
NOTE : MUMPUNG HARI SENIN VOTENUYA SUMBANGIN KE NAURA AND ABHI YA! SEMOGA IKHLAS DAN TERIMA KASIH BANYAK. ❤️
...Selamat Membaca...
Naura segera menggeser layar ponsel lalu menempelkan ponselnya di telinga. Seperti biasa ia diam lebih dulu, untuk mengetahui jenis kelamin si penelepon.
"Hallo ..." sapa seorang wanita dengan suara lembut.
Naura mengernyit mencoba mengingat suara wanita tersebut. Tapi, ia tak kunjung menerima jawaban, karena yang ia pikirkan hanya klien-klien yang beberapa hari berhubungan dengannya.
"Hallo, selamat malam. Maaf saya bicara dengan siapa?" Balas Naura ramah, sama saat menerima telepon kliennya.
"Ini Ibu, Naura."
Naura mengenyit, mencoba menebak jika suara itu adalah milik Susan.
"Ini Ibu, yang merindukanmu. Sudah beberapa hari ini—ibu mengetuk pintu apartemenmu, tapi rupanya ... kamu tidak ada di rumah, ya?"
Naura menggaruk kulit kepalanya, "I-ibunya Pak Abhi, ya?" Naura meringis, setelah menyebut Abhi dengan sebutan 'pak'. "Maaf, Ibu—kalau boleh tahu, Ibu kok bisa tahu nomor Naura?"
Wanita di seberang telepon terkekeh, "itu si Ucok yang ngasih tahu."
Naura tersenyum tipis, bunga hatinya kembali bermekaran.
"Dia bilang, ibu mau telepon tetangga depan nggak, ini Abang sudah dapat nomornya. Trus ibu langsung jawab iya. Ibu kan, sudah kangen kamu. Yah, meski kita baru sekali bertemu, tapi ibu yakin Naura anak baik."
Jantung Naura semakin berdegup kencang, ia tidak tahan dengan degup jantungnya yang hampir meledak, ia justru mematikan panggilan telepon tersebut. Merasa malu, karena Alea belum jadi pergi dari kamarnya.
"Pergi kamu, Ale. Aku kan malu!" sarkasnya.
"Astaga, itu baru camer, belum mertua! Kenapa wajahmu menjijikan seperti itu? Semerah kepiting!" goda Alea, dia justru sengaja ingin menggoda Naura.
"Aish, pergi sana!" teriak Naura.
Alea pun bergegas keluar kamar, memilih berkumpul dengan keluarga sahabatnya.
Merasa lega—sejenak saja, karena ponsel di tangannya kembali berdering. Bukan lagi panggilan suara. Seseorang di seberang sana mencoba menghubunginya melalui penggilan video.
"Astaga! Ini aku belum mandi, Dodol! Kenapa harus telepon video, sih!" Tangan Naura meraih ikat rambutnya yang ada di atas nakas. Lalu mengikatnya asal, membuat cepol tinggi-tinggi, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Setelah merasa puas ia berdehem sejenak, lalu menggeser layar ponselnya, untuk menerima panggilan video dari nomor baru.
Seketika rasa kecewa memeluk hatinya, bukan Abhi yang memenuhi layarnya saat ini. Tapi, wanita tua yang hampir berusia 60 tahun. Serta gadis kecil berusia sekitar 4 tahunan, yang sedang terlelap di pangkuan Widya.
"Masya Allah, Naura. Cantik sekali. Ibu jadi pangling tambah kangen, rasanya. Kapan kamu pulang ke apartemen? Besok sudah enggak bisa mencicipi lontong sayurnya ibu, ya! Besok pagi, ibu sudah pulang ke Siantar."
"Ibu bisa saja. Maaf pasti Naura terlihat dekil ya? Naura belum mandi." Naura sengaja membuat cengiran dari bibirnya, mengusir rasa malu.
"Belum mandi saja, sudah cantik. Apalagi kalau sudah mandi! Pasti si Abang akan jatuh cinta." Widya berhenti berbicara.
__ADS_1
"Ibu, hati-hati ya, pulangnya. Semoga selamat sampai tujuan. Jika Allah mengizinkan semoga kita dipertemukan lagi." pesan Naura yang diangguki Widya.
"Bang sini, Bang!" Terdengar suara Widya memanggil Abhi, tangannya melambai ke arah samping mengisyaratkan pria itu untuk mendekat.
