Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Lantai dua di rumah Erik, tepatnya di dalam kamar Naura. Wanita yang sudah matang itu menyembunyikan wajahnya di balik selimut tebal. Kulit wajahnya memanas tatkala mengingat kejadian beberapa puluh menit yang lalu. Kedua tangan Naura menepuk-nepuk dengan keras ranjang yang ia tempati saat ini, merasa—entahlah hanya gadis itu yang bisa men-diskripsikan. Berbunga-bunga, berdebar, nyeri, tapi anehnya ia bisa semalu itu saat berdekatan dengan Abhi.


"Apa yang kamu lakukan, Na?" suara pertanyaan dari Ella membuatnya terkejut, dengan wajah merah seperti cherry siap panen, Naura membuka selimutnya.


"Kamu kepanasan? Kok merah gitu wajahnya?" selidik Ella yang paham dengan sikap putrinya.


"Emmm ... nggak, dingin kok di sini," sangkalnya.


"Wah, mama tahu, nih! Jangan-jangan kamu diapa-apain ya ama itu cowok?"


"Ma ...."


"Pasti, nih. Ayo jujur kamu diapain? Jangan aneh-aneh ya!?" Ella mendesak, supaya Naura berkata jujur padanya. Ia tidak mau Naura kehilangan mahkotanya sebelum menikah.


"Nggak, kita nggak ngapa-ngapain, kok! Cuma hidung kita saja yang tak sengaja bertemu, dan itu membuat sekujur tubuh Nana memanas." Naura menjelaskan dengan perasaan malu tak terbendung.


Dan Ella sebisa mungkin menahan tawa, melihat kepolosan Naura. Ya, begitulah putrinya, tidak pernah berpacaran, pergi keluar saja hanya dengan Maura atau Alea dia tidak pernah keluar rumah. "Kamu suka sama, dia?" Ella mencoba menebak isi hati putrinya.


"Hah, suka?" mata Naura membulat sempurna. "Enggaklah, Ma! Pria kulkas gitu nggak ada nilai plus nya," ucapnya lantang.


"Jangan gitu! Keren loh, tinggi, berotot, berjambang. Mau nyari yang bagaimana lagi, coba? Hanif nggak mau, itu juga nggak mau!"


"Aku bilang ke papa nih, mama muji pria lain." ancam Naura.


"Sana bilang saja, nggak papa kok." Ella tampak acuh dengan ancaman Naura. "O, ya gimana kamu bisa sama dia?"


Naura mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya, dari dia bisa satu mobil dengan Abhi sampai mendapat cidera seperti ini. Hampir 30 menit hanya untuk mendengar cerita Naura. Terlihat jelas rona bahagia dari wajah Naura, saat menceritakan kebersamaanya dengan Abhi.


"Ma, bilang sama orang papa suruh ambil mobil dan ponselku ya! Aku tidak bisa hidup tanpa handphone, selain urusan pekerjaan, kemarin aku baru saja mengikuti salah satu novel online, aku sudah penasaran dengan kelanjutannya."


"Bilang sendiri sama papamu, kalau dia mengizinkan, sih. Oke aja. Tapi sepertinya nggak akan, pasti dia memintamu untuk istirahat lebih dulu."


"Ma, Mama bantu bujuk dong!" Rayuan mulai terdengar, Ella yang luluh akhirnya berjanji akan membujuk suaminya.


Di waktu yang sama, di lantai satu. Erik duduk bersandar di kursi, setengah berbaring dengan tangan berada di depan dada. Matanya tak putus menelisik pria di depannya. Ia masih menunggu art nya untuk menyiapkan minuman untuk Abhi.


Setelah ART itu menyajikan jamuan di atas meja, Erik memintanya untuk segera pergi, memperingati untuk tidak menguping pembicaraan mereka. Merasa sudah aman Erik melontarkan pertanyaan pertamanya.

__ADS_1


"Perkenalkan dirimu, kita sepertinya belum pernah berkenalan secara resmi." Erik mengambil gelas berkaki yang tadi diantar art, membasahi kerongkongannya dengan sirup dingin rasa cocopandan.


Abhi menarik nafas dalam, berusaha bersikap santai, tapi tidak bisa, ini menegangkan. Bahkan lebih tegang dari pada berhadapan dengan dosen yang mengujinya dulu.


