
...Selamat Membaca...
Naura terkejut saat melihat Nora tiba-tiba duduk di depannya. Gadis kecil itu mengulurkan coller bag yang ia bawa dari rumah. "Kata papi, Tante suka banget sama es campur ini. Ayo kita makan!" ajaknya sambil membuka penutup tas tersebut.
"Aku sukanya pakai kacang merah, kalau Tante sama papi itu sehati sama-sama suka toping durian. Kalau mami nya Nora, malahan nggak suka sama sekali sama es campur ini!" Nora terus berbicara sambil mengeluarkan es campur dari dalam tas. Memang hanya ada tiga porsi di sana, karena Hanif pikir Abhi tidak ada sedang di apartemen Naura.
Naura melirik ke arah Abhi yang berjalan mendekat ke arahnya. Sedangkan Hanif, pria itu berjalan ke arah dapur untuk mengambil mangkuk.
"Om Abhi, sudah nggak jalan lagi sama mami nya, Nora? Kok bisa di sini sama Tante Nana?" tanya Nora, saat melihat Abhi duduk di samping Naura.
"Kan kasusnya sudah selesai!" jawab Abhi. "Ya, nggak papa om di sini, kan om suami nya tante—
Abhi tidak bisa melanjutkan ucapanya karena Naura tiba-tiba memukul pahanya. Abhi yang bingung bertanya lewat isyarat mata, tapi Naura tidak mau menjelaskan padanya.
"Sorry ya, Abh! Aku cuma beli tiga. Tahu kamu di sini aku beli empat, deh!" Kata Hanif setelah kembali dari dapur.
"Nggak papa, aku bisa minta Nana nanti." Abhi menjawab sambil melirik ke arah sang istri.
"Tante habis ini bantuin aku mewarnai ya!"
Naura langsung mengangguk, tanpa melihat ke arah Abhi yang sudah memasang wajah kesal.
"Kamu kok di sini, Abh? Nggak kerja?"
"Nggak kebetulan aku ambil cuti untuk hone—
"Sayang ... sakit!" Abhi berteriak saat Naura mencubit pahanya.
Hanif yang mendengar panggilan sayang yang dilontarkan Abhi pun hanya mendengus kesal. Merasa curiga, dengan hubungan mereka.
"Abhi, kalau sudah tidak ada keperluan, mendingan kamu pulang dulu deh! Kita bisa bicara lagi nanti, atau biarkan nanti aku yang datang ke apartemenmu!"
Abhi hanya mengernyit saat mendengar penuturan istrinya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia beranjak dan meninggalkan apartemen Naura.
Sebenarnya Naura ingin tidak ingin melakukan ini, tapi karena mulut Abhi terus keceplosan ingin mengatakan bahwa dia miliknya, ia jadi tidak nyaman akan tatapan Hanif. Ia ingin mengatakan sendiri kalau waktunya sudah tepat, atau saat Nora sedang asyik-asyiknya mewarnai nanti.
"Emang sering ya, Na. Abhi datang ke sini?"
Naura menghentikan tangannya untuk menyendok es campur. Entah kenapa rasanya tiba-tiba tidak seenak biasanya.
"Dulu enggak, tapi kedepannya mungkin akan sering."
"Kenapa begitu? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?" tanya Hanif penasaran.
__ADS_1
Sebelum menjawab pertanyaan dari Hanif, Naura melirik ke arah Nora. Gadis itu tengah sibuk menyuapkan es ke dalam mulutnya. Ia lalu kembali menatap ke arah wajah Hanif.
"Kita sudah menikah." Naura bisa melihat air muka Hanif yang kini tampak berubah. "Dua hari yang lalu."
"Na, kenapa kamu bisa melakukan ini pada kami?" Hanif menarik nafas. "Aku meminta padamu supaya memberiku kesempatan, tapi kenapa kamu justru membalas semuanya dengan menikahi Abhi!"
"Hanif! Kamu lupa? Aku tidak pernah mengizinkanmu masuk setelah semua hal yang terjadi di antara kita. Kita berdua masih berhubungan karena kamu adalah klienku!"
"Jadi, tolong! Sadar diri!" lanjutnya tegas.
"Tante, kok marah-marah sama papi?" Nora yang bersama mereka pun ikut protes, dia tidak terima jika Naura memarahi papinya.
"Maaf, Ra! Tante lagi gak enak badan, jadi mudah emosi." Naura memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Ugh, gitu. Kalau gitu Tante tiduran saja. Biar papi yang jagain Tante."
"Nggak, Nora. Lebih baik kita pulang saja! Kasihan Tante Nana, pasti pengen istirahat," ucap Hanif, tapi tatapannya tak putus menatap kesal ke arah Naura.
Nora pun menurut, acara mewarnai yang sudah ia rencanakan batal, ia pulang dengan perasaan kecewa.
