Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
KCD : Pendekatan


__ADS_3

Budayakan menekan like sebelum membaca, terima kasih🙏


Hari senin telah tiba, Erik terbangun dari tidur panjangnya, karena mendengar bunyi suara alarm di ponsel pintar yang sduah ia setting. Dia segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Hari ini dia begitu bersemangat mengingat kelas pertama, dia akan mengajar di kelas Ella.


Setelah siap dengan pakaian dan penampilannya yang rapi, Erik berjalan menuju arah ke dapur untuk membuat kopi hitam kesukaannya. Duduk di minibar dekat dapur sambil menikmati sarapannya, dia mengoleskan selai roti di tangannya. Pikirannya masih tentang gadis adik dari sahabatnya itu, membayangkan jika nanti Ella yang akan pertama kali dia lihat ketika bangun tidur, Ella yang akan menyiapkan semua kebutuhannya.


“Pasti menyenangkan,” lirih Erik sambil memasukan roti ke dalam mulutnya.


Setelah selesai sarapan Erik segera meninggalkan apartemen, dia juga bingung kenapa hari ini bisa sesemangat ini.


Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, Erik sudah tiba di kampus tempatnya mengajar, Erik segera menuju kelas Ella, karena waktu pelajaran akan segera dimulai.


“Selamat pagi semuanya,” sapa Erik setelah sampai di kelas.


“Pagi Pak dosen,” jawab mahasiswa kompak.


“Langsung saja saya absen ya,” ucapnya.


Setelah selesai mengabsen, Erik langsung memulai mata kuliah pertamanya. Dia langsung memberi tugas untuk para mahasiswanya, tatapan matanya berkali- kali menatap ke arah Ella. Dia makin terkagum pada Ella karena semakin dilihat, kecantikan Ella semakin terpancar.


Mata kuliah dari Erik selesai, Ella dan Sashi berniat pergi ke kantin untuk makan dan beristirahat, belum sampai depan pintu ruangan, Erik sudah menghampiri Ella.


“La nanti jadi ya, pulang sama Mas,” ucap Erik. Ella yang mendengar itu menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada yang mendengar perbincangan mereka kecuali Sashi.


“Tapi saya mau ke toko buku dulu Pak,” jawab Ella.


“Iya, nggak papa biar saya antar, nanti tunggu saja di depan gerbang kampus,” ucap Erik sambil menatap Ella.


“Iya Pak,” balas Ella lalu berjalan meninggalkan Erik yang masih menatapnya.


“Eh La, kayaknya pak Erik itu juga naksir deh sama Lo, dari pertama ketemu, gue perhatikan dia sering curi- curi pandang ke Lo, emang Lo gak ngrasa gitu ada sesuatu,” tutur Sashi sambil berjalan menuju kantin.


“Nggak lah Shi, mungkin dia memang cinta pertama gue, tapi gue juga nyadar kalau kita gak akan bisa bersama,” sanggah Ella sambil memesan jus apel kesukaannya saat sudah duduk di meja kantin.


“Lo nggak makan La?” tanya Sashi, karena Ella tidak memesan makanan.


“Nggak, masih kenyang perut gue,” jawab Ella.


Tidak lama kemudian datang Panji dan Anna yang baru selesai mata kuliahnya, mereka berjalan mendekati Ella dan Sashi.


“Hay Beb,” sapa Panji pada Ella tapi tangannya merangkul pundak Anna yang berada di sampingnya. Ella hanya mencibirkan bibirnya ketika mendengar panggilan Panji tapi matanya melotot sempurna ke arah Panji.


“Masih ada kelas habis ini?” tanya Anna.


“Masih ada dua jam lagi,” jawab Sashi.


"Eh gimana acara Lo sama Kak Damar, jadinya kapan acaranya?” tanya Panji pada Sashi yang tengah memakan mie ayamnya.


“Belum taulah, kan belum diomongin,” jawab Sashi.


“Lo udah siap Shi jadi Mama Muda?” pertanyaan Ella membuat Sashi berpikir sejenak, lalu tak lama kemudian tersenyum pada Ella.


“Insya Allah siap, dari dulu gue pengennya nikah muda,” ucap Sashi menjawab pertanyaan Ella dengan mantap.


“Bagus deh, kalau begitu, ntar ceritain ya malam pertamanya?” ucap Anna.


