
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan voters ya.ππ
Ella Pov.
Hancur, sedih, hampa, semua kesedihan aku rasakan saat Zie pergi meninggalkanku, berbulan- bulan kulalui tanpanya, mendengarkan nyanyian kenangan kami, menatap wajahnya dalam bingkai foto. Ternyata dia mempermainkan hatiku, menyembuhkan lukaku, memberikanku cinta, dan meninggalkan luka yang lebih dalam lagi untukku dia pergi untuk selamanya dan tak akan pernah bisa aku temui lagi.
Enam bulan berlalu kenangan itu masih jelas terasa, beruntungnya banyak cinta dan kasih sayang disampingku, perhatian orang terdekat yang selalu mengingatkanku, bahwa hidup akan terus berjalan, Tuhan pasti akan memberikan jodoh yang terbaik, itulah yang diucapkan kak Damar dan ayah, bahkan Sashi ikut merasakan sakit saat aku terbaring lemah diranjangku beberapa bulan lalu.
Bahkan bunda Zie juga dulu mengancamku akan memindahkan jenazah Zie jika aku tak bisa move on, hubunganku dengan bunda Zie sangat baik, dia memintaku selalu untuk mengabarkan keadaanku, dia sudah menganggapku benar- benar seperti anak kandungnya sendiri, dia juga memintaku mengurus klinik yang dibangun Zie, namun untuk saat itu aku masih belum siap.
Saat ini aku sudah bisa sedikit tidak memikirkannya, itu juga berkat Mas Erik yang ikut juga menghiburku, dia selalu datang saat- saat aku rapuh, sedih dia selalu menghiburku dengan kata- kata manisnya. Mengingat kejadian dulu padahal aku mengusirnya dan tidak mau bertemu dengannya lagi, tapi tetap saja Mas Erik datang menemuiku.
Dan pagi ini aku memutuskan untuk mulai bekerja di klinik Zie, aku akan menjadi salah satu dokter anak disana. Hari pertama aku hanya menerima maksimal sepuluh pasien saja. Hatiku sedikit terhibur melihat bayi - bayi kecil itu tertawa, ada terbesit keinginanku untuk segera punya bayi sendiri, tapi kuhempaskan keinginanku saat membayangkan sakit hati yang aku alami.
Aku tak percaya melihat Mas Erik yang tiba -tiba masuk kedalam ruanganku.
" Hay La, ayo makan siang ini Mas bawain makanan kesukaanmu, " ucapnya lalu menyiapkan makanan yang dia bawa di depanku.
" Mas Erik kok disini? dan makan siangnya nanti saja Lala belum lapar, " ucapku.
" La ini sudah jam makan siang, lapar atau tidak lapar harus makan, " jelasnya, lalu menyuapkan makanan kedalam mulutku, aku hanya bisa menurut menerima suapannya, dia masih sama seperti dulu, masih romantis.
" Enak? " tanya mas Erik.
" Enak kok, " jawabku dengan diiringi anggukkan kepala.
" Ini masakan dari mama, mama nyuruh aku menyuapimu katanya biar badannya berisi lagi," ucap Mas Erik menatapku dengan penuh senyuman.
" Emangnya Lala kurus? Lala 55kg Mas !" jawabku
" Kurus banget, tingginya saja 178cm, bb 55kg, kalau jalan kaya anak kurang gizi, " jelasnya meledeku.
" Enak saja kalau ngomong, " ucapku sambil memukul kecil Mas Erik dengan penggaris di depannku.
__ADS_1
" Mas seneng deh La, melihat Lala bisa tersenyum lagi, " aku pun tertawa mendengar ucapan Mas Erik.
" Semua berkat orang- orang disekitar Lala Mas," ucapku.
" Termasuk Mas juga? " tanya Mas Erik.
" Enggak, " ucapku sambil tertawa kearahnya, Mas Erik yang mendengar itu segera mencubit hidungku.
" Buka mulutmu, sini makan lagi, " ucapnya, aku membuka mulutku dan menerima suapan itu.
" Kenapa Mas juga belum menikah? " tanyaku yang penasaran dengan jawaban Mas Erik.
" Kenapa ya? ya mungkin belum waktunya saja, " ucapnya
" Padahal Mas Erik hampir kepala empat hlo...kak Damar sudah punya dua anak. Mas Erik satu saja belum, " ucapku meledek Mas Erik.