"Saya—Abhichandra Damanik, asli Pemata-


"Damanik?" Erik memotong perkenalan Abhi, dan pria di depannya mengangguk sebagai jawaban. "Aku punya teman, marganya Raja guguk, apa kamu mengenalnya, namanya Samsul Bahri, dia pendeta punya istri 1 anak 2, 1 cowok 2 cewek."


Abhi tak habis pikir kenapa Erik menanyakan itu padanya. Dia jelas tidak mengenal itu siapa, dia ingin menangis saja, takut kalau salah jawab dan akan menyusahkan posisinya di kemudian hari.


"Maaf, Tuann—


"Hah? Kau panggil aku apa? Sejak kapan kamu bekerja di sini?!" Erik sedikit mencondongkan tubuhnya, meminta jawaban.


Abhi yang melihat itu, tubuhnya mendadak menegang, pita suaranya seolah rusak, tidak bisa bergerak walau sekedar menjawab pertanyaan Erik. Sampai seseorang datang dan bergabung dengan mereka.


"Siapa?" tanya pria tersebut, menunjuk ke arah Abhi.


"Bukan siapa-siapa. Dia pria yang berani menculik Nana."


"Nana diculik?" terdengar kekehan dari pria tersebut. "Bakalan jadi apa yang nyulik anakmu itu." Damar menimpali, mengingat keponakan satunya yang begitu unik.


"Langsung saja, ke inti. Apa kamu mencintai Nana?" tanya Erik.


Abhi membalas tatapan Erik, lalu memberikan senyum samar. "Sebelum kita membahas lebih jauh. Bolehkan saya bertanya?" Kini Abhi memberanikan diri.


"Silakan!"


Keheningan mengudara, mengiringi Abhi yang tengah menyusun keberanian. "Apa Bapak, tidak mempermasalahkan tentang status sosial. Saya di sini ingin jujur dari awal, kalau saya hanya pengacara biasa, bukan dari keluarga terpandang seperti Naura."


Erik melirik ke arah Damar yang tengah mencebikkan bibirnya. "Tugas orang tua, hanya mengantar anak-anaknya menuju pintu kebahagian. Kalau Nana mencintaimu dan kamu mampu membalas cintanya, why not? Keluarga kami tidak mempermasalahkannya."


Abhi tersenyum lebar. "Terima kasih, atas jawabannya."


"Lalu?"


"Lalu?!" Abhi balik bertanya dengan mengerutkan kening. Ekspresinya bingung.


"Bagaimana ke depannya?" Erik sudah geram, karena Abhi tak kunjung paham.

__ADS_1


"Kita, baru dekat 2 hari, Pak. Jadi, mungkin masih butuh waktu untuk pendekatan. Kalau Bapak mengizinkan, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya." Abhi menjelaskan secara jujur, meski ia menyukai berada di sisi Naura, tapi ia tidak mau terburu-buru. Dia ingin memastikan dulu perasaan apa yang kini menyerangnya.


"Ow, gitu!"


"Yah, sebelumnya kita selalu berbeda pendapat."


Erik menganggukan kepala, "Tapi, kamu juga jangan terlalu mengulur waktu. Bukan apa-apa, sebenarnya sudah ada pria yang ingin meminangnya, tapi kita hanya bisa menuruti putri kami. Dia bilang tidak mau menikah dengan Hanif."


"Hanif?!"


"Ya, entah apa masalahnya, sepertinya Nana punya masa lalu buruk dengan Hanif." Erik menjelaskan apa yang menjadi kecurigaannya. Suasana kembali hening, Damar yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka mulai bersuara.


"Kamu berapa bersaudara?"


"Hanya dua."


"Orang tua, masih ada?"


"Tinggal mama. Papa sudah pergi tiga tahun yang lalu."


"Kecelakaan?"


"Bu—bukan."


"Terus?!"


"Serangan jantung." Kedua pria seumuran itu mengangguk, kemudian menghentikan pertanyaan untuk Abhi. Merasa berlebihan takut Abhi kabur dan tidak jadi melangsungkan pendekatan.


Kebetulan saat Abhi menikmati snack di depannya, terdengar suara adzan Zuhur berkumandang. Erik langsung menggiring mereka masuk ke masjid, meminta Abhi untuk mengambil tempat paling depan, memimpin shalat.


"Apa nggak sebaiknya, Bapak saja?" kata Abhi mencoba melarikan diri.


"Oh, tidak bisa! Kamu yang di depan. Atau perjanjian tadi batal."


Abhi membuang nafas kasar, sambil ber-istighfar berulangkali.


...----------------...


Jangan Lupa kasih vote dan like, komentar yang manis untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2