
...Selamat Membaca...
Saat mendengar suara adzan berkumandang, Abhi lekas beranjak dari ranjang. Ia terlebih dahulu membangunkan istrinya sebelum berjalan ke arah kamar mandi. Naura masih tak berkutik di bawah selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Gadis bukan perawan itu seolah tengah pinsan, karena ulah suaminya semalam.
Saat Abhi selesai membersihkan diri, ia mengusap wajah istrinya dengan air yang masih tersisa di tangannya. “Bangun, Sayang … sudah hampir jam setengah lima loh!” bisiknya.
“Aku M, Bhi!” sahut Naura yang malas beranjak dari ranjang.
“Lagi hamil juga bilang M. Ayo bangun, jangan malas! Awas saja kalau aku balik kamu belum bangun! Aku mandiin kamu di kamar mandi!” ancam Abhi yang membuat Naura langsung membuka matanya.
Dengan gerakan malas Naura bangun dari posisi tidurnya. Dia belum menyadari jika tubuhnya belum tertutup sehelai kain apapun. Dan itu membuat pria yang kini hampir berada di bibir pintu menggeleng kepala cepat menertawakan sikap lucunya.
Saat matahari masih malu-malu menampilkan sinarnya, Abhi justru sibuk membidik foto USG yang ada di tangannya saat ini.
📨 Sehat-sehat ya, Ma. Biar bisa gendong anaknya Abhi. Doain semuanya lancar🤗
Pesan singkat itu Abhi kirimkan untuk mamanya. Karena semenjak istrinya hamil, ia memang belum pernah mengabari Widya. Awalnya ia pikir nanti saja setelah usia kehamilan empat bulan. Tapi, Abhi sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia itu.
Beberapa menit kemudian Widya membalasnya dengan voice note.
“Abhi, mama seneng banget membaca pesanmu ini, bilang sama Naura buat jaga cucu mama. Nurut sama orang tua, mama Ella pasti cerewet tentang kehamilannya, tapi itu juga demi kesehatan ibu dan calon anak kalian. Maaf mama pakai VN di sini lagi ramai. Maklum kalau pagi pada datang orang belanja.”
Naura yang ikut mendengar pun hanya bisa menaikan kedua alisnya, segera ia meraih ponsel Abhi. “Iya, Ma. Doain lancar ya. Maafin Naura belum bisa datang ke Siantar.”
“Iya, Sayang. Sudah ya, nanti kalau longgar mama bakalan telepon kamu. Mama ceritain bagaimana ngidamnya mama waktu hamil Abhi.”
Setelah itu tidak ada suara lagi yang bisa Naura dengar. Ia hanya bisa tersenyum cerah sambil melirik Abhi dengan ekor matanya.
Meski sedang hamil, Naura harus tetap mengendalikan kantor advokat-nya. Abhi yang bertindak sebagai suami selalu memantau kasus-kasus apa saja yang ditangani istrinya. Pria itu tidak mau Naura stress karena terlalu memikirkan kasus klien-nya.
__ADS_1
Pagi ini, sebelum Abhi berangkat ke kantor, Ia terlebih dahulu mengantar Naura. Sejak mengetahui Naura hamil, Abhi tidak mengizinkan Naura untuk mengemudikan mobilnya sendiri. Kalau pun dia tidak bisa mengantar Naura ia akan meminta sopir untuk mengantarkan istrinya.
“Jaga diri, sama jaga calon anak kita!” pesan Abhi saat Naura hendak turun dari mobil.
“Oke, Sayang. Kamu juga, kabari aku kalau sudah tiba di kantor, ya!” Naura kemudian membuka pintu mobil dan meninggalkan Abhi begitu saja, Ia sudah terlambat. Sudah ada tamu penting yang harus ia temui dan sekarang mereka sudah menunggunya di ruang tamu. Tanpa melihat mobil Abhi berlalu ia pun lekas melangkah masuk ke gedung.
“Selamat pagi, Mbak.” Terdengar suara sapaan ramah dari karyawan Naura yang duduk di meja paling depan. Dengan senyuman ramah, Naura membalasnya kemudian segera naik ke lantai dua.
Saat Naura masuk ke ruang tamu yang ada di kantornya, ia menyambut ramah tamu yang hadir di sana. Ia terkejut saat melihat pak Martinus dan Maria yang saat ini duduk di meja tamunya.
“Saya pikir siapa tamunya, Pak, Bu!” ujar Naura, canggung, menatap keduanya bergantian. Ia paham pasti dua orang ini ingin membahas masalah Olivia.
“Clara, tolong bawakan minum untuk tamu kita!” perintahnya pada wanita yang duduk tak jauh dari ruang tamu. Wanita yang diperintah pun lekas berdiri dan melaksanakan tugas yang diperintahkan Naura.
“Lama kita tak bertemu,” ucap Naura lalu duduk di kursi favoritnya. Kehamilannya yang baru menginjak 3 bulan belum terlihat, dua orang di depannya, juga tidak mengetahui jika Naura sedang hamil.