" Hahaha iya ya, kamu mau nggak nikah sama Mas? " tanya Mas Erik yang membuatku terdiam, sebisa mungkin aku menyembunyikan perasaanku.
" Baiklah, Mas akan tetap menunggumu, hingga rasa traumamu itu hilang, " ucapnya sambil menatapku.
" Apa dihatimu masih ada Mas La, " ucapnya bertanya padaku. Namun saat akan aku jawab ada perawat masuk kedalam ruangan dengan menggendong bayi berusia kurang lebih lima bulan.
" Lhoh masih ada pasien ya, saya pikir tadi sudah habis, " kagetku saat perawat itu masuk.
" Iya tadi diminta bapaknya buat berhenti, karena dokter akan makan siang dulu, " Mas Erik yang mendengar itu memandang tak suka ke arah perawat.
" Bapak ? " tanyaku bingung.
" Iya bapak itu, " ucap suster itu sambil menunjuk kearah Mas Erik. Aku hanya terkekeh geli melihat wajah Mas Erik yang di.panggil bapak.
" Enak saja bapak, gini -gini masih perjaka sus, " ucap Mas Erik menyindir perawat itu.
" Oh. maaf, maafkan saya, " ucap perawat itu.
__ADS_1
" Hallo sayang, siapa namanya sus, dan apa keluhannya, " tanyaku sambil menyapa bayi di gendongan perawat itu.
" Jonas dok, dia hanya mau minta vaksin saja, suhunya juga normal, " terdengar perawat itu menjelaskan. Aku segera menuju wastafel mencuci tanganku dan segera kuambil vaksinnya dan menyuntikkan di bagian paha bayi itu. Bayi itu pun menangis kencang saat aku mencabut suntikkannya, segera ku gendong dan kutenangkan bayi mungil laki- laki itu.
" Sudah pantes dokter punya anak" ucap perawat itu.
" Suster ngomong apa sih Jo, " ucapku sambil menenangkan bayi yang kugendong itu.
" Hehehe belum dapat jodohnya ya dok, " tanya perawat itu lagi.
" Hah.. ya nggak gitu juga sus, nunggu waktu yang tepat saja, " Mas Erik yang mendengar itu tersenyum kearahku. Ntah apa yang dipikirkannya.
" Tunggu saja undangan dari kami sus, " ucap Mas Erik yang membuatku kaget.
" Ow... jadi bapak ini pacarnya dokter Ella? " tanya perawat itu karena masih penasaran. Aku menatap tajam Mas Erik yang akan mulai berbicara menjawab pertanyaan suster.
" Ini orang tuanya mana sus, " tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Ini orang tuanya dok, " ucapnya sambil menunjuk kearah dirinya sendiri.
" Masya Allah...kenapa nggak bilang dari tadi, kan bisa saya pinjam Jonasnya buat mainan, ya Jonas ya, " ucapku yang kaget mendengar jawaban perawat itu mengingat usianya jauh dibawahku.
" Saya kira suster masih lajang, tak taunya sudah ada Jonas, berarti saya yang ketuaan ya, atau suster yang nikah muda hehehe. " ucapku meledek perawat itu, kulihat perawat itu tersenyum malu kearahku.
Dan seperti itulah profesiku saat ini, menjadi dokter anak yang cantik dan sexy tentunya. Untuk pikiran menikah sejauh ini aku belum bisa memikirkannya, aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan traumaku, aku nggak ingin gagal lagi setelah ini, semoga rasa takut ini tidak akan berlangsung lama, dan aku bisa memulai kehidupan yang baru, dengan cinta yang baru pula, aku akan terus berjuang semampuku keluar dari mimpi buruk dan aku akan siap menyambut kejutan didepan sana semoga bukan kesedihan lagi melainkan kebahagiaan yang akan aku rasakan.
" Ayo pulang, " ucap Mas Erik membuyarkan lamunanku.
" Aku bawa mobil Mas, "
" Biar saja ditinggal, besuk Mas akan menjemputmu," ucap Mas Erik sambil menarik tanganku mengajakku keluar dari ruangan.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa vote, like dan comennyaπππ
__ADS_1