Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

Jangan lupa like, vote, komentar, dan tips šŸ˜‰


Selamat membaca!


ā™„ļø


"Ka-kamu!" suara Naura terdengar lantang, bersiap memaki pria yang ini berdiri di depannya. "Untuk apa kamu membuntutiku? Mau mencari bukti—aku selingkuh atau tidak dengan mantan suami klienmu!" tuduhnya tanpa ampun. Dia tidak mengerti kenapa Abhi bisa berdiri tegap di depannya.


Sedangkan pria itu diam mematung, matanya sibuk mengamati penampilan Naura. Lalu menggeleng lemah, "kamu terlihat beda jika begini!" Masih dengan suara dingin, Abhi maju melewati bibir pintu. Meninggalkan Naura yang menatapnya penuh tanya.


"Abhi! Keluar!" teriaknya penuh emosi, saat pria itu terus melanjutkan langkahnya masuk lebih dalam lagi ke apartemennya.


Merasa terpanggil, Abhi memutar tubuhnya menghadap Naura. Menunjuk benda apa yang ada di tangannya saat ini. "Oke, pertama! Niat saya mengetuk pintu adalah untuk menumpang mandi. Aku sudah menghubungi bagian office untuk memperbaiki saluran air di apartemenku. Tapi menunggu mereka sama saja. Luaammaaa! Aku buru-buru untuk menghadiri acara makan malam dengan keluarga besar Damanik. Kedua." Abhi mengambil nafas lebih dulu, kemudian melanjutkan lagi ucapannya. "aku sudah mengetuk pintu tetangga apartemen, dan sepertinya mereka tengah memadu kasih, atau pergi entah kemana. Cuma kamu, dari sekian pintu yang aku ketuk, sedang enak-enakan mengenakan piyama Donald duck. Jadi, izinkan saya untuk menumpang mandi!"


Naura memperhatikan penampilan Abhi, disusul suara tawa kecil dari bibirnya, "emang ini kos-kosan? Air bisa mati begitu saja! Aku nggak percaya dengan sikap bulusmu itu! Jadi, pak Abhi silakan keluar!" Naura menunjuk pintu keluar, mengusir Abhi.


"Heh, aku nggak tahu apartemen model apa ini, ya! Kalau kamu nggak percaya aku akan membuktikannya!"


Naura menggeram dalam hati atas penghinaan Abhi. Tidak tahu saja jika apartemen ini masih aset keluarganya. Namun, ia terkejut saat merasakan tangannya ditarik kasar oleh Abhi.


Pria itu membawanya masuk ke apartemen yang ada di depan apartemennya. Dan bodohnya Naura mau saja mengikuti cowok aneh tersebut. Bahkan dia tak segan untuk berada satu kamar mandi berdua. Beruntung hanya sebentar.


Setelah memastikan air kamar mandi Abhi mati, ia segera kembali ke apartemennya. Disusul Abhi yang berjalan mengekorinya. "Baru kali ini, aku melihat Tuan Abhicandra bicara panjang lebar, selain di meja hijau?! Kemampuanmu tidak buruk juga!" ledeknya diiringi kekehan kecil. Abhi diam, dia melenggang melewati Naura yang sedang menutup pintu.


"Heh mau kemana, lo?" tanya Naura ketika Abhi justru berjalan ke arah kamar.

__ADS_1


"Kamar mandi."


"Kamu mandi di kamar mandi situ! Yang boleh masuk kamarku hanya aku dan suamiku kelak! Kamu jangan coba-coba!" Peringat Naura dengan suara keras. Mata Abhi pun tertuju ke arah kamar mandi umum yang ditunjuk Naura, dia mengalah karena sebagian keluarga Damanik sudah menunggunya di restoran.


"Jangan lebih dari 15 menit! Aku tidak mau jamur panu mu menempel di dinding!" Ucapan Naura memancing Abhi untuk menggodanya.


Abhi berjalan mendekati Naura dengan sorot mata penuh gairah, langkahnya pelan sambil membuka satu persatu kancing kemeja warna putih yang masih menempel di tubuhnya.


"Jangan aneh-aneh! Atau kamu akan kuusir dan tidak aku izinkan mandi di sini!" tangan Naura sudah menunjuk tubuh Abhi, sebagai peringatan.


