Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Jika kau bilang cinta saja sudah cukup, itu salah ....


Jika kau fikir sayang saja sudah cukup, kau keliru.


Coba sempatkan tuk lihat isi hatiku, apakah diriku bahagia selama ini? Bisakah kau sedikit peka—


Abhi melepas headset yang tertancap di telinga istrinya. Membuat suara nyanyian dari bibir Naura terhenti seketika.


"Abhi ... nggak lihat aku lagi seneng nyanyi lagu itu." Naura bersuara manja meminta Abhi mengembalikan headset yang pria itu curi.


Abhi mengusap dagunya. Ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sedari tadi ia memanggil nama Naura supaya mengambilkan pakaian ganti, tapi istrinya itu justru tengah konser tunggal di atas ranjang.


Memang selama ini kau telah berikan segalanya bagiku. Tapi, kau tak mengerti, ku butuhkan hanya kau di sampingku.


Saat Naura mengambil nafas untuk menyanyikan syair selanjutnya. Dengan cepat, Abhi membungkamnya dengan ciuman panas, dan sontak membuat tangan Naura mendorong keras dada Abhi karena terkejut. Tapi, sayangnya percuma ... lantaran tubuh kekar Abhi yang kuat tidak mampu bergeser sedikit pun dari atas tubuhnya saat ini.


"Jangan nyanyi lagu itu!" Abhi berbisik pelan di depan wajah Naura. "Waktuku, perhatianku semua untukmu! Jadi, jangan nyanyi itu lagi!"


"Suka-suka gue!" Naura menolak permintaan Abhi. Dia tersenyum miring, meledek suaminya.


"Sayang ... kamu boleh nyanyi lainya, tapi jangan itu!"


Naura berdehem, sebentar. Lalu ... ku menangis ... membayangkan ... betapa kejamnya Abhi atas diriku kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya.


Abhi terkekeh saat mencermati syair lagu yang ia dengar. "Aku dua-in beneran baru nangis-nangis."


"Boleh, tapi aku minta sesuatu yang sudah kau ambil," sahut Naura.


"Apa?" mata Abhi membulat, meminta Naura untuk melanjutkan ucapannya.


"Cinta, waktu dan ... keperawanan!"


Abhi semakin tertawa keras. "Aku sudah mengontrak mu seumur hidup, jadi tak akan hati ini berpaling darimu. Paham Nyonya Abhi?" ujarnya menggoda.


"Yakin?"


"Hmm ...."


"Sini ponselmu!"


"Buat apa?"


"Patroli!"

__ADS_1


Abhi yang masih bertelanjang dada pun meraih ponselnya di atas meja nakas. Kemudian menyerahkan pada Naura, sambil berkata, "seperti hati ini, aku serahkan hartaku untukmu!" Abhi mengatakan hal itu dengan nada lebay yang membuat Naura mual.


"Sini mendekat!" Naura mengalungkan lengannya ke leher Abhi lalu mengambil foto mesra mereka berdua.


Naura tersenyum tipis saat melihat hasil bidikannya, kata perfect pun hanya ia ucapkan dalam hati. Lalu ia membuka setelan profil WA Abhi. Ia mengganti foto profil Abhi dengan foto yang baru saja ia ambil.


"Cakep kan?" Kata Naura memperlihatkan foto profil tersebut ke arah Abhi.


"Hm ... orang ngira kita habis ena-ena—kamu tega dada suami mu ini dinikmati banyak wanita!"


"Aih, Abhi ... Kenapa harus kelihatan sih!" sesal Naura, kembali ia mengganti foto profil Abhi. Kali ini ada foto tangannya dan Abhi yang saling bertautan.


"Ini saja!"


Abhi mengangguk sambil memeluk mesra tubuh Naura. "Nggak perlu pasang foto kita di sosmed. Karena yang terpenting bukan mereka tahu tentang hubungan kita. Tapi, cukup kamu tahu aku mencintaimu." Abhi mengecup singkat pipi Naura.


"Kamu manis sekali deh, Bhi. Ayo tidur!"


"Nggak main-main dulu? Main sqeuisy atau lainnya juga boleh."


"Lelah Bhi," sahut Naura sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Mereka pun akhirnya terlelap tanpa ada obrolan malam selanjutnya. Bersiap untuk hari esok yang pasti akan lebih sibuk dari hari ini.


...----------------...


Sinar matahari yang masuk ke kamar mewah rumah Erik tidak mampu membangunkan dua manusia yang kini bersembunyi di bawah selimut tebal. Siapa lagi kalau bukan Naura dan Abhi yang tengah menikmati kehangatan sinar mentari yang sedang malu-malu.


Kini jam di dinding sudah menunjukan pukul 8 pagi. Sebagian penghuni rumah mewah itu sudah berkumpul di lantai satu rumah Erik. Ke empat anak Erik semalam sengaja menginap di rumah mewah tersebut, semua itu demi melancarkan acara resepsi yang akan diselenggarakan besok pagi. Acara memang akan diselenggarakan di hotel, tapi mereka perlu mempersiapkan segala sesuatunya dari rumah.


