
Selamat Membaca, jangan lupa like, komentar, vote, gift 🎁
“Kok ada dia, Ma?”
Widya yang mendengar pertanyaan Abhi, mengikuti arah pandang putranya. Ia justru tersenyum lembut saat melihat wajah Abhi yang menunjukan rasa kesal. "iya. Tadi mama minta tolong sama nona ini buat jagain Ara?”
“Adik di mana? Belum pulang? Bagaimana sih, bukannya jagain anaknya malah pergi sendiri!” Abhi menggerutu tidak jelas menunjukan kekesalannya.
“Biarkan, bentar lagi dia juga pulang. Tadi katanya mau ketemu sama keluarga Viko,” jelas Widya.
Abhi berdecak. Kesal dengan sikap adiknya. Ia lalu membuka satu persatu kancing kemejanya, melepas kain yang sudah sehari ini melindunginya dari debu. Menyisakan kaus Abu tanpa lengan yang menjadi baju dalam, memperlihatkan lagi di depan Naura, bulu-bulu tipis dan otot lengannya yang terlihat cukup keras.
Dan tanpa Abhi sadari, sudah membuat wajah Naura bersemu merah. Buru-buru gadis itu menyembunyikan rona tersebut, sebelum pria itu menyadarinya.
“Makan sekalian, Bhi. Mumpung ada temannya!” Widya menyiapkan piring untuk Abhi. Lalu meminta putranya untuk duduk di seberang Naura. Pria itu enggan menatap atau memperhatikan Naura, dia lebih memilih menyibukkan diri dengan menikmati sajian yang sudah diambilkan mamanya. Menganggap tidak ada siapapun kecuali sang mama.
Sedangkan Naura merasa canggung, ia makan dalam diam. Ingin segera menyelesaikan makanannya lalu pulang ke apartemen. Merasa risih dengan sikap Abhi yang sok kegantengan.
***
“Aduh, Tante … lontong sayurnya enak banget," puji Naura, sambil mengusap perutnya. "Naura sampai nggak sadar kalau sudah habis banyak. Sampai susah berdiri, gini.” Naura basa-basi, berusaha mengusir rasa canggung. “Makasih ya, Tante. Berhubung perut Naura sudah kenyang, saya pamit pulang, ya?”
Widya menahan tawa saat mendengar ucapan Naura. Ia yang duduk di samping Naura mengusap lembut punggung gadis tersebut. “Ibu bawain lontong sayur, ya, siapa tahu nanti malam kamu lapar lagi! kan, katamu enak. Pasti bakalan kangen sama lontong sayur, Ibu.”
“Hahaha …." Naura tertawa hambar, "nggak usah tante, nanti kalau Naura gendut siapa yang mau tanggungjawab?” sambungnya lagi. Kembali menutup ucapanya dengan tawa classic yang memperlihatkan deretan giginya.
“Biar anak tante yang bertanggungjawab. Iya kan, Bhi?” goda Widya beralih menatap putranya yang masih berwajah muram.
“Nggak usah, Tante," tolak Naura, lalu segera berdiri dari tempat duduk. "Naura pulang dulu, ya. Terima kasih banyak atas makanan malam yang nikmat ini.” Naura merasa dirinya berubah, bukan Naura yang seperti biasanya.
__ADS_1
“Tante juga terima kasih sudah dibantu jaga Ara!”
Naura memutuskan untuk kembali ke apatemennya. Ia menolak saat Widya hendak mengantarnya keluar. Tanpa menyapa Abhi lebih dulu, Naura berjalan meninggalkan apartemen Abhi.
Namun, saat ia menutup pintu apartemen Abhi, wajahnya berubah kesal, saat melihat bayangan Hanif di depan pintu apartemennya.
“Kamu dari mana?” tanya Hanif mendekat ke arah Naura.
“Dari bantuin tetangga. Ada apa?” Naura menunjuk apartemen 110.
“Kenapa kamu tidak datang ke acara makan malam?” Hanif tampak kesal, keluarga dan anaknya sudah menunggu kehadiran Naura hampir dua jam di restoran. Tapi, gadis itu justru sibuk dengan tetangganya.
“Ehmm, aku kan sudah bilang. Kalau aku nggak mau menghadiri acara makan malam itu.” Naura membuka pintu apartemen. Mempersilakan hanif untuk masuk.
Setelah mempersilakan Hanif duduk ia berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minuman. Naura sengaja mengulur waktu, berusaha mengusir Hanif dengan halus. Tapi, sepertinya pria itu tidak peka. Karena masih duduk manis menunggunya.
“Nana … bisa kah kamu duduk, sebentar? Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu!” minta Hanif saat Naura berusaha menyibukan diri.
