
...Selamat Membaca...
Desas-desus berita tentang pengacara yang menghilang setelah memenangkan kasus penting, terdengar hingga pelosok negeri. Nama Abhi Damanik, Chandra Damanik kerap disebut- sebut oleh pembawa acara berita gossip dan berita utama beberapa hari ini.
Keberadaan abhi menjadi pertanyaan beberapa orang. Para pencari kabar pun berbondong –bondong mendatangi rumah Martinus dan Bahtiar demi mendapatkan informasi terbaru. Mengingat kasus terakhir yang Abhi tangani berhubungan dengan mereka berdua.
Bahtiar : Saya tidak tahu dia berada di mana, setelah acara sidang itu selesai Abhi langsung pulang ke rumah. Bahkan, beliau menolak undangan makan malam yang saya tawarkan.
Itulah jawaban dari Bahtiar saat wartawan mempertanyakan keberadaan abhi padanya. Dan jawaban dari Bahtiar mengundang spekulasi-spekulasi buruk terhadap Abhi. Membuat panas telinga orang yang mengenal Abhi dengan baik, termasuk Nathan.
Nathan : Teman saya baik-baik saja, dia baru cuti. Jadi, bisa saja dia pulang kampung atau ke mana. Dia tidak izin pada saya, tapi kalau dia butuh bantuan, pasti akan datang pada saya.
Dan itu jawaban Nathan saat wartawan mendatangi gedung advokadnya. Berita itu sudah tersebar di media cetak maupun media elektronik. Apalagi, mereka pergi tanpa membawa ponsel, semakin menimbulkan praduga yang tidak jelas. Penculikan, balas dendam dan lainnya.
Email yang dikirim beberapa orang pada tidak Abhi terjawab, bahkan belum dibaca oleh pemilik alamat email tersebut. Semakin menjadi tanda tanya besar, untuk mereka yang mencari berita tentang kasus mafia narkoba tersebut. Sempat berpikif bahwa Abhi dan Naura diculik oleh mafia asing. Tapi itu lekas ditampik oleh Nathan.
Dua hari setelah berita itu tersebar, rumah Erik yang notabene adalah mertua dari pengacara fenomenal itu ikut dikerubungi wartawan. Bahkan, sebagian wartawan rela tidur di depan pintu gerbang rumah Erik, hanya ingin menunggu pria itu keluar dan mengetahui kabar Abhi.
Sampai jadi ingkung nggak bakalan aku keluar. Begitulah respon Erik kala itu, saat dirinya terkurung di dalam rumah, bersama istrinya.
Ella masih bisa tenang, karena suaminya berkata bahwa dia mengetahui keberadaan anaknya saat ini. Namun, setelah beberapa hari pria itu berkata dugaanya mleset. Ia mulai cemas, bahkan menghubungi besannya yang ada di Pematangsiantar demi memastikan keberadaan mereka berdua.
Erik yang tiba-tiba ikutan cemas, mendatangi rumah Abhi. Rumah itu benar-benar kosong, hanya ada penjaga dan asisten rumah tangga. Wanita yang bekerja sebagai ART itu menolak memberitahu kemana mereka pergi. Namun, karena ancaman Erik begitu mengancam keluarganya. Akhirnya wanita itu mau memberitahu keberadaan majikannya saat itu.
“Mas Abhi sama mbak Naura moen-moen di Bangkok, Pak.” Wanita di depan Erik berucap lirih. Takut jika pria itu akan mengancamnya lebih parah lagi.
“Moen-moen?” Erik menegaskan lagi maksud ucapan wanita itu.
__ADS_1
“Iya, maaf saya lupa honeymoon atau bebemoon, ya ….” ART itu tampak berpikir keras. Lupa karena sudah beberapa hari perginya.
“Ke Bangkok?” selidik Erik. Dan dijawab anggukan kepala oleh ART abhi dan Naura.
“Kapan mereka pulang?” kembali Erik melontarkan pertanyaan.
“Dua hari lagi, Pak,” jawabnya dengan bibir yang bergetar.
Setelah memastikan kapan mereka akan kembali, Erik lekas pulang ke rumah. Sedikit bisa bernapas lega saat mendengar menantu dan putrinya dalam baik-baik saja.
Saat di rumah, Erik yang baru saja dudu langsung didesak istrinya untuk mengatakan di mana anaknya berada saat ini. Ella belum bisa berhenti dari rasa cemasnya, mulai tak sabaran untuk mendengar jawaban Erik.
