
Waktu terus berlalu. Ella merasa kasihan pada anak lelakinya, karena Kayra tidak ingin buru-buru menikah dengan Kalun. Terpaksa niat Kalun untuk menikah muda harus dia tunda, karena Kayra memutuskan untuk menimba ilmu di London.
Ella khawatir kejadian yang dulu ia alami akan menimpa anaknya juga, meski dia dulu hanya salah paham. Tapi itu mampu membuatnya sakit hati yang begitu dalam.
Ella terus menghibur Kalun, jika hubungannya dengan Kayra akan baik-baik saja saat Kayra berada di London. Berbeda dengan Erik yang merasa senang saat mengetahui tunangan anaknya pergi menjauh dari Kalun. Itu artinya dia bisa sedikit lega, karena Kalun bisa saja berpindah ke lain hati. Erik tahu jika Kayra tidak benar-benar mencintai anaknya.
Sudah dua tahun Kalun menjalani hubungan LDR dengan Kayra. Hubunganya terlihat biasa-biasa saja, seperti layaknya pasangan pada umumnya.
Tapi malam ini, Ella melihat Kalun terlihat kacau. Dia pulang dengan pakaian yang basah kuyub. Firasatnya mungkin benar jika Kalun tengah mengalami kesulitan. Dia mengikuti langkah Kalun yang berjalan menuju kamarnya. Ella mengurusi Kalun yang terlihat tidak baik malam ini. Beruntungnya Kalun menceritakan masalah yang di alaminya.
“Ka -Kalun, akan akan menikah Ma, tolong Mama beri restu Kalun ya ...” ucap anak lelakinya itu.
Ella syok saat Kalun menjelaskan jika dia akan menikah dengan wanita lain, bukan wanita yang menjadi tunangannya.
***
Pagi ini, Ella terus terjaga di kamarnya, dia menatap cahaya matahari dari dalam kamarnya. Jendelanya sengaja dibuka, supaya bisa membangunkan lelaki yang masih terlelap di bawah selimut. Dia masih duduk termangu di sofa dekat jendela sambil membayangkan 20 tahun yang lalu saat anak-anaknya masih kecil-kecil.
“Tumben belum mandi?” tanya Erik yang berjalan menghampiri Ella. Dia tidak sadar jika suaminya itu sudah terbangun dari tidurnya. “Pasti nungguin aku ya?” lanjutnya sambil mendaratkan bokongnya di samping Ella.
Ella langsung menghambur memeluk Erik, dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Mendengarkan detak jantung suaminya untuk meredakan kegelisahan yang tengah dia rasakan.
“Kalun akan menikah.” Ella berkata dengan lirih. Membuat Erik yang sudah tua tidak bisa lagi mendengarnya dengan jelas. Namun, dia mengusap punggung Ella. Mencoba mengerti apa yang tengah Ella rasakan saat ini.
“Dia akan menikah tapi bukan dengan Kayra. Saat aku bertanya, dia selingkuh jawabnya tidak!” jelas Ella sambil menatap wajah Erik dari posisinya. Erik baru mengerti apa yang Ella pikirkan saat ini. Dalam hatinya tersenyum senang, tapi wajahnya memperlihatkan jika ia turut sedih sama seperti yang istrinya tengah rasakan.
“Jadi ini yang kamu pikirkan, Yang,” ucapnya setelah memberikan kecupan selamat pagi di bibir manis Ella.
__ADS_1
“Aku takut. Dia seperti dirimu! Dia tergoda wanita lain, saat menjalani hubungan jarak jauh.”
Erik melepaskan tangan Ella yang melingkar di pinggangnya. Dia sedikit baper saat Ella mengatakan itu. Istrinya itu masih saja mengingat kelakuan buruknya yang sudah lebih dari 30 tahun berlalu.
“Jangan lanjutkan lagi!” ucapnya sambil berdiri hendak meninggalkan Ella.
Ella menatap wajah Erik yang kesal, dia sadar jika sudah membuat suaminya itu marah dengannya. Dia lalu menarik tangan suaminya.
“Sudah tua juga masih suka ngambek! Nggak malu apa nanti sama cucunya!” sindir Ella yang sudah mengenggam tangan Erik.
