Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Kenanglah Aku!


__ADS_3

Semua orang tampak panik, mendekat ke arah Toyota Camry warna putih, mencoba mencuri dengar di mana Ridwan menyembunyikan kedua mempelai saat ini.


...Selamat Membaca...


“Halloooo semuuaaaanya ….” suara teriakan Naura membahana. Tampak gadis itu berdiri dan bertumpu pada kaca mobil bagian depan satu tangan Naura melambai ke arah keluarganya.


Bukan hanya keluarga besar Erik yang langsung menoleh ke sumber suara. Sebagian tamu undangan yang hendak masuk ke hotel langsung memusatkan pandanganya ke arah mobil klasik tersebut. Menikmati kecantikan dari mobil dan sang mempelai wanita.


“Absurd," ketus Kalun yang melihat kelakuan aneh sang adik. Ia menggeleng, tidak percaya dengan tingkah Naura yang bisa seaneh itu.


“Gila-gila. Ini kejutan. Kenapa kamu dulu tidak kepikiran seperti itu, sih Kak?” tanya Maura pada sang suami yang kini berdiri di sampingnya.


Alby berdehem, "mau ngulang pesta pernikahan, lagi?" Maura mencebikkan bibirnya, lalu menunjuk ke arah perut. "Mustahil dengan anakmu yang hampir dua!" katanya kemudian.


Sedangkan Erik tampak antusias, bukan pada pengantin tapi pada mobil klasik yang dikemudikan oleh Abhi. Ia berdecak, karena koleksi nya kalah mewah dari Abhi. Dia hanya punya motor Vespa itupun ia gunakan hanya untuk memutari komplek rumah. Tidak berani berkeliling sendirian ke jalan raya.


Saat mobil yang dikemudikan Abhi berhenti, Erik lekas menyambut Naura. “Kamu tak kalah cantik dari mamamu!” ujarnya memuji, membuat senyum bahagia Naura semakin terpancar.


Dua bridesmaids segera mendekat ke arah Naura, membantu memegangi gaun bagian belakang yang menjuntai. Sedangkan Abhi, segera berdiri di samping sang istri. Bersiap membimbing Naura menuju pelaminan. Menggantikan posisi Erik saat ini.


Ia jadi membayangkan seperti inilah kehidupannya nanti, membimbing Naura ke tempat indah, yaitu surga, insya Allah. Dan pastinya semua tidak akan berjalan dengan mudah, ia akan melewati kerikil-kerikil kecil atau bahkan kerikil besar. Melewati terpaan angin, yang bisa saja menggoyangkan kesetiaan mereka berdua.


Tiba di depan pintu aula, mereka berhenti lebih dulu untuk mengatur dandanan. Keluarga besar Erik yang masih berada di luar masuk lewat pintu samping, pintu utama hanya digunakan untuk kedua mempelai.


Naura tampak gugup saat ini, ia tidak tahu seperti apa keadaan di dalam sana, ia jadi menerka-nerka akan ada kejutan yang membuat semakin bahagia.


Dua orang pria yang berdiri di depan pintu segera membuka pintu tersebut. Ruangan begitu tenang, dengan cahaya yang nyaris tidak ada. Naura kini mere*mas telapak Abhi. Demi menenangkan debaran jantungnya yang semakin berpacu cepat.


Lagu dari Sammy Simorangkir-Tulang Rusuk terpilih menjadi backsound, mengiringi langkah mereka berdua menuju pelaminan. Naura menitihkan air mata saat lampu perlahan menyala, memperlihatkan dekorasi ruangan. Ia terharu, sampai dadanya terasa perih, bersamaan dengan bulu kuduknya yang merespon dengan cepat, saat menyaksikan dekorasi ruangan. Ia lalu menatap Maura dengan mata yang sudah basah, ia tahu Maura mengetahui apa yang diimpikan jika ia benar bisa menemukan prianya. Ia mengangguk ke arah Maura, sambil mengucapkan terima kasih. Abhi yang berjalan bersamanya lekas memberikan tisu.

__ADS_1


“Aku tahu kamu menangis bahagia. Tapi ingat dandanan mu! Kasihan MUA nya sedari tadi membenarkan bedakmu! Nanti tagihannya nambah, rugi Bandar!” tegur Abhi diselingi candaan, yang membuat Naura menoleh ke arahnya, diam hanya memperhatikan wajah Abhi sambil berjalan pelan menuju pelaminan.


Naura melambaikan tangan saat matanya menemukan keberadaan orang yang sangat ia kenal. Alea, gadis gempal itu turut hadir dengan tangan yang sudah membawa piring berisi cheese cake. Ia tersenyum sambil menggeleng. “I’m happy,” teriaknya tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak. Tangan Alea yang kosong lekas mengacungkan jempol ke arah Naura. Memberi isyarat jika ia juga bahagia atas pernikahan Naura.


Langkah mereka berdua pelan, menyesuaikan dengan irama lagu yang tengah diputar. Hingga tiba di pelaminan para tamu diminta untuk duduk.


Tidak ada acara resmi di pesta pernikahan kali ini. Hanya diisi dengan acara ramah tamah dari para tamu yang berkenan mengisi acara.


Naura sempat terkejut saat Hanif maju dan menyanyikan lagu dari Naff- Kenanglah Aku. Tapi, godaan dari Abhi lebih bisa menarik perhatiannya saat ini.