“Pengacara Naura,” panggil Martinus dengan nada lembut.
“Kami minta tolong pada kamu. Cabut tuntutan atas putri saya Olivia,” minta Maria dengan suara lembut.
Tampak jelas lingkaran hitam yang mengelilingi mata wanita di depan Naura saat ini, seolah memberitahu Naura, jika wanita itu tidak tertidur nyenyak, memikirkan putrinya.
“Maaf, Pak, Bu … saya tidak bisa. Kasus mereka sudah masuk ke persidangan! Saya benar-benar tidak bisa mencabutnya! Biarkan putri bapak dan ibu menerima hukuman yang memang pantas dia terima. Sesuai dengan apa yang sudah anak Ibu lakukan pada saya .” Naura berbicara dengan nada tenang.
“Apa dengan wajahnya melepuh kamu belum juga puas!?” sentak Martinus, marah. Pria itu berubah menjadi singa buas yang tengah kelaparan, siap menerkam mangsanya.
“Apa Ibu tidak tahu, kaki saya bahkan melepuh karena ulah anak ibu!” Naura membuka flat shoes yg ia kenakan saat ini, menunjukan bekas lukanya pada Maria. Respon Maria hanya acuh, masa bodoh dengan kaki Naura.
Percakapan mereka terhenti saat Clara masuk ke ruangan. Setelah gadis itu meletakan cangkir ke atas meja. Naura meminta Clara untuk segera pergi dari ruang tamu tersebut.
“Kau tidak kasihan pada kami?” tanya Martinus, mencoba merayu dengan mata berkaca-kaca. Naura menggeleng, saat mendengar Martinus mengucapkan hal itu. “Baiklah, kau akan tahu akibatnya nanti, jika tidak menuruti permintaan kami!” sambungnya, wajahnya kini berubah tak lagi lembut seperti saat merayu tadi.
__ADS_1
Naura hanya diam saat mendengar ancaman Martinus. Menatap dalam saat sepasang orang itu meninggalkan ruang tamunya. Naura bersandar, sambil merogoh saku blazer yang ia kenakan. Membaca pesan singkat yang dikirim oleh Abhi.
📥 Aku sudah tiba di kantor. Jangan ke mana-mana saat makan siang nanti. Pangeran Abhi akan menemuimu.
Naura hanya menggeleng saat membaca pesan dari suaminya. Ia lalu membalas pesan dari Abhi.
📤Iya. Aku akan menunggumu, Sayang.
Pesan itu dibubuhi emot peluk dari toolbar Naura. Setelah itu ia menyimpan kembali ponselnya. Bersiap menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
Saat jam makan siang tiba, Naura mendapat telepon dari karyawannya yang ada di lantai bawah. Jika suaminya sudah tiba. Ia pun lekas membereskan berkasnya dan turun untuk menemui Abhi. Saat tiba di lantai satu, ia melihat bayangan tubuh suaminya yang sudah berdiri di depan pintu. Tersenyum cerah cerah, dan ia hanya mampu membalas senyuman itu. Meski ini di kantornya sendiri ia cukup punya rasa malu walau sekedar memeluknya.
“Mau makan siang di mana?” tanya Abhi, sambil meraih pinggang Naura.
“Bagaimana kalau kita beli gelato saja!” ajak Naura.
“Sepertinya hamil kali ini, membuat selera makan mu berubah ya. Kamu jadi suka manis!” cibir Abhi.
“Iya, anakmu tahu kalau kehidupanku sudah sepahit empedu!” Tawa Abhi keluar, saat mendengar penuturan Naura. Tangannya dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Naura.
Tiba di rumah kedai gelato Abhi lekas membawa Naura masuk, memang tidak banyak menu yang disediakan. Tapi, keinginan Naura lebih penting dari apa yang ia inginkan.
“Yang, sepertinya hari ini aku pulang telat!” ucap Abhi, membuat Naura menghentikan aktivitas memakannya. Naura merasa aneh dengan ucapan Abhi, karena tidak biasanya pria itu pulang malam. Kalaupun ada pasti ia menghadiri meeting di luar bersama klien-nya.
“Kabari aku, ya ... kalau ada sesuatu.” Naura berpesan padanya. Ia khawatir jika pria di depannya ini tengah menghadapi masalah berat.
Abhi mengangguk cepat, lalu menyuapkan gelato rasa greentea ke mulut istrinya. Ia tengah dilanda perasaan cemas, tapi enggan menceritakan pada Naura, karena takut akan membuat istrinya stress.
...-------- BERSAMBUNG --------...
ELLA sudah crazy up ya, biar akhir bulan bisa kelar. Jadi saran Ella. Jangan nimbun bab, tinggalkan jejak per-chapter oke guys! Karena nyawa cerita ini tergantung pada jemari readers. 🤗🤗
__ADS_1