
Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
Erik masih menatap tajam istrinya yang tengah menundukkan kepala itu, Ella merasa takut karena sudah menyulut emosi Erik, hingga membuat Erik semarah itu padanya.
Ella melirik kearah Erik yang tidak segera merespon dengan benda yang dia lemparkan tadi, dia sedih karena merasa Erik tidak mempedulikannya.
Ella memberanikan diri mendonggakan kepala menatap wajah Erik yang tengah menatapnya tajam. Dia hendak memulai bicara tapi Erik justru menghindar dan pergi ke kamar mandi. Ella yang merasa Erik tidak peduli padanya, langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, berharap hari esok dia bisa bicara baik-baik dengan suaminya.
Setelah Erik menyelesaikan mandinya, dia berjalan ke arah lemari pakaian mencari baju yang pas untuk menutupi tubuhnya. Pikirannya sedikit lebih tenang setelah berendam air dingin tadi, dia berjalan ke arah sofa, berniat untuk melihat acara tv, tanpa mempedulikan Ella yang tengah tertidur nyenyak, dia mengeraskan volume tv nya dengan suara keras, membuat Ella menarik guling untuk menutupi telinganya, karena merasa telinganya berdengung.
Erik tidak bisa tidur karena merasa lapar, dia yang malam ini tidur di sofa, hanya bisa mencari posisi ternyaman agar cepat terlelap, tapi yang terjadi matanya enggan terpejam. Dia kembali mendudukan tubuhnya, merasa tidak tega jika istrinya terganggu dengan suara tv, dia lalu mengecilkan suara tv itu, padahal Erik berharap istrinya itu bangun, dan menyiapkan makan malam yang sudah terlewat jamnya ini.
Dia yang tidak tega mendekat ke arah ranjang, dan merebahkan tubuhnya disana menahan rasa lapar yang tengah menyerangnya. Tangannya terulur membawa Ella ke dalam pelukkannya.
“Kamu masih menangis?” tanya Erik pada istrinya yang dia kira sudah tertidur itu.
“Mas salah apa sih sama kamu Yang! Coba jelaskan biar Mas bisa memperbaikinya, jangan seperti ini,” ucap Erik dengan lembut sambil mendongakkan kepala istrinya, menatap mata istrinya yang sudah memerah itu.
“Kamu lihat ini sudah pukul 11 malam, bararti kamu menangis hampir 2 jam, dan Mas juga nggak tau bagaimana cara menenangkanmu, bilang dong salah Mas apa?” tanya Erik lembut, sambil menghapus airmata Ella yang masih keluar itu.
“Mas tanya salah Mas? Mas nggak bisa lihat berapa kali hari ini membuat jengkel aku,” balas Ella yang masih sesenggukan. Erik menepuk punggung Ella agar lebih bisa menenangkannya.
“Pertama. Tadi subuh Mas ngatain aku gendut, padahal itu bohongkan? Aku sudah berusaha menjaga pola makanku, dan aku selalu ingin di puji sexy olehmu, tapi yang ada kamu malah memujiku gendut,” ucap Ella yang mengungkit kejadian tadi pagi, ketika mereka baru bangun. Erik tersenyum menatap Ella.
__ADS_1
“Iya ... Maaf kan itu fakta. Karena ini juga bertambah besar,” ucap Erik sambil meletakkan tangannya di benda kembar milik Ella.
“Iya. Mas minta maaf, oke. Kamu nggak gendut tapi sexy! Sudah ya,” ucap Erik tulus.
“Kedua!”
“Ada lagi?” tanya Erik.
“Mas mengabaikanku, Mas tahu kan aku paling benci itu, bahkan aku merasa ‘habis manis sepah dibuang’ saat Mas meninggalkan aku tidur dengan lelapnya, tanpa mendengarkan omonganku yang lebih penting dari tidur siangmu tadi,” jelas Ella. Erik yang merasa bersalah langsung meminta maaf sambil mengecup bibir istrinya.
“Mas kan juga lelah, tapi sekarang Mas sudah tidak lelah lagi, dan siap bertempur denganmu sampai pagi,” ucap Erik sambil tersenyum smrik ke arah Ella. Membuat Ella langsung mencubit hidung Erik yang sudah menempel di area favoritnya.
“Enak saja malam ini libur dulu,” lanjut Ella sambil melepaskan tangannya dari hidung Erik.
“Kan Mas sudah mengakui jika Mas yang salah, dan malam ini Mas janji, nggak akan mengabaikanmu, Mas akan memelukmu hingga matahari terbit,” ucap Erik yang sudah kehilangan kata-kata rayuan.