Hati Naura berbunga-bunga saat melihat Abhi yang tersenyum sambil melambai tangan ke arahnya. Pria itu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Widya.
"Ma, itu calon istri Abang! Cantik, kan? Kenalan dulu sana. Namanya Naura Putri." ucap Abhi.
"Abang, ih. Jangan buat malu Naura!" Tegur Widya, ia masih berpikir jika Abhi hanya bercanda.
"Sayang ... katakan pada mamaku, kalau kamu calon menantunya." mata Abhi menatap Naura.
"Abhi ...." Naura protes tapi nadanya lembut, perlahan disusul perubahan warna pipinya yang membuat pria di seberang sana terkekeh.
"Mama akan senang sekali kalau punya mantu seperti kamu. Tapi, yang jadi masalah. Kamu mau nggak sama pria yang nggak laku-laku ini."
Kini giliran Naura yang tertawa lebar, entah kenapa melihat ekpresi Abhi yang kesal menjadi hiburan sendiri baginya. Sedangkan Abhi yang mendengar suara tawa Naura, lekas mengambil ponselnya.
"Ada hal penting yang ingin Abhi sampaikan pada Naura. Dan mama nggak boleh tahu!"
"Astaga, Abang! Anak orang itu. Awas jangan main-main, ya!"
"Iya mama, Sayang!"
Naura bisa mendengar obrolan singkat mereka berdua. Layar ponsel yang beberapa detik menghitam karena tertutup tangan Abhi, kini kembali menampilkan wajah Abhi yang tersenyum ke arahnya. Pria itu masih tersenyum, hanya itu , belum bersuara, sampai satu menit berlalu.
"Selamat malam, Naura."
Suasana kembali ke awal, keduanya merasa canggung. Demi mengusir rasa canggungnya, Naura pelan-pelan berjalan ke arah sofa.
"Kamu mau ke mana? Awas kakimu masih sakit!"
Naura tersenyum saat mendengar peringatan Abhi. "Cuma Pindah ke sofa, Sayang ... nggak ke mana-mana."
"Coba ulangi lagi, tadi kamu manggil aku, apa?"
"Kenapa keberatan?" Naura menggoda.
"Bukan. Tapi aku menyukainya."
Naura tersenyum, lalu suasana kembali hening. Mereka beradu pandang, hanya saja ada sekat yang memisahkan mereka. Tapi jelas, sorot kedua insan tersebut, menunjukan rona bahagia.
"Apa di sofa masih tertinggal aroma parfum ku?"
"Iya, sedikit. Dan itu justru membuatku rindu padamu."
"Kau rindu?" Tanya Abhi, "aku juga rindu padamu. Ngomong-ngomong kapan kamu pulang ke apartemen?"
__ADS_1
"Belum tahu, Sayang ... tunggu benar-benar sembuh dulu."
"Ya, aku akan sabar." sahut Abhi. "Naura."
"Emmm ...."
"Apa kamu menyukai seafood?"
"Suka, aku paling suka lobster bakar madu." jawab Naura.
"Apa kamu suka nonton film?"
"Iya, aku suka. Aku paling suka liat film horor. Tapi aku lebih suka baca nopel romantis."
"Kok gitu? Nggak konsisten." protes Abhi.
"Biarlah, yang konsisten cintaku padamu saja."
Abhi tertawa mendengar ucapan Naura. "Rupanya kamu jago gombal, ya?"
Naura menjulurkan lidahnya, lalu memiringkan kepalanya, menatap lekat wajah Abhi yang tampan.
"Naura ...."
"Yah, Sayang ...."
Abhi tersenyum lagi, kali ini lebih dalam. "Bisa nggak kita menikah hari Minggu saja?"
Ekspresi wajah Naura berubah, sedikit tegang.
"Naura ...."
"Yes, Honey. I'm here."
"Bilang papamu ya, besok aku akan melamar mu!"
"Astaga, Abhi!" Naura menunduk, diam sejenak.
"Aku tersiksa! Aku tidak bisa menahan rindu, meski itu hanya satu hari," ucap Abhi.
"Kau yakin? Ingin menikah secepatnya?"
" Ya, aku yakin."
"Baiklah, jawab dulu pertanyaanku satu ini. Kalau kamu menjawab dengan benar. Besok pagi kamu bisa menemui papa."
"Oke!" Abhi menyahut.
__ADS_1
"Siap ya, berapa nomor sepatuku? Kalau benar door price nya tiket lamaran."
JANGAN LUPA, LIKE, DAN GIFT YA! 🙏