
Happy reading ya, jangan lupa untuk like dan votenya, nggak maksa kok, tapi kalau suka tekan jempolnya👍😊🙏
Satu bulan kemudian.
Saat ini kondisi Kalun mulai membaik, rasa traumanya sedikit demi sedikit mulai hilang, dan sekarang dia sudah bisa masuk sekolah, meski harus diawasi khusus oleh pengasuhnya. Sejak dia terapi dan sering berkunjung ke rumah Dokter Rendi dia kini mulai terbiasa dengan Kayra. Gadis kecil itu selalu menemani Kalun bertemu dengan papanya. Dia juga dekat dengan Riella, bahkan ketiganya terlihat seperti seumuran karena tubuh Riella yang cukup baik dalam pertumbuhannya.
Ella kondisinya juga sudah mulai pulih, kecanduannya terhadap obat-obatan terlarang kini sudah ditahap terakhir penyembuhan, dan Erik juga sudah bisa pergi ke kantor, meski intensitasnya masih jarang, tapi hampir satu minggu sekali dia pasti mengecek kondisi kantornya.
Tentang Bima, satu minggu lagi sidang pertamanya akan dimulai. Keluarga Erik menuntut hukuman seberat-beratnya untuk lelaki tidak tau terima kasih itu. Dan Axel dokter mengatakan bahwa dia meninggal setelah satu minggu mengalami koma, dan Erik memastikan sendiri jika jenazah yang dimakamkan itu benar-benar jenazah Axel.
Pagi ini, rumah Erik terlihat ramai orang berlalu lalang, mereka menyiapkan pesta syukuran yang akan diadakan oleh Erik di kediamannya. Mereka menghias rumah Erik seperti taman bunga, Erik tidak ingin menggunakan gedung ataupun membuat acara di kantor, karena dia ingin sekalian membuat syukuran rumah barunya yang baru beberapa minggu ditinggali. Dia mengajak Ella pindah rumah, karena di rumah yang lama, merupakan rumah yang menjadi saksi bisu atas kesedihannya, dia tidak ingin lagi mengingat-ingat kesedihannya ketika Ella pergi darinya.
Di kamar utama rumah mewah itu, Ella meregangkan tubuhnya, dia menguap sambil menutup mulutnya.
“Selamat pagi ...,” ucap Erik yang tengah memperhatikan Ella. Ella mengernyitkan kening, sambil menatap Erik yang sudah terbangun.
“Pagi ...,” jawab Ella dengan nada khas orang bangun tidur.
“Mas sudah rapi, memangnya mau kemana?” lanjutnya bertanya saat melihat Erik sudah mengenakan kemeja biru dengan rambut yang sudah tersisir rapi.
“Mas mau ngecek sendiri kerjaan orang-orang di bawah, takutnya saat acara syukuran nanti ada yang kacau,” jelas Erik yang sudah kembali duduk di samping Ella. Dia mendekatkan wajahnya di depan wajah Ella.
“Kenapa? Apa masih kurang dengan yang semalam?” tanya Ella yang mengerti tatapan Erik, tapi dia tidak berani menatap wajah di depannya itu.
“Hmmm ..., nggak papa kalau kamu mau memberikannya lagi,” ucap Erik yang sudah mengunci tubuh Ella dengan kedua tangannya.
“Aihhh ..., nggak ya. Sana kamu keluar, cek semuanya jangan sampai ada yang kacau saat acara nanti,” ucap Ella, yang mencoba melepaskan pelukan Erik. Tapi sepertinya sia-sia karena suaminya itu semakin erat memeluknya.
“Pap ..., aku mau lihat anak-anak dulu, biasanya jam segini mereka sud-” Ella tidak bisa melanjutkan ucapnnya karena bibir Erik sudah mendarat di bibirnya.
“Morning kiss,” ucap Erik setelah melepaskan ciumannya, Ella hanya bisa menghapus bibirnya karena terkena saliva suaminya. Erik masih memeluk erat perut Ella tidak ingin melepaskan ataupun menggedorkan pelukan itu.
__ADS_1
“Mam, andaikan dulu kita nggak terpisah mungkin kita sudah punya anak lima, iya kan?” tanya Erik yang menyandarkan kepalanya di pundak Ella.
“Kok bisa lima? Anak siapa saja memangnya?” tanya Ella yang tidak lagi bisa pergi dari kasur empuknya.
“Iya dong, Riella 2 tahun kamu melahirkan anak laki-laki, dan dua tahunnya berikutnya, kamu melahirkan bayi kembar, kan seru tu!” ucap Erik yang membuat Ella terkekeh.
“Kamu ini mikirnya sampai ke situ, nggak tau apa melahirkan itu sakit,” ucap Ella.
