Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Abhi! Apa kamu sudah menyiapkan mas kawinnya?” selidik Erik.


Pria yang awalnya bersiap duduk di kursi depan penghulu, menoleh ke belakang, tepatnya ke arah sang mama. Wanita itu menjawab dengan gelengan kepala, sebab tidak menyiapkan apapun untuk mahar pernikahan putranya, yang begitu mendadak ini.


“Kita tunda Minggu depan saja akad nikahnya. Saya belum menyediakan mahar terbaik untuk calon istri saya.” Abhi sudah menyerah saat tidak menemukan benda berharga yang bisa digunakan untuk meminang Naura.


“Sebaik-baiknya mahar adalah mahar yang paling mudah. Silakan cari dulu, Mas! Tidak perlu menundanya, hingga minggu depan.” Penghulu yang sudah duduk di kursi meminta Abhi untuk segera mencari mahar yang ingin digunakan.


Pria itu mengamati barang yang ia kenakan. Haruskah ia menggunakan jam rolex yang ada di pergelangannya sebagai mahar? Ini juga ada nilainya. Tapi masak iya ini akan ia berikan untuk Naura?


“Abhi!” panggil Widya, wanita itu membuka tas yang ada di pangkuannya. Lalu menyerahkan cincin perak, peninggalan almarhum suaminya pada Abhi. “ini buat kamu. Berikan pada calon istrimu!”


“Ma.” Abhi seolah keberatan, dengan usul Widya. Ia tak mau mengambil barang berharga mamanya.


Tapi, Widya menolak saat Abhi mengembalikan benda itu padanya, "untuk menantu kesayangan mama." Ia lalu meminta Abhi untuk kembali ke kursi yang ada di depan penghulu.


“Apa aku juga boleh minta satu syarat lagi, Abhi?” Erik menatap lekat ke arah Abhi yang sudah duduk di dekatnya.


“Iya, Pa. Silakan!”


“Surah apa yang kamu hapal?” tanyanya. Abhi mengerutkan dahi, memikirkan maksud ucapan mertuanya. Seolah paham akan maksud Erik. Ia lalu menyebutkan surah apa saja yang ia hapal dan pahami. “aku akan mengajarkannya surah Al-Fatihah.”


“Kamu yakin?” tanya Erik.


“Insya Allah.” jawab Abhi, cepat.


“Tapi Nana juga sudah hapal.”


“Apa Nana sudah paham maknanya?” Abhi kembali bertanya.


“Baiklah,” jawab Erik, menyerah. “Silakan dilanjutkan!” kata Erik menatap ke arah penghulu dan Abhi bergantian. Abhi bersiap dan mulai menjabat tangan Erik.


Tangannya sedikit bergetar saat bersentuhan dengan calon mertuanya. Erik yang mengerti langsung menggenggamnya erat.


“Tunggu, Pa. Tapi, Abhi belum hapal akad nya.” Abhi mengusap buliran keringat yang muncul di keningnya.


“Baiklah, kita latihan dulu!” kata penghulu, ikut menyahut. Ia menuntun Abhi latihan mengucapkan kalimat akad.


Beberapa menit berlalu Abhi berulangkali mencermati setiap kata yang tertulis di kertas kecil yang ada di tangannya. Hampir lima menit berlalu ia mendongakan kepala, berkata jika ia sudah siap, pada penghulu di depannya.


Beberapa orang di belakang Abhi, ikut merasakan ketegangan pria tersebut. Mereka membantu Abhi dalam doa supaya prosesi akad nikah hari ini lancar.


Saat ia kembali menyentuh tangan Erik, pria di depannya itu tersenyum tipis mendapati tangannya mengeluarkan keringat dingin.


Ucapan bismillah sudah terucap, Erik mengucapkan kalimat sakral, dan langsung dijawab lantang oleh Abhi. Seketika nafas kelegaan pun terdengar dari bibir Abhi, saat mendengar saksi menyerukan kata sah.

__ADS_1


Usai itu mereka berdoa bersama, sampai doa itu sudah selesai Abhi justru kebingungan. Menatap kosong ke arah penghulu di depannya. “jadi Nana sudah jadi istri saya?” tanyanya pada penghulu.


“Benar secara agama, secara hukum belum karena kalian belum menandatangani surat nikah,” jelas penghulu tersebut. Membuat senyum cerah terbit di bibir Abhi. Terlihat jelas jika saat ini ia tengah bahagia. Sampai ia lupa jika Naura belum dibawa mendekat ke arahnya. Hal pertama yang ia lakukan justru memeluk mamanya.


“Jadi suami yang baik untuk, Nana. Berat loh, surah Al-fatihah,” ucap Widya sambil mengusap punggung Abhi.


“Mas Abhi nggak mau lihat mempelainya dulu?” tanya penghulu, yang melirik ke arah pintu kamar. Di sana sudah ada Naura dengan wajah tegang, menunggu untuk dipanggil.


“Astaghfirulloh sampai lupa!” keluh Abhi. Lalu mendekati Naura.


“Woey, santai. Ntar juga datang sendiri!” seru Nathan saat melihat Abhi tak sabaran. Tapi, Abhi mengabaikannya, ia baru berhenti berjalan, saat mendengar peringatan Erik, yang memintanya untuk kembali ke tempat semula.


Abhi menurut, masih dalam posisi berdiri. Mengamati setiap kaki Naura yang bergerak mendekat ke arahnya. Gadis itu diapit oleh Ella dan Maura. Menggunakan kebaya warna putih dengan hiasan payet di bagian depan menggunakan penutup kepala warna putih, menjutai hingga menutupi bagian tulang selangka yang terbuka, semakin menambah keanggunan Naura.