"Eh, pengantinnya mana?" Sashi yang baru saja tiba langsung mencari keberadaan Naura. Ia datang bersama MUA yang akan memberikan perawatan pada tubuh Naura.


"Masih ngamar," sahut Maura, "kaya bibi nggak pernah muda saja!"


"Ish, dasar, sudah siang loh, keturunan mas Erik memang tak ada yang normal semuanya doyan! Panggil Naura, gih, Ra!" perintah Sashi. Maura yang paham segera naik ke lantai dua untuk membangunkan saudara kembarnya.


"Nana ... ada bibi, buruan, sudah ditunggu!" teriak Maura.


"Nanti dulu, Ra!" sahut Naura dari dalam kamar, ia merasakan perutnya yang tidak nyaman saat ini. "Bilang sama bibi Sashi suruh nungguin dulu!"


Abhi yang merasa terganggu, kini ikut membuka mata, ia melihat wajah Naura yang merintih kesakitan, memegangi perutnya. Ia lalu ikut mengusap perut Naura. "Mau aku ambilkan kompres, Sayang?"


"Nggak perlu deh, Bhi. Nanti juga sembuh."


"Biasa minum obat apa? Aku ambilkan sarapan dulu, ya? Habis itu minum obat."


"Nggak, Bhi!" tolak Naura dengan gelengan kepala.

__ADS_1


Abhi mendudukan tubuhnya, melihat wajah Naura yang pucat, ia bergegas turun dari ranjang. Ia berjalan keluar kamar untuk mengambil kompress. Tidak butuh waktu lama, Abhi sudah kembali dengan alat kompress air hangat, lalu meletakan di perut Naura. "Kamu tiduran miring, Sayang. Biar aku pijat punggung mu!"


"Gimana, begini?" tanya Naura sambil mengambil posisi miring.


"Buka baju mu dong!"


"Nggak, aku tahu kamu punya niatan buruk!" tolak Naura.


"Astagfirullah, aku ikhlas, Sayang. Tak ada niat lain selain membantu meredakan sakit perutmu! Tapi, kalau kamu mau puasin aku dengan cara lain, aku siap!"


"Dasar mesum!" Naura memukul lengan Abhi, tapi secepat kilat tangannya bergerak melepas satu persatu kancing piyama.


"Kok kamu tahu ilmu kaya gini? Pasti mantan pacar sering minta bantuan ke kamu, iya, kan? Hayo ngaku?"


"Pikiranmu perlu dicuci deh, Sayang? Tangan ini masih suci ya, sebelum menjamah tubuhmu! Cuma kalau mata sudah sering lihat di ponsel, di tv."


"Nyebelin!"


Meski Naura terus mengomel, Abhi dengan telaten merawat perut Naura. "Gagal deh ... jadi Abhi junior!" gumamnya.


"Gaya ih, kaya sudah siap saja!"


"Sudah dong!"


"Sudah? Awas nanti kalau disuruh gendong takut!"


"Ya, nggak, aku sudah terlatih menggendong Ara! Sudah diam, sini biar aku bantu kamu! Jangan banyak gerak!" Abhi menahan tangan Naura yang bergerak usil.


Sampai suara cemas dari luar kamar, memaksa Naura kembali memakai bajunya. Tapi, belum selesai ia memakai baju, Ella lebih dulu masuk dengan secangkir ramuan jahe hangat di tangannya.


"Abhi tahan dulu, paling cuma satu Minggu!" goda Ella pada menantunya.


"Tahan dong, Ma. Abhi kan kuat ... kalau nggak kuat tinggal telepon teman."


Naura mendelik ke arah Abhi. "telingaku masih basah mendengar rayuan mu semalam kamu sudah mau macam-macam!"


"Nana kalau cemburu ngeri ya, Ma!" Abhi menatap Ella. "tapi, Abhi suka. itu tandanya Nana cinta betulan sama Abhi, hehehe ...."


"Ya, kalau kamu sudah tahu begitu, tolong jaga putri mama baik- baik ya! Bimbing dia dalam hal kebaikan. Jangan sakiti Nana, kalau kamu berasa lelah, bawa dia pada mama sebisa mungkin mama akan menasehatinya."


"Abhi bukan janji pada mama saja. Tapi, pada diri Abhi sendiri, kalau akan selalu membuat Nana tersenyum, sedikit tangis. Karena pasti dalam hubungan tidak mungkin akan semulus seperti kita melewati jalan tol. Tapi, Abhi janji akan berusaha sampai waktu kita terpisah nanti."


Naura yang mendengar pun hanya membeku sambil menatap wajah tampan suaminya. Ia lalu memeluk tubuh Abhi. "Aku mencintaimu, Abhi. Terima kasih sudah membalasnya!"


"Ih, mama iri kalian pagi-pagi gini sudah pelukan, mama keluar saja mau nyari papamu. Mau minta peluk juga!" Ella yang sungkan pun segera keluar dari kamar, membiarkan Naura dan Abhi saling mengutarakan perasaanya.

__ADS_1


...----------------...


...Jangan lupa untuk like dan komentar...


__ADS_2