Setelah kepergian mereka berdua, Naura mencari keberadaan ponselnya untuk menelepon Abhi. Tapi, sayangnya sudah berulangkali ia mencari tak menemukan ponsel tersebut.
Ia kemudian berjalan ke arah apartemen Abhi. Berniat untuk menemui pria tersebut. Setelah tiga kali menekan bel pintu apartemen terbuka lebar, ada mamanya Abhi yang berdiri di balik pintu.
"Abhi di mana, Ma?"
Naura hanya memberikan senyum kecut, lalu berjalan ke arah kamar Abhi. Ia membuka pelan pintu kamar, ia masuk dan mendapati Abhi yang tengah menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang king size.
"Abhi ...." tidak ada sahutan dari pemilik nama. "Sayang ... ngambek nya jangan lama-lama ya!"
Hening mengudara, Naura hanya bisa menatap punggung Abhi yang tidak menunjukan pergerakan. Ia kemudian duduk di tepi ranjang. Sambil menggoyangkan tubuh sang suami.
"Abhi kamu tahu ponselku nggak? Hari ini aku ada janji sama klien," tanya Naura, ia masih belum menyerah, membujuk Abhi supaya mau berbicara dengannya.
"Nggak tahu!" ketus Abhi, belum mau membalikan tubuhnya.
"Abhi, kamu kaya gadis lagi PMS tahu nggak, ngambek nggak jelas gini!"
"Siapa yang ngambek nggak jelas?!" Abhi membalikan tubuhnya menghadap Naura. "Kau tahu aku ngambek gara-gara apa?"
"Tahu!"
"Bagus," ketus Abhi. "Jadi wajar aku ngambek!"
__ADS_1
"Aku cuma mau ngasih tahu mereka waktu yang tepat Abhi!"
"Tepat kapan? Tunggu ada bukti dulu baru kita kasih tahu ke mereka! Iya?"
"Abhi ... jangan teriak-teriak, nggak enak kalau sampai didengar mama!"
"Sudah kamu pulang saja, dan jangan ganggu aku!" Abhi kembali menutup tubuhnya dengan selimut tebal warna biru navy, dia masih kesal dengan Naura saat tadi memintanya pulang ke apartemen.
"Abhi ... please jangan seperti ini! Kita sudah dewasa! Aku sudah bilang sama Hanif kalau kita sudah menikah. Jadi kamu tidak perlu marah-marah lagi!"
Abhi masih bergeming, tapi dalam hatinya merasa lega, karena pada akhirnya Hanif sudah mengetahui hubungan mereka berdua.
"Aku mau berhenti ngambek, asalkan buatin aku teh dulu!"
"Beneran berhenti ngambek? Nanti enggak bahas-bahas ini lagi kan?"
"Em ... cium dulu, buat penawarnya?" Abhi membuka selimut lalu bersandar di sandaran ranjang.
"Ih, kalau aku nyiumnya sekarang, yang ada gak jadi bikinin teh buat kamu!"
"Tahu, aja! Dah sana buatin aku teh, jangan terlalu manis." teriak Abhi sebelum Naura menghilang di balik pintu.
Saat Naura keluar, ia bertemu dengan Widya yang tengah duduk di sofa sambil menyaksikan acara televisi.
"Sudah bangun di Abang, Na?"
"Sudah, Ma. Mau dibuatin teh." Naura berucap sambil melenggang ke arah dapur. Mengabaikan senyum Widya yang terus mengiringi langkahnya.
Tiba di dapur, Naura membuka kabinet yang ada di bawah bawah kompor. Ia mengambil satu cangkir yang ada di sana. Saat ia menuangkan gula ke cangkir tersebut, tak sengaja menangkap tulisan yang tercetak di cangkir Abhi yang bergambar kartun Popeye.
Ia kembali membuka kabinet tersebut, satu cangkir bertuliskan Olive masih tersimpan rapi di sana. Sampai akhirnya ia menutup kabinet tersebut.
Dengan perasaan kesal ia kembali ke kamar untuk menyerahkan teh itu pada Abhi.
"Terima kasih," ucap Abhi saat Naura meletakan cangkir di samping ranjang.
"Aku harus pergi ke kantor, ada klien yang ingin bertemu denganku. Aku pergi ya?"
"Biar aku antar."
"Nggak perlu, aku bisa naik taksi!"
"Sayang, biar aku antar!"
__ADS_1
"Tidak usah, aku buru-buru! Aku permisi dulu!" Naura lalu keluar dari kamar Abhi, dia tidak bohong dengan janjinya dengan klien.
Abhi hanya mengerutkan kening, saat melihat perubahan sikap Naura. Tapi, ia tidak mau mengambil pusing atas penolakan itu, Abhi memilih melanjutkan kegiatannya membalas email dari beberapa kliennya.