


“Papa semalam ke mana? Kok nggak bobo sama kita?” tanya Riella yang sudah berada di gendongan Erik.


“Papa menemani teman Papa yang sedang sakit, Riella nggak ngrepotin Bibi Sashi, kan?” Riella menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


“Biarkan mereka di sini dulu, aku tidak mau mereka menjadi incaran Bima,” ucap Damar yang baru saja masuk ke dalam rumah. Erik hanya menatap lekat ke arah Damar, dia juga membenarkan ucapan Damar saat ini, karena terlalu bahaya jika membawanya pergi ke rumah Jihan.


“Apa itu tidak akan merepotkanmu, aku akan sangat senang jika kalian mau mengasuh mereka,” ujarnya sambil mencoba mengambil Galang dari gendongan Damar, Riella yang melihat Erik mulai perhatian dengan Galang mulai marah-marah karena rasa cemburunya pada lelaki yang Erik berada dalam gendongan Erik.


“Mama memintaku untuk segera datang, dia akan membicarakan pernikahanku dengan Nadia,” jelas Erik sambil menatap Galang yang berada di pangkuannya, tidak memperhatikan anak gadisnya yang sudah mengerucutkan bibirnya.


“Bilang saja jika Ella masih hidup,” sahut Damar.


“Bagaimana jika Bima semakin ingin mencelakai Ella jika dia tahu, aku sudah menemukan Ella?”


“Lalu apa kamu mau menikahi Nadia?”


“Nggaklah ...! Dia sedang hamil dengan mantan suaminya, masak aku akan menikahinya, memangnya aku bodoh? Meski aku tahu istriku sudah meninggalkan aku, aku juga tidak akan melakukannya dengan wanita lain.” Damar hanya tersenyum tipks ke arah Erik. Kesetiaan adik iparnya ini memang patut diacungi jempol tapi, dia kadang berubah menjadi orang bodoh, yang tidak bisa berpikir jernih.


“Pergilah biar mereka aku yang menjaga, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka!” usir Damar, sambil mengambil Galang dari tangan Erik.

__ADS_1


“Riella sama Kalun, bobo di tempat Paman lagi ya, Papa ada urusan sebentar,” pamit Erik.


“Tapi Papa, nanti bobo sama Riella kan?”


“Iya, Papa akan secepatnya pulang, dan memeluk anak Papa yang manja ini,” jelas Erik, lalu berjalan keluar, meninggalkan Riella yang tengah melambaikan tangan padanya.


Saat tiba di rumah orangtuanya, terlihat wajah Jihan yang sudah tidak bersahabat, dia menatap tajam ke arah anaknya yang baru saja turun dari mobil. Lalu menarik telinga Erik dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Malu Ma, Erik bukan bocah lagi, masih saja main jewer-jeweran,” keluhnya sambil mengusap telinganya yang sudah memerah.


“Pernikahanmu tinggal dua minggu lagi, berhentilah menyibukkan dirimu,” ucap Jihan saat sudah duduk di ruang keluarga bersama Erik.


“Ma, dengarkan Erik baik-baik, Nadia hamil ...”


“Bagus dong,” sahut Jihan.


“Hamil sama mantan SU-A-MINYA!” ucap Erik yang memberikan penekanan pada kata suami, membuat Jihan menutup mulut karena tidak percaya jika Nadia tengah hamil dengan orang lain, padahal dia sudah menyebar undangan ke teman arisannya.


“Kok bisa?”


“Bisa, namanya juga cinta, apa yang dia minta pasti juga akan diberikan,” jelas Erik sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, “Mama pengen Erik nikah?” tanya Erik.


“Ya, jelaslah!”


“Siapkan 2 atau 3 bulan lagi aku akan menikah, dan Mama pasti akan kaget wanita siapa yang akan aku nikahi.”


“Siapa? Pelac*ur jalanan yang sedang mangkal!” maki Jihan pada Erik.


“Bukan Mama ..., tunggu waktu yang tepat Erik akan menceritakan semuanya.”


“Baiklah, Mama akan menunggumu, jika dalam 2 bulan kamu tidak membawa calonmu ke hadapan Mama, Mama pastikan satu minggu setelah itu aku akan memaksamu untuk menikah,” ancam Jihan pada lelaki di sampingnya.


Dan Erik menyetujui permintaan Jihan yang akan menjodohkannya dengan wanita lain, dia harus bisa lebih cepat lagi untuk menyembuhkan istrinya dan memulihkan kembali ingatan Bella, hanya itu yang dia inginkan saat ini.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2