“Na ... kamu tahu kan, Nora butuh sosok ibu?" Kata Hanif membuat Naura mendongakan kepala. "Dan aku minta padamu. Kumohon, selain Nora ... aku juga membutuhkanmu." Hanif berhenti sejenak, berusaha mempertemukan matanya dengan mata hitam Naura. "Jadilah pendamping dan ibu sambung untuk Nora.”
Naura berusaha mencari titik lokasi yang bisa dipakai untuk mengalihkan tatapan. Mencoba menenangkan gemuruh yang kini ia rasakan. Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Hanif, seolah mengulang lagi rasa sakit yang ia rasakan malam itu. Ia pernah menawarkan hatinya untuk Hanif, tapi pria itu menolaknya.
“Hanif … bisakah kamu tidak mengulangi lagi permintaan konyolmu itu?" Naura mengambil nafas dalam-dalam, bersiap meluapkan semuanya. "Lupakan aku, Hanif! Seperti dulu, aku juga melupakanmu! Aku yakin kamu bisa! Bebaskan aku, Hanif. Jangan lagi berharap semua akan sama seperti saat itu,” kata Naura. Dia kini berhasil mengadu pandangnya dengan pria itu. Berhasil, aku berhasil mengusirmu dari hatiku, Hanif. dalam hatinya bersorak senang.
Namun, sikap Hanif di luar dugaannya. Pria itu mendekat dan berjongkok di depannya, menyentuh ke dua lututnya. Seperti seorang pria yang memohon agar sang wanita kembali padanya.
“Nana … sampai kapan kamu akan menghukum dirimu sendiri?” Hanif mengusap hidungnya yang tidak gatal.“kita saling membutuhkan. Terbukti kamu masih sendiri sampai detik ini. Itu artinya ... masih ada aku di hatimu! Aku janji, akan membiasakan diri berada disampingmu. Beri aku satu lagi kesempatan.”
“Hanif!" Panggil Naura dengan sedikit berteriak. "Aku masih sendiri bukan karena itu! Tapi karena aku tidak yakin—bisa menyelesaikan masalah yang akan datang! Jadi jangan salah paham. Seolah menyalahkan dirimu atas statusku saat ini.”
__ADS_1
Naura lalu meminta Hanif untuk berdiri dan meninggalkan apartemennya. "Aku sudah bilang, jangan menemuiku selain urusan pekerjaan."
"Aku tidak akan berhenti, sebelum kamu berkata, 'bersedia'." Hanif lalu berdiri dan meninggalkan apartemen Naura.
Naura menatap kesal punggung Hanif, Ia lalu menekuk kedua kakinya hingga menyentuh dada, menelungkupkan wajahnya di sana. Punggungnya bergetar. Bukan karena ia masih mencintai pria itu. Tapi, ia sedang bingung bagaimana cara untuk menghentikan sikap Hanif saat ini. Cukup lama, Naura meluapkan rasa kesalnya. Menikmati ruangan yang tiba-tiba terasa dingin.
"Aku pikir kamu tidak bisa menangis?!"
Ucapan pria di belakang tubuhnya, membuat Naura mengangkat wajahnya, buru-buru ia mengusap air matanya.
"Sejak kapan kamu di sini? Pergilah aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!" usir Naura, terdengar jelas jika gadis itu enggan menanggapi kehadiran Abhi.
"Yah, cukup lama. Kira-kira bisa mendengar setengah dari pembicaraan kalian."
Naura memberanikan diri menatap Abhi. Matanya masih berair.
"Ponselmu tertinggal. Maaf, tadi aku mengangkat panggilan papamu."
"Lancang!" ketus Naura.
Abhi meletakan ponsel Naura ke atas meja, lalu segera beranjak dari apartemen Naura. Baru hendak menarik pintu ia membalikan tubuhnya, menatap Naura yang masih berdiam diri.
"Kalau masih cinta, lebih baik menerima lamarannya. Siapa tahu kalian memang sudah dijodohkan untuk tinggal bersama. Dari pada jadi perawan tua!" kata Abhi di akhiri hinaan yang membuat Naura kesal.
"Harusnya kalimat itu, kamu tujukan untukmu sendiri! Nikah sana! Sebelum jadi perjaka usang dengan lebel gagal move on!" Naura berdiri, menghadap Abhi.
Saat Abhi hendak menjawab, satu tangan Naura terangkat cukup tinggi, memperingati Abhi. "Bisa tidak ... kita berdebat hanya saat di meja hijau! Aku tidak berniat punya musuh!"
...----------------...
__ADS_1
Bersambung, like 300 aku up lagi.