“Katakan di mana anakmu?!” seru Ella dengan kedua tangan berada di pinggang, tatapannya menuntut jawaban suaminya.
“Bulan madu ke Bangkok.” Erik menjawab singkat, tanpa menatap istrinya.
“Apa?!” Ella tampak syok. “Kenapa kamu ngizinin mereka pergi tanpa aku? Nanti kalau Nana kenapa-kenapa, bagaimana?” protes Ella, menyalahkan sang suami.
Awalnya Ella meminta Erik untuk mengantarnya menyusul ke Bangkok. Tapi karena ponsel mereka tidak bisa dihubungi, jadi Ella mengurungkan niatnya. Memilih menunggu oleh-oleh dari pasangan pengantin itu.
Setelah mengetahui jika menantu dan putrinya berbulan madu. Pagi hari bErikutnya, Erik mengatakan pada awak media tentang keberadaan mereka. Menyangkal, jika dugaan-dugaan mereka itu salah, anak-anaknya pergi bulan madu dan besok malam baru akan tiba di tanah air.
“Saya minta hentikan berita yang tidak menyenangkan ini! Karena keluarga kami baik-baik saja!” itulah kata penutup yang disampaikan Erik saat itu.
Dan akhirnya, terciptalah kejutan hari ini.
Di salah satu ruangan yang ada di bandara, sudah disiapkan secara khusus untuk menyambutan dua mempelai yang baru saja pulang dari Bangkok. Aula itu sudah didekor semenarik mungkin bahkan di bagian depan sana ada nama lengkap Abhi yang dipajang dengan balon huruf warna emas.
__ADS_1
Mobil fortuner hitam sudah menyala, mulai mengambil ancang-ancang untuk mengangkut dua orang yang selama ini menjadi pembicaraan hangat. Padahal, pesawat masih harus mengudara tiga puluh menit lagi. Mereka sengaja tidak ingin melewatkan acara penyambutan itu.
Keluarga besar Erik tak ada yang tersisa di rumah, mereka ikut menyambut kedatangan Abhi dan Naura. Bahkan, Milena dan Sevina yang baru berusia di bawah lima bulan diwajibkan Erik untuk ikut menghakimi mereka berdua yang pergi tanpa pamit.
“Opa, om Abhi beneran jadi artis ya, banyak orang-orang bawa kamera di sana?” tanya Shaqueena, menunjuk ke arah wartawan yang memanggul kamera. Mereka tengah duduk santai di tempat nyaman yang sengaja disiapkan oleh Erik.
Erik mengangguk, sebagai jawaban.
“Aku nanti boleh minta pangku sama om Abhi kan, Opa? Biar masuk tipi!” minta Shaqueena berkata dengan suara khas anak kecil.
Dari zaman Erik hingga generasinya, mereka berusaha keras untuk menjauhi awak media. Tapi kehadiran Abhi dikeluarga mereka, mau tidak mau Erik membebaskan cucunya untuk ikut terlibat hari ini.
“Oke, coba tes dulu.”
“Ih, Opa! Kan Queena malu!” obrolan asyik mereka terhenti saat kedatangan cucu lainnya, mereka mengerubungi Erik, ikut mendengarkan apa yang opanya itu ceritakan. Sambil menunggu pesawat yang ditumpangi Naura take off.
“Opa, cerita tentang wayang saja!” usul Gwen yang saat ini duduk di karpet sambil memeluk satu kaki Erik yang duduk di sofa.
“Jangan!” tolak Leya, “Itu saja Snow White and The Hustman!” minta Leya, duduk manis di samping kanan opanya. Erik yang bingung hendak bercerita apa, memilih pura-pura memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.
-
Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand.
“Bhi, perasaanku kenapa tidak nyaman ya?” tanya Naura saat hendak memasuki kabin pesawat. “Jangan-jangan pesawat jatuh, kaya kakak ipar dulu!”
“Mau … aku cansel saja penerbangannya, dari pada kenapa-kenapa?” usul Abhi.
__ADS_1
“Sayang nanti tiket pesawatnya hangus. Ayo, bismillah saja semoga tidak terjadi apa-apa.” Naura menarik tangan Abhi untuk melanjutkan langkahnya memasuki kabin, duduk bersampingan menuju bandar udara Soekarno Hatta.
...----------------...