Erik yang sudah kembali duduk, menatap Ella tajam.
“Apa? Mau?” ucap Ella sambil menggoda ke arah Erik. Dia melepas kancing dress rumah yang ia kenakan. Dia tahu kelamahan suaminya, setelah ini pasti bibir suaminya itu pasti akan tersenyum.
“Nggak, aku nggak mau!” tolak Erik sambil mengalihkan tatapannya ke arah jendela.
Erik tidak ingin berucap lagi. Dia langsung membawa Ella ke ranjangnya. Melanjutkan apa yang sudah dibuka Ella tadi.
“Kamu selalu tahu cara untuk meredakan amarahku!” ucapnya sambil menelusuri leher Ella.
“Kita sudah lama bersama, aku sudah paham bagaimana mengurus suamiku yang mesum ini!” ucap Ella sambil menarik hidung Erik.
Erik yang sudah lincah, segera menceburkan dirinya di dalam Ella. Dia masih bisa menikmati tubuh istrinya yang masih sempit ini. Beruntungnya kamar mereka kedap suara. Jadi suara indah yang keluar dari bibir Ella tidak akan mampu didengar oleh anaknya yang sudah tumbuh dewasa. Cahaya matahari yang sudah muncul, tak ingin membuat Erik cepat-cepat mengakhirinya. Dia merasa tubuh Ella semakin menggoda saat cahayanya mengenai wajah Ella yang cantik.
Cukup lama mereka melakukan kegiatan itu, meski sudah berulangkali mencapai klimaks Erik masih ingin merasakan lagi dan lagi. Hingga suara ketukkan pintu terdengar, Erik belum mau menghentikan kegiatannya.
“Sebentar lagi!” ucapnya sambil mendorong lagi dada istrinya, saat Ella hendak duduk dari tidurnya. Ella hanya khawatir jika pintu tiba-tiba terbuka, karena dia lupa sudah mengunci pintu atau belum.
__ADS_1
Erik melepaskan dirinya dari dalam tubuh Ella, dia menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Ella yang terlihat letih. Dia hanya tersenyum smirk sambil menoleh ke arah Ella.
“Terima kasih, Sayang!” ucapnya sambil memberi kecupan di pipinya. Dia lalu membawa Ella ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat.
“Jangan pedulikan anak lelakimu itu, terserah dia mau menikah dengan siapa. Satu hal yang harus kamu tahu, aku justru senang jika Kalun tidak jadi menikah dengan Kayra.”
Ella menatap wajah Erik lekat, dia bingung dengan apa yang disampaikan Erik. Bukannya suaminya itu tahu jika Kalun memcintai Kayra.
“Kenapa seperti itu?”
“Seiiring berjalannya waktu kamu pasti akan paham, kenapa aku justru senang,” ucap Erik sambil sedikit menggendorkan pelukannya.
“Apa Mas tahu apa yang dilakukan Kayra di London?”
“Aku nggak punya waktu untuk mengurus Kayra, Sayang, aku hanya mau mengurus keluarga kita, supaya mereka dan kamu dalam keadaan baik, Kalun anakku juga, aku tahu apa yang dia lakukan, aku selalu mengirim orang untuk menjaganya, jadi jangan khawatir,” jelas Erik. Dia lalu membawa Ella masuk ke kamar mandi. Melakukan ritualnya setelah selesai bercinta.
***
Erik dan Ella keluar dari kamarnya, mereka segera berjalan ke arah meja makan di mana anak perempuannya sudah menunggu mereka untuk sarapan. Kalun terlihat belum ada di sana, mungkin anak lelakinya itu tidak pergi bekerja, karena dia terlalu larut pulang ke rumah.
“Makanlah! Jangan terlalu dipikirkan, aku akan segera mengurusnya nanti,” ucap Erik saat melihat Ella tidak segera memakan sarapannya.
Semua orang yang berada di meja makan, menatap kehadiran Kalun yang hanya mengenakan kemeja. Dia berjalan keluar setelah menyapa sebentar keluarganya. Erik hanya menatap kesal ke arah anak lelakinya itu.
👣
Yang masih kangen Erik Ella like ya.😁
__ADS_1