Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Jalan -Jalan


__ADS_3

Erik benar- benar seperti pengantin baru yang habis melakukan malam pertamanya, padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti itu. Ya, mungkin nanti malam dia akan mencoba kembali pekerjaan besar itu, senyumnya kembali lebar saat melihat tubuh istrinya penuh dengan tanda merah, ia lalu menarik tangan istrinya dan membawanya ke depan cermin ruang ganti.


" Bagaimana, berapa nilai karya suamimu ini? " Ella lalu melihat ke arah kaca, matanya dibuat melotot sempurna oleh kelakuan suami barunya itu ia baru menyadari jika kegiatannya semalam meninggalkan bekas, sedangkan Erik semakin tertawa keras saat melihat ekspresi sang istri.


" Kata orang ini tanda kepemilikkan, kamu milikku sayang, " bisik Erik ditelinga Ella.


" Aku nggak tau kenapa bisa seliar itu dengan tubuhmu, " lanjut Erik sambil memeluk Ella dari belakang menciumi rambut Ella yang masih basah.


Ella yang mendengar itu segera melepaskan pelukakkannya dari Erik, segera mengambil baju dan memakainya.


" Kenapa pakai baju itu? kita harus ke rumah mama yang, " ucap Erik saat melihat Ella memakai baju piyama pendek.


" Bagaimana aku bisa keluar, kalau leherku saja seperti ini, " ucap Ella lalu berjalan keluar dari kamar ganti menuju sofa yang di ada kamarnya.


" Aku mau di kamar saja, aku malu mas, " ucap Ella.


" Baiklah, kalau kamu nggak mau keluar kamar, berarti kita bisa mencobanya kembali kan? " ucap Erik sambil memulai menciumi tengkuk Ella yang duduk di depannya.


" Aaaaaa....mas jangan! nanti malam saja, kalau siang itu banyak penganggu, biasanya Ghea sering masuk ke kamarku, " jelas Ella yang merasakan geli di lehernya.


" ya sudah ganti baju sana, ayo kita ke rumah mama, " ucap Erik lalu berjalan ke arah wardrobe.


Setelah perdebatan kissmark, Ella akhirnya menyetujui permintaan Erik untuk pergi ke rumah mertuanya, saat di perjalanan Ella hanya memandang tanda merah di lehernya dengan kaca yang dia bawa, sambil mengoleskan foundantion di area tanda merah yang Erik berikan.


" Bagaimana lebih baikkan? " tanya Ella sambil menunjukkan ke arah Erik, Erik hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Besuk kita pulang ke rumah kita ya yang, " ucap Erik sambil fokus ke arah jalan, Ella binggung setelah mendengar Erik yang bicara.


" Maksudnya? " tanya Ella.


" Iya, Mas sudah membuat rumah buat kita, besuk kita pindah kesana ya? " jelas Erik.


" Mas kok nggak pernah cerita? Lala mau di apartemen saja, sepertinya aku akan menikmati peranku dulu sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan, membuat makanan, dan melayani suamiku tanpa embel- embel ART yang membantuku, " ucap Ella.


" Yakin? nanti kamu capek, " tanya Erik memastikan Ella.


" Ya aku yakin, kita akan pindah kalau sudah waktunya saja, " jawab Ella .


" Baiklah terserah kamu, Mas nanti akan bantuin kamu, " ucap Erik.


" Ayo turun, " ucap Erik yang telah berhasil memarkirkan mobilnya di depan rumah mamanya, ia lalu berjalan ke arah Ella, Ella tersentak saat Erik tiba- tiba mengangkat tubuhnya ala bridal style, Ella yang terkejut dengan tindakan Erik berniat ingin berontak.


" Mas turunin ih, Lala malu Mas, " ucap Ella.


" Diamlah, apa kamu mau kita jatuh dan berciuman dilantai, " Ella yang mendengar itu segera mengalukan tangannya ke leher Erik lalu menatap suaminya lebih dekat lagi.


" Erik ! apa Lala benar- benar tidak bisa berjalan? " tanya mama Jihan saat melihat Erik berjalan menggendong Ella ke ruang keluarga, Ella yang mendengar itu hanya bingung sambil menatap Erik disamping tempat duduknya.


