
“Kau yakin akan mengambil kasus itu, Bhi?” tanya Erik. Bukan hanya Abhi, Naura yang tidak tahu menahu lekas meminta penjelasan pada sang papa.
...Selamat Membaca...
“Kasus apa sih, Sayang?” tanya Naura, saat tak kunjung mendapat jawaban dari Erik. Ia menatap Abhi penuh perasaan khawatir. Ia takut, kalau Abhi akan terjun ke penanganan kasus-kasus korupsi, yang pasti akan melibatkan keselamatan diri.
“Kasusnya pak Bahtiar.” Erik berucap singkat. Sedangkan Abhi tersenyum sambil mengangguk kan kepala, membernarkan ucapan Erik, “beliau meminta secara khusus pada—
“Abhi!” seru Naura memotong penjelasan suaminya. Ia tidak setuju dengan keputusan Abhi. Ia ingin melayangkan protes atas keputusan Abhi, yang tidak melibatkan dirinya. “Jangan, lakukan itu ,Sayang! Berbahaya!”
“Ini bukan kasus biasa, Bhi!” timpal Erik, wajahnya masih terlihat datar. Ia cukup tahu siapa lawan Bahtiar di persidangan nanti.
Naura mengangguk, membenarkan ucapan Erik.
Sedangkan pria itu hanya meringis tanpa beban, menganggap kasus yang ia tangani mudah untuk dimenangkan. “Abhi juga sudah mempelajarinya, Pa.”
“Lawannya mafia, loh?” Erik menatap ke arah Naura, putrinya itu pasti juga tahu benar kasus mafia itu. “kalau kamu menang, bisa menjadi pengacara terkenal. Tapi kalau kau kalah. Bukan hanya nyawamu, tapi … kamu tahu kan maksudku?” Erik menatap lekat ke arah Naura.
“Abhi minta doa restunya saja, Pa. Semoga kasus ini berhasil Abhi menangkan.”
“Lagian kenapa kamu jadi pindah jalur, sih, Bhi?” protes Naura, dia masih tidak terima dengan keputusan suaminya.
Abhi tidak perlu mengatakan supaya tidak bertemu dan berdebat di pengadilan bersamanya, kan? Cukuplah itu menjadi rahasianya saja. “Sayang, skill ku yang sebenarnya memang di situ. Aku terjun ke kasus perceraian karena kemarin ngurusin kasusnya Bunga, rasa tertarikku semakin tinggi setelah berhasil memenangkannya. Dan sekarang aku ingin kembali ke alamku.” Abhi menjelaskan, dengan senyuman tipis ke arah sang istri.
Membuat Naura berdecak lirih, lalu berdiri meninggalkan Abhi di meja bersama para pria yang masih ngobrol serius. Ada lima orang pria di sana, karena Alby kembali ke meja saat Maura sudah terlelap.
Obrolan itu berlanjut, Abhi menjelaskan pada Erik dan iparnya, tentang kasus yang akan ia tangani. Menurutnya, masalah Bahtiar tidak begitu rumit. Yang membuatnya rumit karena harus berurusan dengan wartawan yang terlalu membesar-besarkan berita kasus mereka.
“Pesanku … apapun nanti yang akan terjadi, kamu harus jaga Nana ku, Bhi. Jangan sampai dia yang jadi sasaran mereka.” Erik berpesan, terlihat jelas kekhawatiran dari wajahnya.
“Abhi akan menjaga Nana dengan sekuat tenaga.”
“Kamu bisa tanya sama Haikal,” saran Erik saat menatap ke arah Kenzo, pria itu sedari tadi hanya menyimak, dia tidak paham masalah hukum, dan kasus. Dunianya kini hanya berhubungan dengan obat dan tenaga kerja medis.
“Papa Haikal sudah tidak masuk ke dunia itu, Pa.” Kenzo tertawa lebar setelah itu. “Takut sama mama. Papa Haikal kan gitu meski dulunya mafia tapi hatinya lembut. Sekarang aja kaya bang Tigor. Suami takut istri!”
__ADS_1
“Kuaduin nih ke mama mu!” sahut Kalun yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka. Kenzo hanya melirik sebentar, memberi cengiran. Kemudian kembali mendengar pembicaraan Abhi.
Cerita mereka pun berlanjut sampai jarum jam menunjuk ke arah angka satu. Abhi lekas kembali ke kamar setelah para pria itu masuk ke kamar masing-masing. Tiba di dalam kamar ia terkejut melihat istrinya masih sibuk dengan ponselnya.
“Belum tidur, Sayang?” Tapi sayangnya, pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Naura. Istrinya itu mengabaikannya. Abhi berjalan ke arah jendela yang terbuka lalu menutupnya. Ia tahu, Naura tidak menyalakan pendingin udara di kamar karena mengerti dengan kondisinya yang alergi dengan udara dingin. “Panas kah? Kok dibuka jendelanya? Kamu nggak lelah, kok masih on fire?”
Naura masih abai dengan pertanyaan suaminya, dia justru menekuk satu kakinya, memijit betisnya yang terasa pegal.
Abhi yang ingat akan janjinya sebelum makan malam, segera mendekat ke arah ranjang, tiba di samping istrinya, segera meletakan telapaknya di kaki wanita itu, memberikan pijatan lembut di sana.
“Ngomong dong, Sayang!” perintahnya memecah keheningan.