Mungkin suatu saat nanti ...


Kautemukan bahagia meski tak bersamaku.


Bila nanti kau tak kembali ...


Kenanglah aku sepanjang hidupmu ...


Selanjutnya, salah satu teman kuliah Abhi maju ke depan. Seorang pria bertubuh ceking, dengan rambut yang dibentuk poni lempar, sama seperti vokalis band yang sempat viral puluhan tahun yang lalu. Pria itu melakukan stand up comedy yang mampu membuat para tamu terbahak sambil memegang perutnya, dan berakhir berkata pada kedua mempelai. “Maaf Bang Abhi," ujarnya menahan sebentar supaya kedua mempelai menoleh ke arahnya. "Sebenarnya saya tadi sudah membawa secarik tulisan.” Pria itu meraih kain dari saku celananya. Bukan secarik lagi, jika dilebarkan itu bisa menjadi sebuah poster.


“Aku pikir hendak menempelnya di pintu masuk, tapi ternyata di belakang aku ada dia!” pria itu membuka kain warna putih yang sudah ditulis dengan tinta pilok. Terdapat bayangan gambar wanita dengan tulisan di bawah.


“Mohon Maaf Mantan Dilarang Masuk!”


Pria bernama Yudho itu cukup mengenal keduanya (Abhi dan Olivia) jadi tidak merasa sungkan jika Olivia akan marah. Naura yang turut membaca pun ikut tertawa, tapi tetap menjaga raut wajahnya sesopan mungkin.


“Sekali lagi selamat atas wisudanya para jomblo ngenes! Semoga pernikahan kalian berdua dilimpahi dengan kebahagiaan. Aamiin." Pria itu kemudian menutup stand up comedy nya dengan salam. Lalu berjalan menyalami kedua mempelai, untuk memberikan sesuatu.


"Tidak menerima cash, aku kirim nomor rekening saja!"

__ADS_1


Yudho terbahak, "nggak usah sungkan gitu. ini cuma syarat saja. Gue nggak mau dikira numpang makan gratis!"


Abhi terkejut saat membuka tangannya ternyata Yudho memberi obat penambah stamina. Abhi hanya mengumpat dalam hati, lalu berkata, "meski sudah 35 tahun gue masih tahan kalau mau 10 round dan tidak perlu beginian!" kesal Abhi.


Dan itu mampu membuat Yudho berdecak. "hargai pemberian orang. Harap dipakai!" pesannya dengan satu kedipan mata, lalu beralih menyalami Naura.


Pengisi acara satu persatu mulai naik, memberikan apa yang ingin mereka sumbangkan. Sedangkan kedua mempelai tengah menyalami tamu yang memberinya selamat. Senyum keduanya tak meredup sedikit pun. Abhi yang khawatir Naura kelelahan berulangkali memintanya untuk duduk. Tapi hanya diabaikan oleh Naura.


Raut wajah Naura seketika berubah, bukan senyum tulus lagi yang ditunjukan. Ia seperti dipaksa untuk tersenyum saat melihat Olivia mulai mendekat ke arah pelaminan. Ia menarik lengan Abhi, “jangan lihat bagian dadanya!” Naura memperingati saat melihat betapa rendahnya belahan dada Olivia. Langkah wanita itu pun dibuat seperti model papan atas yang tengah berjalan di atas catwalk.


“Tundukan pandanganmu! Dia haram, untuk kamu lihat apalagi bagian dadanya yang menyembul!” lanjut Naura, berpesan.


“Sedikit saja, dosanya juga sedikit kan?” goda Abhi, dengan nada serius.


“Abhi!” Naura meraih rahang Abhi supaya melihat ke arahnya. “Di sini halal, bebas kamu lihat setiap detik! Jangan mencari hal yang akan membuat dosa mu menggunung!” peringatnya berbisik, tepat di depan wajah Abhi.


Pria itu hendak tertawa, tapi ia tahan. Ia takut Naura akan semakin kesal terhadap dirinya. “Terima kasih sudah mengingatkan aku! Aku akan menjaga mata dan kemaluanku! Hanya pada yang halal saja, okey!” Abhi kembali mengeratkan genggamannya, meyakinkan Naura.


“Good!” Naura lalu mengecup singkat leher Abhi, terlalu susah jika harus mencium pipi suaminya itu.


Saat Olivia mengucapkan selamat pada mereka berdua. Abhi terus menatap istrinya ia benar-benar enggan untuk menatap Olivia. “Sttt … Stt.” Abhi memanggil Naura dengan berdesis. “Aku mejem loh!” telunjuk Abhi menunjuk ke arah matanya sendiri.


“Kamu kenapa sih, Bhi?” tanya Olivia yang penasaran.


“Hah. No tidak apa-apa! Kelilipan banyak debu bertebaran di sini!” jawab Abhi menunduk mengarah tepat ke sepatunya.


Merasa tidak nyaman Olivia beralih menyalami Naura. "Hati-hati ya, dia kalau tidur ngoroknya kenceng banget!" ucap Olivia, yang membuat mempelai wanita menatap ke arah suaminya. Ia yakin ada yang tidak beres di sini.


...----------------...

__ADS_1


Don't forget to give likes, gifts, votes and positive comments. Thank you 🙏


__ADS_2