" Bisa kok ma, mas Erik saja yang lebay pengen gendong Ella, " ucap Ella setelah mengerti maksud pertanyaan mama mertuanya itu.

__ADS_1


" Memang Erik kuat berapa ronde La, " tanya mama Jihan yang penasaran dengan anak lelakinya tersebut.


" Boro- boro ma, lepas segel saja belum, " ucap Erik dengan nada kecewa mengingat kejadian semalam.


" Kok bisa? " Erik yang akan menjawab, tiba- tiba dibuat kaget karena ada tangan kecil yang menutup matanya.


" Coba tebak ini Zoya atau Zalin, " ucap gadis kecil itu.


" Pasti Zalin, " jawab Erik.


" Huft salah lagi! hukumannya om Erik harus ajak jalan- jalan kita ke playground, benar kan Zal, " ucap Zoya dengan suara manja, Zalina yang di dekatnya mengangguk setuju.


" Ajak tante cantikmu itu, kalau dia setuju om akan mengantarkan kemana pun yang kalian mau, " jawab Erik.


" Tante cantik, ayo jalan-jalan papa nggak mau anterin kita, katanya papa mau lepas kangen dulu sama mama, " ucap Zalina jujur sambil bergelayut manja dilengan Ella.


" Hmmm gimana ya, " ucap Ella sambil pura-pura berfikir.


" Apa tante nggak kasian pada kami, kita ke Jakarta, tapi nggak diajak jalan- jalan sama papa mama, " rayu Zoya yang sudah berada dipangkuan Ella.


" Baiklah, tante akan mengantarkan kalian, tapi janji ya harus nurut sama tante dan om saat di sana nanti, " ucap Ella, kedua gadis itu kemudian tertawa bahagia karena keinginannya dituruti.


Zoya dan Zalina adalah gadis penurut, usia mereka selisih tiga tahun, Zoya 9 tahun sedangkan Zalina 6 tahun, namun keduanya terlihat akur saat berada diluar rumah, sedangkan saat di dalam rumah dia sama seperti anak kecil pada umumnya.


" Om kata papa sekarang om dan tante sudah menjadi pasangan ya, berarti bisa buat adek cowok dong, " ucap Zoya saat dalam perjalanan.


" Iya, doain saja, biar om dan tante bisa beri kalian adek yang banyak, " ucap Erik melirik ke arah Ella.


" Benarkah Zalin? " tanya Ella.


" Nggak! kata mama mainan Zoya mainan Zalin juga jadi suruh mainan berdua, " jelas Zalina yang berada di kursi belakang.


" Sudah ayo turun, jadi main ke playground nggak, " ucap Erik saat mobil sudah berhenti di Mall terbesar di Jakarta.


" Horeee....akhirnya, " teriak kedua gadis itu, lalu turun dari mobil.


Erik dan Ella berjalan beriringan memasuki mall tersebut, Erik yang merasa di abaikan segera menarik tangan Ella dan memeluknya dari samping. Setelah sampai di playground Erik mulai membeli tiket untuk kedua gadis itu, lalu meninggalkannya di area bermain.


" Om sama tante duduk di sana ya, kalian harus nurut, " ucap Erik sambil menunjuk kursi kosong diruang tunggu, kedua gadis kecil itu mengangguk setuju.


" Yang, aku haus, " ucap Ella saat melihat Erik berjalan ke arahnya. Erik segera membeli makanan dan minuman untuk istrinya tersebut.


" Mungkin nanti kita akan seperti ini saat menemani anak kita bermain, " ucap Erik saat sudah duduh disamping Ella.


" Masalahnya mungkin nanti kamu nggak akan semuda ini yang, " ucap Ella menggoda Erik sambil tertawa.


" Yang penting masih kuat diranjang," ucap Erik berbisik didekat telinga Ella.


" Buka segel saja belum bisa, sudah mikir kekuatan, " balas Ella berbisik didekat telinga Erik dengan nada yang dibuat sesexy mungkin.

__ADS_1


" Awas ya, tunggu nanti malam, mas akan buat kamu memohon supaya Mas menghentikannya, dan saat itu tiba Mas akan mau untuk berhenti" ucap Erik, Ella yang mendengar itu hanya bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.


"Aw... sakit yang, " ucap Erik saat Ella mencubit pinggangnya.