Naura menatap Abhi sebentar, dia tidak menolak dengan perlakuan Abhi, karena membutuhkannya. Bibirnya dengan kuat menahan tawa, saat jemari Abhi berada di telapak kakinya, pria itu pasti sengaja melakukan hal itu karena ingin membuatnya bersuara.
“Geli, Abhi! Jauhkan tanganmu!” peringatnya saat tak mampu menahan tawa, ia menarik kakinya menjauh dari tangan Abhi. Tawanya pun meledak saat Abhi tak kunjung menghentikan aktivitasnya.
“Gitu dong ketawa, jangan cemberut terus. Semua masih bisa dibicarakan, Sayang ... jangan diam saja, suamimu ini bukan patung, aku masih bernafas.” Abhi beralih ke samping Naura, tangannya bersiap mendekap istrinya, tapi dengan cepat wanita itu menolak. Memberi peringatan dengan telapak tangan.
“Berapa hari ke Siantar?” tanya Naura dengan tangan masih menahan dada Abhi.
“Mau mu berapa hari,” tawar Abhi, ia kembali berusaha memeluk Naura. Tapi kali ini Naura ikhlas menerima pelukan erat darinya. Perlahan bibir berisi kepunyaan Abhi mulai bertindak liar, mengecupi rambut hitam panjang beraroma vanila Naura. Tidak berhenti disitu, tangannya yang kosong menyingkap rambut tersebut, membawanya ke bahu sebelah kiri. Tampaklah sebagian leher Naura yang melambai, seolah menyerukan namanya. Abhi pun tak ingin menunda lagi, ia memberikan kiss mark di sana. “Kamu gelian, ya? Baru juga diginiin, sudah menggelinjang tidak jelas. Jangan-jangan bagian bawah sudah basah.” ucapan frontal Abhi membuat Naura menjauhkan tubuhnya.
“Takut apa? Biasanya kamu juga tinggal sendiri di apartemen!”
“Takut kangen ... nggak ada yang ngobatin.”
Abhi terkekeh, “Iya, kita kan juga harus bulan madu, aku pergi nggak akan lama kok! O, ya. Emangnya kamu mau bulan madu ke mana?” tanya Abhi. Ia sudah berniat mengganti tujuan bulan madu mereka sesuai yang Naura inginkan.
“Ke Bangkok, tapi tiketnya ke Korea ya sudah kita ke Korea saja, hemat.” Naura lalu meletakan kepalanya di dada Abhi. Ia terdiam sambil menghirup aroma parfum yang tersisa di baju suaminya. Besok mereka akan berpisah, jadi ia akan menggunakan waktu ini untuk berlama-lama dengan Abhi.
“Bhi … kamu dibayar berapa sama pak Bahtiar?”
Abhi diam sebentar, dengan tangan memilin-milin rambut Naura. “Cukup buat jajan kita enam bulan mungkin,” jawabnya. “Kenapa memangnya?”
“Sebanding nggak sama risikonya?” Naura menarik tubuhnya dari pelukan Abhi. Mengamati Abhi dengan wajah sendu. Naura hanya takut terjadi hal-hal buruk dengan suaminya.
__ADS_1
“Sebenarnya apa sih yang kamu takutkan?” selidik Abhi. “Saat aku bilang sama pak Bahtiar sanggup, aku yakin bisa memenangkan kasus ini, dan pastinya aku sudah memperhitungkan kemungkinan terburuknya. Jadi ….” Abhi menggantung ucapannya, menarik tangan Naura untuk memeluk pinggangnya. “Jangan berpikiran macam-macam, aku juga sudah membicarakan hal ini dengan temanku.”
Naura mendongak menatap wajah suaminya, membuat kedua mata mereka bertemu. “Jangan sampai terjadi sesuatu denganmu, Bhi! Kita baru nikah, belum punya anak. Pokoknya kamu harus baik-baik saja!” suara Naura terdengar tegas, memberi pesan.
“Iya, istriku! Kamu juga doain ya ... semoga sidang pertama nanti lancar!”
“Kapan sidangnya?”
“Masih lama. Mungkin setelah kita pulang dari bulan madu.” Abhi menarik bantal yang ada di punggungnya, bersiap untuk tidur.
“Bobo yuk!” ajak Abhi kemudian, seraya mematikan lampu utama. Suasana pun menjadi lebih tenang. Hanya terdengar suara nafas yang mereka berdua keluarkan.
“Sayang ….”
“Ehmmm ….” Naura kembali membuka mata, menunggu Abhi melanjutkan ucapannya.
“Kapan darah kamu berhenti?”
“Mati dong, Bhi?”
“Darah haid, yang membuat aku gila! Karena cuma bisa memelukmu saja!” Abhi menggeram lirih, sambil mengeratkan pelukannya.
“Kan, gini saja sudah ngeluh. Terus gimana nanti kalau kita jauh!”
“Telepon dong!”
“Maksudmu?” pikirannya sudah jauh.
“Ya, kalau kangen tinggal telepon. Kirim-kirim foto, foto apapun itu.” jelas Abhi.
“Ah, ucapanmu gitu!” Naura yang mengantuk, kembali memejamkan mata.
“Gitu bagaimana?”
“Pura-pura polos! Padahal isi otaknya 90 persen mesum!” sarkasnya dengan mata terpejam.
__ADS_1
Abhi terbahak, “Kenapa kamu selalu benar! Tidulah!Besok kita jalan-jalan sebelum aku pergi!”
...--------BERSAMBUNG--------...