“Hus! Enak aja, kaya gitu kan privasi. Lagian ya, ntar kalau gue ceritain, nanti Lo pada pengen gimana?” ucap Sashi.


“Ye, nggak asyik Lo. Berbagi pengalaman kan boleh- boleh aja,” ucap Anna sambil melihat ke arah Panji.

__ADS_1


“Boleh, tapi bukan hal yang begituan,” ucap Sashi.


Setelah asyik ngobrol cukup lama, bel masuk berbunyi, mereka berpisah di depan pintu kantin, Ella dan Sashi segera masuk ke kelas mengikuti mata kuliah selanjutnya.


“Gue nanti pulang dijemput Kak Damar, Lo gak mau bareng kita aja, La,” tawar Sashi yang sudah duduk di kursi kelas.


“Nggak usah Shi, gak enak sama Mas Erik, udah terlanjur janji soalnya,” jawab Ella menjelaskan.


“Cie-cie manggilnya sudah mas-masan nie ye, gue doain Lo jodoh sama Mas Erik La,” goda Sashi, Ella yang mendengar ucapan Sashi hanya tersenyum malu.


***


Jam pelajaran telah selesai, Ella bergegas meninggalkan kelasnya, karena takut membuat Erik menunggu terlalu lama. Ella berjalan keluar kampus, sampai di depan gerbang kampus ternyata Erik sudah menunggunya di sana, Ella yang melihat Erik langsung menghampirinya.


“Sudah lama nunggu ya, Mas ?” sapa Ella saat berada di samping Erik


“Nggak baru lima menit kok, mau berangkat sekarang?” tawar Erik.


“Boleh, ayo Mas!” jawab Ella.


Erik berjalan membuka pintu penumpang sebelah kemudi, meminta agar Ella duduk di sampingnya, dia segera melajukan mobil Toyota Fortuner hitam keluaran terbaru miliknya.


“Masih suka gado -gado, La?” tanya Erik memecah keheningan dalam mobil.


“Iya, masih Mas,” jawab Ella.


“Kita mampir makan siang dulu ya?” tawar Erik.


“Iya Mas.” jawab Ella pasrah dengan tawaran Erik.


Setelah sampai depan rumah makan, Erik dan Ella segera turun dari mobil, mereka disambut ramah oleh pelayan restoran yang berdiri di depan pintu, Erik lalu mengajak Ella untuk duduk di kursi dekat jendela kaca paling pojok. Sambil menunggu pesanan mereka datang.


“Iya, mereka masih mengusung budaya Betawi, jadi dibuat sealami mungkin.”


“Mas sering ke sini?” tanya Ella.


“Dulu sih sering, tapi setelah dari luar negeri baru kali ini datang ke sini,” jawab Erik.


“Mas sudah lama pulang dari Amerikanya?” tanya Ella.


“Belum kok, baru sebulan di sini, Mas terpaksa meninggalkan Amerika karena Papa Yusuf menyuruh Mas untuk ngurus rumah sakit di sini, Kak Bima kerepotan kalau ngurus perusahaan dan rumah sakit,” jelas Erik.


“Berarti Mas Erik meninggalkan rumah sakit di Amerika,” tanya Ella lagi.


“Iya, rumah sakit di sana ditangani sama orang kepercayaan Papa, ini sebenarnya cuma akal-akalannya Mama Jihan aja biar gak jauh-jauh dari Mas, heheheh,” tutur Erik penuh percaya diri.


“Hehehe, Mas Erik kok mikirnya gitu?” tanya Ella.


“Iya Mama Jihan nyuruh Mas cepat-cepat nikah, dia takut kalau mas punya kelainan yang baru-baru ini tengah ramai di perbincangkan,” ucap Erik sambil tertawa tipis. Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan datang. Mereka makan dengan masih tetap mengobrol dengan sedikit candaan dari Erik.


“Kalau kamu La, pengen jadi dokter spesialis apa?” tanya Erik.


“Penginnya sih dokter kandungan Mas, tapi nggak tau juga yang penting selesain dokter umumnya dulu,” ucap Ella.


Waduh kalau Ella jadi dokter kandungan sama dong kaya gue, jadi sepasang dokter kandungan dong. Batin Erik.


“Nggak pengen spesialis anak gitu La? kan lucu tiap hari ketemu anak anak kecil,” ucap Erik mencoba memberi saran pada Ella.