Mengabaikan ucapan Naura. Abhi justru semakin cepat membuka kancing kemejanya. Setelah selesai, ia melepas kemeja putih tersebut, lalu mengibaskan kemejanya, memberi tanda supaya Naura melihat betapa sempurnanya tubuh atletis itu. "Silahkan diperiksa Nona! Apa perlu saya membuka celana saya juga supaya kamu tahu kalau aku tidak punya penyakit kulit!"


Wajah Naura merah padam mendengar ucapan pria di depannya. Ia tidak mengira jika cowok dingin seperti Abhi bisa segila itu dengannya. Ini berlebihan, ini cowok pertama yang berani memamerkan perut sixpack nya selain Kalun dan papanya.


"Gila! Abhi masuk!" usir Naura menunjuk ke arah kamar mandi.


Abhi semakin tertawa keras saat mendapati wajah Naura yang merah ketakutan. Naura segera membalikan badan, untuk menghindari Abhi. Dia berlari ke kamar menyembunyikan keterkejutannya akan sikap Abhi yang aneh.


"Gila tu! Pengacara soak! Bisa-bisanya kelakuannya mesum kaya gitu, ternoda mata ini, ya Allah. Maafkan hamba-Mu!" Naura memukul kepalanya berulang kali. Lama ia bersembunyi di dalam kamar berharap tidak berpapasan dengan Abhi setelah ini.


"Lama banget mandinya. Dia cowok loh, apa dia mandi susu dulu?! Mungkin membelai bulunya satu-satu!" gerutunya setelah menunggu cukup lama. Ia gelisah karena Abhi tak kunjung keluar. Takut dan khawatir jika Abhi akan mengulangi kelakuannya tadi.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu apartemen terbuka, diikuti suara kaki yang berjalan masuk. Merasa terselamatkan Naura segera keluar dari kamar. Namun, ia lebih terkejut lagi siapa yang datang ke apartemennya saat ini.


Alea? Bukan.

__ADS_1


Dia mematung, memikirkan hal buruk setelah ini. "Ma, Pa." lidah Naura mendadak kelu, menyebutkan dua kata itu.


"Hai, Sayang. Kenapa wajah kamu tegang gitu?!" Ella meletakan paperbag yang ada di tangannya. Mengisyaratkan Naura untuk membuka paperbag yang ia bawa.


Tapi, fokus Naura bukan itu. Tidak mampu lagi memikirkan apa isi paperbag tersebut. "Tum—ben kesini?" tanyanya lirih.


"Kok?" Erik menelengkan kepalanya memperhatikan Naura. "Kenapa memangnya? Ada yang kamu sembunyikan?" mata Erik mulai menelisik setiap penjuru ruangan.


"Owh ... tentu saja tidak." Naura memaksakan untuk tersenyum, demi menjawab kecurigaan Erik.


"Mama dan papa habis makan malam, kebetulan lewat sini, jadi mama bawa'in makanan kesukaanmu!"


Makan malam? ini bahkan masih sore. Batin Naura yang merasa dibohongi. "Wah, pasti enak nih! Berhubung sudah Nana terima, papa dan mama boleh pulang!" Naura mendekat ke arah paperbag, membuka menu kesukaannya udang asam manis. Begitu dibuka aroma masakan begitu menggoda untuk perutnya.


"Terserah kita dong mau berapa lama di sini!" Erik justru mengambil duduk di sofa, meraih ponsel yang ada di kantong celana.


Baru kali ini, Naura berdoa untuk kejelekan orang, berharap Abhi pinsan di dalam kamar mandi, atau tertidur saat pria itu berendam air susu. Tapi ketika matamya melirik ke arah pintu kamar mandi, tubuhnya mendadak menegang karena melihat pergerakan dari handle pintu.


"Aku sudah selesai nih, lumayan seger!" ucap pria itu tanpa melihat ke arah sofa. Dia sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada tangan.


Sedangkan orang yang duduk di sofa semua kompak berdiri, menatap tubuh Abhi yang memakai handuk kimono warna putih, memperlihatkan bulu dadanya yang tipis. Mereka menatap cukup lama, sampai Abhi menyadari situasinya tengah gawat.


"Pap—pa!" Naura mencoba mendekat ke arah Erik, berusaha untuk menjelaskan.


"Owh, jadi ini alasan kamu!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2