“Aku tahu, karena dulu sering mendengar tangisan orang melahirkan, hanya aku tidak bisa ikut merasakanya, tapi kan sekarang ada suntikan penghilang rasa sakit ketika melahirkan, aku akan sangat bahagia jika kamu mau melahirkan anak-anakku lagi,” jelas Erik yang membuat Ella berdehem.
“Hmmm, ujung-ujungnya itu yang di minta,” ucap Ella yang sudah terlepas dari pelukan Erik
“Iya, kita rencanakan sekali lagi ya ..., setelah itu Mas janji nggak akan minta kamu melahirkan anak lagi,” ucap Erik menatap wajah Ella.
“Aku nggak tau, masih bisa atau nggak. Mas tau kan efek obat-obatan yang sering masuk ke tubuhku, itu pasti mempengaruhi fertilitasku,” jelas Ella.
“Kita akan berusaha Sayang, jangan kamu lupakan gelar dokter kandungan terbaik di kota ini adalah suamimu,” ucap Erik yang menyombongkan dirinya.
“Jangan meragukan kemampuan suamimu ini, ilmu itu jika berkesan akan ada selamanya di otak,” jelas Erik yang memeluk kembali tubuh Ella.
“Yaudahlah ..., terserah sekarang lepaskan dulu, aku mau mandi,” ucap Ella yang berusaha melepaskan pelukkan Erik.
“Kita berusaha dari sekarang, satu ronde sebelum mandi lebih baik, dari pada kita melakukannya setelah mandi, takutnya nanti kamu masuk angin karena terlalu sering mandi,” ucap Erik yang sudah menidurkan Ella dan menind*h tubuh Ella.
“Kyahhh, Papa ih geli tahu nggak sih,” teriak Ella, saat Erik menenggelamkan wajahnya di area sensitif bagian atas. Ella yang hanya memakai kain tipis untuk menutupi tubuhnya, akhirnya hanya bisa pasrah saat Erik mulai membuka bajunya sendiri.
“Mamaaa ... Mama ...,” terdengar suara Riella memanggilnya dari balik pintu.
“Iya Sayang ... Sebentar ya, alhamdulillah malaikat penolong datang, “ ucap Ella sambil berlari kecil ke arah pintu yang tadi di kunci oleh Erik. Erik hanya menatap tubuh bagian bawahnya, karena gagal lagi mendapatkan kehangatan di pagi hari.
“Tunggu nanti malam ya Mam, kupastikan tidak akan gagal lagi,” teriaknya saat Ella membuka pintu kamar.
__ADS_1
“Ma ..., benarin ikatan rambut Riella, jadikan seperti Princess Elsa,” ucap Riella sambil menyerahkan ikatan rambut ke tangan Ella.
“Boleh, ayo sini! Biar Mama jadikan princess paling cantik di dunia ini,” ucap Ella yang mengandeng Riella menuju kursi nakasnya. Dia mulai mengikat rambut Riella dan merapikan anak rambutnya, tanpa melihat tangan Riella yang sudah mematah-matahkan lipstik di depannya.
“Sudah selesai, cantikkan?” ucap Ella sambil menghadap ke arah depan Riella, dia langsung menutup mulutnya, saat melihat lipstik limited editionnya hancur. Ella hanya bisa mengusap tengkuk yang tertutup rambut.
“Ma ..., crayon Mama kok lengket sih?” ucap Riella dengan wajah imut.
“Haaahhh ..., Sayang, itu bukan crayon.”
“Kenapa?” tanya Erik yang langsung mendekat ke arah Ella.
“Lihatlah sendiri!” Erik langsung melihat ke arah Riella yang masih memainkan lipstik di tangannya. Dia hanya bisa tersenyum lebar ke arah Ella.
“Besok bisa beli lagi,” ucap Erik sambil memeluk Ella dari belakang, tanpa melihat anaknya yang tengah melihat adegan keduanya.
“Itu limited Pap, nggak akan bisa nemu lagi,” jelas Ella sambil berbalik menghadap Erik.
“Biar Yohan yang mencarikannya untukmu.” Erik berucap sambil mencium bibir Ella, sangat lama dia menikmati bibir istrinya tanpa memperhatikan anaknya yang sudah mendongak menatapnya.
“Ih ..., Mama sama Papa kok kaya gitu, jorok tau nggak!” teriak Riella saat memperhatikan keduanya. Ella yang baru menyadari jika Riella masih berdiri di sana, segera mendorong tubuh Erik ke belakang. Erik tersenyum ke arah Riella, memintanya keluar kamar karena ikatan rambutnya sudah bagus dan rapi.
“Kamu lelaki tua paling nyebelin tau nggk Pap!” maki Ella pada suaminya.
“Hahaha ..., iya maaf lain kali nggak akan aku ulangi, sana mandi! Aku akam menunggumu untuk sarapan,” jelas Erik sambil berlalu dari kamar utama.
.
.
.
__ADS_1
TBC