“Masih belum mikirin kesitu sih Mas,” ucap Ella sambil menikmati gado- gadonya.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Erik mengajak Ella meninggalkan rumah makan itu. Sampai di dalam mobil, Erik mendekatkan badannya ke arah Ella. Ella yang melihat perlakuan Erik, langsung berusaha menghindar dan memejamkan matanya, karena terasa deru nafas Erik yang semakin mendekat, pikirannya sudah membayangkan tetang ciuman pertama yang akan terjadi di dalam mobil.


“Mas cuma mau masang seatbelt kok La,” ucap Erik sambil tersenyum, lalu nenowel hidung Ella. Wajah Ella yang malu langsung berubah merah merona karena malu.


“Maaf Mas,” Ella hanya tersenyum tipis lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela karena merasa sangat malu. Erik mengangguk dan segera melajukan mobil ke tempat tujuan.


Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka sampai di toko buku, Erik segera menggenggam tangan Ella dan membawanya masuk ke toko. Ella mulai mencari buku yang ia butuhkan, dengan dibantu oleh Erik. Namun, Erik justru menyerahkan buku yang berbeda jauh dari apa yang Ella cari.


“Istri Sholehah,” Ella membaca judul buku lalu menatap ke arah Erik. “Maksudnya apa ini Mas?” tanya Ella penasaran.


“Buat dibaca aja kalau pas ada waktu,” ucap Erik sambil tersenyum manis ke arah Ella. Ella hanya mengangguk menerima buku pemberian Erik entah kapan akan dibaca yang penting dia akan menyimpannya dulu, mengingat buku itu pemberian dari orang dia cintai. Mereka Lalu berjalan lagi mencari buku yang Ella butuhkan.


“Sudah dapat semua bukunya?” tanya Erik setelah 1 jam berada di toko buku.


“Sudah kok, ayo!” ajak Ella.


“Sini! biar Mas saja yang mengantre, kamu duduk di situ aja,” ucap Erik sambil menunggu bangku kursi yang kosong.


“Tapi Mas,” ucap Ella tapi langsung di potong Erik.


“Mas nggak suka dibantah,” sahut Erik.


“Oke baiklah,” ucap Ella lalu berjalan menuju kursi di dekatnya.


Setelah keduanya selesai memilih buku, mereka langsung menuju ke tempat parkiran. Erik langsung melajukan mobil untuk mengantar Ella pulang, di dalam mobil Ella dan Erik tidak ada yang berbicara sampai akhirnya Erik menyalakan musik lalu mendengarkan lagu yang ada di sana.


“Mas Erik suka Brian Mcknight juga ya?” tanya Ella.


“Iya Mas suka lagu-lagunya, bikin suasana romantis soalnya.”


Ella hanya terkekeh mendengar penuturan Erik, dia baru tau kalau lelaki itu suka hal- hal yang berbau romantis.


“Eh La, hari sabtu ada acara nggak?” tanya Erik.


“Sepertinya nggak ada deh Mas, kenapa?”


“Kamu suka nonton nggak, kita nonton yuk?” tawar Erik.


“Berdua aja?” tanya Ella memastikan.


“Iya sih, tapi kalau gak mau ya ngga papa kok?” ucap Erik yang masih fokus melajukan mobilnya.


“Insya Allah ya Mas, nanti Ella kabari,” jawab Ella.


“Oke,” jawab Erik sambil tersenyum pada Ella.


Gimana nggak jatuh cinta coba, kalu senyumannya aja kaya gitu. Batin Ella


“Eh, udah sampai ya Mas, Ella turun dulu ya. Mas Erik nggak mau mampir dulu?” tawar Ella.


“Emmm. Nggak usah deh La, bentar lagi Mas ada jadwal praktek soalnya,” ucap Erik menolak tawaran Ella.


“Ow ya sudah, terima kasih ya Mas sudah mau nganterin Ella,” ucap Ella.


“Iya sama-sama.”


“Bya assalamu'alaikum ,” salam Ella sambil turun dari mobil Erik.


“Wa'alaikumsalam La,” jawab Erik lalu tersenyum pada Ella. Erik segera melajukan mobilnya menuju apartemen, meninggalkan gadis itu di depan pintu gerbang rumahnya.

__ADS_1


“Mungkin nanti akan jadi waktu yang tepat buat ngungkapin semuanya ke Ella,” ucap Erik dalam mobil.


__ADS_2