" Makanya jangan bicara mesum ditempat umum, " ucap Ella lalu mereka kembali memakan makanan yang dibeli Erik tadi.


" Om, tante, ayo! kita sudah selesai mainnya, kita pengen beli baju, " ucap Zalina.


" Baiklah, karena om dalam suasana bahagia om akan menuruti permintaan kalian, " ucap Erik lalu menggandeng tangan Ella mengikuti kedua gadis itu dari belakang.


" Yang, sepertinya lingrie itu akan terlihat sexy jika kamu pakai, " ucap Erik lirih saat melewati toko underwear disampingnya.


" Nggak, nggak usah pakai baju seperti itu, nanti aku bisa masuk angin, " kilah Ella yang merasa malu jika memakai lingrie.


" Apa kamu lupa apa yang dikatakan pak penghulu kemaren, nyenengin suami itu pahalanya besar. benar nggak mau? " ucap Erik menggoda Ella.


" Ayo kita beli itu dulu, " Erik lalu menghentikan langkahnya agar Ella memilih lingrie tersebut.


" Zoya, Zalin, tante sama om mau masuk ke toko itu sebentar, kalian nggak boleh jauh- jauh ya, " peringat Ella pada kedua gadis itu, mereka hanya mengangguk setuju dan duduk dikursi yang ada didalam toko.


" Mau warna apa? " bisik Ella ditelinga Erik, Erik diam berpikir.


" Semua warna, yang motif harimau sepertinya bagus bikin kamu tambah liar, " ucap Erik tersenyum smirk ke arah Ella.


" Mas! " teriak Ella setelah mendengar ucapan Erik, lalu segera mengambil semua warna yang ada dengan motif polos, segera membawanya ke kasir tanpa mempedulikan ucapan Erik.


" Maaf mbak, sekalian sama yang ini ya, istri saya pemalu jadi sungkan untuk mengambilnya, " ucap Erik sambil menyerahkan lingrie dengan berbagai motif tanpa memperhatikan pandangan wanita di depannya. Ella yang melihat itu langsung pergi meninggalkan Erik berjalan menuju kursi Zoya dan Zalina. Ella merasa jengkel dengan kelakuan Erik karena keinginanya harus dituruti.


" bagus ya, tebar pesona terus sama kasir cewek itu. " ucap Ella dalam hati sambil masih menatap Erik dari kejauhan.


" Tante, kita ke toko boneka saja yuk, nggak usah beli baju, " ucap Zoya.


" Ayo, " ucap Ella lalu berjalan menggandeng kedua tangan kedua gadis itu, meninggalkan Erik yang masih membayar.


" Kalian pilih saja, " ucap Ella saat berada di toko boneka, mata Ella fokus pada satu boneka yang sama persis dengan boneka yang ada dikamarnya, ia jadi teringat Erik yang ia tinggalkan di toko underwear, baru Ella akan mengambil boneka tersebut, seseorang sudah mengambilnya lebih dulu.


" Deven, " ucap Ella saat melihat lelaki itu.


" Ella, hay apa kabar, " ucap Deven reflek memeluk tubuh Ella. Erik yang melihat itu segera melerai pelukan lelaki itu.


" Dev, kenalkan ini suamiku, " ucap Ella memperkenalkan Erik. Deven segera mengulurkan tangannya ke Erik, Erik lalu segera menerima tangan Deven dan mengajak Ella pulang.


" Sudah, ayo kita pulang, sepertinya kamu kelelahan, " ucap Erik merengkuh tubuh Ella dengan tangan kananya.


" Kita duluan ya, " pamit Ella yang di jawab anggukan oleh Deven.


" Siapa dia yang, " tanya Erik saat sudah keluar dari toko itu setelah selesai membayar belanjaanya.


" Bukan siapa- siapa hanya teman kampus waktu di sydny, " jelas Ella.

__ADS_1


Keduanya memutuskan untuk mengajak kedua gadis itu pulang, karena Ella sudah merasa capek. Kedua gadis itu sudah terlelap dibelakang kursi kemudi, sedangkan Ella masih menikmati kripik kentang yang tadi dia beli sambil menikmati kemacetan ibu kota, sesekali menyuapkan ke mulut Erik yang tengah mengemudikan mobil.


Terimakasih mohon jangan lupa kasih vote, like,dan coment๐Ÿ‘๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


__ADS_2