“Kau benar istriku, kan?” tanya Abhi saat Naura sudah tiba di depannya. Gadis itu tersenyum malu tanpa memperlihatkan barisan giginya, wajahnya bersemu saat kedua mata mereka bertemu.


“Ya, aku Naura,” ucap Naura, lirih tapi bisa di dengar jelas oleh Abhi. Gadis itu meraih tangan Abhi, lalu mencium punggung tangan pria yang baru saja sah menjadi suaminya.


Abhi pun bergantian mengecup kening Naura. Membuat beberapa orang yang berada di sana tercengang melihat keberanian Abhi. Bagi keluarga Damanik itu butuh keberanian ektra, melakukan adegan romantis di depan umum.


“Sudah-sudah dilanjutkan nanti. Kalian harus menandatangani surat nikahnya dulu! Petugas KUA harus segera pergi. Beliau akan pindah ke lain tempat!” seru Erik, menegur kelakuan anak mantunya.


Pernikahan mereka berdua pun akhirnya sah secara hukum dan agama. Tinggal menunggu minggu depan, untuk mengadakan pesta pernikahan.


“Alhamdulillah, tugas papa sudah selesai. Papa ikhlas kalau Allah mengambil nyawa papa sekarang.” Ucap Erik sambil menggenggam tangan Naura, lalu meraih tangan Abhi dan menumpuknya menjadi satu. "cintai anakku seperti aku mencintainya," ucapnya menatap lekat ke arah Abhi.


Untuk mengalihkan pembahasan, Erik meninggalkan mereka, berjalan mendekati Ella. Ia meminta besannya untuk kembali menikmati jamuan yang sudah dihidangkan.


Dua keluarga yang sudah bergabung menjadi satu itu tampak bahagia, mereka meminta Abhi dan Naura untuk secepatnya mempunyai momongan. Mengingat usia Abhi yang sudah tidak muda lagi.


Abhi mengamati wajah Naura, dari samping, gadis itu tertawa mengamati kelucuan Alea yang tengah menjadi bahan bullyan.


“Kau bahagia, Na?” Naura langsung menoleh ke arah Abhi saat mendengar pertanyaan itu. Ia mengangguk pelan tapi penuh keyakinan. “Aku bahagia,” ucapnya sambil menggenggam tangan Abhi.


“Kita lucu, ya. Awal pertemuan kita hingga 10 hari yang lalu kita bagai kucing dan tikus. Tapi, hari ini kita sudah menjadi satu dalam ikatan suci.” kata Abhi.


“Takdir cinta yang sudah menyatukan kita. Sekeras apapun kita menghindar, ujungnya kita akan tetap bersama.”


“Yuk, kita saling mengenal.”


Naura mengusap wajah Abhi dengan tangannya. Saat melihat tatapan Abhi seperti singa kelaparan yang merindukan sesuap daging. “Mengenal yang mana dulu?” tanya Naura, kemudian.


“Yang mana saja boleh kita kan sudah halal!”


“Abhi!”


Pria itu terbahak, “aku masih tidak percaya kalau kita sudah halal. Sepertinya baru kemarin kita berdebat hebat di perceraian Rosa dan Ken.”

__ADS_1


“Sudahlah, lupakan!”


“Kau cantik hari ini.”


“Dari kemarin kali, Bhi.” sahut Naura.


“Kemarin aku tidak ingin memujimu, karena kamu belum halal untukku. Tapi, sekarang aku sudah boleh!” jelas Abhi kini genggaman di tangannya semakin kuat


“Kau mau makan, Bhi?” Naura mencoba melaksanakan tugas pertamanya.


“Mau, apalagi makan kamu!” jawab Abhi


“Abhi ... ih jangan mesum!” satu pukulan melayang di lengan Abhi. Pria itu merintih.


“Yuk masuk kamar.” Ajak Abhi sambil mengusap lengannya.


“Masih banyak tamu.”


“Ya sudah, tunggu pergi.”


“Emang mau ngapain?” tanya Naura.


“Mainan air bareng!”


"Nggak mau, takut masuk angin!" jawab Naura dengan suara manja.


"Nanti aku keluarin dari dalam anginnya."


"Gila, kamu! Awas jangan melakukan pemaksaan ya! Ada pasalnya loh, apalagi kekerasan dalam rumah tangga!"


"Stop! Di kehidupan kita jangan pernah menyinggung tentang pasal. Aku akan membuat pasal sendiri, Nanti." Abhi mencoba mengingatkan Naura


"Apa?"


"Pasal 1. Mutlak. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kamu, harus atas persetujuanku."


Naura mengernyit, tidak percaya, jika Abhi akan bertingkah melebihi papanya.


"Pasal ke 2 Jika melanggar akan dikenakan sanksi, hingga pasangan puas!"


"Gila!"


"Biar saja!"sambar Abhi, setelah itu buru-buru Naura mengucapkan keinginannya.


"Pasal 3 Segala—


Ia tidak melanjutkan lagi ucapanya, karena sudah dibungkam Abhi mengunakan bibirnya. Meski ringan tapi ia cukup syok dengan kelakuan Abhi yang mengejutkan. "Tidak ada pasal lagi, yang ada kita harus selalu memahami, mengerti dan satu lagi, terbuka!"

__ADS_1


...-TAMAT-...


__ADS_2