Tapi Ella justru tidak peduli dengan ucapan suaminya, karena dia masih punya rincian kesalahan suaminya.
“Dan keempat ini yang terakhir, yang membuat aku merasa benar-benar membenci Mas,” ucap Ella dengan menatap tajam suaminya.
“Kenapa? Mas nggak ada selingkuh kok!” sahutnya membuat Ella benar-benar marah padanya.
“Mas belum tau juga kan, apa yang aku lempar ke Mas tadi?” tanya Ella yang di jawab gelengan kepala oleh Erik.
“Sekarang! ambil barang itu dan lihatlah!” perintah Ella sambil mendorong tubuh suaminya.
“Ah ... Nggak ah...Yang. Sudah malam, besok pagi saja lihatnya, Mas mau memelukmu hingga pagi dulu,” jawab Erik sambil merentangkan tangannya ke tubuh Ella.
“Nah. Itu! Kamu memang nggak peduli dengan kondisiku,” ucap Ella sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Erik.
__ADS_1
“Sudah dong jangan marah lagi, iya Mas ambil barangnya,” ucap Erik sambil berjalan ke arah sofa untuk mengambil benda yang berceceran tadi.
Dia mengambil kertas bewarna biru, kuning, merah itu mengamati yang dia tahu itu adalah alat tes uji kehamilan. Tangannya membuka alat tespack itu, bibirnya terangkat saat melihat dua garis merah disana, dia lalu menoleh ke arah istrinya, dan Ella hanya menggangguk mencoba menjawab pertanyaan isyarat dari suaminya.
Terlihat Erik kesusahan menahan airmatanya, sampai akhirnya airmata itu jatuh membasahi pipi putihnya, Ella yang melihat itu mendekat ke arah Erik, memeluk suaminya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Erik.
“Sebenarnya aku ingin menyampaikan kabar ini seromantis mungkin, membungkusnya dengan kertas pita bewarna biru, tapi sebelum itu kita makan malam ditemani lilin yang menyala, dengan makanan kesukaanku, dan aku akan mengatakan ‘terimakasih sudah kembali menghamiliku’ sambil menyerahkan kado itu, tapi...” ucapan Ella tak dapat dilanjutkan lagi karena Erik sudah meraih bibirnya untuk digigit.
“Kenapa halu mu terlalu tinggi? Mas akan melakukan itu tanpa kamu membayangkan,” ucapnya setelah melepaskan gigitan dibibir Ella.
Ella lalu memeluk suaminya, meminta maaf atas kemalasannya beberapa hari ini, Ella berharap suaminya itu bisa mengerti bahwa itu bisa saja bawaan bayi yang sekarang dikandungnya.
“Maafkan aku Mas, mungkin aku yang terlalu manja, dan selalu ingin kamu manjakan, tapi aku benar-benar tidak punya tenaga untuk melakukan kegiatan apapun hari ini, aku hanya ingin tidur dan merebahkan tubuhku,” ucap Ella yang masih berada dipelukkan suaminya.
“Jangan banyak bicara, nanti anak kita akan cerewet sepertimu. Itu artinya kamu kemarin bohongin Mas ya, kamu tidak sedang datang bulankan?” tanya Erik menatap Ella penuh selidik.
“Nggak! Aku memang datang bulan tapi, cuma semalam, lalu aku cerita ke Hanin, dan dia cerita pengalaman waktu dia positif, dan ternyata aku mengalami hal yang sama dengan pasienmu yang cerewet itu,” jelas Ella yang membuat Erik tersenyum lebar ke arahnya.
“Mulai malam ini Mas akan buat peraturan baru, jadi dengarkan baik-baik! Kamu hanya diizinkan pergi bersama dengan Mas, pulang dan pergi kerja sama Mas, atau lebih memilih tidak bekerja, pekerjaan rumah biar Mas yang mengerjakan, haram bagimu menyentuh alat pel dan baju kotor,” ucap Erik yang membuat Ella tersenyum manis ke arahnya.
“Berarti aku hanya diperbolehkan untuk tidur, dan melayanimu,” jelas Ella yang membuat Erik teringat kejadian siang tadi.
“Ow... Iya!” ucap Erik saat mengingat kejadian tadi siang, sambil mensejajarkan wajahnya ke perut Ella.
“Hay Nak! Apa tadi siang papa terlalu kasar saat menyapamu.”
Bersambung....
Terimakasih berkat vote raders saya berhasil masuk 100 besar😁😁😁.
__ADS_1
Bahagianya melebihi gajian dari MT.😜
Sekali lagi terimakasih dan jangan putus untuk mendukung karya saya.🙏👍